Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Hanya sebatas mimpi


__ADS_3

Rumput yang panjang dan hijau dengan menampilkan banyak air mancur yang spektakuler. Saat ini Regan sedang bermain di air mancur terbesar di Paris, dengan 12 air mancur vertikal yang bisa menyemprotkan air dengan ketinggian mencapai hampir 33 kaki ke udara.


Taman Trocadero merupakan taman yang luas dan ruang hijau yang ideal untuk bersantai di musim panas letaknya tidak jauh dari Menara Eiffel. Regan lebih suka menghabiskan waktu diruang terbuka karena dia bisa leluasa untuk bermain dan berlari-lari.


"Mami Regan mau kesana ya?" Kata Regan sambil berlari menjauh dari Nadiya.


"Iya. Jangan jauh-jauh ya sayang?" Kata Nadiya sambil melihat Regan yang berlari sangat kencang.


Saking kencangnya berlari, Regan menabrak seorang anak perempuan seusianya dengan rambut sedikit pirang kecoklatan dan mata bulat yang indah.


"Aduhhh!" Kata Anak perempuan itu terjatuh diatas rerumputan. Regan dengan cepat menolongnya berdiri dan melihat wajah anak itu yang seperti tengah menangis.


"Maaf ya. Aku tidak sengaja. Kok kamu nangis? Sakit ya?" Tanya Regan.


"Tidak sakit." Jawab anak perempuan itu.


"Kalau tidak sakit kenapa kamu menangis?"


"Karena kalungku hilang. Itu adalah kalung pemberian ibuku."


"Baiklah aku akan membantumu mencari kalung itu." Kata Regan.


"Terima kasih, kamu mau membantuku." Jawab anak perempuan yang manis sambil mengusap airmatanya.


"Memang jatuhnya dimana?" Tanya Regan.


"Disekitar sini. Tadi aku lari-lari terus kalungnya jatuh."


"Baiklah ayo kita cari. Kamu disebelah sini aku disebelah sana." Kata Regan


Akhirnya anak perempuan itu mencari kalung dibantu oleh Regan. Tapi tiba-tiba seseorang memanggil namanya.


"Sasha! Kemarilah!" Kata wanita itu.


"Sebentar mami. Sasha lagi mencari kalung Sasha yang hilang." Kata Sasha sambil matanya terus melihat kesekitarnya.

__ADS_1


"Kalung yang mana sayang?"


"Kalung yang mami kasih pas ulang tahun Sasha."


"Tidak apa sayang. Tidak usah dicari, nanti mami beliin lagi kalung yang sama seperti itu."


"Memang masih ada yang seperti itu mami?"


"Ada. Nanti mami beliin lagi. Sekarang Sasha ikut mami yuk! Mami ada acara penting. Lain kali main kesini lagi." Kata Ibunya.


"Iya mami." Sasha kemudian menggandeng tangan maminya dan pergi dari taman itu.


Sementar Regan terus sibuk mencari kalung dan tidak tahu jika anak perempuan yang kalungnya hilang itu sudah pergi. Mata Regan terbelalak saat melihat sebuah benda mirip kalung tergeletak diantar rumput yang tinggi.


Kemudian Regan mengamatinya dan bermaksud akan memberikanya pada anak perempuan tadi.


"Hai! Aku menemukan kalungnya!" Teriak Regan sambilenoleh kearah anak perempuan tadi. Tapi rupanya dia sudah tidak ada disana.


"Hai kamu dimana!? Aku sudah menemukan kalungmua?!" Teriak Regan.


"Regaannnn!" Terdengar Nadiya memanggil Regan dari kejauhan dan mendekatinya. Dengan cepat Regan menyimpan kalung itu disaku celananya.


"Iya mami. Regan lagi main disini. Mami lihat! Ada air mancur kecil!"


"Oh itu, itu adalah air mancur dengan bentuk lengkungan air, indah bukan?"


"Iya mami, sangat indah. Yang itu apa mami?"


Regan menunjuk kearah yang lebih jauh.


"Itu adalah atraksi 20 meriam air. Masing-masing mampu menyemprotkan semburan air hingga tinggi sekali."


"Waahh itu sangat bagus mami. Itu keren sekali." Kata Regan dengan sangat takjub.


"Apa yang sedang kalian lihat?" Tanya Prasetyo yang baru datang dengan membawa makanan untuk mereka bertiga.

