Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Karina saudara tiriku


__ADS_3

Nadiya diundang untuk menghadiri pesta saudara tirinya. Anak dari istri baru ayahnya. Hubungan ayah dan anak memang tidak harmonis sejak ibu Nadiya meninggal karena tekanan batin.


Ayahnya adalah pengusaha kaya raya, sehingga banyak wanita ingin menjadi istrinya. Ibu Nadiya yang tidak mau poligami akhirnya memilih untuk bercerai dan pindah ke desa hingga Nadiya besar. Ayahnya tak pernah menemuinya karena ibu Nadiya sakit hati sehingga tidak mau menerima bantuanya hingga meninggal. Saat Nadiya kuliah dia mendapat bea siswa sehingga bisa mendapat gelar sarjana dan sebagian dibiayai oleh Ardi. Saat itu Ardy sering membantu Nadiya karena Ardy sudah bekerja sambil kuliah, akhirnya mereka jatuh cinta dan menikah.


Sepertinya Ardy dan Nadiya datang terlambat, karena ada gangguan dalam perjalanan. Saat mereka sampai disana acara sudah selesai. Ardy diundang oleh Tuan Alex sementara Nadiya diundang oleh Karina. Hubungan Nadiya dan Karina tidak ada masalah, ibu Karinalah yang tak menyukainya dan Ayahnya sebenarnya menyayangi Nadiya. Tapi hati Nadiya masih terluka sehingga jika dia datang bukan untuk bertemu ayahnya melainkan hanya karena Suaminya punya hubungan kerja sama dengan Tuan Alex. Ardy bahkan tak mengetahui hubungan antara Nadiya dan Tuan Alex. Nadiya tidak pernah membahasnya.


"Kita terlambat ma."


"Iya pa. Sepertinya kita terlambat."


"Acaranya sudah selesai. Tapi kita masuk saja ma. Keluarga Tuan Alex masih ada didalam."


Akhirnya Nadiya dan Ardy berjalan masuk kedalam ruangan dan masih ada beberapa tamu yang belum pulang. Mungkin mereka keluarga dekat sehingga pulang belakangan.


Ardy berjalan menghampiri Tuan Alex. Dan bersalaman dengannya. Nadiya berdiri seperti patung, tapi akhirnya bersalaman juga dengan ayahnya tanpa berbicara sepatah katapun. Tuan Alex sebenarnya kangen dengan Nadiya dan ingin berbicara empat mata. Tapi selain sorot mata Nadiya yang masih kesal juga karena Sofia istrinya terus saja menjauhkanya dari Nadiya.


Sofia sepertinya tak memberi kesempatan suaminya untuk mendekati Nadiya anak tirinya. Dan Nadiya juga berdiri menjauh dari keluarga itu dan menyapa beberapa teman yang dikenalnya.


Nadiya tidak tahu jika Dara tadi ada disana karena sudah pulang sebelum dia datang. Nadiya juga tidak tahu jika itu adalah pesta pertunangan Karina dengan Joan, suami Dara. Joan dan Karina sudah pergi meninggalkan pesta dan pergi entah kemana.


Setelah beberapa saat ada disana dan suaminya bertemu dengan beberapa teman sejawatnya merekapun pulang. Nadiya juga sudah ngga betah berlama-lama disana. Apalagi melihat ibu tirinya yang terus mengawasinya.


Ditempat lain Dara sedang menangis didalam mobilnya. Rupanya dia masih ada disana tapi belum pulang. Joan memberikan pesan agar dia pulang dengan mobilnya. Dan nanti Joan akan menemuinya dirumah. Setelah puas menangis Darapun pergi meninggalkan tempat itu dengan mobil Joan, suaminya.


Sepanjang jalan airmatanya terus menetes. Entah kenapa tidak mau berhenti meski Dara berusaha menghentikanya. Kadang dia mengusap dengan punggung tangannya kadang dia juga membiarkan air matanya membanjiri pipinya. Jika menangis bisa mengurangi rasa sakit hatinya, maka biarlah matanya menjadi sembab dan merah.

__ADS_1


Tiba dilampu merah persimpangan menuju arah pulang mobil Dara bersebelahan dengan mobil Karina. Dara tidak menyadarinya karena tatapanya kosong dan tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Joan dan Karina juga tidak melihatnya karena mereka sedang asyik bercanda dan bahagia.


