Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
02


__ADS_3

Mata gadis itu terus menatap Rezi dengan sedikit bingung. Tak lama Rezi kembali sadar, ia tersenyum dan memberikan payungnya pada gadis itu.


Gadis itu hanya terdiam, tidak bersuara dan juga bergerak. Masih terkejut oleh perlakuan Rezi, lelaki asing yang datang entah dari mana.


Melihat tidak ada pergerakan dari wanita di hadapannya, Rezi meraih tangan gadis itu dan memberikan payungnya ke tangan gadis itu.


Rezi tersenyum dan berlalu pergi begitu saja. Sementara gadis itu masih terdiam menatap kepergian Rezi yang masih begitu misterius.


***


Rezi membuka pintu rumahnya dan berjalan dengan santai. Menuju lantai dua untuk mengganti pakaiannya.


"Rezi."


"Iya, Ma."


"Kok telat sekali pulangnya, Sayang?" tanya Megi yang datang mendekati Rezi.


"Iya, tadi aku nganterin Aya ke toko buku dulu."


"Baju kamu, kok?"


"Oh, tadi aku sholat di mesjid aku buka karena kotor. Setelah sholat aku malah lupa ambil balik."


"Ehm, yasudah kamu mandi dan langsung turun makan malam ya, Sayang." ucap Megi lembut.


"Iya, Ma."


Megi kembali melanjutkan langkahnya memasuki kamar teman bertengkarnya.


"Evgen bangun!" Megi menarik selimut Evgen dan membangunkan putranya yang sedang tidur lelap.


"Ih ... Mama! kenapa gak pernah biarin aku tidur sih." Evgen menendang selimutnya dan duduk diatas ranjang, dengan mata yang masih sulit terbuka.


Megi duduk di sebelah Evgen dan menjewer telinga Evgen.


"Kamu pasti gak sholatkan? bandel!" tarik Megi semakin kencang.


"Ih, aku sholat."


"Sholat dimana? dalam mimpi?" tanya Megi ketus.


"Aku tidur habis sholat Mama. Sekarang aku mau tidur lagi, Mama keluar gih!" usir Evgen yang masih menutup matanya.


Megi menghela nafasnya dan mengelus rambut panjang Evgen yang hampir sebahu.


"Ayo makan malam dulu, Nak. Setelah itu baru tidur lagi." ucap Megi lembut.


"Mama gak lagi mimpi kan? tumben ngomong sama aku lembut?"


"Kamu ini, Mama ngomong lembut salah, ngomong kasar juga salah. Ayo turun makan!" Megi menjewer telinga Evgen dan menyeret Evgen turun ke lantai dasar.


Evgen dengan menekuk wajahnya menarik kursi di sebelah Rezi. Terkadang Mamanya itu seperti bom tempel, bisa meledak dimana saja.


"Ma, Mama ada masak sop iga gak?" tanya Evgen manja.


"Gak ada iga, makan saja apa yang ada."


"Setiap hari masaknya sayur dan sayur. Sayur terus, memang aku kambing makan sayur?" celoteh Evgen kesal.


"Heh, sudah bagus Mama masak sayur dari pada kamu makan kardus, mau?" tanya Megi kesal


"Megi, Evgen, jangan kebiasan bertengkar di depan makanan." ucap Sean lembut.


"Evgen juga, jangan kebanyakan pilih-pilih makanan. Makan saja apa yang dimasak Mama." sambung Sean ketus.


Dengan sedikit kesal Evgen menyendoki makanannya, sementara Rezi hanya bisa meggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Rezi, bagaimana kuliah kamu?" tanya Sean lembut.


"Baik, Pa."


"Kamu yakin gak mau sambung S2 di luar saja?"


"Di luar atau disini sama saja, Pa. Universitas kita juga gak kalah bagus kok."

__ADS_1


"Atau kamu sudah punya pacar ya di kampus? makanya gak mau pindah?" tanya Megi menggoda.


"Pacar apanya? siapa yang mau pacaran sama kak Rezi kalau di tempelin terus sama wanita menyebelkan itu." sambung Evgen ketus.


