Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Menangkap pemeras


__ADS_3

Nadiya sedang duduk sambil melihat berita perkembangan kasus Jeslin ditelevisi. Tiba-tiba seseorang mengirimkan pesan padanya.


~Aku butuh uang hari ini. Cepat bawa uang ketempat biasa. Jumlahnya sama seperti kemarin. Jangan beritahu siapapun. Atau aku bisa nekat~


Nadiya membaca pesan itu dan mengerutkan dahinya.


"Dia terus memerasku. Aku tidak tahan lagi. Jika aku tidak membongkar siapa dia, maka uangku lama-lama akan habis karena ancamannya." Gumam Nadiya dalam hati.


Nadiya lalu mengirim pesan pada Prasetyo jika orang yang dulu memerasnya sekarang minta uang lagi padanya.


"Apakah kau sudah mengambil uangnya?" Tanya Prasetyo saat dia sampai dirumah setelah mendapat pesan dari Nadiya.


"Sudah! Uangnya ada dikamar koper didalam mobil. Aku akan memberikannya sekarang." Kata Nadiya.


"Kau jalan didepan. Aku dan pengawalku akan mengikutimu dibelakang." Kata Prasetyo.


"Baiklah." Nadiya lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi ke alamat yang diinginkan oleh pemeras itu.


Sementara Prasetyo dan pengawalnya mengikutinya dari jarak jauh.


Saat sudah dekat dilokasi, Nadiya menemui orang yang memakai penutup wajah dan menyerahkan uang didalam koper.


"Kenapa kau lama sekali!"


"Aku harus mengambil uang di bank! Tentu saja lama!"


"Kau sendiri?"


"Ya."


"Mana uangnya? Awas jika kau sampai menipuku!" Ancam orang itu.


"Tidak! Aku tidak menipumu!" Nadiya lalu tiba-tiba mengambil pemukul yang sudah disiapkan didekat mobilnya dan memukul pria itu.


Pria itu jatuh dan koper itu terlempar dari tanganya. Dengan cepat Prasetyo menendang orang itu saat dia akan menyerang Nadiya.


Prasetyo dan pengawalnya bersembunyi dibalik semak-semak saat pemeras itu lengah.


"Kurang ajar! Kau menipuku! Awas kau!"


"Nadiya, pergilah!"


Tiba-tiba pemeras itu mengeluarkan pistol dan akan menembak Nadiya, namun dengan cepat Prasetyo melemparkan kayu dan pistol itu terlepas dari tangan pemeras itu.


Prasetyo lalu mendekat dan menyerangnya. Pengawalnya juga membantu menghajar pria tidak dikenal itu.


"Lelaki pecundang! Beraninya main keroyokan!" Kata Pemeras itu dengan nafas terengah-engah setelah dihajar.


Prasetyo tidak peduli dan membuka tutup mukanya.


"Joan!?"


"Kau!?"


Nadiya langsung menoleh saat mendengar Prasetyo menyebut nama Joan.


Tidak lama kemudian polisi datang karena Nadiya menelponnya.

__ADS_1


Polisi langsung memborgol Joan dan memasukkannya kedalam mobil tahanan.


"Kau tidak papa Pras?" Ada darah dipelipisnya dan sudut mulutnya.


"Tidak papa. Ayo kita kemobil. Polisi sudah mengurusnya." Kata Prasetyo.


Nadiya lalu masuk kemobil dan mereka langsung kekantor polisi untuk memberikan kesaksian.


Setelah keluar dari kantor polisi, Nadiya dan Prasetyo pulang kerumahnya. Rumahnya sepi karena Omanya sedang pergi dan anak-anaknya ada les tambahan disekolah.


"Aku akan mengobati lukamu." Kata Nadiya sambil mengambil kota obat yang dia simpan didekat ranjang.


"Aku tidak habis pikir, Joan sangan mendendam padamu." Kata Prasetyo.


"Dulu dia adalah suami sahabatmu, lalu dia suami adikmu, dan pernah menjadi bagian dari keluargamu." Kata Prasetyo sambil merasakan perih saat Nadiya mengoleskan obat kebeberapa luka diwajahnya.


"Aku pernah memenjarakannya. Dan dia berpikir aku mempengaruhi Karina. Dia kehilangan segalanya setalah bercerai dengan Karina. Dia pengangguran dan asetnya diminta kembali oleh Karina."


"Pantas saja dia kesal. Tapi...kenapa harus marah padamu?"


"Karena aku menghalangi setiap jalannya. Dia sangat serakah. Dan Karina terlalu polos. Dia bahkan pernah membuat perusahaan papa hampir bangkrut. Aku berjuang keras untuk bangkit. Dan aku memasukkanya kedalam penjara saat itu."


