
"Maaf, Meg. Gue gak bisa." Sean membalikan badannya dan ingin melangkah pergi.
Namun tangan Megi lebih dulu meraih pergelangan tangan Sean.
"Kak, belakangan ini kita banyak habisin waktu bersama. Apa kakak gak ingin agar selamanya kita seperti ini?" tanya Megi sendu.
Sean hanya terdiam, ia masih berdiri membelakangi Megi. Bukan tak ingin bersama, namun tak bisa. Ada hal lain yang harus Megi raih dan itu bukan ia.
"Aku bisa dampingi kakak terus, aku akan bertahan sesulit apapun itu kak. Izinkan aku untuk tinggal di sisi kakak."
"Gak bisa Megi. Gue gak bisa biarin elu ada di sisi gue?" ucap Sean tanpa memalingkan badannya.
"Tapi kenapa?" tanya Megi sedikit keras.
"Kalau hanya karena masa depan aku, aku bisa kuliah disini. Aku bisa raih mimpi disini. Kalau kakak mau, aku meraih yang terbaik, kakak bisa kunjungi aku kapan pun kakak mau. Aku siap menanti, Kak. Aku siap menunggu selama apapun itu."
"Tapi gue yang gak mau menanti, gue yang gak mau menunggu." jawab Sean datar.
"Seperti itu kah? apa selama ini yang udah kita lewati berdua gak cukup berarti? apa kakak gak bisa untuk tetap mencintai aku?" tanya Megi kembali.
"Bisakah kali ini kakak buktikan kalau kakak memang sungguh mencintai ..."
Belum sempat Megi menyelesaikan kalimatnya, Sean berbalik dan meraih kedua pipi Megi. Mencium bibir Megi dengan lembut.
Megi memejamkan matanya, setelah beberapa saat melebar karena terkejut oleh pergerakan Sean yang spontan.
Semilir angin kembali membawa momen manis keduanya mengawan indah, namun mata terpejam Megi mengeluarkan cairan bening yang berusaha ia tahan dari tadi.
Membiarkannya melintas, membawa luka yang sempat ia rasakan berlalu begitu saja.
"Jadi selama ini perlakuan gue belum cukup untuk membuka mata elu tentang cinta?" tanya Sean datar.
"Jadi selama ini elu berpikir, gue masih tetap tidak mencintai elu?" sambung Sean datar. Sean menyungging bibirnya sebelah, tersenyum dengan sinis.
"Baguslah, setidaknya ada alasan untuk elu tidak bertahan." dengan cepat Sean berbalik dan membuka pintu kaca balkon. Meninggalkan Megi yang masih terdiam terpaku.
Megi kembali memejamkan kelopak matanya, ia menghela nafasnya yang kembali terasa menyesak di dada.
Megi membuka penutup piano berwarna putih di ruang keluarga villa. Dengan lembut ia mulai menekan tuts piano dan memainkan beberapa nada indah.
Pikirannya melayang ke beberapa tahun silam, kenangan indah di piano sangat banyak yang tersisa di pikirannya. Dulu Mommy Megi adalah seorang wanita anggun yang sangat menganggumi piano.
Megi mengenal musik melalui tangan lentik Fera. Bibir Megi tersenyum indah saat mengenang kembali masa kecilnya. Andai Fera masih hidup, mungkin takdir yang ia jalani saat ini akan berbeda.
Sean membuka pintu kamarnya dan berjalan mendekati Megi yang sedang memainkan piano dengan indah. Saat mendengar ada langkah kaki yang mendekat, seketika jemari tangan Megi berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Sean.
"Karena aku mau kakak yang menyelesaikan nadanya."
Sean menyisir rambutnya kebelakang, ia meletakan bokongnya di sebelah Megi. Perlahan jari-jari besarnya mulai menari di atas tuts piano.
Melihat jari Sean menari, Megi juga ikut meletakan jarinya diatas tuts. Namun dengan cepat tangan Sean memukul punggung tangan Megi.
"Auw!" teriak Megi seketika.
"Ngapain sih? ganggu aja." ucap Sean tanpa salah.
"Aku juga mau maini nada ini." ucap Megi angkuh.
"Lu tadi yang suruh gue selesain, jadi jangan ikut campur." ucap Sean dengan menatap Megi sinis.
__ADS_1
Megi meraih rambut gondrong Sean, menjambaknya dengan sedikit keras, kesal.
"Elu!" ucap Sean kesal.
"Yang main duluan siapa?" tanya Megi mendacakan tangannya di pinggang.
"Yang suruh selesain siapa?" tanya Sean garang.
"Yaudah, duet kenapa?" balas Megi tak kalah garang.
"Ogah!" Sean melotot dengan garang.
"Puft ... Ha ha ha."
Megi melepaskan tawanya, tak tahan lihat ekspreai Sean yang menggarang. Entah sejak kapan ia jadi suka saat melihat wajah garang Sean, padahal dulu ia pernah takut oleh wajah Sean yang sadis itu.
"Kenapa lu ketawa?" tanya Sean bingung.
"Puft ... Ha ha ha." Megi semakin tertawa kekeh melihat wajah Sean.
"Lu kenapa ketawa sih? memang ada yang salah sama wajah gue?" Sean memegang kedua pipinya.
