
Megi dan Sean memasuki gedung utama barat kota.
"Mia, tolong bilang sama semua kepala bagian. Ada yang mau gue jelasin. Siapkan rapat segera!" perintah Sean tegas.
"Baik, Bos." jawab Mia lembut.
"Rezi mau ikut sama Papa atau sama Mama?" tanya Sean lembut.
"Sama Papa."
"Baiklah, ayo kita keatas."
Megi melepaskan senyumnya saat Sean dan Rezi berlalu ke dalam lift. Megi mengalihkan pandangannya ke wanita-wanita di balik konter tersebut.
"Mbak Mia, mbak Tessa." sapa Megi ramah.
"Ayo sini masuk." pinta Tessa lembut.
Dengan cepat Megi berlari memasuki konter resepsioni.
"Mbak Della mana?" tanya Megi lembut.
"Della ya di atas, dia kan sekarang bukan resepsionis lagi." jawab Mia datar.
"Panggilin dong. Aku banyak bahan ghibahan untuk kita." pinta Megi manja.
"Lima tahun gak ketemu, sekalinya ketemu malah bawain dosa buat kita-kita." ledek Tessa sambil mengambil telepon di depannya.
"Mbak Nina sifth siang?" tanya Megi kembali.
"Ehm." Mia menganggukan kepalanya.
"Sekalian suruh datang dong, aku cuma sehari, masa gak bisa ketemu mbak Nina sih." ucap Megi melas.
"Hem, dasar. Anak kecil ini banyak sekali permintaannya."
Mia mengeluarkan ponselnya dan menelpon rekan kerja nya itu.
Tak lama berselang Nina datang dengan sedikit tergesa.
"Ada apa? kenapa Bos Sean minta aku datang segera?" tanya Nina di depan konter.
"Buat temeni istrinya ghibah disini." jawab Mia lembut.
Nina menghela nafasnya dan meletakan tasnya di atas konter.
"Ya Tuhan, Megi. Aku sampai minta anak aku pulang sama temannya. Mia bilang ini urgent, aku pikir ada apa?" Nina berjalan memasuki konter resepsionis itu.
"Aku gak ada suruh mbak Mia ngomong gitu loh, mbak Mia nya aja yang usil." bela Megi melas.
"Yasudah, jangan ribut lagi." tengah Della. "Megi, aku mau tanya satu hal sama kamu." sambung Della.
"Apa?"
"Kenapa kamu sama Bos Sean bisa bersama lagi? sebenarnya bagaimana ceritanya?" tanya Della penasaran.
Megi hanya tersenyum, menampilkan lesung di kedua ujung bibir mungilnya yang melebar.
"Ih ... Kok malah ketawa sih?" tanya Della penasaran.
"Iya, cerita-cerita dong." bujuk Nina. "Aku bela-belain loh datang kesini. Masa kamu gak mau cerita?" sambung Nina setengah merajuk.
"Iya, setidaknya lima tahun gak jumpa, kamu harus kasih cerita indah buat kita-kita." sambung Mia.
"Tenang aja, nanti aku minta Kak Sean buat kasih bonus sama mbak-mbak semua. Oleh-oleh dari aku." bujuk Megi lembut.
"Benernya, awas kalau bohong."
"Yaudah, gimana sih ceritanya? penasaran ini." bujuk Della kembali.
Megi tersenyum dan mulai menceritakan penggalan kisah hidupnya. Berbagi cerita ke teman-teman yang pernah bekerja bersama ia di balik konter resepsionis dulu.
Megi asyik bercerita, sesekali ia menghapus buliran di sudut matanya jika mengenang hari-hari dimana ia harus berjuang sendiri.
"Ya, akhirnya aku disini sekarang." ucap Megi mengakhiri ceritanya.
"Ya ampun Megi, kuat banget kamu ya." ucap Mia yang ikut menangis mendengar kisah Megi.
"Tapi syukurlah, akhirnya kalian bisa kembali bersama." sambung Della lembut.
"Yang namanya jodoh emang gak kemana." ucap Nina.
"Mbak Nina udah punya anak berapa?" tanya Megi kembali.
"Dua." jawab Nina lembut.
"Kalian udah pada tua-tua kenapa masih laku jadi resepsionis?" ucap Megi meledek.
"Eh ... Megi, mulutmu itu minta di sekolahin lagi di Beijing sepertinya. Walaupun tua, tapi kami tetap mempesona." sanggah Tessa.
"Hem, bener itu. Anak SMA saja kalah sama pesona kami si para Ibu-Ibu muda ini." sambung Nina membela ucapan Tessa.