"Evgen, yang kamu bilang wanita menyebalkan itu siapa?" tanya Megi sengit.


"Soraya lah, siapa lagi?" balas Evgen ketus.


"Heh, Soraya itu kakak kamu, panggil dia kakak."


"Cih ... Kakak apa seperti itu, cantik enggak, ganjen iya."


"Evgen." tekan Sean.


"Iya, iya. Salah saja pun dari tadi." ucap Evgen tak senang.


"Rezi, kamu pacaran sama Aya?" tanya Megi lembut.


Rezi tersenyum dan meneguk gelas di samping piringnya.


"Mama ngomong apa? Aya kan sepupu aku."


"Oh, walaupun Aya dan kamu bisa nikah karena bukan satu wali, kamu gak boleh pacaran sama dia ya."


"Iya, Mama." balas Rezi lembut.


"Satu wali itu bagaimana sih, Ma?" tanya Niki penasarn.


"Satu wali itu seperti Putra dan si kembar. Papa mereka adik kakak." jelas Sean lembut.


"Oh, seperti itu. Kak Rezi laptop aku padam lagi."


"Kok bisa padam?"


"Aku gak tahu, nanti kak Rezi benerin ya."


"Makanya kamu jangan terlalu banyak main game Niki, jangan tambahi tugas kakak kamu." ucap Sean lembut.


"Gak apa-apa, aku sudah siap makan. Niki kakak ambil laptop kamu ya." Rezi langsung bangun dan menaiki anak tangga dengan santai.


"Aku juga sudah selesai, aku mau main kerumah Bunda." Evgen ikut bangkit dan berjalan keluar rumahnya.


"Belum. Mama masakin aku sosis ya."


"Jangan hanya menyuruh Mama kamu, kerjain sendiri sana." perintah Sean ke Niki.


"Sudahlah Kak, gak apa-apa biar aku siapkan saja."


Sean tersenyum dan mengelus pucuk kepala putra bungsunya yang sebentar lagi juga akan memasuki masa remaja.


Tak lama Sean bangkit dari kursinya dan menaiki anak tangga rumahnya. Saat ingin memasuki kamar, tak sengaja Sean melihat Rezi yang sedang membetulkan laptop milik Niki.


Sean mengetuk pintu kamar Rezi yang sedikit terbuka. Rezi memalingkan pandangannya saat mendengar ketukan di balik pintu kamarnya.


"Pa, ada apa?" tanya Rezi kembali sibuk pada laptop Niki.


"Papa boleh masuk?"


"Masuk saja."


Sean berjalan masuk dan menutup rapat daun pintu kamar Rezi. Duduk di bibir ranjang Rezi, melihat gerakan Rezi yang semakin cepat bermain dengan laptop Niki.


"Rezi, Papa dengar kamu sekarang jadi asisten dosen juga ya?" tanya Sean memecahkan keheningan suasana.


"Aya yang bilang ya?"


"Pihak kampus yang bilang, kemampuan kamu semakin tajam di dalam membuat jaringan."


"Pihak kampus hanya membesar-besarkan, Pa. Aku masih biasa saja."


Sean tersenyum sendu saat melihat wajah serius Rezi yang sedang terfokus oleh pekerjaannya.


"Semakin dewasa kamu semakin mirip dengan Ayah kamu, Nak."


Seketika tangan Rezi yang sedang membetulkan laptop Niki terhenti. Entah kenapa pernyataan Sean membuat hatinya begitu terasa nyeri.

__ADS_1


Tak lama Rezi tersenyum dan menelan salivanya yang terasa sangat pahit.


"Iya, aku kan memang anak Ayah." jawab Rezi lembut.


"Siapa bilang? kamu juga anak Papa, Rezi."


Rezi hanya mengangguk dan kembali tersenyum.


"Nak, Papa gak bermaksud menyakiti hati kamu, Papa gak bermaksud menyinggung asal usul kamu. Papa hanya merasa kamu sangat mirip dengan Farrel saat serius bekerja."


