Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
118


__ADS_3

Megi memeluk badan Evgen seerat mungkin. Sudah lima menit berlalu, namun tangannya masih melingkari pinggang putranya itu dengan erat.


Ada perasaan rindu yang sudah mengisi hatinya, padahal putranya itu masih berada dalam pelukan.


"Megi, apa sekarang pelukanku tidak sehangat pelukan putramu itu?" tanya Sean menggoda.


Megi menggelengkan kepalanya, ia semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Evgen.


"Mama, ini sudah lima menit. Mau sampai kapan Mama peluk aku begini?" tanya Evgen lembut.


"Evgen, kenapa cepat sekali ingin pergi? Adik kamu belum juga lahir," ucap Megi manja.


"Kalau nunggu adik lahir, nanti kuliahku nunggu singa beranak dong baru lulus," jawab Evgen asal.


"Hais ... tapi kamu masih bisa di sini satu atau dua bulan lagi. Baru selesai ujian, kenapa harus secepat ini mau pergi?" tanya Megi tak senang.


"Mama ayolah, kita sudah bicarain ini kan. Keputusan aku mau pergi gak bisa ditunda lagi, Ma. Lagian Papa bisa terbang kemana saja, Mama bisa bawa adik aku ke london saat dia lahir nanti, ya," bujuk Evgen lembut.


Megi kembali mengeratkan pelukannya, membenamkan wajahnya di dada bidang putranya itu.


"Kalau gak Mama antar kamu sampai bandara ya, Evgen. Mama mau lihat kamu pergi."


"Sampai bandara atau di depan rumah sama saja, Ma. Aku tetap akan pergi, kan."


"Megi." Sean menarik badan Megi, melepaskan pelukan Megi dari badan putranya itu.


"Evgen hanya pergi beberapa tahun, jangan seperti ini," ucap Sean menenangkan.


"Mau beberapa bulan sekalipun, aku juga tetap gak rela dia pergi, Kak," jawab Megi menangis tergugu.


"Aiya Mama, lagian seharusnya Mama senang. Tidak ada lagi anak nakal yang buat Mama dipanggil ke ruangan kepala sekolah."


Megi tersenyum kecut dan menjewer daun telinga putranya itu.


"Jangan makan sembarangan di sana. Lebih baik kamu masak sendiri, ingat untuk jangan bergaul terlalu bebas. Jangan minum alkohol. Kamu gak boleh merokok, gak boleh clubing. Gak boleh main wanita, gak boleh--"


"Mama," putus Evgen lembut. "Sudah ke seratus kali Mama bilang itu ke aku. Percayalah, aku bisa jaga diri, Ma."


Megi kembali menumpahkan air matanya, memeluk kembali badan besar putranya itu.


Evgen hanya bisa menghela napas, mengelus pundak Megi lembut. Tak lama ia meleraikan pelukan Megi, menghapus buliran air mata Mamanya itu yang kian deras mengalir.


"Jika Mama begini terus, aku akan ketinggalan pesawat nanti," ucap Evgen kesal.


"Baiklah, cium Mama dulu. Baru Mama izini kamu pergi."


Evgen menghela napasnya, merapikan pipi Megi. Mengecup dahi dan kedua pipi Megi, di sambung dengan kedua kelopak mata ibundanya itu.


"Sudah apa lagi? Dasar manja," ucap Evgen malas.


"Kamu ... makin dewasa makin mirip Papa kamu. Judes!" balas Megi ketus.


Evgen berjalan ke arah Niki yang ikut menangis sesegukan. Menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Hei, kamu gak mau lihat wajah aku sebelum pergi?" tanya Evgen mencoba membuka tutupan tangan Niki.


Niki menghempaskan tangan Evgen, berlari memeluk Rezi. Menyembunyikan wajahnya di dalam badan Rezi.


Evgen hanya tersenyum lembut, menatap wajah gadis cantik yang berdiri di samping Niki tadi.


"Lu ... pulang kan saat nikahan gue nanti?" tanya Aya lembut.


"London-Indonesia lima belas jam perjalanan, Aya. Gue gak sempat pulang kalau hanya libur dua hari dari kampus nanti."


Soraya memanyunkan bibirnya dan menumbuk dada bidang Evgen lembut.


"Gue akan rindu berat sama elu," ucap Aya dengan genangan kaca dari kedua bola matanya.


Evgen menganggukan kepalanya, mengkodekan kedua tangannya agar Aya datang memeluknnya.


Aya membenamkan wajahnya di dada bidang Evgen, diikuti si kembar yang menyusul memeluk badan Evgen.

