Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
93


__ADS_3

Shenina melirik kearah Evgen, ia memperhatikan wajah Evgen yang begitu sendu dan juga tenang.


"Evgen, soal itu, gue--" Shenina menggantungkan kalimatnya.


"Kenapa? Elu belum bisa nerima gue lagi?" tanya Evgen lembut.


"Gue, gue." Shenina menghela napasnya dan melepaskan pelukan tangan Evgen.


Membalikan badannya untuk bisa menatap Evgen dengan lekat.


"Bukan gak mau nerima elu lagi, Evgen. Elu tahu kan kalau gue ada part time, mana ini sudah mau ujian akhir. Gue hanya ingin fokus ke sekolah dan gak pikirin soal apapun lagi," jawab Shenina lembut.


Evgen menundukan pandangannya, memang alasan Shenina kali ini bisa ia terima.


"Gue tahu, Shen. Gue hanya ingin memperbaiki apa yang pernah gue rusak dulu. Kasih kesempatan untuk gue, buat memperbaikinya," pinta Evgen lemah.


Shenina menghela napasnya, ia sebenarnya tidak tega saat melihat Evgen yang seperti ini.


Namun apalagi yang bisa ia lakukan, kalau ia jatuh lagi kedalam masalah lelaki sombong ini. Mungkin hidupnya tidak akan senyaman ini lagi.


"Baiklah kalau begitu, ayo gue antar elu pulang," ajak Evgen lembut.


Shenina menganggukan kepalanya, mengikuti langkah Evgen yang berjalan lebih dulu dari dirinya.


***


Evgen membuka pintu rumahnya, matanya langsung tertuju pada Rezi yang sedang duduk sambil memainkan gawainya di sofa ruang tengah.


Perlahan Evgen berjalan menaiki anak tangga, namun langkahnya terhenti saat menaiki anak tangga kedua.


Evgen kembali melihat kearah Rezi yang sedang asyik memainkan ponselnya.


Kembali bayangan tentang anak-anak panti tadi melintas di dalam pikirannya.


Bagaimana Kenda dan Nea yang bisa akrab begitu, padahal mereka baru bebeberapa tahun bersama.


Terlihat Kenda yang begitu melindungi Nea, padahal Nea bukanlah siapa-siapanya, hanya adik yang ia temukan di suatu hari di depan panti.


"Kak," panggil Evgen lembut.


Rezi memalingkan pandangannya, melihat kearah Evgen yang berdiri di ujung anak tangga.

__ADS_1


"Kenapa, Dek?"


"Ada beberapa hal yang buat aku ngerasa pengap disini. Kakak mau nemani aku keluar?" tanya Evgen kembali.


"Baiklah, Kakak ganti baju dan ambil kunci mobil dulu."


Evgen menganggukan kepalanya, kembali berjalan keluar dari rumah besar milik Papanya itu.


Evgen memandang kearah bawah, menikmati cahaya lampu yang berkilauan dari setiap kendaraan yang melintasi jalan raya.


Beberapa kali Evgen menghela napasnya, mencoba untuk menenangkan hatinya yang kembali bergejolak.


Ada beban yang masih mengelayuti hatinya, ada rasa sesak yang masih bersarang dalam dadanya.


Semilir angin malam membawa kembali potongan memori kisah indah Evgen dan Rezi.


Satu air mata kembali luruh dari mata Evgen. Ada kenangan yang masih tidak bisa ia lepaskan.


"Dek," panggil Rezi lembut.


Evgen menyeka mata basahnya saat merasakan sentuhan di atas bahunya. Evgen tersenyum lembut dan menelan salivanya, pahit.


"Kak, pernahkah Kakak merasa kalau aku ini asing buat Kakak?"


"Saat aku bersikap acuh dan tidak peduli pada Kakak, pernahkah Kakak merasa aku ini asing dalam hati Kakak?"


Rezi tersenyum lembut, meletakan kedua tangannya di atas pagar pembatas jembatan.


"Mana mungkin saudara sendiri bisa menjadi asing, Dek. Walaupun kamu menghilang ke belahan bumi yang lain. Berpisah selama bertahun-tahun, kamu tetaplah adik Kakak. Kamu tetaplah jagoan Kakak yang paling Kakak sayangi," jawab Rezi lembut.


Evgen menatap wajah lembut Rezi dengan mata tajamnya. Melihat senyum lembut yang selalu menghiasi wajah manis lelaki yang selalu menyanyaginya itu.


"Kak, Shenina pernah cerita sama aku. Kalau dia pernah ditolak oleh Uwaknya sendiri. Jika nanti kehidupan telah berubah, dan aku meninggalkan anak yang masih harus dibesarkan. Apakah Kakak akan meninggalkan anakku, seperti Uwak Shenina yang meninggalkannya?" tanya Evgen pahit.


Rezi kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia melirik kearah Evgen dan menghela napasnya.


"Dek, Kakak pernah bilangkan sama kamu. Sampai kapanpun, walaupun dunia menolak kehadiranmu, Kakak adalah orang yang akan selalu melindungi kamu. Terus bagaimana mungkin Kakak menolak yang memang keturunanmu?"


"Jika anak itu bukan keturunanku? Jika anak itu hanya anak adopsiku? Apakah Kakak akan meninggalkan mereka?"


Seketika Rezi memalingkan pandangan matanya. Ia memandang Evgen dengan sedikit bingung. Kenapa Evgen bisa bertanya seperti ini? Benarkah apa hanya karena permasalahan Shenina?

