
Nadiya kemudian memeluk Prasetyo karena ketulusanya yang mulai mencairkan hati Nadiya yang membeku akibat penghianatan suaminya yang dahulu. Nadiya hanya berharap suatu saat Prasetyo benar-benar bisa membuat hatinya mencair dan bisa membuatnya yakin jika duka dimasa lalu tidak akan terulang kembali.
"Maafkan aku Pras.....aku..."Kata Nadiya diiringi jatuhnya kedua mutiara dari sudut matanya.
"Sudah diamlah, jangan menangis lagi. Aku mengerti alasanmu. Dan aku minta maaf tadi aku kelepasan." Kata Prasetyo yang merasa tidak bisa mengendalikan diri akibat hasratnya sebagai lelaki normal.
"Aku akan menunggu...." Kata Prasetyo kemudian mencium kening Nadiya. Dan Nadiya hanya bisa membenamkan wajahnya pada dada bidang Prasetyo dengan rasa yang bercampur aduk.
"Tidurlah aku akan mengenakan piyamaku dulu." Kata Prasetyo kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil piyama yang sudah disiapkan oleh Nadiya.
Tiba-tiba pesan dihapenya bergetar, dan Prasetyo membukanya. Ternyata pesan itu dari maminya.
"Pras jangan lupa pesan mama. Berikan baju itu pada Nadiya dan buatlah dia hamil."
Prasetyo tersenyum melihat pesan yang ditulis maminya. Dan menaruh kembali handphone itu diatas meja.
"Dasar mami. Bagaimana bisa hamil orang belum juga ngapa-ngapain!" Ujar Prasetyo pada dirinya sendiri.
Nadiya merebahkan dirinya diatas kasur dan menyelimuti tubuhnya hingga sampai kedadanya. Kemudian Prasetyo juga berbaring disampingnya dan memakai selimut yang sama dengan Nadiya. Prasetyo memandang wajah Nadiya yang mulai memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Prasetyo menggoyang-goyangkan telapak tangannya pada wajah Nadiya. Namun rupanya Nadiya benar-benar sudah tertidur pulas. Prasetyo malah tidak bisa tidur entah apa sebabnya.
Kemudian Prasetyo mendekatkan badanya kebadan Nadiya dan melihat wajah itu sangat dekat. Aku tidak menyangka bisa tidur satu ranjang denganmu. Orang bilang kau wanita penyihir? Tapi menurutku kamu malah mirip jelmaan vampir jika ingat kau menggigit bibirku waktu itu.
Aku tidak pernah menduga hatiku tertambat padamu. Wanita yang kehidupanya rumit dan kepribadiannya menakjubkan. Banyak wanita yang masih gadis dan perawan, tapi aku hanya tertarik padamu, dan aku tidak peduli jika kau bahkan pernah menikah dan sisa orang. Bagiku kau adalah wanita yang aku cintai dengan sepenuh hatiku.
Bahkan akan aku habiskan sisa umurku untuk menantimu hingga ujung waktu itu berakhir. Takkan kusia-siakan dirimu dan akan selalu kujaga dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku memang bukan yang pertama dihatimu. Tapi akan aku yakinkan bahwa kamu adalah cinta terakhirku. Dan hubungan ini hanya akan berakhir jika kematian menjemputku.
Ungkapan aku sangat mencintaimu rasanya tidak akan cukup untuk menggambarkan betapa berartinya dirimu bagiku. Ternyata kamu adalah jodoh terindah yang Tuhan anugerahkan dengan takdir yang begitu sempurna. Dan dalam setiap kehidupan aku ingin hanya kau yang menjadi bidadarinya. Kebahagiaanku berawal dari dirimu dan akan berakhir padamu juga.
__ADS_1
Kemudian Prasetyo mencium kening dan bibir Nadiya yang sedang tidur dengan lembut. Nadiya tetap tidak terbangun dan masih pulas.
Prasetyo kemudian mendekatkan wajahnya pada kepala Nadiya dan akhirnya mereka tertidur hingga malam berlalu.
Pagi harinya Nadiya terbangun setelah mencium bau masakan. Baunya sangat dekat sepertinya makanan itu ada didekat bantalnya. Dan benar saja saat membuka matanya pelan-pelan, ternyata seseorang sudah berdiri disamping ranjangnya dengan membawa nampan makanan yang baunya langsung membuat cacing diperut Nadiya berteriak minta makan.
