
Shenina berjalan mendekati tiga bocah kecil yang sedang bermain itu. Sedikit tersenyum, ia masuk ke tengah-tengah mereka.
"Hai, siapa nama kalian?" tanya Shenina ramah.
"Tante siapa?" tanya Nao bingung.
"Perkenalkan, nama aku Shenina. Aku temennya Evgen."
"Hah, Tante yang akan jadi Tante baru kami ya. Cantik," ucap Nao senang.
Sementara Yi Wen hanya diam sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tapi tidak secantik kak Neha tuh," balas Wen'er kesal.
Shenina hanya melepaskan senyumnya.
"Hai, Yi Wen, kita belum kenalan kan? Aku Shenina." Kembali Shenina mengulurkan tangannya.
Wen'er hanya melirik dan berjalan meninggalkan Shenina. Duduk di kursi ayunan taman belakang rumahnya.
Shenina menghela napasnya, matanya teralih pada Evgen yang berdiri di balik kaca. Tersenyum memperhatikan perjuangan dirinya.
Evgen mengancungkan jempol tanganya. Memberikan semangat untuk kekasihnya itu.
Shenina mendekati Wen'er perlahan. Duduk di sebelah Wen'er, sesaat Shenina hanya terdiam. Membiarkan angin siang menyapa lembut wajahnya.
"Kamu gak suka ya sama aku?" tanya Shenina lembut.
"Enggak!" jawab Wen'er ketus.
Shenina melihat ke wajah Wen'er. Gadis kecil ini jujur sekali.
"Kenapa kamu gak suka sama aku? Memang aku salah apa?"
"Gak tahu, tuh!"
Shenina menghela napasnya, menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. Adik dan Kakaknya sama saja. Sama-sama sulit untuk dihadapi.
"Kamu marah sama aku karena Evgen yang ingin menikahi aku ya?"
Wen'er langsung melihat ke arah Shenina. Matanya memandang Shenina dengan sengit.
"Kenapa kamu takut Evgen menikahi aku? Kamu takut kalau Evgen tidak akan menyanyangi kamu lagi setelah kami menikah?" tanya Shenina lembut.
"Bukan urusan kamu!" teriak Wen'er kesal.
Shenina menghela napasnya, menyandarkan bahunya di kursi ayunan tersebut.
"Sebenarnya aku sangat cemburu padamu. Selama ini asalkan Evgen menemui aku, dia selalu menceritakan kamu," ucap Shenina lembut.
"Cerita apa?"
"Evgen selalu bilang, dia memiliki gadis kecil yang sangat cantik. Sikapnya sangat manis, aku selalu penasaran, bagaimana sih gadis kecil itu."
"Aku hanya bersikap manis dengan orang yang aku sukai saja," balas Wen'er ketus.
"Jadi kamu gak suka aku?" tanya Shenina sedih.
"Enggak!" balas Wen'er cepat.
Shenina memandang wajah gadis kecil itu. Bibirnya menganga seketika, heran melihat sikap gadis kecil ini.
'Tidak Kakak ataupun adiknya, sama saja ketusnya,' lirih Shenina dalam hati.
"Yi Wen, apakah kamu tidak sedih melihatku?" tanya Shenina melas.
"Tidak tuh!"
Shenina menahan napasnya, ia benar-benar kehabisan cara berbicara pada gadis kecil ini.
"Evgen selalu mengatakan, ia sangat mencintai adik perempuannya. Dan di dunia ini, dia hanya akan mencintaimu sebagai adik perempuannya."
"Aku tahu," jawab Yi Wen angkuh.
"Terus jika aku menikahi Evgen, maka cintanya padamu tidak akan berkurang. Karena Evgen bilang, tak peduli siapapun yang akan ia nikahi. Baginya Yi Wen adalah satu-satunya adik perempuannya," ucap Shenina membujuk.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Yi Wen senang.
"Benar, Evgen hanya mencintaimu seorang saja. Karena kamu adalah adik perempuan satu-satunya. Jadi seluruh cintanya sebagai Kakak hanya ia berikan padamu."
