
"Lu menjebak, gue. Meg." ucapnya sinis.
"Aku?" tanya Megi bingung.
Sean mengumpat kesal, bagaimana mungkin ia di permainkan oleh gadis kecil ini. Saat bianglala turun, Sean dengan cepat keluar dari keranjang yang mereka naiki. Sean berjalan cepat meninggalkan Megi di belakang.
"Kak." panggil Megi sedikit berteriak.
Namun Sean seperti tak mendengar, ia terus berjalan cepat meninggalkan Megi. Kesal sendiri entah karena apa.
"Kak." Megi meraih lengan tangan Sean. Memutar badan Sean agar berhadapan dengan dirinya.
"Kakak kenapa? aku menjebak apa?" tanya Megi bingung
"Lu sengaja kan, biar gue mencium elu di puncak tertinggi?"
"Kakak bilang gak percaya mitos, tapi kenapa kakak marah?" Megi menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Gue marah karena elu berani menjebak gue, Megi." balas Sean kesal.
"Kak, aku gak ngerasa menjebak kakak, kakak sendiri yang terbawa oleh suasana."
"Elu..." Sean menggenggam kedua tangannya kesal.
Memang iya, Sean sendiri yang terbawa suasana karena perasaan dihatinya yang selalu ingin menyentuh gadis kecil ini. Namun Sean berusaha untuk mencoba mengingkari perasaannya sendiri.
"Udah, gak perlu, marah-marah. Nanti makin tua." ucap Megi jutek.
Sean menatap Megi sinis, kenapa dia sering sekali lepas kendali atas dirinya sendiri. Megi menarik tangan Sean untuk memulai wahana lainnya.
"Meg lu gak capek apa?"
"Mumpung disini kak. Kita cobain semua, ya." pinta Megi gembira.
"Lu sendiri ya, gue lelah, Meg." Sean membuang bokongnya kasar diatas kursi panjang di bawah pohon besar.
"Ish, ayolah kak. Kakak gak asyik ih." ucap Megi manja sambil menarik tangan Sean.
"Gue lelah Meg." ucap Sean lemah.
"Yaudah, kakak tunggu sini aja ya. Jangan kemana-mana nanti di culik banci." Megi mencoel pipi Sean, ia langsung berlari menuju wahana lainnya.
Sean hanya tersenyum dan menggeleng pasrah, ada-ada saja tingkah gadis kecil itu.
"Dasar..." ucap Sean sambil mengumbar senyumnya, menampilkan lesung di pipi kanannya yang tak terlalu dalam.
Sean mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya. Sambil menunggu Megi bermain, seperti seorang ayah yang sedang memomong anaknya.
Sean menggelengkan kepalanya kembali, heran dengan Megi yang seperti tak kehabisan energi. Setelah seharian bermain pun dia masih ada tenaga untuk bermain dan tertawa.
Setelah menunggu berjam-jam Megi akhirnya selesai bermain, namun itu tak membuat ia ingin pulang. Megi menarik Sean untuk kembali berjalan, mengelilingi stand-stand yang berada di pasar malam tersebut.
Senyum Megi terukir indah, matanya berbinar saat memasuki stand aksesoris. Megi asyik memilah barang-barang mungil di hadapannya.
Pandangan Megi tertuju pada bunny head yang tergantung di hadapannya. Megi mengambil bunny head berwarna pink dan meletakannya di kepala Sean. Tawanya meledak, saat ia menarik salah satu kaki bunny head itu, dan bersamaan telinga bunny head yang naik turun.
"Kak beli ini ya." ucap Megi sambil menahan tawa.
Sean hanya cemberut ketat, wajahnya ditekuk saat Megi menjadikannya lelucon. Megi terus menarik kaki bunny head itu, memainkan bunny head yang ia letakan diatas kepala Sean.
__ADS_1
"Puas?" tanya Sean ketus, saat melihat Megi yang terus tertawa saat memainkan bunny diatas kepalanya.
"Ehm, ehm." Megi menggelengkan kepalanya, ia menarik kedua pipi Sean, membuat kepala Sean menggeleng mengikuti gerakan kepalanya, menggeleng kekiri dan ke kanan.
"Aduh ... Megi." teriak Sean kesal.
"Lu, ih..." Sean menjitak pucuk kepala Megi karena kesal.
Megi mengeluarkan ponselnya dan memberikan ponselnya kepada penjual aksesoris itu.
"Mas, tolong fotoin dong." pintanya pada si tukang penjual itu.
"Ah enggak, enggak." Sean melepaskan bunny head di kepalanya.
"Kak ayo dong, kenang-kenangan."
Sean menghela nafasnya, walau dengan terpaksa Sean memakai lagi bunny head itu, walau agak memalukan tapi ia senang melihat Megi bisa tersenyum lepas.
Megi berdiri di depan Sean, Megi menarik kaki bunny itu agar telinganya berdiri. Beberapa jempretan terambil sempurna, Megi tersenyum sendiri melihat hasilnya.
"Udah puas?" tanya Sean ketus.
"Kakak ganteng deh pake itu." senyum melengkung di bibir Megi saat melihat hasil fotonya.
"Memang gue udah ganteng dari dulu." ucap Sean bangga.
"Mas, aku mau ini dong." Megi menyerahkan bunny head itu ke si penjual.
Saat menunggu si penjual membungkus seluruh pesanan Megi, seseorang menyenggol badan Sean dari belakang, sontak membuat Sean gamblang dan memeluk Megi yang berdiri di depannya. Megi menatap Sean yang saat ini sedang memeluk badannya.
