
Jeslin menatap suaminya dengan anggun. Jeslin adalah mantan model yang juga berprofesi sebagai desainer.
Dan sekarang banyak artis maupun kalangan elit yang menggunakan baju hasil rancangannya.
"Kau terlihat cantik malam ini." Puji suaminya. Wajah Jeslin tersipu dan merona merah karena pujian suaminya.
"Setelah makan kita akan kehotel," kata suaminya.
Jesline mengangguk ringan.
"Vano masih ada disini?"
"Ya. Dia sebulan disini."
"Dia tidak ikut makan bersama kita?" tanya Jeslin sambil melihat sekeliling. Dia pikir Vano akan makan malam bersamanya malam ini.
"Tidak. Dia bersama teman-temannya. Ayo kita makan." Kata suaminya karena pramusaji sudah menyiapkan semua hidangan yang dipesan.
***
Nadiya saat ini sedang menidurkan kedua buah hatinya yang terus saja rewel. Mereka berdua terserang batuk pilek bersamaan.
Entah kenapa sudah sering terjadi seperti itu, setiap kali Edsel batuk satu hari kemudian Eiden juga ikut-ikutan batuk.
Dan sebaliknya, begitu seterusnya.
Hal itu kadang sangat merepotkan Nadiya karena harus terus begadang semalaman saat mereka rewel dan tidak bisa tidur.
Nadiya lalu mematikan AC dan menyalakan mesin penghangat ruangan lalu membuka sedikit jendelanya.
"Edsel ngga bisa bernafas mami. Hidungnya mampet semua."
"Tenanglah sayang, mami akan menggosok punggungmu dengan bawang merah." Rupanya Nadiya masih tetap menggunakan cara tradisional untuk membuat pernafasannya lega.
Nadiya lalu menaruh beberapa irisan bawang merah didekat tempat tidur mereka.
Nadiya sering melakukan itu sejak mereka masih bayi. Dan hasilnya kuman yang ada ditubuh mereka berpindah ke irisan bawang merah tersebut.
Nadiya lalu akan membuangnya dipagi hari dan menggantinya dengan irisan bawang merah yang baru jika mereka belum sembuh.
"Gimana? Sekarang sudah mendingan?" Tanya Nadiya kepada Edsel sambil meninggikan bantalnya.
Sementara Eiden sudah pulas tertidur saat tadi rewel sebentar, dan Nadiya menggosokkan irisan bawang merah dicampur dengan minyak telon, akhirnya berhasil membuat Eiden tertidur.
Tidak lama kemudian Edselpun tidur.
"Akhirnya aku bisa istirahat juga. Aku sangat mengantuk. Jika ada Prasetyo maka dia yang biasanya begadang, tapi dia ada diluar kota. Sehingga aku sendirian merawat mereka. Tapi....syukurlah mereka bisa nyaman dan tidur pulas. Sebaiknya aku juga tidur."
Kata Nadiya sambil mengelus dahi Edsel dan juga Eiden.
Tidak lama kemudian Nadiya juga tertidur disamping mereka.
***
Sementara Regan yang masih penasaran dengan Sasha dan mengkhawatirkan keadaanya, masuk kekamar maminya.
__ADS_1
Saat dia tahu maminya tidur dikamar Edsel dan juga Eiden, Regan lalu mencari album foto lama.
Regan mencari dilaci lemari paling bawah. Biasanya mereka menyimpan disana untuk album foto yang sudah lama.
"Akhirnya ketemu juga." Kata Regan lalu mulai membukanya
Ada foto Nadiya, Sarah dan juga Dara disana. Dan ada namanya dibawah setiap foto itu.
Nadiya menulis nama mereka dengan pulpen karena itu adalah foto SMA nya. Terlihat dari warna tulisan yang hampir pudar.
"Ini adalah foto mami. Dan ini Tante Sarah, lalu ini Tante Dara."
Regan lalu mengambil satu lembar foto itu dan dia simpan disakunya.
Setelah itu dia kembali kekamarnya.
Sekarang aku harus mencari foto Sasha dan ibunya.
Dimana?
Dimana kira-kira aku bisa menemukan foto mereka?