"Kan memang aku anak Ayah Farrel." ucap Rezi sambil melemparkan pandangannya kearah Sean.


"Tapi kan kamu besar dalam pelukan Papa, Nak."


"Papa jangan takut, aku gak akan lupa kok, Papa dan Mama Megi adalah orang tua aku sampai kapanpun."


"Nak, kenapa kami gak pernah mau sembunyikan status kamu dari awal, karena kami takut saat kamu dewasa dan kamu mengetahui status kamu, kamu akan meninggalkan kami dan membenci kami, Nak."


"Aku tahu kok, Pa. Apapun yang Mama dan Papa lakuin buat aku, pasti untuk kebaikan aku."


"Rezi, Papa dan Mama menyanyangi kamu melebihi kami menyanyangi Evgen dan Niki."


Rezi hanya tersenyum dan kembali pada layar datarnya.


"Pa, aku lagi merancang virus terbaru untuk pelindung dan sekaligus penyerang. Saat virus ini sudah sempurna, aku akan menyebarkannya di jaringan perusahaan Papa."


Sean bangun dan meraih pucuk kepala Rezi. Mengelus kepala Rezi dengan lembut.


"Opa dan Oma merindukan kamu, Nak. Kunjungi mereka saat kamu ada libur ya."


"Baik."


"Papa keluar dulu ya."


"Iya."


Rezi melihat punggung badan besar Sean keluar dari pintu. Setelah Sean menutup pintunya, Rezi meletakan kepalanya diatas senderan atas kursinya. Menatap ke langit-langit kamarnya dengan kosong.


"Evgen!" teriak Megi lantang.


"Evgen!" kembali teriakan Megi terdengar memenuhi rumahnya.


"Apa sih Ma? suara Mama terdengar sampai rumah Bunda."


"Bagus, biar seluruh dunia tahu juga gak apa-apa." ucap Megi meradang.


"Mama ini, sudah malam juga. Kenapa masih marah?" tanya Evgen tak bersalah.


"Kamu apakan kertas desain Mama?" tanya Megi dengan mendacakan pinggang.


"Ehm, apa?" tanya Evgen membuang pandangannya kesisi kanan dan kiri.


"Jangan kamu pikir Mama gak tahu, kalau kamu yang coret-coret rancangan desain Mama kan?" tarik Megi di telinga Evgen.


"Ah, itu, aku hanya membuatnya sedikit lebih modern saja, Ma." Evgen menyeringai pasrah.


"Modern apanya? kenapa ada keluarga Naruto dan kawan-kawannya pada desain interior rumah Mama, hah?" tanya Megi meradang.


"Eh, Papa." ucap Evgen senang.


Seketika Megi memalingkan pandangannya saat mendengar ucapan putranya itu. Tapi mata Megi sama sekali tak mendapati Sean ada disana.


Dengan cepat Evgen membuka jeweran tangan Megi dan berlari ke kamarnya. Mengunci pintu kamarnya dengan cepat.


Duak ... Duak ... Duak.


"Evgen, buka pintunya. Mama belum selesai bicara!" tendang Megi di daun pintu kamar Evgen.


"Evgen!" teriak Megi memadam.


Sementara di sebelah kamar Evgen, Rezi hanya bisa menutup telinga dan menghela nafasnya.


Tak lama bibir Rezi tersenyum, ia ingin bisa bercanda dan bertengkar dengan Megi seperti Evgen.


Namun statusnya membuat ia takut untuk membuat kesalahan. Sebesar apapun kesalahan yang di buat oleh Evgen, statusnya tidak akan pernah berubah.

__ADS_1


Semarah apapun Megi pada Evgen, gen itu tidak akan berubah. Bahkan dari wajah, sifat dan juga bakat, Evgen benar-benar menuruni Sean, hanya kulit Evgen yang putih seperti Megi.


"Rezi, bersyukurlah, selama bertahun-tahun kamu mendapatkan status ini. Jangan pernah iri pada Evgen, karena secuilpun, kamu dan Evgen tak pernah sama." lirih Rezi dengan tersenyum pahit.


__ADS_2