Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
135


__ADS_3

Evgen berdiri di depan kaca besar kamarnya, mengancingkan kemejanya dan menyisir rambut yang mulai memanjang.


"Kak," panggil Niki di ambang pintu.


"Hei, Nik. Ada apa? Sini masuk!" perintah Evgen lembut.


Niki berjalan memasuki kamar Evgen, memperhatikan Evgen yang sedang merapikan rambutnya.


"Kakak mau pergi ke acara reuni ya?" tanya Niki datar.


"Iya, sudah tujuh tahun tidak bertemu. Kakak juga rindu sama mereka."


"Hem, tapi aku mau bilang sesuatu sama Kakak."


"Bilang apa?" tanya Evgen datar.


"Aku yang menjadi band penghibur di acara reuni Kakak."


Seketika Evgen menghentikan gerakan tangannya. Melihat ke arah Niki yang sedang duduk di atas ranjangnya.


Evgen berjalan mendekati Niki, mengetuk kepala Niki dengan sisir yang ia pegang.


"Sejak kapan kamu suka dengan musik?" tanya Evgen lembut.


"Apa karena kebanyakan tertimpa salju Kakak jadi lupa ya? Dari kecil aku memang sudah bermain piano."


"Aku pikir kamu bermain piano karena dipaksa, Mama," jawab Evgen cuek.


Evgen kembali berjalan ke depan kaca dan merapikan kembali rambutnya.


"Yang penting jangan lupakan belajarmu. Ingat jangan bermain-main sama wanita, kamu ini jangan terlalu banyak bermain."


"Iya, aku gak main Kak. Lagian sekarang band aku banyak dikenal orang dan tampil di beberapa event. Suara temen aku, bagus banget Kak. Mungkin kalau bukan dia vokalisnya, kami tidak akan setenar saat ini."


"Benarkah? Kenapa aku ragu ya?" ledek Evgen.


"Kakak gak percaya? Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertaruh?" tanya Niki ketus.


"Baik! Siapa takut?" tantang Evgen.


"Kalau suara teman aku bisa buat Kakak tertarik. Kakak harus memberikan 1.000£ untuk band kami. Bagaimana?" tanya Niki.


"Baiklah, 1.000£ akan menjadi milikmu kalau permainan kalian bisa buat aku terpukau."


"Deal." Niki mengulurkan tangannya.


"Oke, deal," ucap Evgen menjabat tangan Niki.


"Tapi sebelum itu, bawa Yi Wen kemari. Aku akan membawanya ke acara reuni," perintah Evgen lembut.


"Kakak, haruskah Kakak selalu membawa Wen'er kemanapun Kakak pergi. Seperti seorang duda saja Kakak ini, selalu bawa anak kemana-kemana," ucap Niki ketus.


"Memang kenapa kalau aku mau bawa dia? Masalahnya bagimu?"


"Kakak panggil saja dia sendiri. Wen'er sedang bersama Papa. Aku malas berebut Wen'er dengan Papa." Niki berjalan meninggalkan Evgen sendiri.


Evgen hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Berjalan menuju ruang kerja Papanya itu.


"Yi Wen," panggil Evgen lembut.


"Kakak, Kakak mau kemana?" tanya Wen'er saat melihat Evgen yang begitu rapi dengan jas abu-abu yang membungkus dirinya.


"Aku mau keluar, ayo ikut aku keluar!" ajak Evgen lembut.


Wen'er melihat wajah Sean yang saat ini sedang memangku dirinya. Wen'er menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Kamu takut sama Papa?" tanya Evgen melirik tajam ke arah Sean.


"Bukan, tapi kak Rezi bilang, Kakak akan pindah ke Spanyol. Kenapa Kakak mau pindah ke sana? Terus Wen'er sama siapa? Wen'er baru masuk sekolah Kak. Apa Kakak gak bisa tinggal di sini saja bersama Wen'er?"


Evgen menghela napasnya, berjalan mendekati Sean.


"Apa sekarang Papa juga mau menggunakan Yi Wen untuk menahan aku di sini? Tidak cukup kah menipuku dengan menggunakan Yi Wen?" tanya Evgen sinis.


"Papa gak ada keinginan buat menggunakan Wen'er untuk menipu dan menahanmu di sini, Evgen. Apa kamu tidak mendengar, apa yang diucapkan Wen'er tadi?"


"Jangan gunakan trik, Pa. Aku bukan lagi Evgen yang mudah tertipu seperti dulu," ucap Evgen ketus.


Evgen menatap wajah Yi Wen dan tersenyum lembut. Berlutut di depan Yi Wen dan mengelus pucuk kepala gadis itu.

__ADS_1


"Yi Wen, aku akan pindah ke Spanyol. Bagaimana jika kamu ikut aku pindah ke sana?"


"Evgen!" tekan Sean keras. "Kalau kamu mau pindah ya pindah saja, kenapa harus membawa Wen'er ke sana? Apa kamu pikir Papa akan membiarkan Wen'er pergi?" tanya Sean memadam.


