Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
75


__ADS_3

Sean menarik sebuah tisu dari atas meja dan mengelap lembut bibirnya.


"Rezi kamu serius? Umur kamu baru dua puluh satu tahun, Nak," ucap Megi terkejut.


"Iya, aku serius, Ma."


"Tapi kamu kan masih mahasiswa, Sayang. Kamu belum bekerja, apa setelah nikah kamu mau putus kuliah?" tanya Megi kembali.


Rezi menundukan pandangannya, ia memang tidak berpikir kesana sebelumnya. Ia lupa bahwa selain Asdos, ia juga masih mahasiswa.


"Menikah itu bukan perkara mudah, Sayang. Bukan hanya karena kamu jatuh cinta sama dia, kamu terus ingin menikah, Rezi."


Sean menyentuh punggung tangan Megi, mencoba menghentikan coletah panjangnya.


Sean menghela napas dan menatap tajam kearah Rezi. Bingung juga harus bersikap seperti apa.


"Selesai makan, kamu ikut Papa ke ruang kerja ya," ucap Sean sambil berlalu pergi meninggalkan meja makan.


Rezi menganggukan kepala, ia menghela napas beratnya. Bagaimana ini? Kenapa bisa menjadi rumit seperti ini.


Rezi mengikuti langkah Sean, memasuki ruangan kerja Papanya itu. Hanya bisa berdiam tanpa suara, saat mata lelaki dewasa itu menatapnya dengan sangat tajam.


"Yakin mau menikah?" tanya Sean lembut.


Rezi hanya menganggukan kepalanya, ia bahkan tidak berani menatap wajah lelaki di depannya itu.


"Kamu tahu apa tugas seorang suami itu?" tanya Sean kembali.


"Harus bertanggung jawab, memberikan nafkah lahir dan batin. Harus setia dan harus bisa saling berbagi duka bersama," jawab Rezi cepat.


"Lalu?"


"Harus bisa menjaga dan melindungi, harus bisa menahan emosi dan bersabar dalam menghadapi masalah dalam rumah tangga."


Sean menatap lekat wajah manis putranya itu, wajahnya saja masih terlihat sangat muda, bagaimana bisa ia berpikir akan menikah?


Sean menghela napasnya dan menyandarkan bahunya di belakang kursi.

__ADS_1


"Rezi menjadi seorang suami bukan hanya sekadar itu. Suami itu adalah pemimpin, tanggung jawab kamu bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat, Nak."


"Jadi Papa gak setuju kalau aku menikah?" tanya Rezi lemas.


"Bukan gak setuju, Papa hanya mau kamu mempersiapkan diri dan mental kamu dulu, Nak. Menikah tidak semudah yang kamu bayangkan, tapi juga tidak sesulit yang kamu lihat. Menikah itu bukan hanya masalah tanggung jawab dan memberikan nafkah saja, Rezi," jelas Sean sedikit menekan.


"Menikah itu juga tentang dua manusia, dua sifat, dua hati dan dua karakter yang saling berbeda, Rezi. Kamu harus bisa menyatukan itu semua, atau setidaknya berusaha untuk mengimbangi sifat dan karakter dia."


Sesaat Sean terdiam, ia mencoba membaca ekspresi yang ditampilkan oleh Rezi. Bahkan dari raut wajahnya saja, Rezi masih terlihat ragu.


"Pikirkan lagi Rezi, seumur hidup kamu akan habiskan bersama dengan dia. Siapkah mentalmu untuk menerima dia seumur hidupmu? Kalau sampai kamu salah pilih, maka menyesal juga gak berguna."


"Aku gak akan menyesal, Pa," sanggah Rezi cepat.


"Sumpah aku gak akan menyesal bagaimanapun sikapnya nanti setelah menikah. Aku jatuh cinta padanya dan aku menyanyanginya. Aku tidak ingin menahannya dalam ikatan yang semu. Hanya sebuah ungkapan kata tapi tidak dengan bukti nyata," ucap Rezi tegas.


