
Nadiya, Regan dan Ardy baru saja selesai makan malam disebuah restoran karena undangan dari salah satu teman Regan yang berulang tahun. Kebetulan orang tua mereka saling mengenal satu sama lain, sehingga Regan memaksa Nadiya dan Ardy harus hadir bersama.
"Acaranya sudah selesai kan? Yuk kita pulang?" Ajak Nadiya sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Iya mami. Regan ikut siapa sekarang? Regan tidur dirumah mami atau papi?" Hati Nadiya trenyuh mendengar pertanyaan polos dari putranya. Pasti dia kebingungan dengan situasi yang sekarang membuatnya berpindah kesana kemari. Gumam Nadiya didalam hati.
"Regan boleh memilih. Mami tidak keberatan." Kata Nadiya bijaksana dan tidak ingin menekan putranya. Bahkan yang Regan alami sudah membuatnya sedih yang luar biasa.
Apa yang terjadi pada masa kecil Nadiya sangat disesalkan juga harus dialami oleh Regan. Dulu ibunya Nadiya bercerai dan memutus semua akses tentang ayahnya, sehingga membuat Nadiya menjadi pemurung dan rendah diri dimasa anak-anak.
Dari pengalamanya dimasa lalu, Nadiya tidak ingin mempersulit akses Ardy untuk menemui putranya. Dan tidak ingin membuat putranya menjadi anak broken home. Dan tidak mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya, dimasa anak-anak dan dalam proses pendewasaanya. Dia ingin Regan tumbuh dalam kebahagiaan dan mengenang hanya yang indah saja dari masa kecilnya.
Apa yang ibunya Nadiya lakukan, tidak ingin Nadiya lakukan kepada Regan. Bahkan Regan boleh tinggal denganya atau dengan Ardy sebanyak yang dia inginkan. Bagi Nadiya kebahagiaan Regan diatas semua ego tentang sebuah kepemilikan. Dia bukanlah barang yang bisa ditaruh sana ditaruh sini sesuai kehendak orang tuanya, tapi dia adalah malaikat kecil yang harus dijaga agar hatinya tidak patah.
Nadiyapun mulai mengingat kenangan masa kecilnya dan tengah melamun.
Flashback*
"Ibu...Nadiya kangen papa." Nadiya kecil mulai menangis menahan kerinduan pada papanya. Karena biasanya mereka main bersama dan tidur bersama. Tidak ada papanya disampingnya serasa ada yang hilang dan kurang dalam hari-harinya.
Nadiya mengatakan hal itu karena sudah tidak tahan menahan kerinduan pada papanya. Aksesnya terputus sama sekali. Sakit hati yang dialami ibunya Nadiya, membuatnya gelap mata dan hanya mengingat tentang kepahitan kisah hidupnya. Ibunya Nadiya sangat keras kepala dengan tidak mengizinkan mantan suaminya untuk menemui bahkan tidak menerima bantuan dalam bentuk apapun.
Ibunya Nadiya mengancam akan menenggelamkan dirinya jika sampai papanya Nadiya berani menemuinya juga putrinya. Meskipun Nadiya kecil dan ibunya hidup pas-pasan bahkan sering kekurangan, namun Ibunya tetap berkeras hati tidak mau menerima sepeserpun uang dari suaminya.
Setelah tidak menjadi nyonya besar, dengan pelayan dan segenap kehormatan, Nadiya kecil dan ibunya hidup sangat menderita. Tidak mudah bagi ibunya Nadiya yang biasa hidup bak sultan, tiba-tiba harus kehilangan segalanya dan hidup menderita dikampung halamanya. Bahkan ibunya Nadiya tidak menemui papanya hingga nafas terakhirnya.
"Papamu sudah tiada Nadiya. Jangan pernah mencarinya lagi. Jangan pernah menyebut nama papamu dihadapan ibu. Kamu tidak ingin ibu bersedih bukan?" Kata Ibunya dengan mata berkaca-kaca. Melihat ibunya bersedih maka Nadiya kecil berjanji untuk menuruti permintaan Ibunya.
__ADS_1
Nadiya kecil bahkan sampai demam tinggi karena merindukan papanya. Namun sekalipun, Nadiya kecil tidak pernah berani mengatakan kepada ibunya tentang kesedihan yang dirasakanya. Semua itu dia pendam hingga dewasa.
Tidak teras airmata Nadiya menetes saat mengingat momen itu. Dan saat ini Regan kecil juga harus mengalami kebingungan tentang mami dan papinya.*
"Regan mau menginap dirumah papi..." Kata Regan karena sudah beberapa hari dia menginap dirumah ibunya. Ibunya mengangguk dan tersenyum padanya.
