
Sean melajukan motornya menuju sisi barat kota. Ia memilih tempat itu karena di sisi barat kota suasana lebih tenang, ada hamparan pasir putih disana.
Sean merebahkan badannya di atas pasir putih di bawah pohon cemara. Matanya menatap luas ke bentangan langit biru siang hari. Pikirannya kembali melayang jauh, teringat kejadian sebelas tahun silam.
Saat ia pulang dari pasar untuk membeli beberapa peralatan untuk praktek sekolahnya. Ia menemukan Rayen dan seorang wanita muda keluar dari penginapan.
Padahal Rayen bukan pengusaha sukses dulu, Rayen hanya seorang karyawan di perusahaan swasata. Om Fandy jauh lebih sukses dari pada Rayen. Tapi tingkah Rayen seakan ia adalah tuan besar saja.
Semenjak saat itu hubungan Rayen dan Sean memburuk. Tapi Sean memilih diam karena memikirkan perasaan Miranda. Tanpa Sean sadari Miranda juga tahu hal itu, namun Miranda hanya mampu menangisi keadaannya.
Miranda hanya memikirkan bagaimana nasib Rena dan Sean jika melihat kedua orang tuanya berpisah. Miranda takut akan berdampak buruk pada perkembangan kedua anaknya.
Tanpa Miranda sadari, anak-anaknya saat ini pun tumbuh dengan berantakan. Ia melupakan anak-anaknya karena keadaan yang membuat ia depresi.
Keadaan terus memburuk karena Sean yang sering menemukan keburukan Rayen di luaran. Itu juga yang membuat Sean sering kabur-kaburan dari rumah.
Sampai akhirnya Rena hamil di usia muda, dan keguguran tanpa seorang suami. Hal itu semakin membuat Miranda terpuruk dan depresi, di tambah Sean yang tak lagi berada di rumah. Keadaan kehidupan mereka tak pernah membaik.
Seperti tak ada ujungnya, penderitaan Miranda terus datang silih berganti, namun tak pernah berakhir. Suami dan putranya telah perang selama sebelas tahun, tapi tak ada sedikitpun titik terang dari permasalahan mereka.
Semakin lama semakin meruncing. Terasa sangat menusuk dada Miranda, perlahan pisau yang diasa oleh dua orang lelaki kesayangan Miranda, terus membunuhnya perlahan.
Sean mengenakan kacamata hitamnya, melindungi pandangannya dari sinar matahari siang yang menyengat di kulit mulus milik dirinya. Desiran suara angin bertautan dengan deru sang ombak. memberikan suara yang mampu menghilangkan sedikit beban hati Sean.
Hanya alam tempat ia mengadu, hanya sapaan alam yang mampu membawa pergi segala emosinya. Sean selalu menyendiri saat emosinya meluap, alam yang akan menenangkan keadaannya.
Tak ada tempat lain yang bisa ia datangi, selain bentangan luas tak bertepi ciptaan sang maha langit. Suara yang di datangkan alamlah yang selalu ia jadikan suara penghibur diri.
Terlalu berat beban yang ia rasakan, ia hanya ingin keluarga yang normal. Namun itu tak pernah ia rasakan selama ini. Kemana ia akan mencari, tak ada punggung tempat ia sandarkan segala beban ini.
Semuanya terasa sangat berat, semakin lama beban ini semakin menekan dirinya. Beban di pundaknya yang membuat Sean mengeras dengan keadaan ini.
Seperti kehilangan kepercayaan, Sean lebih memilih mengungkapkannya dengan kekerasan. Sean tertempa menjadi seseorang yang ketus dan juga kasar, sikap dinginnya terbentuk karena desakan masa lalunya.
****
"Mas... Sttt... Stttt..." Megi memanggil Farrel yang sedang berkerja di depan komputernya.
__ADS_1
"Nona panggil saya?" Tanya Farrel saat melihat Megi di sebalik bilik ruangannya.
"Bukan ... Aku manggil cecak di dinding."
"Oh ... Kirain panggil saya." Farrel kembali berkutat di komputernya.
"Ih ... Ya iyalah aku panggil mas nya. Gimana sih." ucap Megi kesal.
"He he. Jangan panggil saya mas, Nona. Panggil saya Farrel saja. Saya gak enak nanti kalok kedengaran Tuan Muda, Nona panggil saya Mas."
"Mas nya kenal cewek yang nama nya Hana, gak?"
"Kan udah saya bilang, Nona jangan panggil saya Mas. Panggil Farrel aja." kembali Farrel berucap sungkan.