__ADS_1


"Kalian berdua jangan nikah dulu sebelum gue pulang ya, Twins," ucap Evgen lembut.


Kedua gadis itu hanya mengangguk pasrah. Baru kali ini semenjak mereka besar bersama, Evgen akan pergi jauh dalam kurun waktu lama. Terpisah kiloan meter dari mereka semua.


Rezi menarik bahu Evgen dan menepuknya dengan lembut.


"Hubungi Kakak setelah kamu sampai di sana, ya."


"Pasti, Kak."


"Ingat untuk menceritakan banyak hal sama Kakak. Jangan sembunyikan apapun, atau gak Kakak akan bawa kamu pulang secara paksa."


"Siap, Kak," jawab Evgen tegas.


"Bunda, Ayah. Aku pamit ya," ucap Evgen saat berhadapan dengan Rara dan Mirza.


"Jaga diri, Jagoan. Ingat untuk sesering mungkin mengirimi Ayah kabar."


"Pasti."


Evgen menggeret kopernya, memasukan ke dalam bagasi taxi yang sudah menunggu ia sedari tadi.


Evgen melihat sekali lagi ke arah rumah yang selama delapan belas tahun ini ia tempati. Ada rasa rindu yang sudah terpupuk dalam hatinya saat baru saja ingin meninggalkan halaman rumah itu.


"Dengarkan apa kata paman Yohan, ya. Papa gak ingin kamu kenapa-kenapa di sana," ucap Sean tegas.


"Aku mengerti, Pa."


"Baiklah, pergilah. Nanti kamu bisa ketinggalan pesawat jika terlalu lama di sini."


Evgen merangkul bahu Sean, membenamkan wajahnya di atas bahu kekar milik lelaki dewasa itu.


Menumpahkan setetes cairan dari matanya, walaupun dari tadi ia berusaha menahan. Namun saat berada di hadapan lelaki dewasa itu ia akan merasa sangat lemah.


"Good boy. Kamu akan baik-baik saja di sana," ucap Sean menenangkan.


Evgen memasuki pintu mobilnya. Sekali lagi, ia memandang wajah-wajah yang akan ia rindukan selama berapa tahun kedepan.


Evgen tersenyum dan melambaikan tangannya, berusaha melepaskan beban yang ingin ia tinggalkan bersama dengan kenangannya.


Shenina berjalan sambil membacakan list belanjaan yang ada di tangannya. Tanpa sengaja bahunya tertendang salah seorang pengguna jalan.


"Maaf," ucap lelaki yang bertabrakan dengan Shenina.


"Gak apa-apa," jawab Shenina lembut.


"Loh ... Shen."


"Bayu."


"Lu kok di sini?" tanya Bayu bingung.


"Iya, gue mau belanja mingguan."


"Maksud gue, elu gak jumpai Evgen?"


"Kenapa gue harus jumpai dia?" tanya Shenina bingung.


"Lu gak tahu? Atau lu pura-pura gak tahu sih?"


"Maksudnya?"


"Evgen hari ini akan berangkat ke London, gue habis dari rumahnya. Ngucapin salam perpisahan buat dia," ucap Bayu lembut.


Shenina menatap lekat ke wajah Bayu. List yang berada di dalam genggamannya terlepas, terbang terbawa embusan angin.


Antara percaya atau tidak, baru beberapa hari yang lalu ia bertengkar dengan Evgen. Namun Evgen tidak mengatakan apapun tentang keberangkatannya hari ini.


"Apa?" tanya Shenina tak percaya.


"Evgen gak ada kasih tahu elu?"

__ADS_1


Shenina hanya menggelengkan kepalanya pasrah.


"Bukannya Evgen akan pergi ke London satu atau dua bulan lagi ya? Bahkan kelulusan kita juga belum diberitahukan?" tanya Shenina tak percaya.


"Evgen mau urus masalah pendaftaranya sendiri. Dia juga memilih untuk belajar di sana untuk menaikan kualifikasi diri. Karena itu ia berangkat hari ini."


"Mana mungkin, Evgen gak bilang apa-apa sama gue," ucap Shenina terkejut.


"Gue gak bohong, Shen. Evgen pergi siang ini ke bandara."


Shenina menatap wajah Bayu dengan lekat. Mencari setitik tanda kebohongan atas pernyataannya itu.


Tetapi Bayu sama sekali tidak menunjukan kalau dia sedang berbohong. Wajahnya terlihat serius sekali.


"Lu bercanda kan, Bay?" tanya Shenina masih tidak percaya.


"Ya Tuhan, sudah begini, buat apa gue bercanda sama elu?" ucap Bayu ketus.


