Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
78


__ADS_3

Evgen berjalan dengan langkah gontai, kembali pulang. Perasaanya mengawan jauh, ia hanya terlihat ada pada raganya, namun entah di mana jiwanya.


Evgen membuka pintu putih rumah besar milik Papanya. Evgen mengacak rambutnya dan membuang badan kasar keatas sofa.


Menghela nafas berat dan menjatuhkan kepalanya di atas sandaran sofa. Memejamkan kedua matanya yang mulai terasa perih karena menahan air mata.


"Evgen, kamu sudah pulang?" tanya Megi lembut.


"Hem," jawab Evgen tanpa membuka mata.


"Nak, bisa Mama minta tolong?"


"Mau apa, Ma?" tanya Evgen malas.


"Mama kepingin makan buah kedondong, kamu belikan Mama buah itu di ujung jalan ya," pinta Megi manja.


"Papa gak balas pesan Mama, lagian kalau nunggu Papa pulang, Mama sudah hilang selera," bujuk Megi lembut.


"Iya, aku jalan dulu." Evgen menghela napas dan bangkit dari duduknya.


Berjalan ke depan gang, untuk membeli beberapa buah pesanan Mamanya.


Masih terbayang di ujung pelupuk matanya, bagaimana Shenina dan Rezi yang terlihat begitu dekat


Bahkan Shenina saja bisa menangis di depan Rezi.


'Kenapa? Kenapa lelaki itu bukan gue, Shen? Kenapa di antara milyaran orang, kenapa harus kak Rezi?'


Satu persatu pertanyaan muncul di dalam pikiran Evgen. Ia masih tidak bisa terima, jika saingan cintanya adalah Rezi.


"Dek, Dek!" teriak penjual buah itu.


"Eh ... kenapa?" tanya Evgen tersadar.


"Ini buahnya, jadi beli kan?" tanya penjual buah itu sambil menyerahkan sekantung plastik buah kedondong pesanan Megi.


Evgen mengambil kantungan itu dan mengeluarkan lembaran uang dari sakunya.

__ADS_1


"Kembaliannya ambil saja, Pak," ucap Evgen sendu.


Evgen kembali menghela napasnya saat ia keluar dari pintu toko. Kenapa harus sepahit ini jalannya, kenapa pahit sekali kisah cintanya.


Evgen tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Ia menertawai nasibnya yang kadang terlalu lucu.


Tanpa sengaja salah satu tali kantung itu terlepas. Seketika buah yang ada di dalam kantungan itu berjatuhan dan bergelinding, menuruni aspal yang sedikit miring.


Sebuah tangan menangkap salah satu buah itu dan disusul oleh tangkapan yang lainnya.


Gadis tinggi dengan wajah cantik itu mengumpulkan buah yang jatuh, ke dalam dekapannya. Tak peduli pada kaos putih yang ia kenakan, ia tak peduli jika getah buah itu mengotori bajunya.


"Terima kasih," ucap Evgen saat gadis kecil itu memberikan buah dalam dekapannya ke tangan Evgen.


Evgen memasukan buah itu kembali pada tempatnya. Lalu berjalan tanpa memandang gadis yang telah membantunya.


"Kak," panggil gadis cantik itu lembut.


Evgen membalikan badannya, melihat kearah gadis kecil dengan porsi badan dan lekuk tubuh yang bahkan lebih bagus dari seorang wanita dewasa.


Evgen hanya memandangnya tanpa ekspresi. Ia nahkan tidak tahu siapa yang membantunya tadi.


Di dalam pikirannya terus terbayang Rezi dan Shenina yang berpelukan. Ia tidak sempat lagi memperhatikan sekitar.


"Kenapa? Walau hanya mengingat nama aku saja Kakak gak bisa?" tanyanya sendu.


Krystal menundukan pandangannya dan tersenyum kecut.


"Kadang dunia memang selucu ini ya. Saat kamu mengejar sesuatu maka ia akan menjauh, tapi yang tidak di kejar, terkadang malah menempel dan tidak mau lepas," ucap Krystal sedih.