"Aku lucu lihat wajah kakak yang garang, kayak singa Afrika itu. Ha ha ha."
Mendengar ucapan Megi, Sean ikut melepaskan tawanya, ia meraih pucuk kepala Megi.
"Dasar kuaci kecil, orang lihat gue garang, takut. Elu kok malah lucu sih?"
"Aku sama sekali gak takut sama kakak, yang aku takut adalah kehilangan kakak."
Ucapan Megi kembali membuat mata Sean memandang Megi lekat. Melihat Megi yang tersenyum lebar, tak ada rasa kesal dalam pandangan matanya setelah apa yang Sean katakan tadi.
"Ehm. Karena saat ini aku sadar, waktu bersama kakak gak akan bertahan lebih lama lagi, jadi aku gak mau buang waktu hanya untuk berdiam dan menjauh."
Sean melepaskan senyumnya dan mengelus sudit bibir Megi dengan ibu jarinya.
"Jangan lupa untuk tetap tersenyum, karena ada yang selalu gue suka di setiap senyuman yang terukir di wajah elu."
Megi menyunginggkan bibirnya dengan lebar.
"Ini?" tanya Megi menetuk sudut bibirnya.
Sean mengangguk, ia mengecup sudut bibir Megi yang ada lesung mungil terbentuk saat bibir kecilnya itu melebar.
"Itu yang buat gue jatuh cinta sama elu." goda Sean.
***
Sean menghentikan laju motornya di depan teras lobi apartemen mereka. Dengan cepat Megi menuruni boncengan dan membuka helm yang ia gunakan.
"Gue harus ke kantor Papa, lu jangan kemana-mana ya."
"Oke." jawab Megi dengan mengancungkan jempolnya di depan Sean.
"Kalau lu butuh sesuatu, telepon gue ataupun Farrel. Jangan keluar tanpa beri tahu gue."
"Iya." jawab Megi lembut.
Sean membuka helm full facenya, ia menyisir rambutnya kebelakang.
"Loh kok buka helm sih, kak?" tanya Megi saat melihat Sean melepaskan helmnya.
__ADS_1
"Ada yang lupa."
"Apa?" tanya Megi bingung.
Sean mendekatkan wajahnya ke Megi, menetukan satu jarinya di pipi kanan.
Dengan cepat Megi mendaratkan bibirnya di pipi Sean.
"Gue pergi!" pamit Sean kembali melajukan motornya.
Megi memandang punggung badan Sean yang semakin menjauh meninggalkan pelataran apartemen mereka. Saat tak lagi melihat punggung badan Sean, Megi membalikan badannya, dan melangkah masuk.
"Mbak." panggil seorang menghentikan langkah Megi.
"Iya." jawab Megi kembali berjalan ke teras lobi.
"Bisa kasih tahu saya alamat ini?" tanya seorang wanita dengan menggendong satu bayi. Ia memberikan sebuah alamat ke depan Megi. Megi membaca alamat yang di berikan wanita itu dengan seksama.
"Ah, ini ada di belakang gedung ini." jawab Megi.
"Iya, saya juga sudah tanya ke beberapa orang katanya di belakang gedung ini. Tapi saya sudah muterin beberapa kali gak ketemu."
"Oh, memang alamatnya agak ruwet sih, masuk ke beberapa gang kecil." jawab Megi menjelaskan.
"Kalau mbak gak keberatan, boleh gak anterin saya? saya sudah lelah mbak, gak ketemu-ketemu juga."
"Ehm, baiklah. Ayo." ajak Megi langsung.
Dengan sedikit bercerita, langkah kaki mereka berjalan menuju alamat yang di tuju wanita itu. Tak lama, rumah yang di tuju wanita itu sudah berada di depan mata.
"Oh disini ternyata, maaf ya sudah ngerepoti, Mbak."
"Gak kok, gak apa-apa." jawab Megi sambil tersenyum.
"Kalau gitu terima kasih ya, Mbak."
"Sama-sama."
"Mbak, cantik sekali."
"Terima kasih." jawab Megi, malu.
"Kalau gitu saya masuk dulu, terima kasih sekali lagi."
"Ehm." Megi hanya tersenyum dan megangguk.
Saat melihat pungung wanita itu masuk kedalam rumah. Megi kembali melanjutkan perjalanannya kembali ke apartemen. Namun di tengah jalan, langkah Megi di hadang oleh dua orang lelaki berbadan besar.
Melihat wajahnya yang menyeramkan, Megi membalikan badannya, berjalan melawan arah, namun dua orang lagi menghadang di depannya.
Megi menggepalkan kedua tangannya di depan dada. Memasang kuda-kuda untuk melindunginya.
"Tenang Nona, kami tidak akan menyakiti Nona, kalau Nona mau bekerja sama." ucap salah seorang lelaki berbadan tegap di hadapan Megi.
"Lupakan saja."
Megi memutar badannya dan melayangkan kakinya ke wajah lelaki berbadan tegap di belakangnya, namun sayang pergerakannya terhenti karena ujung kaki Megi tertangkap tangan lelaki itu.
"Nona masih terlalu muda untuk melawan kami." salah satu lelaki tegap itu membekap mulut Megi dengan sebuah tisu.
Perlahan pandangan Megi memudar, ia kehilangan kesadaran setelah mencium bius yang berada di tisu tersebut.
__ADS_1