"Kalau Papa dan Kak Rezi terus-terusan berusaha untuk menahan aku dengan menggunakan Yi Wen. Aku juga bisa membawa Yi Wen untuk ikut bersamaku ke sana," ancam Evgen ketus.


Sean tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya. Semakin dewasa, sifat Evgen semakin mirip dengan dirinya saja.


Tidak takut pada apapun, bahkan bisa melawan Papanya sendiri.


"Aku pergi dulu, Pa." Evgen mencium pucuk kepala Yi Wen dan mengelusnya lembut.


Keluar dari ruangan kerja Papanya itu, tidak ada yang bisa menghalangi niatnya. Jika ia ingin pergi, maka walaupun harus menantang dunia. Evgen tetap akan pergi.


Evgen menandatangi buku tamu sebelum masuk ke dalam restoran mewah itu.


Evgen membalik kertas itu, melihat satu-persatu nama yang telah hadir. Evgen tersenyum pahit dan menutup buku itu. Sedikit kecewa, saat nama yang ia cari tidak ada.


Evgen duduk di depan kaca restoran itu, memperhatikan lalu lintas jalanan malam hari.


Entah kenapa, saat tidak mendapati gadis itu hadir di sini. Ada kekosongan dalam hatinya yang kembali hadir.


"Permisi semuanya," sapa seorang lelaki dari atas panggung.


Evgen mengalihkan pandangannya, melihat sekumpulan lelaki termasuk adiknya, berada di atas sana.


"Terima kasih sebelumnya karena kalian sudah mempercayai kami untuk menghibur kalian semua di sini. Selamat berkumpul kembali, dan saya akan mempersembahkan lagu kenangan buat kalian semua."


Evgen henya menganggukan kepalanya, tidak terlalu peduli pada penampilan para anak muda itu.


Ia hanya mendengarkan intro demi intro yang dinyanyikan oleh lelaki muda itu.


Entah ini hanya kebetulan, atau memang Niki yang merancangnya. Namun Evgen merasa kembali masuk dalam kenangannya saat mendengar bait demi bait lagu Dewa 19 yang dibawakan oleh vokalis band mereka.


Dengan suara yang lembut dan juga sangat merdu. Lagu yang sangat tepat untuk mengenang kembali masa-masa itu.


Masa di mana, masih ada gadis itu yang membuat ia merasa bahagia. Evgen kembali menatap keluar jendela, memejamkan matanya saat vokalis itu mulai menyanyikan nada reff lagunya.


'*Cintakan membawamu ....


Kembali di sini.


Membasuh perih.


Bawa serta dirimu ....


Dirimu yang dulu,


Mencintaiku, apa adanya*.'


Evgen membuka kedua bola matanya. Menghapus sudut matanya yang sempat berair karena terlalu dalam masuk kedalam kenangannya.


Kenapa ia bisa sangat lemah seperti ini jika mengingatnya?


Padahal gadis itu juga tidak tahu kemana, bahkan reuni ini juga berjalan tanpa kehadiran dirinya.


"Shenina, elu di mana?" tanya Evgen lirih.


Perlahan Evgen menjatuhkan kepalanya di atas kursi. Memejamkan matanya, mengingat kejadian dua tahun lalu, yang membuat ia mengingkari janjinya.


***


2 tahun yang lalu.


Evgen menyiapkan sebuah gambar aula untuk perusahaan ternama di London saat itu.


Memenangkan tender pertamanya, membangun namamya bersama dengan sahabat dekatnya. David.


Mendapatkan gelar sebagai mahasiswa terbaik asal Indonesia, membuat David iri terhadap Evgen. Bahkan David mencuri desain bangunan Evgen dan menuduh Evgen sebagai plagiator atas karya miliknya.


Karena tuduhan itu, nama Evgen terpuruk. Ia terancam dideportasi dan di cabut gelarnya sebagai mahasiwa terbaik. Tidak di izinkan kembali ke London selamanya.


Bahkan karena masalah itu, Evgen hampir di penjara. Mencoba membersihkan namanya namun berakhir dengan ia yang hampir kehilangan nyawanya.


Di saat dia yang seperti itu, Niki malah datang dengan membawa Yi Wen untuk liburan.


Evgen meminta Niki untuk membawa Yi Wen kembali pulang. Namun gadis kecil yang bijak itu mendengar, ia tidak mau pulang dan malah ingin tinggal untuk menemani Evgen di sana.


"Yi Wen, kamu tahu kan, aku sedang bingung saat ini. Pulanglah, aku takut tidak akan ada yang menjagamu di sini," perintah Evgen lembut.

__ADS_1


Yi Wen menggelengkan kepalanya, melingkari bahu Evgen dengan tangan kecilnya.


"Enggak, Yi Wen ingin tinggal di sini bersama Kakak. Yi Wen tidak akan merepotkan Kakak, Yi Wen janji," ucap gadis lima tahun itu bijak.


