
Ardy mendapat kabar jika Sarah meninggal, dari salah satu anggota polisi. Kemudian Ardy minta izin untuk datang ke pemakaman Sarah sebagai bentuk penghormatan kepadanya untuk yang terakhir kalinya.
Disana sudah ada Elis yang berdiri dibelakang Sasha yang duduk di kursi roda. Sasha menangis diatas pusara ibunya yang baru saja selesai dimakamkan.
Ardy kemudian berjalan mendekat dan terduduk diatas pusara Sarah menangis menyesali perbuatanya. Ardy tertunduk begitu lama dan air matanya terus menetes jatuh diatas tanah yang masih merah itu.
Kemudian Ardy mendekat pada Sasha dan menatapnya dengan kesedihan yang mendalam. Ardy akan memeluknya dan menenangkan yang masih menangis namun Elis mencegahnya dengan memberi isyarat untuk mundur.
Elis tidak mau menambah kesedihan Ardy dengan penolakan Sasha yang tahu jika ibunya meninggal akibat perbuatan Ardy yang tidak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Namun Sasha masih belum mengetahui tentang kebenaran itu dan jari dirinya yang sesungguhnya.
Elis sengaja mencegah Ardy untuk menunggu saat yang tepat jika ingin mengungkapkan bahwa Sasha adalah putrinya.
Sekarang dia sedang berduka. Dan kemarahan terlihat jelas dimata Sasha saat melihat Ardy hadir di pemakaman ibunya. Elis sempat melihat sorot tajam penuh dendam dari mata anak kecil yang beranjak remaja itu.
Polisi mendekati Ardy dan mengajaknya kembali kedalam sel tahanan.
"Mari pak Ardy." Kata polisi itu sambil memborgol tangan Ardy.
Ardy berjalan diantara para polisi yang mengawalnya. Ardy menoleh sekali kearah putrinya namun Sasha menatapnya dengan tatapan sinis dan penuh kemarahan.
"Kita pulang ya." Kata Elis sambil mendorong kursi roda Sasha kembali kerumah sakit.
Sasha mengangguk dan menjauh dari pemakaman ibunya dan kembali menuju Rumah Sakit dimana dia dirawat.
"Istirahat ya?" Kata Elis sambil membantu Sasha bangun dari kursi roda dan berbaring diatas tempat tidur rumah sakit.
"Kita akan pindah keruang VVIP. Dan Tante akan menemanimu tidur disana hingga kamu sembuh." Kata Elis.
Sasha mengangguk dan melayangkan pandanganya kearah tempat tidur yang kosong. Kemarin ibunya masih tertidur disana bersamanya. Namun sekarang tempat tidur itu kosong dan membuat hatinya menjadi sedih dan kesepian. Dia datang dari Amerika untuk bertemu ayahnya. Ayahnya tidak bisa dia temui dan sekarang malah dia harus kehilangan ibunya juga. Dia tidak tahu bagaimana nasibnya selanjutnya.
Akhirnya dia ingat tentang Omanya, dan berniat untuk menelponya.
__ADS_1
Kemudian dia meminta Elis untuk menelpon Omanya di Amerika.
"Tante bisakah tante menelpon Oma, di Amerika." Kata Sasha sambil mengusap air matanya.
"Baiklah. Tante akan mencoba menghubungi Omanya Sasha." Kata Elis.
Kemudian setelah tersambung Sasha menceritakan apa yang sudah menimpanya dan ibunya. Dan juga ayahnya yang sudah meninggal dunia.
Kabar itu membuat ibu Monic sedih dan sangat prihatin atas nasib yang menimpanya. Akhirnya setelah berbicara dengan Elis yang bertanggung jawab atas Sasha saat ini maka diputuskan jika Elis akan mengantar Sasha hingga sampai dibandara. Dan menunggu hingga Sasha sudah benar-benar pulih. Kira-kira dua atau tiga hari kesehatan Sasha sudah pulih kata dokter yang merawatnya barusan.
"Terimakasih tante, karena sudah mau membantu Sasha." Kata Sasha sambil menyerahkan handphone kepada Elis.
"Sama-sama." Kata Elis yang masih duduk disamping Sasha.
"Malam ini tante menginap disini kan? Sasha takut.".
"Iya. Tante akan menemani Sasha hingga sembuh dan bisa kembali ketemu sama keluarga Sasha." Kata Elis sambil merapikan beberapa barang Sasha yang akan dia pindahkan ke VVIP room.
Elis sengaja memindahkan Sasha keruangan yang lain agar bayangan ibunya tidak membuatnya bertambah sedih setiap kali melihat tempat tidur bekas dimana ibunya berbaring sebelum meninggal.
