
Evgen membanting pintu kamarnya, ia terduduk diatas kasur. Rahangnya menggeretak kuat.
Kali ini, jika ia tidak bertindak cepat, mungkin Shenina dan Rezi akan lebih dulu bersatu.
"Aarrrggggg!" Evgen menumbukan kembali kepalan tangannya ke buffet kayu sebelah kasurnya.
Mendengar suara keributan, Megi keluar dari kamarnya dan menemui Evgen. Megi mengetuk pintu kamar Evgen beberapa kali, karena tidak mendapatkan jawaban. Megi memutuskan untuk membuka pintunya.
Megi berjalan mendekati Evgen, matanya membulat saat melihat ruas jemari Evgen terluka.
Megi duduk disebelah Evgen dan mengambil jemari tangan Evgen. Membersihkan ruas jemarinya dan meneteskan obat.
Setelah selesai, Megi merapikan beberapa barang yang berantakan karena ulah Evgen. Megi mengelus kepala Evgen dan menciumnya lembut.
"Istirahat ya, besok Mama akan masakan sup iga buat kamu," ucap Megi lembut.
Megi berjalan meninggalkan Evgen sendiri, saat Megi berada diambang pintu. Ia mengalihkan pandangannya untuk melihat Evgen sekali lagi.
"Ma," panggil Evgen lembut.
"Iya,"
"Kenapa Mama gak bertanya apapun sama aku?" Tanya Evgen pemasaran.
Biasa Megi akan mengomel dan merepet saat melihat sesuatu yang berantakan. Tidak seperti biasa, Megi hanya diam, dan bersikap lebih tenang.
Megi tersenyum dan kembali mendekati Evgen. Megi meraih helaian rambut Evgen dan membelainya dengan lembut.
"Ini bukan seperti kamu biasanya Evgen, kamu tidak seperti ini biasanya," ucap Megi lembut.
"Maksud Mama?"
"Mama bertahun-tahun hidup dengan Papa kamu, Mama paham sekali sifat, karakter Papamu, Evgen. Dia juga akan seperti ini saat sedang kesal dan marah, jika sudah seperti ini. Maka kesendirian yang akan menenangkannya," ucap Megi lembut.
"Ma, apa Papa akan mengalah jika berebut sesuatu dengan Tante Rena?"
"Maksudnya?"
"Jika Papa dan Tante Rena menyukai hal yang sama, apa Papa akan mengalah?"
"Tergantung," jawab Megi lembut.
"Tergantung apa Ma?"
__ADS_1
"Tergantung sedalam apa Tante Rena menginginkan sesuatu itu, jika sesuatu itu baik dan Tante Rena benar-benar menginginkannya, mungkin Papa kamu akan mengalah. Tetapi jika Tante Rena hanya ingin bermain, dan itu bukan hal yang baik untuk Tante Rena, maka Papa akan melarang nya dengan tegas,"
Evgen menundukan pandangannya dan mencerna ucapan Megi. Jadi jika Rezi tidak benar-benar suka dengan Shenina, bukan salah dia jika merebut Shenina dari Rezi.
Evgen tersenyum tipis dan mengepalkan tangannya, kali ini ia tidak akan melepaskan Shenina.
'Kak Rezi, ayo kita bersaing. Siapa yang paling tulus dengan Shenina,' lirih Evgen dalam hati.
***
Rezi menjelaskan beberapa materi didalam kelasnya. Di tengah-tengah penjelasannya, Rezi mengalihkan pandangannya kearah Chen.
Melihat Chen dengan tatapan dingin dan juga tajam. Rezi menghela nafasnya dan kembali pada materinya.
Ia sudah bersikap tidak profesional belakangan ini. Membawa nilai Chen kedalam masalah pribadinya.
"Chen, setelah kelas. Jumpai saya di perpustakaan ya," pinta Rezi lembut.
Chen menghela nafasnya dan mengangguk pasrah. Kali ini apalagi yang disiapkan Rezi untuknya.
Ia sudah sakit kepala memikirkan laporan tugasnya. Kalau harus ditambah lagi, maka ia lebih baik menyerah saja.
Chen membereskan ranselnya, ia berjalan mengikuti langkah kaki Rezi. Menuju ke perpusatakaan kampus.
Rezi meletakan laptopnya dan mempersilahkan Chen untuk duduk didepannya. Matanya terus menatap Chen dengan binar mata dingin.
"Apa ada materi saya yang gak bisa kamu pahami?" Tanya Rezi kembali.
"Alhamdulillah, saya mengerti semua yang Bapak ajarkan pada saya."
"Jadi kenapa laporanmu berantakan?" Tanya Rezi kembali.
"Saya rasa Bapak lebih paham dan mengerti, kenapa laporan saya bisa berantakan?"
