
Evgen merangkul bahu Shenina, kembali berjalan menembus jalanan padat di bawah sinar matahari senja.
Shenina menundukan pandangannya, tersenyum lembut sambil menikmati debaran halus jantungnya yang menjadi kencang secara perlahan.
"Evgen," panggil Shenina lembut.
"Hem."
"Mau makan di rumah gue sebelum pulang?"
"Gak usah, elu pasti lelah sehabis jualan," tolak Evgen lembut.
"Tapi elu kan sudah bantuin gue seharian ini. Gue masakin makanan ya buat elu," ucap Shenina kembali.
"Gak usah, Shen. Lu habis ini langsung istirahat ya. Gue gak mau lu kurusan lagi, badan elu makin kecil nanti."
Shenina menyikut perut Evgen dengan kuat.
"Sialan elu, lu pikir gue apa? gue bukan kecil, hanya belum tumbuh saja," balas Shenina ketus.
"Belum tumbuh?" Evgen menghentikan langkahnya dan memandang Shenina dari atas sampai bawah.
Ia menatap tubuh mungil Shenina dengan lekat dan dalam.
Plaaak
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Evgen.
"Sialan elu! Elu lihatin apa?" tanya Shenina sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Heh ... wanita aneh, lu nampar gue itu kenapa?" tanya Evgen meradang.
"Lu pikir saja sendiri, mata elu itu jelalatan lihatin apa?"
"Lihatin badan elu lah!"
Plaaak
Satu tamparan kembali mendarat di pipi lainnya. Evgen menahan napasnya yang mulai memburu kencang.
"Shenina, elu!" ucap Evgen tertahan.
Amarah sudah hampir meluap keluar, namun ia berusaha menahan agar tidak meledak saat ini juga.
"Ini balasan elu setelah gue bantuin elu seharian, iya?" tanya Evgen ketus.
"Gue sudah nawari elu makan malam dan elu malah nolak, terus salah gue?"
"Terus maksud elu nampari gue apa? Hah? Lu pikir karena gue suka sama elu, gue gak bisa mukul elu?!" teriak Evgen keras.
__ADS_1
"Oh, jadi elu mau mukul gue lagi, ya? Iya?" tanya Shenina lantang.
"Lu saja mukul gue tanpa alasan, kenapa gue gak berani mukul elu?"
"Gue mukul elu karena elu itu lihatin badan gue, mata elu itu jelalatan mandangi tubuh gue!"
"Heh, elu sendiri yang bilang kalau elu gak kecil, jadi gue lihat badan elu mananya yang enggak kecil. Semuanya serba kecil, lu tahu, ha? Semuanya serba kecil, Shenina!" tekan Evgen ketus.
Bugh
Shenina menumbuk perut Evgen, seketika Evgen terbatuk karena tersengal pernapasannya.
"Yang elu bilang serba kecil itu apa?" tanya Shenina garang.
"Heh, kalau memang kecil ya kecil saja. Kenapa harus marah saat gue bilang elu kecil?"
"Siapa yang kecil hah? Siapa?" tanya Shenina garang.
"Elu yang kecil, kenapa hah? Gak suka? Mau mukul lagi? Berani elu mukul gue lagi, gue pukul elu balik!" ancam Evgen ketus.
"Oh jadi elu mau mukul gue? Yasudah pukul sini, hem. Pukul!" Shenina menyodorkan pipinya yang pernah tertonjok oleh tangan besar Evgen.
Evgen mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap untuk menampar pipi kecil milik gadis manis itu.
Shenina memejamkan kedua matanya saat tangan Evgen mulai melayang. Ia mengernyitkan dahinya, mempersiapkan diri untuk menahan rasa sakit yang akan timbul dari tamparan tangan besar itu.
Evgen tersenyum lembut, ia berlari meninggalkan Shenina yang masih terdiam terpaku karena ulahnya.
Menit kemudian, Shenina tersadar dan berlari mengejar langkah Evgen.
"Evgen!" teriak Shenina mengejar langkah Evgen yang kian menjauh.
"Ha ha ha, terasa enakkan pukulan gue?" tanya Evgen tertawa senang.
"Lu berani ya sama gue?" Shenina mengejar langkah besar Evgen.
Evgen hanya terus tertawa, ia merasa kali ini benar-benar menang melawan Shenina.
