
Evgen memarkirkan motornya di parkiran sekolah. Menuruni tunggangannya itu di sambut riuh teriakan sebagian siswi di sana.
Memakai satu tali ranselnya di punggung. Berjalan sambil melamun sepanjang koridor. Ia masih kepikiran soal status Rezi yang sebenarnya.
Tidak terima, tapi tidak bisa menolak juga. Ia bahkan tidak tahu harus bagaimana bersikap dengan Rezi saat ini.
Evgen meletakan ranselnya, matanya menatap whiteboard di depannya, namun pikirannya mengawan entah kemana.
Berhari-hari pikiranya terus terfokus oleh Rezi. Sampai saat Rezi makan ataupun tertawa, Evgen tak pernah melepaskan pandangan matanya dari Rezi.
Memperhatikan setiap gerakan dan inci raut wajah Rezi. Semakin ia memperhatikan, maka semakin jelas terlihat, bahwa Rezi memang berbeda dengan mereka.
Kenapa? Kenapa mereka harus menyembunyikan kenyataan ini darinya?
Pertanyaan itu yang terus muncul selama berhari-hari dalam benak dan pikiran Evgen. Bahkan sering kali Evgen tak fokus pada pelajarannya.
"Evgen, Evgen!" bentak Putra kuat.
Evgen mengalihkan pandangan matanya, menatap Putra yang saat ini sedang duduk berseberangan meja dengannya.
"Lu kenapa Bray? Putus asa sekali hidup lu?" tanya Putra bingung.
Evgen mengacak rambutnya, ia mengusap wajahnya dan membuang pandangan ke samping. Tak sengaja, matanya malah menangkap wajah Shenina bersama si kembar di meja sebelah.
Memandang kearahnya dengan raut wajah sendu.
Evgen tersenyum dan meneguk soft drink miliknya. Matanya kembali menatap Putra dan beberapa teman sepermainannya yang berseberangan meja dengannya.
"Kacau banget lu, Gen. Seperti mayat hidup saja. Sadar gak Bro? Sudah seminggu lebih elu begini? Lu mau kuliah di luar, tapi belajar saja elu gak fokus," ucap Rendra, temen sebangku Evgen.
"Iya, sorry. Gue, memang lagi kacau," jawab Evgen putus asa.
"Ayolah Sob, Shenina masih ada di sini, kenapa harus sekacau ini?" ledek Putra senang.
Evgen tak lagi mendengar apa yang di ucapkan oleh teman-temannya. Pikirannya kembali mengawan, melambung jauh entah kemana.
Sementara, Shenina menatap Evgen dengan mata sedihnya. Ia merasa bersalah saat melihat lelaki angkuh itu bisa berubah seperti itu.
Ia berpikir bahwa Evgen berubah karena ia yang tidak mau memaafkan Evgen. Tidak tahu kalau Evgen menjadi seperti itu karena kenyataan pahit yang belum bisa ia telan.
Bel pulang berbunyi, Evgen langsung keluar dari kelasnya sambil memakai ransel besarnya.
Sana seperti sebelumnya, kali ini pikirannya pun kosong. Pelajaran yabg ia ikuti dari pagi, semua hilang, terbang terbawa angin.
__ADS_1
Evgen mengeluarkan kunci motornya, langkahnya terhenti saat melihat Shenina berdiri di sebelah motor hitamnya.
Perlahan Evgen mendekati motornya dan mengambil helm. Memakai helm itu tanpa menganggap Shenina ada di sana.
"Evgen," panggil Shenina saat ia dikacangi oleh lelaki angkuh itu.
Evgen kembali membuka helmnya dan memandang Shenina yang berdiri di samping motornya.
Tangan Shenina meremat kedua tali tas mungil yang ia kenakan di bahu belakangnya.
"Kenapa?" tanya Evgen datar.
"Elu, kenapa bisa jadi begini?" tanya Shenina dingin.
"Maksudnya jadi begini?" tanya Evgen tak mengerti.
"Elu, kenapa jadi aneh dan beda begini? Elu jadi pendiam, elu banyak melamun, elu gak fokus, elu terlihat ada hanya pada raganya, tapi entah kemana rohnya, elu--"
Evgen meletakan satu jarinya di depan bibir Shenina. Menghentikan celoteh panjang dari bibir mungil gadis kecil itu.