Dara langsung menuju rumah sahabatnya Nadiya. Saat dia mengetuk pintu rumahnya ternyata tidak ada siapapun disana. Akhirnya Nadiya duduk diteras rumahnya dan masih menangis sesenggukan. Sarah baru saja pulang belanja dan dilihatnya Dara duduk diteras rumah Nadiya. Sarah kemudian menghampirinya dan mengajaknya kerumahnya saat dilihatnya sahabatnya nangis sesenggukan.


Dara menangis di pelukan Sarah. Sarah hanya diam dan bertanya-tanya ada apa? Kemudian setelah tangisannya reda Sarah bertanya pada Dara.


"Ada apa Ra? kamu sampai sedih gitu? Lihat matamu sampai merah begitu? Ada apa?"


"Suami aku Sar. Aku sedih sekali dan ngga tahu harus bagaimana?"


"Ada apa dengan suamimu Ra?"


"Suamiku......." Dara malah menangis sejadi-jadinya. Dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Joan sudah pulang terlebih dahulu dan ternyata rumahnya masih kosong. Kemudian dia menelpon Dara namun nomor yang dihubungi sedang diluar jangkauan. Joanpun mengerti jika perlu waktu bagi Dara untuk bisa menerima Karina.


Tak berapa lama kemudian terdengar bunyi mesin mobil didepan rumahnya. Nadia pulang dan berjalan sempoyongan karena kelelahan dan tidak makan.


Saat membuka pintu tiba-tiba dia hampir jatuh beruntung Joan menangkapnya dan kemudian memeluknya. Dara tidak membalas pelukan suaminya dan hanya berdiri saja, tatapanya kosong dan wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Kamu yakin mas, kamu benar-benar ingin menikahi Karina?"


"Hanya itu pilihanya Ra."


"Pilihan apa mas. Kamu sudah punya keluarga. Untuk apa menikah lagi?"

__ADS_1


"Aku akan mendapatkan segalanya dengan menikahi Karina, Ra."


"Kenapa mas? Kenapa?"


"Karena itu adalah impianku. Menjadi orang kaya, terpandang dan terhormat. Dan tidak akan ada yang menghinaku lagi."


"Kamu kerja, aku juga kerja. Pelan-pelan apa yang kamu inginkan juga akan tercapai mas."


"Kapan? berapa penghasilan kita? Bahkan untuk biaya hidup saja pas-pasan. Kesempatan tak pernah datang dua kali Ra. Begitu aku menikah, maka aku akan menjadi orang kaya dan kamu akan menjadi nyonya besar."


Airmata Dara menetes mendengar kata-kata suaminya.


"Coba pikirkan lagi mas? Apa kamu ngga kasihan pada Kiara anak kita?"


"Kiara akan bahagia Ra. Dia akan punya rumah yang mewah, mobil, dan sekolah yang bagus."


Dara hanya diam saja. Jika suaminya sudah membuat keputusan itu dan tidak bisa diubah lagi. Percuma terus berdebat. Batin Dara didalam hati.


Dara bangun dan langsung kekamarnya diikuti oleh suaminya yang berjalan dibelakangnya.


Dara langsung mandi dan berganti pakaian untuk tidur. Suaminya pun demikian. Sebelum tidur suaminya memeluk Dara dan berusaha mencairkan kemarahan Dara. Tapi badan Dara kaku tak bergeming. Bahkan saat suaminya menginginkan hubungan suami istri Darapun enggan karena hatinya yang masih terbakar.


Sekarang kamu begitu mesra padaku, tapi kamu justru akan membaginya dengan yang lainya. Apa alasanya mas? Saat kamu mulai menginginkan kehangatan dariku dan memulai awal yang baru, tapi kamu justru membaginya juga dengan yang lain? Aku benar-benar tak mengerti bagaimana harus bersikap?


Aku yang tadinya begitu merindukan kehangatan darimu, sekarang hatiku seperti membeku bagai bongkahan batu es. Sedikitpun Belaianmu tak membuatku hangat. Malah semakin jengkel rasanya, saat mengingat kembali hatimu yang kau bagi dua. Meskipun kamu menikahinya dengan alasan menginginkan hartanya, hatiku ini rasanya tetap tidak rela.

__ADS_1


__ADS_2