"Sini elu, sini elu!" Shenina mencoba menangkap badan besar lelaki angkuh itu.
Beberapa kali Evgen menghindari tangkapan Shenina. Ia menyentuh ujung kepala Shenina, menggoda si gadis manis yang saat ini sedang memadam. Antara malu dan juga tersipu.
"Ha ha ha, hentikan!" Evgen menganbil kedua pergelangan tangan Shenina yang beberapa kali mencoba meraih dirinya.
"Cukup, jika terus bergerak nanti elu bisa jatuh," ucap Evgen lembut.
"Maksudnya?" tanya Shenina bingung.
Evgen melepaskan tangan Shenina dan mulai berjongkok di depan kaki gadis itu. Ia meraih tali sepatu milik kekasihnya itu dan mengaitkan kembali tali yang sempat terlepas.
__ADS_1
Shenina menatap helaian rambut hitam yang saat ini sedang menunduk ke bawah. Desiran angin senja, membawa perasan hangat menembus hatinya.
Hangat akan sebuah sentuhan, hangat kasih sayang yang tak pernah terucapkan namun selalu hadir untuk dirasakan.
Sesuatu rasa yang kadang benci, kesal dan juga geram. Membaur menjadi satu dengan kelembutan dan juga kehangatan. Menciptakan rasa rindu akan sebuah rasa yang mulai hadir tercipta.
Cinta, yang tidak pernah ia sadari. Mulai menembus masuk kedalam hatinya, berkat pria yang kini ada di hadapannya.
"Sudah, ayo pulang!" ajak Evgen lembut.
Evgen tersenyum lembut, berjalan meninggalkan Shenina sendiri.
Terasa tarikan di ujung kaus, Evgen mengalihkan perhatiannya. Melihat gadis imut yang sedang tertunduk dengan wajah yang memerah.
"Ada apa?" tanya Evgen lembut.
"Maaf," lirih Shenina pelan.
"Hem, lu bilang apa?" tanya Evgen tak mendengar.
"Maaf, Evgen. Maaf karena gue sudah nampar elu dan juga mukul elu hari ini."
"Lu mukul gue tiga kali, berarti gue harus balas tiga kali juga dong," ucap Evgen angkuh.
"Lu mau pukul gue beneran?" tanya Shenina mendongakan pandangan.
"Iya, sekarangkan gue bisa mukul elu tanpa tangan," jawab Evgen, memainkan kedua alis matanya.
"Maksudnya?" tanya Shenina bingung.
Evgen memainkan satu jari di atas bibir tipisnya. Shenina menundukan pandangannya dan tersipu malu.
Jika mengingat rasa hangat sentuhan bibir Evgen, perlahan debaran jantungnya terasa sangat nyata.
Evgen meraih kepala Shenina, menarik badan mungil gadis itu kedalam dekapannya. Ia menghela napas, mencium pucuk kepala Shenina dengan lembut.
"Pukul gue saat elu marah, pukul gue saat elu kesal. Elu boleh melampiaskan apapun sama gue, Shen. Elu bebas mau mengerahkan seluruh amarah elu sama gue, gue gak akan balas. Gue akan menahannya untuk elu," ucap Evgen lembut.
Evgen mengeratkan dekapannya pada bahu kecil gadis mungil itu. Terasa lingkaran tangan membalas pelukannya.
Hangat, perasaannya sangat tenang saat ia bisa mendekap sang pujaan hati di dalam kedua tangannya.
"Gue akan menahan apapun untuk elu, saat elu kesulitan datanglah pada gue. Saat elu kesakitan, mengeluhlah sama gue. Saat elu sendiri dan merasa sedih, datanglah ke dalam dekapan gue, Shen," ucap Evgen kembali.
"Karena buat elu, gue akan selalu ada. Gue akan selalu sigap dan gue akan selalu tegap berdiri sebagai sandaran elu. Mulai sekarang, teruslah di sini. Teruslah berada dalam dekapan gue," sambung Evgen lembut.
Evgen meleraikan pelukannya, meraih kedua belah pipi chubby gadis berkulit kuning langsat itu.
"Karena tidak peduli sedingin apapun, gue adalah orang yang akan berusaha menciptakan kehangatan untuk elu. Gue, yang akan menyambung napas elu untuk bertahan dalam segala kesulitan jalan hidup elu, Sayang."
__ADS_1