Sedang, Shenina mulai berseri, wajahnya menghangat saat mendapati tangan Evgen yang menempel pada bibirnya.
Teringat lagi kejadian malam itu, saat Evgen mencium bibirnya dengan lembut. Perlahan rona kemerahan mulai bersemu di kedua belah pipi Shenina. Ia tersipu malu, karena ingatan itu.
"Lu mau pulang? Ayo gue antar." Evgen menyerahkan helm ke tangan Shenina.
Gadis itu mulai menaiki boncemgan motor lelaki sombong itu, meletakan kedua tangannya pada bahu Evgen.
Perlahan Evgen mulai melajukan motornya, menembus jalanan sore hari yang mulai padat lalu lintas kendaraan.
Sampai di tengah lampu merah, Evgen sama sekali tidak menyadari lampu sedang merah. Shenina mencubit pinggang Evgen, keras.
"Au, lu apaan sih Shenina?" tanya Evgen ketus.
"Elu yang apaan? Lihat, itu lampu merah!" teriak Shenina keras.
Evgen mengendurkan tarikan gasnya, memundurkan motornya yang sudah melewati batas zebra cross.
"Lu kenapa sih Evgen? Gue seperti lihat mayat hidup saat lihat elu?" tanya Shenina kembali.
"Shen, mau gak kita berhenti di taman sebentar. Gue ... terlalu lelah," pinta Evgen lembut.
Shenina menghela napasnya dan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Shenina mengalah.
Evgen memarkirkan motornya di tengah taman, ia membuka kemeja putihnya dan meninggalkan kaos putih lengan pendek.
Evgen melemparkan ranselnya dan membaringkan badannya di atas rerumputan. Memandang langit sore yang mulai berubah senja.
Melipat satu tangannya untuk dijadikan bantal. Selama beberapa waktu, ia dan Shenina hanya terdiam menikmati semilir angin yang menerpa dirinya.
Shenina hanya terdiam, terduduk di samping kepala Evgen dan memperhatikan wajah evgen yang sedang terpejam. Ia tahu betul jika lelaki angkuh itu tidak tertidur, namun terlihat bahwa wajahnya sangat kelelahan.
"Evgen, elu baik-baik saja?" tanya Shenina memecahkan suasana.
"Shen, gue lelah. Lelah sekali, tolong gue Shen, tolong bilang gue harus bagaimana?" tanya Evgen tanpa membuka matanya.
"Lu lelah kenapa? Lelah karena belajar untuk memasuki universitas luar negeri. Gue dengar dari si kembar, katanya elu mau kuliah di London ya?" tanya Shenina basa-basi.
Evgen membuka matanya dan melirik kearah Shenina.
Shenina langsung menurunkan roknya, menatap wajah Evgen dengan memadam merah.
"Hey, Evgen! Apa yang elu lihat?" tanya Shenina memerah.
"Apa? Gue hanya lihat wajah elu?"
"Wajah yang mana? Jelas elu melirik kedalam rok gue," sanggah Shenina ketus.
"Eh." Evgen langsung terduduk saat mendengar ucapan Shenina.
Ia sama sekali tidak melihat kedalam rok Shenina. Kenapa gadis ini selalu berpikiran jorok tentangnya.
Evgen menangkupkan tangannya di depan dahi dan mengusap wajahnya dengan kasar. Bingung dengan keadaan ini, selalu saja gadis itu berpikiran buruk tentangnya.
"Sumpah Shen, sumpah gue sama sekali gak ada lihat apapun dalam rok elu, warna CD elu saja gue gak tahu. Mau putih ataupun krim, terserah!" ucap Evgen ketus.
Plaaaak
Sebuah tamparan mendarat di pipi putih Evgen. Seketika mata Evgen memerah, menahan gejolak amarah yang ingin ia tumpahkan.
"Shenina, apa-apaan elu?" tanya Evgen memadam.
"Lu bilang gak lihat dalaman gue, tapi kenapa elu tahu warna dalaman gue putih dan krim?" tanya Shenina menutup roknya rapat-rapat.
Seketika Evgen melongo, ia hampir tidak percaya bahwa ucapan ia benar adanya.
__ADS_1
Evgen menggaruk kepalanya dan menggeleng pasrah.
"Ya Tuhan, aku nyerah ngadepin wanita," ucap Evgen kesal.