"Selamat pagi sayang.....tidurmu sepertinya nyenyak sekali." Kata Prasetyo dan duduk disamping Nadiya.
Wajah Nadiya merona karena malu. Bagaimana mungkin dia bisa bangun sesiang ini? Matahari bahkan sudah sepenggalah tinggi. Dan akhirnya Nadiya melipat selimutnya dan kekamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aku kekamar mandi dulu." Kata Nadiya tersipu malu. Ini adalah pagi pertama dirinya resmi menjadi istri Prasetyo. Dan masih ada beberapa kecanggungan dalam beberapa sikapnya.
"Baiklah. Jangan lama-lama ya. Kita akan sarapan bersama." Kata Prasetyo sambil menaruh makanan itu diatas meja yang berada tidak jauh dari jendela yang besar itu.
Tidak lama kemudian Nadiya sudah keluar dan mengganti bajunya.
"Terimakasih. Kamu sudah memasak sarapan ini. Maafkan aku, lain kali aku yang akan menyiapkanya untukmu." Kata Nadiya sambil menyiapkan piring untuk Prasetyo.
Prasetyo menatap Nadiya dan mengangguk.
"Okay.... sekarang karena aku yang masak maka kamu harus suapin aku?" Kata Prasetyo sambil menutup salah satu piring yang disiapkan Nadiya.
"Kita akan makan satu piring berdua. Ini adalah sarapan pertama kita dan aku ingin membuat kesan yang indah." Kata Prasetyo sambil matanya lekat menatap wajah cantik Nadiya yang tanpa riasan tebal.
Nadiya tersenyum dan mengangguk. Kemudian dengan perlahan dia menyendok makanan itu dan mulai menyuapi suaminya.
"Apa yang akan kita lakukan hari ini?" Tanya Nadiya pada Prasetyo.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pergi berjalan-jalan dengan perahu dayung." Kata Prasetyo.
"Baiklah sepertinya itu menyenangkan." Kata Nadiya sambil menghabiskan suapan terakhir.
"Aku akan mencuci piringnya." Kata Prasetyo sambil membawa piring kotor diatas nampan.
Tapi Nadiya mencegahnya, dan langsung mengambil nampan dari tangan Prasetyo.
"Biarkan aku yang mencucinya." Kata Nadiya.
Prasetyo mengangguk.
"Besok aku akan menyuruh pelayan untuk membantu disini."
"Tidak usah." Cegah Nadiya.
"Biarkan aku melakukanya. Dulu saat masih menjadi ......"Nadiya tiba-tiba kelepasan bicara dan hampir saja terlontar kata yang bisa menggangu bulan madu mereka.
"Teruskan, kok malah diam." Kata Prasetyo
Hampir saja aku mengatakan yang aku lakukan dulu saat masih menjadi istri Ardy. Pelayanan dan semua tugas istri aku lakukan dengan sepenuh hati dan semua seperti memasak, menata rumah, dan yang lainya. Untung saja aku langsung ingat bahwa dia adalah Prasetyo, orang yang berbeda. Harusnya aku mudah untuk melupakan setiap kenangan itu, setelah dikhianati. Tapi entah kenapa beberapa moment justru mengingatkan masa dulu saat aku bahagia bersamanya. Sebelum Sarah hadir dalam kehidupan kami.
"Maksudku, bukankah ini pekerjaan wanita? Sudah sepantasnya aku yang harus melayanimu. Bukan sebaliknya?" Kata Nadiya mencoba menghilangkan keraguan Prasetyo.
"Ya sudah terserah kamu saja. Aku akan menunggumu diteras." Kata Prasetyo.
🌹🌹🌹
Ardy hari ini tidak pulang kerumah tapi menginap dikantor. Wajahnya dan bajunya kusut tidak terurus. Rambutnya juga acak-acakan. Semangat hidupnya memudar. Dan pekerjaan kantor tidak satupun diselesaikannya. Pikiranya sedang melayang entah kemana.
__ADS_1
Bekas makan mie instan juga masih tergeletak dimeja dengan beberapa sisa kaleng soda. Sebuah pigura dengan wajah Nadiya masih terpampang dihadapannya. Wajah Nadiya dengan senyuman manis yang khas sangat berkharisma. Terlihat jelas Ardy belum bisa merelakan mantan istrinya menjadi milik orang lain.
Tiba-tiba pintunya diketuk oleh seseorang. Namun karena tidak ada jawaban dari dalam maka Elis langsung membuka pintu dan dilihatnya Ardy masih tertidur diatas meja kerjanya.