Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Medali emas


__ADS_3

Sasha nampak bahagia karena berhasil mendapatkan juara satu. Setelah megang medali emas dengan penuh kebanggaan. Wajah ibunya seperti berada diantara teman-temannya yang sedang tersenyum kearahnya.


Satu persatu Pelatih dan Rektor diambil gambarnya oleh panitia dan juga beberapa teman reporter.


"Sasha ditengah! Rektor sebelah kanan dan pelatih sebelah kiri." kata panitia.


Ceklek!


uploud....


Gambarnya cepat tersebar dibeberapa media sosial.


"Jangan turun, saya belum ambil gambarnya. Sekalian vlog ya!" Teriak salah satu teman yang baru bisa menembus kerumunan.


Sasha lalu tersenyum manis dan geli juga lihat kehebohan mahasiswa yang memanfaatkan momentum ini untuk menghasilkan pundi-pundi dolar.


"Nanti wawancara ya."


"Tidak sekarang!" kata pelatih.


"Biarkan Sasha istirahat dulu."


"Okey, siap!"


"Sekarang teman-temannya juga boleh berdiri disini, kita akan ambil beberapa gambar!"


Vano lalu naik ke panggung dan berdiri didekat Rektor. Sementara Elena, Madina, dan Rossa berdiri disamping pelatih.


"Gue harus kelihatan ya!" Teriak Rossa pada salah satu teman mahasiswa yang akan mengambil foto mereka.


"Ya, kau agak ketengah! Jangan terlalu kepinggir!" katanya memberitahu Rossa.


Ciiiiiiiisssss!


Ceklek!


Terlihat Sasha berkeringat karena panas dan juga sisa capeknya belum hilang.


Rossa lalu mengambil tissue ditas kecilnya dan mengelap muka Sasha.


"Kau seperti mandi keringat." kata Rossa.


"Iya panas banget. Rasanya pengen mandi dan langsung berendam." kata Sasha.

__ADS_1


"Udah ya. Hari ini ambil gambarnya sudah ya teman-teman! Sasha mau istirahat!" teriak Rossa.


"Beri jalan! Ayo minggir! Kasih jalan!" Teriak Vano dan berjalan paling depan.


Disana sudah terparkir mobil Vano dengan gambar Sasha yang sedang memegang medali emas.


Entah kapan dia membuatnya, terlihat senyum Sasha yang begitu manis mengelilingi mobil Vano bersama medali as ditanganya.


"Sasha! Sasha! Sasha!"


Beberapa teman yang ada disekitar mobil itu masih meneriakkan namanya.


Vano langsung mengajak Sasha masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.


Didalam ada Regan, Madina dan juga Rossa.


"Wah dimana Elena?" Tanya Madina.


"Aduh lupa gue!" Kata Vano.


"Tadi Elena pamit kekamar mandi sebentar. Dan saking riwehnya dia lupa jika Elena belum masuk kedalam mobil.


"Gimana sih? Nanti dia pasti marah besar."


"Ahk kau ini. Namanya juga udah pengen pipis, mana bisa ditahan." Kata Rossa.


"Kasihan kan dia tertinggal? Dia pasti nyariin kita." Kata Rossa.


"Balik nih! Jemput dia?" Tanya Vano.


"Udah ngga usah! Jalan aja. Nanti juga dia tahu kalau kita ngga ada disana, berarti kita udah pulang." Kata Regan.


"Lihat no? Sang juara udah ngiler! Ketiduran saking capeknya. Kasihan kan dia pasti udah kecapean banget. Udah lari masih harus sabar disuruh foto sana sini sama para youtuber dan teman-teman fotografer."


"Iya. Selimuti gih. Kasihan Sasha. Dia pasti kecapean banget." Kata Madina.


"Gue ngga nyangka Sasha benar-benar hebat. Dia menang man!" Kata Vano.


"Nah lo sendiri, kenapa ngga menang? Lima besar juga ngga!" Kata Rossa.


"Ahk Lo ngga tahu lawan gue atlet profesional semua. Badannya sangat lentur larinya seperti pakai per disepatunya. Ringan banget. Buset dah! Aku sampai kewalahan mengatur nafas saking kencangnya berusaha menyalip mereka." kata Vano sambil menyetir.


"Ya tapi, kamu tidak boleh berkecil hati, nanti dikesempatan berikutnya, kamu pasti bisa menang!" Kata Madina.

__ADS_1


"Aku sih ngga nyesel. Udah bisa ikut hingga kesini juga udah bersyukur banget. Apalagi Sasha juga sudah berhasil mendapatkan medali. Setidaknya rasa kecewa gue terobati karena Sasha berhasil menjadi juaranya." kata Vano.


"Pelan dong bawa mobilnya! Hampir saja nabrak!" Teriak Rossa.


"Sorry! Sorry!" Gue keasyikan ngobrol jadi ngga fokus nyetirnya.


"Hampir saja, lo nabrak mobil didepanya." Kata Madina.


"Lagian bawa mobil pelan banget sih!" Teriak Vano.


"Bukan dia yang pelan. Kamu yang ngebut!"


"Hehehehe." Vano malah terkekeh.


"Paling hobi ya nyalahin orang lain!"


"Pelan nih! Udah hampir nyampe." Kata Rossa.


"Turun diparkiran aja ya, sekalian!" Kata Vano.


Tadinya Rossa mau turun direstoran dan membeli makanan. Tapi karena kata Vano semua turun diparkiran, akhirnya Rossa juga turun disana.


"Sasha! Bangun, dah nyampe!"


"Hah! Gue ketiduran?" tanya Sasha sambil ngucek matanya yang berat.


"Iya. Kamu tertidur. Ayo bangun, nanti kita tunggu Elena datang, biar kakimu diobati sama dia"


"Ya udah. Yuk, turun!"


Regan turun lebih dulu, dan megang tangan Sasha.


"Aku antar kamu sampai dikamarmu ya!" kata Regan.


"Ngga usah! Aku sama Madina saja."


"Ya udah kalau gitu. Aku pergi dulu, ada urusan penting." Kata Regan.


Sasha lalu jalan bersama Madina, mereka menuju kekamar Sasha. Karena Madina dan Sasha kan tidurnya bersama.


Sedangkan Rossa pergi ke restoran bersama Vano untuk membeli makanan.


Mereka makan disana dan tidak lupa membungkusnya untuk Sasha dan Madina.

__ADS_1


Saat mereka makan, tiba-tiba Elena datang dengan wajah ditekuk dan kesal terlihat dari wajahnya.


__ADS_2