Tidak ada pilihan, Evgen hanya bisa membiarkan gadis itu tinggal dan menemani ia di apartemen dinginnya.


"Sir, please, trust me. The design of the building is mine. David took it from me! (Tuan, percayalah. Desain bangunan itu punyaku. David yang mengambilnya dariku)!" tekan Evgen saat berbicara di dalam telepon genggamnya.


"Im so sorry, Evgen. But, the company believes, if David is the designer, (Maaf, Evgen. Tetapi perusahaan percaya, bahwa Davidlah yang membuat desain itu)," jawab Charlie di ujung sana.


"How could it be? David is just a thief,(Bagaimana mungkin? David hanyalah seorang pencuri)," balas Evgen geram.


"But that's the reality." (Tapi inilah kenyataannya).


Evgen menyentuh sudut dahinya, ia memandang Yi Wen yang sedang memperhatikan ia berbicara.


Evgen melepaskan senyumnya dan berjalan keluar dari apartemennya.


"Oke, can i ask for time? I will prove, that David is nothing more than a thief, (Baik, bisakah memberikan aku waktu? Aku akan membuktikan, bahwa David tidak lebih dari seorang pencuri)," pinta Evgen lembut.


"Instead of you thinking about David, think about your trial at the end of the month." (Dari pada kamu memikirkan tentang David. Lebih baik kamu pikirkan sidangmu akhir bulan nanti).


"But, Sir--"


Charlie langsung memutuskan panggilannya. Evgen menghempaskan barang-barang yang ada di atas meja balkonnya. Terduduk lemas di kursi balkon sembari memegangi dahinya.


Evgen mengambil napasnya dengan memburu kencang, dendam dengan perbuatan David yang tega mengkhianatinya seperti ini.


Yi Wen membuka pintu balkon dengan nampan mungil di tangannya. Membawakan secangkir kopi dan sebungkus biskuitnya.


"What is this? Jangan suka mainkan air panas," ucap Evgen lembut.


"Yi Wen gak memainkan air panas, Yi Wen membuatkan kopi untuk Kakak."


"Bagaimana bisa kamu buat kopi? Siapa yang mengajarimu?"


"Ehm." Yi Wen menggelengkan kepalanya.


Ia mengambil sebuah biskuit dan menyuapi ke bibir Evgen.


"Mama selalu buatkan kopi dan mengantarkan makanan untuk Papa, kalau Papa sedang ada masalah."


Evgen tersenyum dan menarik badan kecil gadis itu. Mendudukan gadis itu ke atas pangkuannya.


"Baiklah, suapi aku biskuit ini," pinta Evgen manja.


Yi Wen menyuapi biskuit itu ke dalam mulut Evgen. Bibirnya tersenyum saat melihat Kakaknya itu memakan biskuit yang seharusnya dibeli untuk dirinya itu.


"Kak."


"Hem."


"Apa teman Kakak membuat Kakak marah?" tanya Yi Wen polos.


"Iya, dia membuat Kakak sangat marah."


"Memang apa yang dilakukan? Apa dia mengambil uang Kakak?"


"Yi Wen, kamu percaya kalau aku merebut mainan milik teman aku itu?" tanya evgen lembut.


"Hem, mana mungkin. Kakak adalah Kakak yang baik. Aku gak percaya Kakak melakukan itu, katakan siapa yang mengatakannya? Yi Wen akan memukul teman Kakak itu," jawab Yi Wen geram.


Evgen hanya tersenyum dan mengelus kepala Yi Wen dengan lembut.


"Apa teman Kakak merebut mainan Kakak?"


"Bukan hanya mainan, Yi Wen. Tapi juga seluruh impian aku," jawab Evgen pahit.


"Apa itu mainan yang paling Kakak sukai?"


"Bukan hanya aku sukai, tetapi juga sangat penting buatku."


"Kalau begitu rebut kembali. Saat Nao merebut mainan milik Yi Wen. Yi Wen pasti akan mengambilnya kembali. Walaupun Mama bilang Nao itu adalah keponakan Yi Wen."


Evgen melihat ke arah Yi Wen, walaupun gadis itu hanya mengatakan sebuah kalimat yang sederhana, namun itu membuat ia sadar. Bahwa apa yang menjadi miliknya, memang seharusnya akan menjadi miliknya.


"Mom said, I am the Gūgū. But I will not give anything that Nao snatched away from me. Because I am Gūgū." (Mama bilang, aku adalah bibinya. Tetapi aku tidak akan memberikan apapun yang Nao rebut dariku. Karena aku adalah Gūgū).


Yi Wen tersenyum dan melingkari tangannya di leher Evgen. Memeluk bahu besar Kakaknya itu.

__ADS_1


"Ya, karena aku adalah Evgen. Tak akan ku lepaskan dia walaupun dia pergi ke pintu neraka sekalipun," ucap Evgen memadam.


__ADS_2