"Lalu, kenapa kamu mau menikahi dia?" tanya Wen'er merasa menang.
"Sebenarnya aku tidak mau, tetapi Evgen butuh aku untuk menemani sisa hidupnya. Jadi untuk itu, aku ingin meminta sedikit saja cinta Evgen, agar bisa ia berikan padaku," pinta Shenina lembut.
Yi Wen menyilangkan kedua tangannya di dada dan membuang pandangannya ke sisi kosong.
"Hem, tidak mau!" jawab Wen'er ketus.
"Kenapa? Bukannya kamu memiliki banyak? Apa salahnya berbagi sedikit denganku?" tanya Shenina melas.
"Aku tidak akan berbagi kak Evgen pada siapapun. Walaupun pada Nao sekalipun."
Shenina menghela napasnya dan mengalihkan pandangan matanya. Baru kali ini ia merasa sangat sulit menghadapi anak kecil.
"Eh, aku boleh bertanya?"
"Apa?"
"Kenapa namamu Xia Yi Wen? Aku pikir Xia Yi Wen itu adalah gadis Mandarin."
"Memang aku gadis Mandarin. Kenapa? Tidak mirip?"
"Bukan, tetapi setahu aku Evgen bukan orang Mandarin."
"Siapa bilang? Mama aku adalah orang Mandarin."
"Benarkah?"
"Kamu tidak percaya?" tanya Wen'er ketus.
"Bukan, bukan. Aku percaya, hanya saja. Evgen lebih terlihat seperti orang Indonesia."
"Kenapa dari tadi terus membahas kak Evgen? Apa kamu segitu ingin menikahi Kakak aku? Aku tidak akan setuju!"
"Kenapa?"
"Karena kak Evgen punyaku."
"Apa?"
"Kenapa kamu tidak mau berbagi Evgen padaku. Sedikit saja, aku hanya ingin sedikit saja. Aku janji tidak akan mengambil Evgen darimu," bujuk Shenina kembali.
Wen'er membuang pandangannya, duduk membelakangi Shenina.
Shenina kembali menghela napasnya, ia mengambil sepotong cake dan memberikannya ke Yi Wen.
"Aku tidak mau," jawab Yi Wen ketus.
"Coba pegang dulu," pinta Shenina lembut.
Wen'er mengambil cake itu dan melihat potongan cake itu.
"Anggap itu adalah kak Evgen. Lalu kamu adalah pemiliknya," jelas Shenina lembut.
"Terus aku minta kamu untuk memberikannya sedikit padaku. Coba kamu berikan padaku," pinta Shenina lembut.
Wen'er mencuil ujung cake itu sekecil mungkin. Memberikan ke tangan Shenina.
"Kamu tahu apa bedanya berbagi dan berebut?" tanya Shenina lembut.
Wen'er menggelengkan kepalanya, ia menatap ke arah Shenina dengan lekat.
"Kalau merebut, aku akan mengambil secara paksa seluruh cake milikmu. Tetapi jika kamu berbagi. Maka aku hanya akan mengambil bagian yang memang kamu berikan padaku. Lihat, saat kamu berbagi, bukannya cake itu masih milikmu, walaupun kamu berikan sedikit untukku, bukannya yang paling banyak tetap milikmu?" tanya Shenina lembut.
Wen'er hanya terdiam, ia melihat wajah Shenina terus-terusan.
"Kamu mengerti apa yang aku ucapkan?" tanya Shenina kembali.
"Tahu," jawab Wen'er lembut.
"Yi Wen, aku berjanji hanya ingin memintamu untuk berbagi Evgen denganku. Bukan merebut Evgen darimu. Evgen tetaplah Kakakmu walaupun aku menikahinya. Dan aku pastikan, bahwa Evgen masih mencintaimu, bahkan bisa saja rasa cintanya akan bertambah padamu setelah dia menikahiku."
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Wen'er kembali.
