Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pergi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali kira-kira jam 04.00 pagi, Sasha sudah bangun dan langsung kedapur untuk menemui bibi Parti.


Semalaman dia tidak bisa tidur karena masalah Figura itu semalam yang dia temukan dan kacanya sudah pecah.


"Bi apakah bibi kemarin kekamar Sasha?" Tanya Sasha setalah dia tahu jika Prasetyo dan Nadiya belum keluar dari kamarnya.


"Iya non. Kemarin saya kekamarnya Non atas perintah dari Tuan Prasetyo. Kemarin banyak pecahan kaca dikamar Non. Bahkan kaki Non Nadiya sampai terluka karena terkena pecahan kaca itu." Kata bibi Parti jujur karena memang tidak tahu masalah yang terjadi dimasa lalu mereka.


"Jam berapa bi?" tanya Sasha sangat terkejut karena tantenya Nadiya, juga ada disana.


"Sebelum Non Sasha pulang. Kira-kira jam 8 malam." kata bibi Parti.


Tiba-tiba terdengar langkah kaki orang menuruni tangga dari lantai tiga.


"Ya udah bi, makasih, Sasha mau mandi dulu," kata Sasha yang sengaja pergi untuk menghindari pertemuannya dengan Nadiya dan juga Prasetyo.


Sashapun lalu naik kelantai tiga lewat tangga darurat. Dia lihat Nadiya dan Prasetyo turun dari tangga utama.


"Bi, apakah sarapan untuk Tuan sudah siap?" kata Nadiya sambil kemeja makan.


"Sudah Non, ada diatas meja."


"Baik, terimakasih bi..." kata Nadiya lalu duduk berhadapan dengan Prasetyo.


"Kau tidak ikut Nadiya? Dirumah sudah ada Regan dan juga Sasha untuk menjaga Edsel dan juga Eiden. Biasanya kau ikut jika aku pergi seminggu."


"Kali ini aku ngga ikut, banyak sekali pekerjaan kantor Minggu ini. Dan semuanya mendesak. Aku tidak bisa meninggalkanya."


"Baiklah jika kau memang tidak mau ikut."


"Oh ya, kapan kau akan menemui pengacara itu lagi masalah Sasha."


"Minggu depan." kata Nadiya tanpa berfikir.


"Aku akan berangkat sekarang." kata Prasetyo sambil berdiri setelah sarapan.


"Apakah kau ingin bekal?" tanya Nadiya.


"Tidak. Aku akan makan bersama temanku nanti."


"Baiklah jika begitu."


Nadiya lalu berdiri dan mengantarkan Prasetyo hingga diluar pintu.


Setelah itu Nadiya naik kelantai tiga dan berdiri didepan pintu kamar Sasha.


Lama dia berdiri disana dan akan masuk, setelah Prasetyo pergi. Namun dia mengurungkan niatnya.


Nadiyapun kembali kekamarnya dan duduk didekat jendela. Dari jendela terlihat Satpam menutup gerbang kembali setelah mobil Prasetyo keluar.

__ADS_1


Nadiya lalu menghela nafas panjang.


Dikamar Sasha.


Sasha masuk kekamarnya setelah di lihat Nadiya masuk kekamarnya sendiri.


Rupanya saat tadi Nadiya berdiri lama didepan pintu kamarnya Sasha melihat semua itu. Dengan cepat Sasha sembunyi dibalik tembok dan menunggu hingga Nadiya masuk kedalam kamarnya sendiri.


Sekarang Sasha semakin yakin jika Nadiya sudah mengetahui semuanya.


Tante sekarang pasti sudah tahu jika aku adalah putri dari suaminya dan sahabatnya?


Namun apa salahku? Aku bahkan tidak tahu dan belum pernah bertemu dengan ayah kandungku?


Bahkan mereka semua sudah tiada. Tapi....Apakah sekarang Tante Nadiya akan mengusirku dari rumah ini?


Setelah mengetahui kebenaran tentang siapa aku, dan tentang ibuku? Mungkinkah Tante Nadiya akan menerimaku?


Mungkinkah?


Bahkan dia sangat membenci ibuku, hingga ibuku tiada.


Dia juga berpisah dari suaminya karena kebenciannya.


Lalu aku?


Aku adalah putri dari penyebab perpisahannya?


Apakah aku harus menunggu hingga aku diusir?


Apakah aku harus menunggu hingga aku tertunduk dan menjadi terdakwa karena kesalahan kedua orangtuaku?


Kenapa harus aku yang menanggung dosa mereka?


Haruskan aku pergi dari rumah ini?


Tapi aku harus pergi kemana?


Aku tidak punya uang.


Aku bahkan masih kuliah dan dibiayai oleh mereka.


Ohh iya. Om Arya. Aku belum mengembalikan jasnya.


Aku akan mengembalikannya dan meminta pekerjaan padanya.


Dia sangat baik padaku. Pasti dia bisa membantuku.


Sebaiknya aku keluar dari rumah ini sebelum aku tertunduk malu.

__ADS_1


Selama ini mereka begitu menyayangiku, aku tak sanggup melihat tatapan menyakitkan dari mereka.


Lama hidup dengan keluarga ini dan aku merasa sudah seperti keluarga. Dan tiba-tiba semuanya terbongkar.


Oma, Om, bahkan menganggapku sebagai cucunya karena tidak tahu


masa laluku juga ibuku.


Jika mereka tahu, maka mereka akan membenciku.


Tidak!


Sebelum aku melihat kebencian Dimata mereka, aku harus keluar dari rumah ini hari ini juga.


Aku harus pergi.


Aku harus keluar dari rumah ini.


Jangan sampai mereka melihatku.


Aku harus menghindar dari mereka.


Sasha lalu mengemas barang-barangnya dengan cepat. Tidak membutuhkan waktu lama karena semua barang yang ada didalam kopernya belum dia bongkar saat dia sampai dirumah.


Dia lalu berjalan sampai dipintu. Tiba-tiba dia ingat jika dia lupa memasukkan sesuatu.


Figura yang ada dilaci.


Hampir saja dia lupa membawanya. Tidak lupa meninggalkan surat diatas meja untuk mereka semua.


Setelah menaruh surat itu, Sasha lalu keluar dengan pelan-pelan dan memberikan sedikit uang untuk satpam yang diluar.


Beruntung tidak ada yang melihatnya karena semua orang masih berada dikamarnya. Mereka belum turun kelantai bawah.


Hari masih sangat pagi memang, bahkan Nadiya juga ada dikamarnya setelah mengantarkan Prasetyo hingga tadi sebelum dia berangkat keluar kota.


"Non mau kemana pagi-pagi sekali?" tanya satpam itu karena melihat Sasha membawa koper dan bahkan keluar tanpa menggunakan mobil.


"Saya akan keluar kota pak. Ada pekerjaan penting."


"Bukankah Non masih kuliah?"


"Iya ini saya ada magang tiga bulan keluar kota." Kata Sasha lalu menarik kopernya dan mencari taksi yang lewat.


"Kok ngga pakai mobil Non?"


"Ngga pak. Saya pergi dengan teman." kata Sasha lalu masuk kedalam taksi yang sudah dipesannya.


Satpam itu kemudian menutup gerbang kembali dan melihat amplop yang diberikan Sasha untuknya.

__ADS_1


"Lumayan. Bisa buat istri shopping!" kata satpam itu lalu memasukkan uang itu kembali.


__ADS_2