"Ha ha ha." Megi melepaskan tawanya. "Aku kalah deh kalau sama emak-emak."
__ADS_1
"Bukannya kamu juga udah emak-emak ya?" tanya Della kembali.
"Aku bukan emak-emak. Aku ini macan tahu, mama cantik." ucap Megi pede.
Kembali keceriaan mewarnai resepsionis itu. Megi selalu bisa membawa suasana menjadi lebih ceria dan hangat.
"Megi, ayo kita pulang." panggil Sean mengakhiri tawa mereka.
"Kakak sudah siap rapat?"
"Sudah."
"Kok cepat banget sih?" tanya Megi lembut.
Sean melirik jam di tangannya, ia kembali memandang wajah Megi yang sedang duduk santai di balik meja resepsionis.
"Dua jam lebih loh, Megi. Apanya yang cepat?" tanya Sean bingung.
"Hey kalian." ucap Sean saat melihat wanita-wanita di balik resepsionis sedang bersantai ria, bersama istrinya.
"Della, sejak kapan kerjaan kamu pindah di resepsionis lagi?" tanya Sean garang.
"Kami lagi reuni, Bos." jawab Della santai.
"Hey, ini bukan acara reunian keluarga. Enak sekali kalian ngobrol di jam kerja." ucap Sean ketus.
"Kakak, aku bilang sama mereka kalau kakak akan kasih bonus ke meraka." ucap Megi lembut.
"Apa? kenapa?" tanya Sean bingung.
"Aku janji buat kasih bonus ke meraka karena udah nemeni aku ghibah. He he he."
"Ya Tuhan, enak sekali hidup kalian. Kerja sambil ghibah, terus minta bonus segala."
"Kakak mau kasih kan?"
"Enggak!" sanggah Sean cepat.
Megi bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Sean.
"Ih, aku udah janji kak. Masa kakak mau buat aku malu sih?"
"Kamu yang janji, kamu saja yang kasih bonus sama mereka." Sean tersenyum dan memainkan kedua alis matanya.
"Begitu?" tanya Megi cemberut.
"Baiklah, baiklah. Ayo kita cari makan, biar bonus mereka Yohan yang urus."
"Terima kasih, Bos." ucap wanita-wanita itu serentak.
"Enggak. Aku sendiri yang mau kasih."
"Baiklah, Nina." panggil Sean lembut.
"Saya, Bos."
"Karena kamu datang kerja lebih awal, saya kasih kamu bonus tambahan."
"Terima kasih Bos" balas Nina senang.
"Ada lagi?" tanya Sean pada Megi.
Megi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu, ayo kita cari makan."
"Eh Rezi kemana?"
"Dia di atas sama Ayah-Ayahnya. Gak mau ikut, biar sajalah." jawab Sean sambil menggandeng tangan Megi berjalan menjauh.
Megi melambaikan tangannya dan mengkiss bye teman-teman kerjanya. Berjalan mengikuti langkah suaminya.
"Senangnya, akhirnya Megi bisa bahagia." ucap teman-teman Megi, saat melihat Megi pergi.
***
Megi meluruskan kedua kakinya, menarik nafasnya yang tersengal karena terlalu kenyang.
"Ayo jalan." ajak Sean yang baru kembali dari kasir.
"Bentar lagi ya, Kak. Perut aku masih kencang banget." ucap Megi sambil mengelus perutnya.
Sean tersenyum dan berjalan ke sisi samping pondok tempat mereka duduk tadi. Menumpuhkan kedua sikunya di atas pagar pondok.
"Kalau makan itu kira-kira Sayang. Kalau terlalu kenyang sulit gerak kan." Sean meraih perut Megi yang sedang duduk santai di balik pagar pondok.
Megi menjatuhkan kepalanya di atas pagar pondok, menatap atap pondok yang terbuat dari anyaman rumbia.
Sean meluruskan satu tangannya, menjadikan lengan tangannya untuk bantal kepala Megi.
"Kakak mau anak kita laki-laki atau perempuan?" tanya Megi lembut.
"Hem ... Karena udah ada Rezi, aku maunya perempuan." ucap Sean lembut.
__ADS_1
"Kalau anak kita perempuan kakak mau kasih nama siapa?" tanya Megi memalingkan wajahnya kearah Sean yang saat ini berdiri di sebelahnya, di balik pagar pondok.
"Nadean, atau Sashenka." jawab Sean lembut.
"Kakak kok udah ada namanya aja sih? itu apa artinya?" tanya Megi kembali.