"Karena Allah berjanji, jika kita berbagi pada orang lain. Maka Allah akan memberikan yang lebih pada kita."
"Bagaimana jika kamu berbohong?"
"Kamu bisa ambil kembali cinta yang telah kamu bagikan padaku. Seperti kamu bisa mengambil potongan cake ini dariku." Shenina mengembalikan cuilan cake itu ke tangan Yi Wen.
Wen'er melihat dua potongan cake itu secara bergantian. Memperhatikan perbedaan besar antara dua potongan cake itu.
"Jadi kamu tidak akan merebut kak Evgen dariku?" tanya Wen'er kembali.
"Tentu saja tidak. Aku janji, Evgen tetap akan mencintaimu sebagai adik perempuan satu-satunya. Dan aku sebagai istrinya," jawab Shenina lembut.
"Bagaimana jika kamu berbohong?" tanya Wen'er kembali.
"Kamu bisa merebut segala yang Evgen berikan padaku."
"Bagaimana aku percaya?"
"Sebagaimana kamu mempercayai kak Neha. Kamu bisa percaya seperti itu padaku. Apakah kak Neha merebut kak Rezi darimu?"
Wen'er terdiam, tak lama ia menggelengkan kepalanya lembut.
"Sama seperti kak Neha, aku tidak akan merebut Evgen darimu. Please, trust me."
Wen'er memberikan cake itu kembali ke tangan Shenina. Ia turun dari kursi ayunan itu dan memasuki rumahnya.
Wen'er kembali melihat ke arah Shenina saat ia berada di ambang pintu.
"Ingat untuk menepati janjimu. Aku punya Papa yang bisa mengambil kak Evgen darimu kapan saja!" ancam Wen'er ketus.
Shenina tersenyum dan mengangukan kepalanya. Walaupun keras tapi dia tetaplah seorang anak kecil.
Evgen tersenyum dan berjalan mendekati Shenina yang sedang duduk di kursi. Duduk menyempiti kekasihnya itu.
"Dari mana elu bisa mengarang cerita seperti itu?" tanya Evgen saat melihat wajah angkuh Shenina.
"Gue gitu loh, elu terlalu meremehkan kemampuan gue, Evgen."
"Tapi elu salah, Shen."
"Salah?" tanya Shenina bingung.
"Karena gue gak akan memberikan secuil cinta buat elu. Seluruhnya, cinta gue hanya akan menjadi milik elu," goda Evgen lembut.
"Hem, gue tahu." Shenina tersenyum dan tertunduk. Walaupun akan segera menikah, namun ia masih tetap tersipu saat digoda.
"Baiklah, jadi kita akan pindah ke Sevilla setelah menikah."
"Evgen!" tekan Shenina malas.
"Lu kenapa sih? Sevilla itu kota yang menakjubkan, Shenina. Banyak gaya arsitektur islamiah yang tertinggal di sana. Gue yakin elu pasti suka setelah memijakan kaki di sana."
"Suka, tapi tidak untuk menetap di sana."
"Baiklah, gue hanya bisa mengikuti kemauan elu sekarang."
"Kenapa? Elu menyesal? Terkadang keindahan hanya bisa untuk elu pandangi saja, Evgen. Bukan untuk elu tinggali."
"Tetapi ada satu keindahan yang bisa gue tinggali dan tidak akan gue lepasi."
"Apa?"
"Elu," jawab Evgen sembari menatap wajah Shenina lekat.
Shenina menahan senyumnya, ia berdehem kecil dan duduk menyandarkan badannya.
"Sekarang gue tahu Shenina, dimanapun gue akan menetap nantinya. Keindahan akan selalu tampak menakjubkan jika ada elu di dalamnya. Karena elu ... adalah keindahan itu sendiri."
Shenina tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya. Sekadar menyembunyikan rona wajahnya.
"Kenapa itu terdengar menjijikan ya?" ledek Shenina lembut.
"Ada yang lebih menjijikan lagi, lu mau dengar?" tanya Evgen lembut.
__ADS_1
"Apa?"
"Gue mencintai elu."