"Dia sangat berbahaya." Kata Prasetyo.


"Ya, orang sepertinya sudah tidak peduli pada dampak dari perbuatanya." Kata Nadiya lalu menaruh kotak obat kembali.


"Istirahatlah." Kata Nadiya lalu rebahan disamping Prasetyo.


Ardy melihat Joan baru saja masuk dan mereka ada disatu sel yang sama.


"Kau!?" Mereka bertatapan dan kaget. Maklum mereka dulu memang saling kenal.


"Karena mantan istrimu yang sok jagoan itu." Kata Joan kesal.


"Maksudmu?" Ardy tidak mengerti perkataan Joan. Ardy menatapnya dengan serius.


"Aku memerasnya." Aku Joan.


"Kenapa kau memerasnya? Kau tidak berubah, dari dulu kau memang serakah." Kata Ardy.


"Aku punya rahasia. Dan aku yakin kau juga tidak tahu. Tapi aku tidak akan mengatakan padamu apa yang kuketahui."


"Apa!? Cepat katakan? Apa yang kau ketahui?" Kata Ardy sambil memegang kerah baju Joan.


"Lepaskan! Dia buka istrimu lagi! Kau tidak perlu tahu!"


"Dasar kau pria brengs*k!" Umpat Ardy karena Joan meremehkannya.


"Kau juga sama brengs*knya denganku!"


"Kurang ajar! Kau bilang apa!" Mereka membuat keributan dan seorang penjaga menegurnya.


Akhirnya mereka bertatapan dan duduk berjauhan.


***


Sasha menghilang selama satu Minggu, dia rupanya menenangkan diri disebuah kos-kosan kecil.

__ADS_1


Dia duduk didalam kamarnya dan berfikir apa yang akan dilakukannya sekarang?


"Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat merindukan Aaron. Tapi aku tidak bisa menemui Vano. Aku malu dan aku terus mengingat kejadian itu." Kata Sasha sendirian dikamarnya dengan gorden tertutup dan pintu yang juga tertutup.


Dia mengurung diri disana dan tidak keluar kemana-mana.


***


Vano lagi-lagi mencari Sasha kebeberapa tamanya, namun Sasha tidak pergi kesana. Vano juga mencari keapartemenya, dia juga tidak ada disana.


"Kemana dia pergi?" Kata Vano yang saat itu bersama Oma mencari keberadaan Sasha.


Oma kangen dengan Sasha dan Aaron, dan dia mendengar sebagian kisah dari Vano jika mereka bertengkar dan Sasha tidak kembali lagi.


"Kenapa kau pakai bertengkar dengannya?" Tanya Oma.


"Biasa Oma, dia sangat keras kepala dan tidak mau menurut." Kata Vano yang sudah kehabisan alasan.


Bagaimanapun dia tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya, karena itu berhubungan dengan polisi.


"Ayo Oma, kita makan dulu, Oma terlihat lelah dari tadi belum makan dan minum apapun."


"Ayo kita makan dirumahmu saja. Oma mau melihat Aaron."


"Baik Oma."


Vano lalu mengemudikan mobilnya menuju kerumahnya. Aaron sedang bermain dengan bibinya.


"Rumahmu begitu sepi apakah kau hanya sendirian?"


"Iya Oma."


"Aku mendengar kabar jika papamu mengundurkan diri. Dan aku ikut prihatin atas apa yang terjadi belum lama."


"Ya, terimakasih...." Kata Vano lalu memberikan makanan yang baru saja dia pesan.


"Kau juga makanlah. Nanti dia juga akan kembali setelah pikirannya tenang." Kata Oma pada Vano.


"Papa....Oma...." Aaron berlari kearah mereka.


Oma lalu menaruh makananya dan memeluk cicitnya.


"Oma kangen sekali...." Oma lalu mencium pipinya yang gendut.


***


Nadiya kaget karena dia ketiduran dan dia lupa menjemput Edsel dan juga Eiden. Nadiya lalu menoleh kesampingnya, namun Prasetyo sudah tidak ada disampingnya.


Terdengar suara anak-anak dari bawah.


"Siapa yang menjemput mereka?" Tanya Nadiya dari tangga.


"Aku yang menjemputnya." Kata Prasetyo baru saja sampai dipintu sambil membawa tas mereka.


"Kenapa kau tidak membangunkan aku?"


"Kau sedang lelap, aku pikir, aku tidak perlu membangunkanmu."

__ADS_1


"Aku kaget saat bangun dan aku belum menjemput mereka. Tapi syukurlah kau sudah menjemputnya." Kata Nadiya lalu mendekati Edsel dan juga Eiden dan memeluknya.


__ADS_2