"Itu artinya pertolongan dan harapan dalam bahasa Rusia."
"Hem, bagus." ucap Megi senang.
"Kamu gak ada cari nama?" tanya Sean kembali.
"Kalau anak kita laki-laki. Aku mau kasih nama Segi."
"Apa?" tanya Sean sedikit terkejut. "Gak ada nama yang lain apa, Meg? jangan, jangan ah, aku gak setuju kamu kasih nama dia Segi."
"Eh, kenapa? kakak nya Rezi, adiknya Segi. Kan biar sama kak."
"Dari dulu aku paling gak suka sama karakter Segi di kartun Scooby doo, udah bodoh, jalannya lembek lagi. Aku gak mau pokoknya." ucap Sean ketus.
"Kakak kok malah berpikiran ke Segi itu sih?"
"Memang iya, kok. Aku pokoknya gak setuju, gak mau anaknya nanti seperti Segi. Papanya ganteng, kuat begini. Masa anaknya seperti itu." omel Sean panjang
Megi tersenyum melihat Sean yang seperti itu.
"Memang kakak ada nama lain?"
Sean memutar bola matanya, mencari nama di dalam deretan memorinya.
"Gimana kalau Evgen?" tanya Sean lembut.
"Evgen?"
"Iya, artinya lelaki yang memiliki hati baik."
Megi kembali tersenyum, menganggukan kepalanya. Ia meraih ponselnya, dan memainkan ponsel tersebut.
Sean mengelus kembali perut Megi, merasakan detak jantung yang masih sangat lemah di dalam perut Megi.
"Ini sudah bulan ke berapa, Sayang."
"Minggu depan, sudah masuk empat bulan." jawab Megi lembut.
"Sudah agak besar ya."
"Minggu depan kak Mika akan adain acara pengajian pemberian nama untuk anaknya, gimana kalau sekalian buat acara pengajian untuk empat bulan kandungan aku, kak?" tanya Megi kembali.
"Gimana baiknya menurut kamu saja, aku ikuti."
Megi tersenyum manis, menempelkan sederet jejeran gigi-gigi kecilnya.
"Sudah agak mendingan? ayo jalan."
Megi mengangguk dan bangkit dari duduknya. Melanjutkan perjalanannya menuju pasar di tepi pantai yang pernah ia kunjungi lima tahun lalu.
Mata Megi langsung tertuju pada tempat penjualan aksesoris. Megi meraih salah satu gelang kaki hasil buatan tangan.
"Itu saya yang buat mbak, cantik kan?" ucap wanita penjual itu.
"Iya, bagus." jawab Megi lembut.
"Kamu suka? beli saja." ucap Sean lembut.
"Aku lihat yang lain-lain dulu deh." Megi mengambil gelang yang lainnya. Memandang mainan pada gelang itu.
Mainan dengan gambar bintang laut dan beberapa makhluk laut lainnya. Hembusan angin pantai membuat pandangan mata Megi terhalangi, Megi menggelengkan kepalanya untuk menjauhkan rambut yang menghalangi wajahnya.
Dengan cepat Sean mengambil helaian rambut Megi. Megi membuang pandangannya kearah Sean dan tersenyum.
Tanpa sengaja, matanya menangkap sosok lelaki di belakang Sean.
Cepat Megi berlari mengejar langkah kaki lelaki itu.
Melengos dengan cepat kearah belakang Sean, Sean memalingkan kepalanya. Melihat Megi yang terus berlari semakin jauh.
"Megi." panggil Sean heran.
"Eh, Mas. Gelangnya belum di bayar." tahan penjual itu saat Sean ingin berlari mengejar langkah kaki Megi.
Sean merogo saku celananya, meletekan beberapa lembar uang ratusan ribu dan berlari mengejar langkah Megi.
"Mas tunggu, uangnya terlalu banyak." tahan wanita penjual itu, namun lebih cepat kaki panjang Sean berlari mengejar langkah kecil istrinya.
Semakin Sean cepat berlari, semakin cepat langkah Megi berlari. Megi menarik pergelangan tangan seorang lelaki.
Memeluk badan besar lelaki itu dengan erat.
Sean menghentikan langkahnya, mengambil nafasnya yang memburu dengan kencang. Memperhatikan Megi yang berdiri terpaut jarak lima meter di depannya.
Mencoba memperhatikan wajah lelaki yang sedang terbenam di bahu kecil istrinya. Sean menyipitkan matanya, mencoba untuk mengenali wajah lelaki itu.
Seketika sipitan mata Sean terlepas, saat lelaki itu mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Mirza." lirih Sean kaget.