"Aku tahu menikah itu bukan sesuatu yang sederhana, sesederhana namanya. Aku juga tahu jika menikah itu butuh mental yang kuat untuk menjaga dan menjalaninya.  Selama ini aku percaya cinta, karena Papa dan Mama. Jika Papa dan Mama saja bisa melewati itu semua bersama, apa Papa pikir aku gak mampu untuk melakukannya?"


Sean menatap wajah Rezi dengan lekat, kini segores keyakinan mulai terlihat dari raut wajah manis lelaki muda yang berdiri di depannya.


"Aku tahu aku belum bekerja, Pa. Aku juga gak mau menikah dan hanya menjadi tanggungan Papa, aku hanya ingin mengikat dia, mengenalkan dia pada dunia, bahwa dialah wanita yang ku punya."


"Rezi ...."


"Pa, bisakah Papa kasih aku kesempatan untuk membuktikan, Pa. Aku serius dengan niatku, Papa. Aku beneran mau menikahi dia, walaupun tidak sekarang ini, tapi kedepannya, wanita yang akan ku nikahi hanya dia, Pa," bujuk Rezi lembut.


Sean menghela napasnya dan menganggukan kepalanya, kali ini ia tidak bisa lagi melarang. Rezi juga sudah dewasa, ia malah penasaran bagaimana wanita yang telah merebut perhatian putranya itu.


"Baiklah, temukan dia sama Papa dan keluarga kita, akhir minggu depan," ucap Sean mengalah.


"Papa serius?" tanya Rezi senang.


"Iya, Papa akan hubungi Oma dan juga Opa kamu untuk ikut menilai pasangan kamu," sambung Sean lembut.


Ini dia masalahnya, jika Oma dan Opa-nya tahu wanita yang ingin dinikahi olehnya adalah Neha, akan lebih sulit ke depannya.


Selama ini ia tahu benar, bahwa Opa dan Oma-nya menganggap ia cucu kesayangan. Walaupun bukan dari darah yang sama, tapi Rayen dan Miranda selalu ingin memberikan yang terbaik untuk ia.

__ADS_1


"Rezi," panggil Sean kembali.


"Iya."


"Kenapa melamun? Apa kamu masih ragu soal keinginanmu?" tanya Sean kembali.


"Bukan, bukan itu, Pa."


"Lalu?"


"Pa, bisakah aku minta sesuatu yang lain sama Papa?"


"Katakan!"


"Bisakah minggu depan kita makan malam keluarga kita saja tanpa ada Oma dan Opa dulu, Pa?"


"Kenapa? Kamu takut Opa dan Oma kamu tidak merestui pilihanmu?" tanya Sean datar.


Rezi menghela napasnya dan mengangguk pelan. Sean memang lelaki yang sangat pintar, ia selalu memahami sesuatu dengan baik.


"Apa kamu masih kurang yakin soal wanita yang ingin kamu nikahi?" tanya Sean sinis.


"Bukan, bukan aku ragu ataupun tidak yakin, Pa. Aku sangat-sangat yakin padanya."


"Lalu?"


"Papa tahu, Opa dan Oma itu selalu ingin yang sempurna untuk aku. Aku takut jika wanitaku tidak sesuai dengan keinginan kalian semua," jawab Rezi lembut.


"Terus, apa wanita pilihanmu tidak masuk kriteria dalam keluarga?"


"Bukan itu juga, Pa. Dia sangat sempurna, sifatnya lembut dan juga anggun. Sopan dan sangat penyanyang."


"Lalu apa yang kurang? kenapa kamu bisa khawatir sekali jika memang dia sangat sempurna."


Rezi menghela napasnya, ia mengacak rambutnya. Bingung bagaimana harus menjelaskan.


"Dia, dia memang sangat sempurna Papa, hanya saja ...." Rezi mengelus tengkuk lehernya dan kembali menatap wajah Sean.

__ADS_1


"Hanya saja, dia tidak bisa bicara."


__ADS_2