__ADS_1


"Itu semakin tidak mungkin, Evgen!" jawab Rezi tegas.


"Kenapa tidak mungkin?" tanya Evgen menyelidik.


"Karena Kakak pernah mengenal sebuah keluarga yang membesarkan anak adopsi layaknya anak mereka sendiri. Memberikan namanya untuk anak itu dan memberikan segalanya untuk memenuhi kehidupan si anak tersebut. Dalam dunia ini, ada hubungan yang seperti ini Evgen. Apa salahnya menjadi anak adopsi? Bukan mau mereka ditinggalkan sendiri, bukan mau mereka menjadi anak adopsi. Jika ada keluarga yang ingin memberikan tempat, kenapa harus dikucilkan? Mereka juga hanya seorang anak, mereka berhak mendapatkan kesempatan, kesempatan untuk punya keluarga dan kesempatan untuk disayangi," jawab Rezi pahit.


"Kak, saat aku berbuat banyak kesalahan dan aku limpahkan ke Kakak. Jujur sama aku, Kak. Pernahkah Kakak menyesal memiliki adik sepertiku?"


"Tidak sama sekali, Dek. Tidak pernah sama sekali Kakak menyesal memiliki adik sepertimu dan Niki."


"Kenapa? Bukannya aku hanya buat masalah untuk Kakak? Aku selalu jadikan Kakak itu samsak atas kenakalan aku."


"Kamu hanya terlalu manja, Dek. Kakak juga yang terlalu memanjakanmu, sehingga kamu bisa bersikap seperti itu terus-terusan," jawab Rezi lembut.


"Kalau Kakak sadar, Kakak terlalu memanjakan aku? Terus kenapa Kakak gak tegasin aku? Marah saat aku sakiti dan terus kerjai Kakak, emang Kakak gak bisa marah apa?" tanya Evgen kesal.


"Kakak gak bisa keras sama kamu, Dek. Kakak takut kamu mengira Kakak tidak menyanyangi kamu. Jadi Kakak putuskan, selama Kakak bisa tanggung semua kesalahanmu, maka tak peduli apapun kenakalanmu, Kakak bersedia menanggungnya untukmu," jawab Rezi dengan tersenyum lembut.


Evgen kembali menelan salivanya dengan berat. Ia mulai mengeluarkan bening kaca yang melapisi kornea matanya.


"Dasar Kakak bodoh! Kenapa aku harus punya Kakak sepertimu? Kenapa aku harus punya Kakak yang sama sekali tidak bisa tegas? Kenapa aku harus memiliki Kakak yang begitu lemah?" teriak Evgen ketus.


"Apa kamu menyesal, Dek? Kamu menyesal jadi adik Kakak?" tanya Rezi takut.


"Iya, aku menyesal punya Kakak yang begitu bodoh. Aku menyesal mempunyai Kakak yang begitu lemah. Aku menyesal, sangking aku menyesalnya, aku sampai takut jika Kakak akan pergi tinggalin aku. Karena aku sangat menyesalinya, aku benci jika memikirkan Kakak akan tidak peduli lagi padaku!" teriak Evgen keras.


Evgen berjalan meninggalkan Rezi di bibir jembatan. Ia menghapus buliran air yang sempat melintasi pipi putihnya.


Rezi menarik bahu Evgen, memeluk badan besar adik lelakinya itu.


"Dek, kenapa kamu berkata seperti ini? Apa kamu takut Kakak akan berubah setelah menikah? Atau kamu takut Kakak akan meninggalkanmu saat kamu pergi kuliah diluar nanti?"


"Aku takut, aku takut keduanya, aku takut semuanya. Memang kenapa kalau aku takut? Kakak mau ngejekin aku karena aku ini seorang pengecut?" tanya Evgen ketus.


"Dasar Evgen bodoh, kalau kamu takut ayo bilang sama Kakak, kalau kamu pengecut Kakak yang akan selalu melindungimu. Apapun itu, Kakak akan menjadi orang yang paling bisa kamu andalkan, Dek. Jangan takut, walaupun dunia ini berubah sekalipun, Kakak gak akan pernah berubah terhadapmu. Gak akan Jagoanku,"


Evgen meluruhkan air matanya yang berusaha ia tahan mati-matian. Ia tak tahu lagi harus berucap apa. Bahkan walaupun ia memaki Rezi, lelaki berhati lembut itu akan menganggap makian yang keluar dari mulut tajamnya itu sebagai pujian.


Entah memang Rezi menyadari posisinya, atau Rezi memang menyanyangi adiknya. Namun baginya saat ini, kedua lelaki yang selalu berada di dekatnya ini adalah bagian dari dirinya.


'Hal yang paling aku takuti adalah, jika suatu saat nanti. Bibirmu itu akan mengucapkan bahwa aku ini bukanlah lagi adikmu Kak. Aku takut jika suatu saat status ini akan membawa Kakak pergi dariku. Hal yang paling aku takutkan, bukanlah Kakak yang bukan Kakak kandungku. Tapi adalah Kakak yang tiba-tiba menjadi asing buatku,' gumam Evgen dalam hati.

__ADS_1


Ia tidak tahu lagi bagaimana menyembunyikan perasaan ini. Semuanya meluap tanpa ia sadari. Ia terisak dalam tangisannya sendiri.


__ADS_2