"Nadiya...!" Seseorang memanggil Nadiya dari arah belakang. Nadiya menoleh dan ternyata itu adalah suara Karina dan Ibu tirinya.
"Hai Kalian juga makan disini? Dan....."Matanya langsung menatap kewajah Ardy.
"Iya. Kami sudah selesai makan dan akan pulang." Jawab Nadiya.
"Bukankah kalian sudah bercerai, tapi ....kalian masih terlihat bersama? Apakah kalian akan rujuk?" Tanya ibu Sofia kepo dan ceplas-ceplos.
"Mami!" Sela Karina yang langsung melihat perubahan pada rona wajah Nadiya.
"Sudah diam!" Kata ibu Sofia pelan kepada Karina.
"Ooooo....Soalnya mami bingung sama kamu, kadang kamu bersama bodyguard itu, kadang bersama mantan suami kamu.....jadi kesannya kamu ini ...." Kata ibu Sofia yang langsung dipotong oleh Karina.
"Mami....ayo kita pulang." Ajak Karina sambil menarik lengan ibunya. "Apaan sih kamu! Mami belum selesai ngomong!" Kata Ibu Sofia geregetan pada Karina.
"Sudah mami, lain kali saja." Kata Karina pada ibunya. "Kami pulang dulu ya Nad." Kata Karina berpamitan pada Nadiya dan mengangguk pada Ardy.
Sementara Prasetyo sudah menunggu Nadiya didepan Restoran dan melambai kearahnya. Prasetyo mendapat pesan dari Nadiya untuk menjemputnya sekarang. Nadiya melihatnya dan berpamitan pada Regan juga Ardy.
Setelah Nadiya masuk kedalam mobilnya, Ardy dan Regan juga pulang ke apartemennya.
__ADS_1
"Gimana acaranya?" Tanya Prasetyo.
"Lumayan. Regan sangat bahagia."
"Ini untukmu?" Kata Prasetyo sambil memberikan seikat bunga mawar yang indah kepangkuan Nadiya.
"Terimakasih. Ini sangat cantik."
"Kamu menyukainya? Lain kali aku akan lebih sering memberimu bunga. Apakah hanya mawar yang kamu sukai?"
Nadiya mengangguk. Dan mencium bunga yang ada dipangkuannya dengan perasaan bahagia.
"Apakah Ardy tadi mengganggumu?" Tanya Prasetyo khawatir akan kedekatan Nadiya dengan Ardy meskipun demi Regan. Karena Ardy masih berharap untuk mendapatkan Nadiya kembali. Dan dia menggunakan Regan sebagai alasan kedekatannya.
"Tidak." Jawab Nadiya.
"Apakah kamu khawatir setiap kali aku bersama Ardy?" Kata Nadiya sambil menoleh kearah Prasetyo.
"Ya. Tentu saja. Aku mulai takut kehilangan dirimu. Karena aku....."
"Apa?"
"Aku mulai jatuh cinta padamu...." Kata Prasetyo sambil menatap wajah cantik Nadiya dan menghentikan mobilnya di trotoar.
Nadiya juga menatap wajah Prasetyo dengan tersipu malu. Pipinya merona merah seperti pakai blush-on alami.
Kemudian Prasetyo menggenggam erat jemari Nadiya dan menatapnya lekat. Prasetyo mendekatkan wajahnya kewajah Nadiya hingga sangat dekat dan hanya berjarak beberapa ml saja. Nafas Nadiya menghembus lembut kekulit wajah Prasetyo. Dan saat Prasetyo semakin mendekat, Nadiya mulai berdebar tidak karuan. Dan berpikir apa yang akan dilakukan Prasetyo padanya.
Nadiya menggenggam ikatan bunganya semakin erat. Saat hidung Prasetyo semakin terasa dekat dan menyentuh hidung Nadiya, Prasetyo menarik kepalanya kebelakang. Dan mengurungkan niatnya untuk mencium Nadiya.
__ADS_1
Kemudian Prasetyo tersenyum pada Nadiya dan merengkuh kepala Nadiya dalam bahunya.
Setelah beberapa saat mereka terdiam dan menikmati kebersamaan itu, Prasetyo menjalankan mobilnya. Nadiya menatap Prasetyo yang sedang mengemudi dengan perasaan yang aneh. Apakah mungkin aku jatuh cinta lagi? Gumam Nadiya.