Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pesanan Nadiya


__ADS_3

Nadiya menuju sebuah Villa karena dia sudah ada janji untuk membeli salah satu rancangan desainer ternama. Siapa lagi jika bukan Jeslin, dia lalu turun dari mobil saat sudah sampai disana.


Seorang satpam mempersilahkannya masuk, Nadiya adalah langganan dari ibu Jeslin. Satpam itu bahkan mengenali wajahnya karena sering datang setiap kali ada fashion show yang diadakan ibu Jesline.


Namun kemarin sepertinya Nadiya tidak datang dan dia melihat secara virtual. Kemarin memang acaranya diadakan dengan sejumlah tamu undangan eksklusif. Dan tidak semua orang bisa menghadiri acara tersebut. Acara itu hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu saja.


"Nadiya, kau sudah datang." Kata Jesline yang sedang duduk diruang tamu.


"Apakah kau suka dengan rancangan ku kemarin?" tanya Jesline pada Nadiya. Nadiya merupakan langganan tegapnya. Dan sebelum datang Nadiya juga sudah mengabarinya sehingga Jesline sudah menunggunya diruang tamu.


"Banyak yang aku sukai. Semuanya terlihat bagus dan elegan."


"Terimakasih. Oh ya, kau mau minum apa?"


"Seperti biasa aja."


"Ok. Aku akan memesannya. Apakah jalanan macet tadi?"


"Tidak. Jalanan sangat lancar hari ini."


"Beruntunglah. Jadi kau tidak akan membuang waktumu dihalaman."


"Boleh aku lihat sekarang?" tanya Nadiya pada Jesline.


"Ayo. Aku sudah menyiapkanya untukmu." kata Jesline.


"Kemana asistenmu? Sepi sekali hingga kau harus turun tangan sendiri. Biarkan aku melihat-lihat dulu."


"Ok."


"Kau istirahatlah. Kau pasti sangat capek. Kau melakukan semuanya sendiri?"


"Aku memecat mereka semua."


"Kenapa?" tanya Nadiya sambil melihat baju yang ada didepannya.


"Mereka semua bekerja sama untuk menipuku. Tentu saja aku marah. Aku langsung pecat hari itu juga."


"Ya, kau berhak marah dan kesal pada mereka."


"Sekarang aku sudah punya asisten baru yang membantuku. Dia begitu cekatan dan tampak energik. Aku sangat menyukai caranya bekerja. Namun sekarang aku sedang menyuruhnya istirahat. Dia kelelahan kemarin seharian bekerja."


"Ohh...begitu...Sepertinya aku menyukai banyak sekali kali ini."

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan mulai mencatatnya."


Jeslin kemudian mencatat seri baju yang diinginkan oleh Nadiya.


"Aku akan mengirimkannya ke rumahmu. Minumlah."


Merekapun duduk dan minum sambil berbincang-bincang.


Sasha keluar dari kamarnya karena mendengar suara orang berbincang-bincang. Dia lalu penasaran dan ingin melihat siapa tamu yang datang.


Dan saat dia melihat dari samping wajah Nadiya, dia lalu mundur dan tidak jadi keluar.


Tadinya dia akan keluar dan siapa tahu bos barunya membutuhkan bantuannya. Namun saat dia melihat siapa tamunya, diapun mengurungkan niatnya.


"Tante?"


"Tante ada disini?"


Seniornya menegurnya dari belakang. Karena dia juga baru bangun dari tidurnya.


"Ngapain kau disini? Kamu ngga tidur?"


Deg.


"Ohh, iya. Saya akan kembali kekamar." Kata Sasha sebelum Nadiya menoleh dan mengetahui jika dia bekerja disana.


"Kembalilah kekamarmu. Tidurlah dengan nyenyak. Nanti malam kita akan bekerja lagi." kata Seniornya.


Nadiya lalu berpamitan pada Jesline karena dia pikir hari menjelang sore.


"Aku pulang dulu Jes. Sepertinya hari sudah sore. Aku meninggalkan anak-anak dirumah, Prasetyo lagi keluar kota."


"Okay. Hati-hati dijalan. Aku akan mengantarkan pesanan ya sebelum akhir pekan ini."


"Baiklah. Thanks...."


Nadiya lalu masuk kemobil dan pergi dari Villa itu.


Sasha mengintip dari kamarnya. Dan akhirnya dia merasa lega karena Nadiya sudah pergi.


Tentu saja Nadiya datang, setahu Sasha tantenya itu penggila Fashion. Dia sangat suka berganti baju yang berbeda setiap hari. Dia jarang terlihat memakai baju yang sama untuk kedua kalinya.


Dan baju yang sudah tidak dia pakai, biasanya dia lelang dan sebagian disumbangkan. Namun dalam satu tahun dia tidak pernah memakai baju yang sama untuk kedua kalinya. Entah sejak kapan dia seperti itu.

__ADS_1


Dia adalah CEO. Suaminya juga CEO. Uang bukanlah masalah besar baginya. Dia punya banyak uang yang dia dapatkan sendiri maupun dari pemberian suaminya.


Wajar saja jika dia hoby fashion yang akan menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk membiayai hobynya itu.


Sasha lalu tersenyum dan keluar dari kamarnya. Dia nanti juga akan memakai semua gaun dan baju yang indah itu saat dia menjadi model.


Dan itu tidak lama lagi. Dia harus bekerja dengan baik agar disukai oleh bosnya. Setelah dia menjadi orang kepercayaannya dia akan mengajukan lamaran untuk menjadi salah satu modelnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Jesline kepada Sasha.


"Sudah Bu."


"Kalau begitu kamu siapkan pesanan untuk ibu Nadiya. Ini notanya."


Kata Jeslin sambil menyerahkan sebuah nota kepada Sasha.


Disana sudah tertulis seri baju yang dipesan Nadiya.


"Jika kau belum hafal seri bajunya kau bisa bertanya pada seniormu."


"Baik Bu."


Jeslin lalu pergi kekamarnya. Dan disana sudah ada Andro, Senior Sasha yang dari tadi menunggu Jesline.


"Kau disini?" tanya Jeslin kaget saat dia tahu Andro ada didalam kamarnya.


Dengan cepat Andro lalu menutup dan mengunci kamarnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jeslin kaget.


Dengan cepat Andro langsung mendekap dan memeluk Jesline.


"Aku sangat merindukanmu. Berhari-hari kau selalu saja sibuk."


"Lepaskan! Bagaimana jika ada yang melihatnya?"


"Tidak ada yang akan melihatnya. Kau sudah memecat mereka semua."


"Aku lelah. Keluarlah dari kamarku." kata Jeslin tanpa membalas pelukan Andro.


Dulu Jeslin memang pernah berjanji untuk menikah dengan Andro dan meninggalkan suaminya yang sekarang.


Namun perasaannya sudah berubah sekarang. Dia tidak ingin lagi terlibat asmara terlarang dengannya.

__ADS_1


Hanya saja Andro terus memerasnya dan tidak mau meninggalkanya.


__ADS_2