Debaran jantung Megi semakin cepat, saat ia menatap mata bening milik Sean. Kembali dadanya bergejolak riuh.
Sama hal nya dengan Sean, kini jantungnya juga ikut bertabuh tak beraturan. Menatap Megi dari jarak yang sangat dekat, matanya hanya terus menatap setiap lekuk wajah Megi yang terukir sangat indah.
"Gue juga." balas Sean tanpa sadar.
"Apa?" Megi berteriak, seakan tak percaya ucapan Sean.
"Apa? gue bilang apa?" dengan cepat Sean berkelit. Ia melepaskan pelukan Megi. Sean menyisir rambut gondrongnya ke belakang.
"Berapa harga bunny headnya, Mas?" tanya Sean sambil mengelurkan dompetnya.
Sementara Megi terus menatap wajah Sean bingung. Ia seperti mendengar Sean menjawab pernyataannya, namun sepertinya itu tidak mungkin.
"Udah, ada lagi?" tanya Sean berusaha membuang grogi dalam dirinya.
"Kak, tadi kakak jawab aku kan?" tanya Megi penasaran.
"Yang mana?" Sean menaiki alis matanya, seakan ia pura-pura tak menjawab.
"Yasudah lupain aja deh, kak."
"Kita pulang yuk, Meg. Ini udah larut." ajak Sean.
Megi hanya mengangguk pasrah, bagaimana juga hari ini pasti akan berakhir. Walau sebenarnya ia masih ingin lebih lama menghabiskan waktu berduaan dengan lelaki dingin ini.
Sepanjang perjalan Megi masih terus memikirkan jawaban Sean tadi.
'Sebenarnya kak Sean tadi jawab gak sih? kok aku jadi bingung ya?' lirih Megi dalam hati.
__ADS_1
Megi mengerdikan bahunya, ia melingkari kedua tangannya di perut Sean. Meletakan kepalanya diatas punggung badan Sean. Hangat, suasana sedingin apapun akan terasa hangat saat berada di sisi Sean.
Bibir Megi kembali melengkung indah, menampilkan lubang di sudut bibirnya dengan indah. Andai setiap hari ia bisa memeluk Sean seperti ini, pasti hari-harinya akan terasa jauh lebih indah.
Sementara, Sean terus memaki kebodohan nya dalam hati. 'Bodoh, dasar bodoh. Ah ... Bagaimana jika Megi menyadarinya? bisa gawat." rutuk Sean dalam hati.
Sean menurunkan kecepatan laju motornya, geram sendiri karena kebodohannya yang bisa kelepasan saat terpesona oleh wajah indah Megi.
"Meg, lu gak tidur kan?" tanya Sean yang sama sekali tak mendengar suara bawel Megi dari tadi.
"Enggak, kakak gak usah berisik deh." jawab Megi ketus.
"Biasa elu yang berisik."
Megi mengangkat kepalanya dan memukul punggung badan Sean keras.
"Bisa gak sih kak? gak usah rusak mimpi indah aku."
"Katanya gak tidur, tapi udah mimpi. Wah, bisa kena iler ini kemeja gue." jawab Sean menggoda.
Megi mentoyor helm yang saat ini Sean gunakan dengan kuat.
"Mimpi itu gak harus selalu tidur ya kak." jawab Megi kesal, kembali ia mentoyor kepala Sean yang sedang terbalut helm full face.
"Wah, naik level lu ya Meg. Berani lu toyor kepala gue. Lihat aja nanti di apartemen, habis lu gue buat." ucap Sean ketus.
"Ya ya." jawab Megi malas.
Megi langsung menuruni motor Sean saat laju motornya berhenti di depan lobi. Dengan cepat tangan Sean menarik sisi belakang kaus Megi.
"Ah ah, apaan sih kak?" tanya Megi kesal.
"Berani sekarang lu main fisik sama gue ya, rasakan, rasakan." Sean mentoyor kepala Megi beberapa kali.
Dengan cepat Megi membalikan badannya, kembali mata mereka berdua saling bertautan. Perlahan cengkraman Sean mengendur, Sean menundukan pandangannya saat mata mereka saling bertemu.
"Kak." panggil Megi lembut.
"Hem." Sean menaiki kedua alis matanya, menyilangkan kedua tangannya di dada. Dengan santai ia duduk diatas motor sportnya.
"Sini deh aku bisikin sesuatu." Megi melambaikan tangannya.
"Apa sih?" tanya Sean ketus.
"Sini deh," pinta Megi lembut.
"Apa?" Sean mendekatkan telinganya ke wajah Megi.
Dengan cepat Megi mengecup pipi Sean, lalu ia berlari kencang memasuki lift apartemen. Sementara Sean masih terpaku diatas tungangannya.
Sean melepaskan senyumnya saat melihat punggung Megi berlari menjauh. Bukannya kesal, suasana hatinya malah berubah senang.
Sean memegang pipinya yang baru di cium Megi. Perlahan Rona wajahnya berubah kemerahan, tak lama Sean mengusap wajahnya kasar. Malu sendiri mengingat tingkah Megi.
"Dasar." ucap Sean sambil menggumbar senyum dan menggeleng pasrah.
Sementara Megi dengan cepat menutup pintu kamarnya. Deguban jantungnya terasa sangat memburu.
Megi menjerit dan melompat kegirangan sendiri. Walaupun ucapan Sean itu antara nyata atau tidak, tapi hari ini Sean cukup membuatnya bahagia.
__ADS_1
Megi menyentuh bibirnya dengan jari, mengingat kejadian diatas bianglala itu, membuat wajahnya bersemu hangat.
"Kak Sean, i love you." ucap Megi sambil tersipu malu.