Kemudian Sasha berbaring dengan memiringkan tubuhnya kearah tempat tidur yang kosong itu. Matanya menatap ruang hampa dan kosong. Pikiranya melayang pada saat terakhir yang dia habiskan bersama ibunya. Dan tentang pria yang menyebabkan kecelakaan itu mengusik pikiran Sasha dan dia penasaran siapa pria itu. Maka dia berpikir setelah kembali ke Amerika dia akan mencari buku harian ibunya dan beberapa dokumen yang bisa menjawab keraguannya. Dulu Sasha pernah melihat sebuah foto di koper ibunya saat diAmerika. Dan dia berharap foto itu masih ada dan bisa menjawab berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan orang yang ada didalam penjara.
Jika dia orang asing mana mungkin memanggil nama dan mengenali maminya saat sebelum terjadinya kecelakaan itu.
Sasha sudah remaja saat ini jadi dia juga mulai bisa memahami beberapa hal yang dilakukan orang dewasa. Meskipun pengertianya masih sangat terbatas tapi dia bukan anak lima tahun yang tidak tahu apa-apa. Bagaimana dulu ayahnya pergi dan kenapa ibunya pindah ke Amerika dan kenapa ibunya lari saat bertemu dengan pria yang ada didalam penjara.
Dan tatapan pria itu.... membuat Sasha ingin tahu apa yang terjadi diantara mereka dan apa hubungan mereka dengan maminya.
Ini pasti bukan suatu kebetulan.
🌹🌹🌹
__ADS_1
"Joan tolong kamu handle kantor dulu. Saat ini saya tidak bisa kekantor selama tiga hari. Korban kecelakaan itu meninggal dunia." Kata Elis memberi tahu Joan.
"Iya. Baik Bu." Kata Joan yang tidak tahu jika yang meninggal itu Sarah. Joan sedang sibuk dengan urusan kantor dan beberapa impiannya sehingga tidak sempat berpikir tentang urusan yang tidak ada hubungan dengan dirinya.
Dia juga hanya membaca judul berita tentang Ardy dan kecelakaan itu. Dia tidak membaca siapa dan bagaimana kecelakaan itu terjadi.
Baginya yang terpenting adalah Ardy dipenjara dan dia bisa mendapatkan keuntungan dari penderitaan Ardy. Dan benar saja bahwa usahanya tidak sia-sia, karena sekarang dia diangkat menjadi CEO menggantikan Ardy untuk sementara.
"Aku berharap dia dihukum seumur hidup." Kata Joan kepada dirinya sendiri.
"Jahat bener gue. Tapi...maaf sobat ini masalah jabatan CEO yang lebih penting dari apapun." Kata Joan
Besok aku akan datang kekantor polisi dan mengunjungi Ardy. Gue akan memberikan kabar tentang pengangkatan gue menjadi CEO sementara menggantikan dirinya. Masa gue ngga datang menjenguknya, kan kesanya gue jahat banget. Bagaimanapun karena dia juga, akhirnya gue bisa duduk diruangan ini.
🌹🌹🌹
Elis kembali dari ruangan dokter dan membantu Sasha duduk di kursi rodanya untuk pindah kekamar yang lebih bagus dan lebih besar.
Elis akan menemaninya selama 24 jam sampai Sasha benar-benar diizinkan pulang oleh dokter.
Nalurinya mengatakan dia harus menghibur anak malang ini yang kata Ardy adalah putrinya meskipun sampai saat ini dia juga masih ragu dengan kenyataan ini.
Bagaimanapun dia tahu jika Ardy sangat mencintai Nadiya yang saat itu masih sah menjadi istrinya. Dan dia tidak percaya jika Ardy berselingkuh dan punya anak dari wanita lain. Meskipun dia pernah mendengar isu itu beberapa tahun yang lalu. Namun karena mengenal Ardy dari kecil maka dia tidak percaya jika sahabatnya melakukan perbuatan yang tidak baik dan memilih untuk tidak mempercayai isu yang rame diperbincangkan saat itu.
"Masuklah." Kata Elis yang membawa barang-barang sementara Sasha didorong oleh seorang suster.
"Kamu nanti tidur disana dan saya akan tidur disini." Kata Elis sambil menaruh barang-barang Sasha.
"Iya Tante."
"Tante.... terimakasih karena sudah baik sama Sasha meskipun baru bertemu." Kata Sasha sambil berbaring ditempat tidurnya.
__ADS_1
Elis menatap Sasha dengan lembut dan mengusap dahinya.
"Istirahatlah dan tidurlah sekarang." Kata Elis sambil duduk disamping tempat tidur Sasha.