"Tapi Evgen gak bilang apa-apa saat dia ketemu sama gue kemarin," balas Shenina tak percaya.


"Benarkah dia tidak bilang apa-apa? Atau dia yang sudah lebih dulu elu buat kecewa?" tanya Bayu kembali.


Shenina menundukan pandangannya, jadi seperti itu ya? Evgen selama ini sering kali mendapatkan kekecewaan darinya.


"Coba elu ke rumah dia. Mungkin elu masih bisa ketemu dia sebelum berangkat ke bandara."


"Gak perlu, kalau dia gak niat bilang sama gue. Itu artinya memang dia gak mau ketemu gue," ucap Shenina ketus.


Shenina membalikan badannya, berjalan meninggalkan Bayu perlahan.


"Sudah seperti ini, Shen. Haruskan elu pertahankan ke angkuhan itu? Gue tahu Evgen juga sama angkuhnya sama elu, tapi setidaknya ia jujur terhadap perasaannya pada elu."


Shenina menghentikan langkahnya, menghela napasnya dengan sedikit berat.


"Evgen mungkin akan kesana bertahun lamanya, Shen. Mungkin dia juga akan memulai karirnya di sana. Elu yakin gak mau nemui dia untuk terakhir kalinya.


Shenina menggelengkan kepalanya, kembali melanjutkan langkahnya.


"Mungkin nanti kalian bertemu setelah elu dan Evgen sama-sama memilik kehidupan baru. Sampai hari itu, apakah elu gak akan menyesal atas perasaan elu yang tidak terungkap ini? Kenapa harus seangkuh itu, padahal hanya untuk mengakui dan jujur pada hati elu sendiri, sesulit itukah?"


Shenina memalingkan wajahnya, menatap wajah Bayu yang terpaut jarak tiga meter di belakangnya.


Bayu tersenyum dan menganggukan kepalanya. Memberikan semangat untuk temannya itu.


Shenina berlari menuju rumah Evgen. Menyusuri jalanan siang hari yang begitu panas dan terik.


Tak peduli pada sinar matahari yang menyengat kulitnya. Sesekali ia menyeka dahinya yang mulai banjir keringat.


Memaksakan kedua kaki pendeknya untuk berlari secepat mungkin. Mengejar kesempatan terakhir yang mungkin akan mengubah seluruh perasaannya selama ini.


Evgen memandangi kaca jendela mobil itu. Melihat ke arah jalanan. Mungkin ada sesuatu yang bisa ditemukan oleh mata itu. Melihat dengan benar, sebelum ia meninggalkan kota ini untuk kurun waktu yang lama.


Beberapa kali Evgen menghela napasnya, matanya terus terfokus oleh trotoar jalanan. Menelisik satu persatu pengguna jalanan yang berdiri ataupun berjalan-jalan di sana.


Evgen menumpuhkan dagunya pada pagar pintu mobil, entah apa yang ia harapkan. Padahal ia sendiri yang tidak memberi tahu gadis itu tentang keberangkatannya, mana mungkin Shenina tahu kalau saat ini ia akan pergi, mencari harapan baru di kota impian gadis itu.


Evgen tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Sebenarnya apa yang ia tunggu lagi? Bukankah semuanya sudah terlihat jelas?


Bahkan saat ia mencari saja, Shenina sering kali pergi dari pandangannya. Berharap takdir akan mempertemukan mereka? Naif sekali pemikirannya.


Evgen memasukan wajahnya, menaikan kaca hitam taxi yang ia tumpangi. Bersamaan dengan Shenina yang berhenti di perempatan jalan.


Mengambil napasnya yang kian memburu kencang. Gadis itu memalingkan wajahnya, melihat satu persatu mobil yang melintas.


Berharap jika kali ini ia dan Evgen bisa berbicara untuk terakhir kalinya.


Namun takdir berkata lain, Evgen lebih dulu menutup kaca jendela mobilnya, menyandarkan kepala ke atas jok mobil dan menutup kedua belah matanya.


Berusaha melupakan bayangan gadis yang saat ini sedang mencarinya di sudut jalan.


Bahkan, saat mereka sedekat ini saja. Mereka berdua masih bisa terpisah oleh permainan takdir yang menyakitkan.

__ADS_1


Terkadang, hukum dunia memang berjalan serumit ini. Saat kita mencari, maka takdir akan menjauhkannya. Namun saat kita melupakan, takdir akan mempertemukan.


Karena apa yang sudah direncakan Tuhan, terkadang lebih mengejutkan dari apa yang manusia harapkan.


__ADS_2