Evgen menundukan pandangannya, ia tak peduli pada wanita muda itu. Ia hanya sadar, bahwa apa yang diucapkan wanita itu benar.


Shenina, selalu jauh darinya. Tak peduli seperti apa ia mengejarnya, Shenina tetaplah sesutu yang paling jauh dari dirinya.


"Kadang dunia memang harus seperti inikah? Ada yang mengejar, namun malah suka mengejar. Aku selau dikejar-kejar oleh orang lain. Tapi orang yang aku kejar, malah gak ingat aku walau hanya sebatas nama." Krystal menundukan kepalanya dan tersenyum getir.


Ia menertawakan kebodohannya yang terlalu ambisi pada lelaki ini. Bukan hanya ia lelaki tampan yang mengisi dunia ini, namun entah kenapa? Seperti ada candu yang selalu membuat ia ingin bertemu dengan lelaki angkuh itu.

__ADS_1


"Krystal," ucap Evgen lembut, "nama elu Krystal kan?" sambungnya kembali.


Krystal menganggukan kepalanya dan kembali tersenyum. Ia menghela napasnya dan menatap kearah langit biru yang hampir berubah warna keorenan.


"Ibarat senja, namun bukan jingga. Kakak tahu maksudnya apa?" tanya Krystal pahit.


Evgen menggelengkan kepalanya, mana mungkin ia paham pada perkataan yang seperti itu.


"Kakak ingat nama aku, setelah aku bertanya berulang kali. Aku pikir setelah Kakak mengingatnya, aku akan senang. Ternyata malah lebih sakit karena aku memaksa Kakak untuk mengingatku."


Krystal berjalan mendekati Evgen. Ia berhenti tepat di sebelah Evgen.


"Aku tahu, sesuatu yang terjadi karena paksaan. Itu lebih menyakitkan dari pada kehilangan karena memang kita melepaskan." Krystal melirik kearah Evgen dan tersenyum dengan lebar.


Menampilan jejeran gigi putihnya dengan sebuah ginsul yang menambahkan kecantikan paras indahnya.


"Selamat tinggal, Kak. Kelak, mungkin kita bisa bertemu dalam keadaanyang lebih baik dari sebelumnya," ucap Krystal sambil berjalan menjauh.


Evgen memperhatikan punggung badan wanita tinggi itu. Kaos putih dengan rok mini yang ia kenakan. Memperlihatkan kaki putihnya yang panjang dengan bentuk badan yang ideal.


"Krystal," panggil Evgen lembut.


Krystal berhenti dan menolehkan kepalanya. Bibirnya sedikit memanyun dengan dahi yang mengernyit.


"Gue, Evgen." Evgen mengulurkan tangannya dan tersenyum lembut.


Krystal melepaskan senyumnya dan mengulurkan tangan. Namun jarak yang terbentang di antara mereka cukup panjang.


"Senang bertemu denganmu, kak Evgen. Kelak, kalau kita bertemu, aku harap kak Evgen dalam keadaan yang lebih baik dari saat ini." Krystal kembali melanjutkan langkahnya.


Evgen tersenyum dan menundukan pandangannya. Ia menggelengkan kepalanya.


"Dunia memang selucu itu, Krystal. Saat elu tahu elu berada dalam lingkaran hubungan yang salah. Namun elu malah bertahan dan berusaha untuk mencoba. Ini adalah kebodohan yang coba elu tutupi, tetapi hati gak mungkin bisa menutupi, ada rasa yang gak bisa di paksa. Ada hati yang memilih sendiri tanpa bisa dicegah."


Evgen mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik napas dalam.


"Lalu gue harus bagaimana? Jelas yang dia sukai Kakak gue, tapi gue pura-pura buta, dan memilih untuk bertahan. Berharap suatu hari ia tahu, bahwa gue tulus apa adanya, sepenuh hati jatuh cinta padanya."

__ADS_1


__ADS_2