__ADS_1


"Itu om. Air mancurnya indah sekali." Kata Regan. "Apa om bawa makanan?" Tanya Regan karena dia kehausan dan lapar.


"Iya. Ini untuk kalian." Kata Prasetyo sambil memberikan makanan kepada Regan dan juga Nadiya.


 


Hari ini adalah hari terakhir liburan mereka. Tidak terasa mereka sudah tiga puluh hari menikmati suasana liburan dengan rasa bahagia.


"Ayo kemasi barang-barang kalian, kita akan pulang hari ini." Kata Nadiya sambil memasukkan beberapa barang kedalam kopernya.


"Berangkat sekarang?" Kata Prasetyo yang melihat Nadiya dan Regan sudah selesai berkemas.


Sementara dibawah Ardy juga sudah berkemas dan akan naik pesawat uang berbeda dengan Nadiya.


 


Keesokan harinya Nadiya membuka mata dengan perasaan yang lebih ringan dan tenang.


Kemudian berjalan kekamar Regan dan dilihatnya Regan masih tertidur pulas.


Kemudian Nadiya mendapat telepon dari pengacaranya.


"Baiklah nanti saya akan langsung ke Pengadilan." Kata Nadiya yang rupanya mendapat kabar tentang kelanjutan dari perpisahan yang dia ajukan.


Nadiya langsung pergi ke pengadilan untuk mengambil Akte Cerai karena permohonannya sudah dikabulkan hakim. Suatu saat Akte Cerai tersebut akan berguna sebagai salah satu syarat jika Nadiya ingin menikah kembali. Tanpa Akte Cerai yang sah, maka Nadiya hanya akan menjalani hubungan gantung dengan Ardy dan tentu saja mereka tidak bisa membuka lembaran baru bersama orang lain.


Nadiya tidak sekalipun menyesali keputusannya. Semua yang dia lakukan sudah dia pertimbangkan masak-masak. Karena ternyata hidup bersama Ardy hanya semakin melukai hatinya. Terlebih sikap Ardy yang mudah berubah, apalagi jika suatu saat dia menemukan salah satu putrinya yang lain. Bukan tidak mungkin putrinya yang lain akan membawa badai bagi kehidupanya, jika dia tetap bersama Ardy.


Nadiya tidak ingin setiap saat hidup dengan rasa cemas dan takut ditinggalkan. Apalagi noktah dalam perkawinanya sampai membuat orang lain mengandung darah daging suaminya. Seandainya tidak ada anak dari wanita yang lain, mungkin lebih mudah bagi Nadiya untuk menata kembali rumah tangganya.


Tapi kehadiran anak dan ibu dari cinta satu malam suaminya bukan tidak mungkin suatu saat akan mengguncangkan kembali rumah tangganya jika Nadiya memilih bertahan. Demi ketenangan hati juga jiwanya dalam mengurus Regan, Nadiya sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Ardy yang awalnya dia bangun dari cinta yang tulus dan murni.


Tak pernah Nadiya bayangkan jika ternyata impiannya untuk mengukir cinta hingga akhir usia berakhir di Akte Cerai ini. Sedikitpun tak pernah terlintas dalam ingatanya jika suatu saat dia akan menggugat cerai suaminya. Nadiya selalu meyakini dalam lahir dan batinnya jika mereka adalah salah satu dari orang paling beruntung di dunia karena mendapatkan cinta sejati dan abadi selamanya.


Tadinya Nadiya begitu yakin bahwa kekuatan cintanya akan cukup untuk membuat suaminya tidak tergoda oleh wanita lain. Bahwa kesabaranya akan bisa menghalau badai yang menghadang dan menerjang. Dan kehadiran seorang anak akan menjadi ikatan paling kuat dari sebuah hubungan. Namun ternyata hati yang hancur tidak bisa menahan sakit hati karena penghianatan.

__ADS_1


Rahasia yang dia simpan, dia pikir akan mampu menyelamatkan kehidupanya. Tapi ternyata rahasia itu justru membawa badai dan menghempaskanya hingga ke pengadilan ini.


Dengan surat cerai yang ada dalam genggamanya maka berakhirlah sudah semua kenanganya bersama Ardy. Dan cinta sejati yang dia yakini ternyata hanya sampai disini saja. Impian hidup bersama hingga akhir zaman hanya sebatas mimpi karena saat terjaga dia dihadapkan pada realita dan kenyataan yang sesungguhnya.


__ADS_2