"Ih ... Ribet amat sih! Tinggal jawab aja apa susahnya sih?" Megi mulai kehilangan kesabarannya.
"Iya, maaf Nona. Saya tahu, memang kenapa Nona? Kok nanyain dia?"
"Dia itu siapa sih, Mas?"
"Kan, Nona panggil saya Mas lagi, Kan..."
"Itu Nona tau, kenapa masih panggil Mas terus?"
"Udah deh, jawab aja pertanyaan aku." Ucap Megi yang mulai tak sabar lagi.
"Saya gak berani bilang, Nona tanya saja sama Tuan Muda langsung ya."
"Aku tuh tanyanya sama kamu, kenapa malah nyuruh aku tanya sama si otak somplak itu sih?"
Pfftt... Farrel manahan tawa saat mendengar ucapan Megi. Sementara Megi hanya mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kok malah ketawa sih, Mas?" tanya Megi yang kesal melihat ekspresi Farrel.
"Saya kasih tau, tapi Nona jangan tanya apapun sama Tuan Muda ya."
"Hemm."
__ADS_1
"Dia itu mantan Tuan Muda, Nona. Eh ... Tapi Nona janji jangan tanya apapun ke Tuan Muda, nanti saya di kirim liburan ke Afrika bareng singa-singa."
"Emang kamu takut ya, sama singa?" Tanya Megi mengejek.
"Ya takutlah, Nona. Saya belum mau mati muda." Jawab Farrel serius.
"Emang selama ini gak ngerasa ya kalok lagi kerja sama singa kelaperan?"
Pfftt... Farrel kembali menahan tawanya. Kali ini Bos yang galak mendapatkan karmanya. Sean mendapatkan wanita galak yang setara dengan dirinya.
"Lagian kenapa ya Hana bisa suka sama si otak berangin kayak dia? Hana itu kan cantik banget, elegan dan juga lembut! Dih... Matanya somplak kali ya." ucap Megi sambil memutar bola matanya.
"Ya ... Nona kenapa bisa suka? Padahal Nona sendiri yang bilangi Tuan Muda kayak singa?"
Megi hanya menyeringai seperti kuda mendengar ucapan Farrel. Sean memang kasar, namun pesona yang ia miliki begitu sangat menarik. Di balik sikap dinginnya, ia masih bisa di andalkan.
"Nona gak pulang? Ini udah sore, saya antar pulang ya."
"Tapi, kak Sean..."
"Gak usah di tunggu, Nona. Tuan Muda kalau udah marah susah di cari. Dia sering menghilang begitu, Tuan Besar saja kadang bingung lihat sikapnya."
Megi hanya mengerucutkan bibirnya, ia membereskan barang-barangnya dan beranjak untuk pulang.
Seperti yang Farrel bilang, Sean menghilang selama dua hari. Ia tidak ke hotel dan juga mengunjungi Megi di apartemen. Ia meredam amarahnya dengan cara membenamkan dirinya sendiri. Hilang tanpa jejak, menenggelamkan diri entah dimana.
Mentari kembali menyonsong pagi, Megi menyiapkan beberapa masakan. Walaupun Sean tidak pernah datang selama tiga hari belakangan, ia seperti terbiasa menyiapkan makanan buat orang lain.
Setelah selesai masak, Megi melanjutkan desain yang ia buat. Tak ada Sean di hotel, Megi lebih memilih untuk mengerjakan desainnya di apartemen mereka.
Walau suntuk di tinggal sendiri, namun Megi tak bisa berontak. Kemana ia harus mencari Sean, bahkan Farrel pun tak tahu.
Ia selalu kehilangan jati dirinya saat melihat Hana. Begitu besar pengaruh Hana dalam hidup Sean. Bibir Sean mengucapkan bahwa Hana tak lagi penting, tapi sikapnya menunjukan bahwa Hana lah segala kepentingan Sean.
Saat Hana kembali, maka Sean lah yang menghilang. Menghilangkan diri ataupun kehilangan jati dirinya. Sean masih belum sanggup untuk melepaskan segala beban yang Hana berikan padanya.
Sean bisa berkilah pada bibirnya, tapi Sean tak mampu berkilah pada sikapnya. Sean membohongi dunia dengan ucapannya, tanpa ia sadarai sikapnya selalu menunjukan kebenarannya. Sean masih sangat terpengaruh oleh keadaan Hana. Sayangnya, Megi menyadari itu semua.
__ADS_1
Ting ... Bel apartemen berbunyi. Megi beranjak dari tempat duduknya dan segera membuka pintu. Matanya membelelak sempurna, saat melihat wanita yang berada di ambang pintu saat ini.