Ohh...kenapa aku tidak menanyakanya pada Oma?
Oma kan pernah bertemu dengan ibunya Sasha.
Pasti Oma mengenali foto ini.
Ahh...sebaiknya aku tanyakan pada Oma.
Tapi....Oma pasti sudah tidur. Sebaiknya aku tanyakan besok pagi saja.
Ahh, aku tidak bisa tidur sekarang. Aku tidak sabar untuk bertanya pada Oma tentang foto ini?
***
Pagi harinya
"Oma....selamat pagi oma!" Kata Regan diluar gerbang.
"Kau mau jalan pagi juga? Tumben mau nemenin Oma? Pasti ada apa-apa, kau biasanya begitu. Jika tidak kau sangat sibuk dan tidak peduli pada Oma."
"Oma....jangan bilang begitu dong. Regan kan memang sibuk. Tapi sekarang Regan mau jalan pagi biar sehat kayak Oma."
"Kau memang pandai beralasan." Kata Omanya sambil mulai jalan pagi dan meninggalkan Regan dibelakangnya.
Regan lalu menyusul Omanya. Dan mereka sampai diujung jalan perumahan dan terdapat banyak orang berjualan disana.
Omanya lalu duduk dan beristirahat sambil memesan minuman dan kue basah.
"Kau juga mau? Makanlah! Kau belum sarapan kan?"
"Hehehe, pantesan Oma jarang sarapan dirumah. Ternyata disini banyak yang jual makanan." Kata Regan sambil mengambil kue dan minuman.
"Kau baru tahu?"
__ADS_1
"Iya. Regan tidak tahu jika disini banyak orang berjualan pagi hari."
"Mereka berjualan hanya saat pagi saja dan akan tutup jam 8."
"Wah Oma sampai hafal."
"Tentu saja. Bahkan Oma mengenal mereka semua. Mereka juga mengenal Oma. Kita sering ngobrol setelah jalan pagi."
"O...ya... Oma." Regan ingat pada tujuannya menemani Omanya jalan pagi dan agar percakapan mereka tidak terdengar oleh maminya, yang akan sepanjang hari dirumah, karena kedua adiknya sedang terserang batuk pilek.
"Kenapa?" tanya Omanya sambil meminum jus.
"Oma masih ingat kan wajah ibunya Sasha?"
"Iya lalu...."
Regan lalu memberikan sebuah foto kepada Omanya.
"Inikan ibumu, teman-temannya dan ini....ini mirip ibunya Sasha. Sarah.....?"
Omanya lalu menatap Regan dengan bingung.
"Mereka saling mengenal?" Tanya Oma kaget.
Karena setahu Omanya, Nadiya tidak pernah bercerita tentang ibunya Sasha dan mereka tidak pernah membahasnya.
"Nah itu Oma. Itu yang sedang ingin Regan ketahui. Apakah mami kenal dengan Tante Sarah?"
"Untuk apa!" Tanya Omanya sambil mengambil kue basah diatas meja.
"Ada deh! Oma yakin? Ini adalah Tante Sarah ibunya Sasha?"
"Oma tidak perlu melihatnya dua kali untuk mengenali wajahnya."
"Ya sudah. Terimakasih Oma!" Kata Regan lalu berlari pulang kerumah.
"Dasar anak itu!" Kata Omanya sambil geleng-geleng kepala.
***
Sampai dirumah Regan langsung mencari maminya.
Dengan sedikit kesal dia berusaha menahan emosinya.
"Mami kenal sama ibunya Sasha?"
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Mami tidak mengenalnya."
"Hhhh....mami pasti bohong. Mami kenal kan sama ibunya Sasha? Mami juga tahu jika Sasha adalah anak dari selingkuhan papi!"
Plaaakkkkk!
Sebuah tamparan melayang kepipi Regan.
Dan saat itu Prasetyo berdiri dipintu karena dia pulang lebih awal. Dan sengaja ingin memberi kejutan pada Nadiya.
__ADS_1
Nadiya menoleh dan gemetar saat Prasetyo ternyata ada disana dan mendengar percakapannya dengan Regan.