"Maksud kamu?" Tanya Rezi sengit.
"Bukannya Bapak lebih paham ya, dimana letak kesalahan laporan saya. Atau letak kesalahan saya?"
"Kamu mau bilang, jika saya menolak laporan kamu karena masalah dengan Neha?"
"Saya tidak merasa begitu, tapi saya rasa, Bapak yang merasa begitu," jawab Chen lembut.
"Jadi kamu menuduh saya tidak profesional dalam bekerja?"
__ADS_1
"Menuduh atau tidak, Bapak pasti lebih paham maksud saya. Jika iya, itu artinya Bapak gagal, Neha dan saya itu adalah hal diluar kampus. Bapak dan saya, kita berada didalam masalah personal kampus, jika Bapak menekan saya, hanya karena saya pacar Neha. Selamat, Bapak membuktikan sama saya, kalau Bapak bukan lelaki yang baik untuk Neha,"
"Kamu!" Tekan Rezi geram.
Chen melepaskan senyumnya dan menatap Rezi dengan sangat lekat.
"Bapak seharusnya bisa membedakan, mana pekerjaan dan mana perasaan. Dengan ini saya paham kenapa Neha tidak ingin bersama dengan Bapak, terlepas dari kegeniusan Bapak dalam mengelola jaringan dan virus. Bapak hanyalah lelaki biasa yang labil dan tidak bisa mengendalikan emosi,"
Rezi mengambil nafasnya dengan memburu kencang. Ia benar-benar panas dibuat oleh Chen. Walaupun ia tidak ingin mengakuinya, tetapi apa yang dikatakan oleh Chen memang benar adanya.
Padahal niat ia ingin meminta maaf pada Chen. Tapi siapa sangka, ucapan yang dilontarkan oleh Chen semakin membuat ia panas dan meradang.
"Saya hanya ingin memberitahumu kesalahan dalam laporan tugas kamu. Walaupun saya hanya asisten dosen, bukan berarti kamu bisa bicara seperti ini sama saya, Chen."
"Saya memang hanya mahasiswa Bapak, saya memang bukan mahasiswa setingkat Bapak. Tapi saya tidak buta, Pak. Saya bisa melihat, Bapak bukan orang yang seperti ini sebelumnya. Bapak bukan orang yang bisa membentak orang lain didepan kelas, apalagi hanya karena salah dalam menulis laporan."
Sejenak Rezi terdiam, ia memang lepas kendali setiap kali menyangkut Neha. Ia juga bingung, kenapa saat melihat Chen emosinya terbakar habis dan ingin meluap keluar.
"Bapak pernah bilang didepan kelas. Kesalahan dalam belajar itu hal yang biasa, saya juga sering salah. Intinya, jangan pernah putus asa untuk mencoba. Apa Bapak lupa dengan kata-kata yang pernah Bapak ucapin dulu?" Tanya Chen lembut.
Rezi hanya diam, ia menundukan pandangannya kebawah. Malu dan juga kesal, kini bercampur jadi satu.
"Saya tahu saat ini Bapak sedang putus asa, saya tahu saat ini Bapak sedang kecewa. Tapi sepahit apapun luka yang Bapak rasain saat ini, jangan pernah kehilang diri Bapak sendiri karena terbawa amarah."
Melihat Rezi yang hanya terdiam, Chen mengambil ranselnya dan bangkit perlahan.
Rezi menghela nafasnya dan mencoba kembali pada kenyataan. Ia benar-benar sadar. Jika saat ini ialah yang bersalah.
"Chen," panggil Rezi lembut.
Chen menghentikan langkahnya dan melirik kearah Rezi.
"Maafkan saya," ucap Rezi lembut.
Chen hanya menghela nafasnya dan menganggukan kepalanya.
"Sekarang aku tahu kenapa Neha memilih kamu," ucap Rezi pahit.
Chen menaikan sebelah alis matanya dan tersenyum tipis. Neha tidak pernah memilih dia, tidak pernah ada yang terjadi antara ia dan Neha.
"Kamu dewasa dan juga bisa mengontrol diri lebih baik dari saya. Maaf Chen, tapi saya tidak sanggup untuk mengatakan semoga kalian bahagia,"
Rezi menundukan pandangannya, ia benar-benar sakit hati oleh keadaan ini. Walau ia berpikir untuk menyerah dan melepaskan Neha saja.
__ADS_1
Namun rasanya, melepaskan Neha lebih sakit dari pada yang ia duga. Jantungnya terasa sangat nyeri dan sesak. Apalagi Rezi harus menahannya didepan Chen.
Bersikap seolah ia baik-baik saja, ternyata lebih sakit dari mengatakan bahwa saat ini dia sedang terluka.