
Nadiya sedang menyiapkan makan malam untuk keluarganya dibantu oleh bibi Parti.
Nadiya sengaja ingin membuat makanan spesial hari ini karena Edsel dan Eiden mendapatkan juara lomba melukis dan mewarnai disekolahnya.
Prasetyo dan Nadiya tidak hadir disana karena lomba diadakan dilingkungan sekolah dan tidak ada satu wali murid pun yang diundang. Bahkan Nadiya tidak tahu jika mereka mengikuti lomba melukis dan mewarnai.
"Siapa yang dapat juara?" tanya Nadiya saat mereka sudah rapi duduk dimeja makan.
"Kami!" jawab mereka bersamaan.
"Bukan kau Eiden! tapi aku!" kata Edsel karena memang dia yang memenangkan lomba melukis dan mewarnai disekolahnya.
"Tapi aku juga membantumu! Aku menemanimu dan terus berdoa untukmu. Dan kamu akhirnya menang." Kata Eiden yang ingin juga mendapatkan makanan spesial dari maminya.
Nadiya lalu tersenyum dan memberikan makanan favorit untuk mereka berdua.
"Kok dia juga dapet mami? Kan dia ngga ngapa-ngapain?" Kata Edsel cemburu pada Eiden yang mendapatkan hadiah yang sama dari maminya.
"Eiden juga mendapatkan hadiah karena ikut memberikan motivasi dan semangat agar kau menang."
"Yeeeeeee!" Eiden berteriak kegirangan.
"Dasar! Bocil! Lain kali kalau aku ikut lomba, aku tidak akan mengajakmu!"
"Ssssttt...jangan berkata begitu sayang, itu tidak baik. Eiden juga ikut senang kok jika kau menang, dia juga ikut sedih jika kau kalah. Benarkan Eiden?"
Eiden mengangguk.
Lalu terdengar pintu dibuka dan Prasetyo juga Oma masuk kedalam. Oma nampak kaget saat Nadiya sudah duduk dimeja makan dan mereka baru saja pulang.
"Oma.......!" teriak Edsel dan juga Eiden.
__ADS_1
"Kami dapat piala! Kami ikut lomba dan menang!" Teriak Eiden.
"Bukan kami, tapi aku yang menang!" Kata Edsel. "Tidak tidak melakukan apapun!"
"Apaan sih? Aku juga ikut membantumu. Aku yang membersihkan semua peralatan yang kau gunakan!" Kata Eiden.
"Itu memang tugasmu, dasar bocil!" Kata Edsel.
"Mami membuat makanan ini untuk kami. Rasanya enak sekali...." Kata Eiden lalu menarik tangan Omanya agar duduk didekatnya.
"Kemarilah Pras, aku akan menyiapkan piring untukmu." Kata Nadiya lalu melayani suaminya seperti biasanya.
Dalam hati sebenarnya Nadiya masih kesal karena mereka berbohong dan bertemu diam-diam dengan Sasha. Anak selingkuhan mantan suaminya.
"Kau masak hari ini?" kata Prasetyo menatap Nadiya yang berdiri disampingnya.
"Terimakasih...." kata Prasetyo sambil menarik Nadiya agar duduk disampingnya.
"Kalian darimana? Kok baru pulang?" tanya Nadiya saat makanan sudah habis.
Oma lalu menatap Prasetyo dan mengatakan jika dia dari rumah temannya, dan Prasetyo pulang dari kantor langsung menjemputnya.
"Ohh, Oma terlihat sangat senang hari ini, pasti pertemuannya menyenangkan." Kata Nadiya.
"Ohh, iya, kami bersenang-senang karena lama tidak berjumpa." Kata Oma menatap Prasetyo lagi.
Nadiya tahu jika itu hanya alasan saja. Nadiya tahu dimana mereka seharian ini. Tapi Nadiya juga tidak mau membuat keributan karena Edsel dan Eiden sedang bahagia hari ini.
Setelah membereskan meja makan dibantu oleh bibi Parti, Nadiya lalu memandikan Edsel dan juga Eiden. Setelah mereka tidur, Nadiya masuk kekamarnya.
Prasetyo sudah rebahan sambil membaca sebuah buku. Saat melihat Nadiya masuk, Prasetyo lalu menaruh buku yang sedang dia baca disamping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Kau belum tidur?" Tanya Nadiya saat lampu masih menyala.
"Belum. Aku sengaja menunggumu. Kau lama sekali menidurkan mereka." Kata Prasetyo.
Mereka sebenarnya sudah tidur dari tadi, Nadiya hanya sedang kepikiran tentang apa yang dia lihat siang tadi, sehingga dia melamun begitu lama dikamar Edsel dan Eiden.
Nadiya lalu merebahkan dirinya disamping Prasetyo. Dia menatap wajah suaminya begitu lama.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Prasetyo yang merasa aneh dengan tatapan Nadiya yang tidak seperti biasanya.
"Apakah ada yang ingin kau bagi denganku? Maksudku, jika kau punya masalah, kau bisa mengatakanya." Kata Nadiya pada Prasetyo.
"Tidak. semua baik-baik saja. Tumben kau bertanya seperti itu?"
"Aku merasa kau sedang merahasiakan sesuatu dariku. Tapi kau tidak mau membaginya denganku?" Prasetyo kaget dengan perkataan Nadiya.
Prasetyo lalu menatap lekat wajah istrinya kemudian memalingkan mukanya.
"Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Semua baik-baik saja, sekarang tidurlah, kau pasti sangat lelah." Tidak lama kemudian Prasetyo memejamkan matanya.
"Baiklah, jika memang tidak ada yang ingin kau bicarakan." Nadiya lalu berusaha memejamkan matanya meskipun sulit. Karena pikirannya sedang teringat pada apa yang dia lihat tadi siang.
Nadiya tahu jika Prasetyo dan Oma sangat menyayangi Sasha, mungkin karena Nadiya tidak punya anak perempuan, sehingga Sasha begitu spesial bagi mereka.
Apapun alasannya, Nadiya merasa kesal saat mereka berdua berbohong dan menemui Sasha secara diam-diam. Karena ada luka masa lalu setiap melihat wajah anak itu.
Mereka memang tidak akan paham dan mengerti, karena mereka tidak terluka. Saat dia menjadi bagian keluarga mereka, luka itu sudah ada.
***
Pagi harinya, didepan rumah Nadiya sudah penuh dengan wartawan. Nadiya baru bangun dan satpam penjaga rumahnya mengatakan jika ada berita tentang dirinya disurat kabar.
__ADS_1
Nadiya lalu cepat turun kebawah dan mengambil surat kabar pagi yang sudah dikirim kerumahnya.