Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Lelaki penyelamat Regan


__ADS_3

"Wisnu tolong antarkan Regan berangkat ke sekolah, pak Hadi sedang cuti. Jadi kamu yang akan mengantarkan Regan selama pak Hadi cuti. Saya akan keluar kota selama satu Minggu."


"Baik Bu."


"Mami mau kemana?" Kata Regan yang tidak sengaja mendengar percakapan maminya dan om Wisnu, sopir pribadi ibunya.


"Mami ada pekerjaan diluar kota sayang. Regan sama bibi dulu ya. Nanti om Wisnu yang akan mengantarkan Regan dan menjaga Regan selama mami pergi."


"Iya mi......" Jawab Regan dengan tertunduk. Nadiya melihat kalau putranya kelihatan sedih karena harus berpisah dari ibunya selama satu Minggu.


Kemudian Bibi menggandeng tangan Regan dan membawakan tas sekolahnya. Regan mencium tangan maminya dan berpamitan.


"Hati-hati sayang, mami akan segera pulang."


Regan mengangguk lesu sambil berjalan disamping bibinya.


"Sudah siap!?" Tanya Wisnu sambil membuka pintu untuk tuan mudanya. Regan mengangguk pelan.


Sementara Nadiya dengan cepat mengambil koper dan langsung menuju ke bandara.


Didalam mobil Wisnu menggoda Regan yang mukanya ditekuk dan sedih karena harus berpisah dari ibunya untuk yang kesekian kalinya.


"Tuan muda....mau jalan-jalan ngga sama om Wisnu nanti pulang sekolah?"


Regan hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa merespon.


"Om punya kejutan untuk Tuan Muda, om jamin kamu pasti suka."

__ADS_1


"Apa itu om?" Tanya Regan yang mulai penasaran dan tertarik begitu mendengar kata kejutan.


"Ya...kan namanya juga kejutan. Jadi om kasih tahunya nanti, kalau Tuan Muda sudah pulang sekolah. Kalau om kasih tahu sekarang, namanya bukan kejutan lagi."


"Akh! Om Wisnu pelit! Ngga mau kasih tahu Regan!" Kata Regan mulai merajuk dan tidak sabaran dengan kejutanya.


Wisnu tersenyum karena sudah membuat hati Regan menjadi senang dan tidak bersedih lagi.


Didalam hatinya Wisnu sedang berpikir kejutan apa yang akan dia berikan pada Regan. Dia juga tidak begitu pandai kalau soal anak-anak, karena dia sendiri tidak punya adik juga belum punya anak. Otaknya bekerja keras mencari kejutan yang akan menyenangkan hati Tuan Mudanya.


Dan tiba-tiba Wisnu tersenyum sendiri saat sudah menemukan kejutan yang akan dia berikan pada Tuan Mudanya. Karena Wisnu melamun dijalan tiba-tiba ada sebuah Truk yang melaju begitu kencang dan.........


Duarrrrr!!!!!!!


Mobil yang ditumpangi Wisnu dan Tuan Mudanya terpelanting dan terseret oleh truk yang hilang kendali. Mobilnya ringsek dan sudah tidak berbentuk lagi.


Sebuah mobil yang melihat kejadian itu kemudian menghentikan mobilnya dan menelpon polisi. Tidak lama kemudian polisi dan ambulan berdatangan dan langsung menyelamatkan penumpang didalamnya.


Kemudian tinggal sopir dan seorang wanita yang terluka sangat parah yang belum dikeluarkan dari dalam mobil. Setelah berusaha keras akhirnya polisi dan beberapa warga berhasil mengeluarkan mereka. Namun ternyata kedua orang tersebut sudah meninggal saat akan dibawa kerumah sakit. Mereka kehabisan banyak darah dan jiwanya tidak bisa diselamatkan.


Seorang pria yang tadi melapor pada polisi mendampingi anak tersebut hingga keruang operasi. Wajah anak itu penuh dengan darah. Lelaki itu kemudian menunggu diluar sambil mengkhawatirkan tentang keadaan anak tersebut. Kemudian polisi datang dan menemui lelaki itu untuk dimintai keterangan.


Polisi mengatakan jika hanya anak tersebut yang selamat dan sudah menemukan nomor telepon ibunya namun tidak bisa menghubunginya. Akhirnya lelaki itu memberikan tanda pengenalnya dan akan merawat anak tersebut hingga ibunya datang mengambilnya. Polisi itu kemudian menyimpan identitas untuk diberikan kepada ibunya jika ibunya mencari anaknya.


Dokter keluar dan mengatakan jika anak tersebut membutuhkan donor darah segera. Karena kebetulan persediaan dirumah sakit itu habis. Hanya rumah sakit itu yang letaknya paling dekat dengan terjadinya kecelakaan. Jadi tidak sempat membawanya kerumah sakit yang lebih besar.


Setelah dokter menyebutkan golongan darah yang ternyata sama dengan lelaki itu maka lelaki penyelamat itu masuk kedalam ruangan dan mendonorkan darahnya. Dan betapa terkejutnya lelaki itu saat melihat anak yang terbaring dan wajahnya sudah dibersihkan dari lumuran darah. Dan ternyata wajah itu sangat dikenalinya, bahkan dia sudah lama mencarinya kesana kemari namun nihil dan tidak membuahkan hasil.

__ADS_1


Anak itu masih pingsan dan tidak sadarkan diri. Lelaki penyelamat itu berbaring disamping tempat tidurnya dan terus memandanginya. Dokter kemudian mulai memasang alat-alat yang dibutuhkan untuk donor darah. Tanpa terasa air mata lelaki itu menetes antara sedih dan bahagia.


Setelah selesai mendonorkan darah lelaki itu bangun dan duduk disamping anak yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Huhuhuhu huhuhuhu......


Lelaki itu menangis tersedu-sedu dan airmatanya membanjiri kedua pipinya. Tangannya membelai kepala anak itu dan terus meratapinya. Lelaki itu sama sekali tidak menyangka akan dipertemukan Tuhan dengan cara yang tragis ini.


Sementara ditempat lain Nadiya sudah sampai ditempat tujuanya. Namun hpnya jatuh entah dimana sehingga terpaksa dia harus membeli handphone yang baru. Nadiya tidak punya waktu untuk memikirkan tentang hpnya yang jatuh atau dicuri orang. Karena kebetulan perjalanan kali ini tanpa didampingi oleh anak buahnya.


Nadiya sudah sampai disebuah gedung yang besar dan itu adalah salah satu perusaan milik ayahnya. Nadiya akan meresmikan direktur yang baru dan pergantian pegawai seperti yang dia lakukan pada perusahaan yang lainya. Setiap pegawai yang terlibat dengan penggelapan uang dan korupsi yang dilakukan Joan akan dipecat dan diganti yang baru. Sehingga dalam satu Minggu kedepan Nadiya sangat sibuk dan tidak bisa diganggu.


Satu Minggu kemudian urusan Nadiya sudah selesai dan Nadiya akan pulang kembali ke kotanya. Nadiya sangat bahagia karena pergantian kali ini tanpa ada sedikitpun halangan dan semua pekerjaannya berjalan dengan lancar. Semua itu berkat bantuan dari Direktur yang baru yang ternyata sangat cekatan.


Nadiya tiba di bandara dan saat menghubungi Wisnu untuk menjemputnya ternyata handphone Wisnu tidak bisa dihubungi. Kemudian Nadiya telpon kerumahnya dan ingin menitipkan pesan pada bibinya tapi ternyata juga tidak ada yang mengangkat teleponnya.


Nadiya sangat kesal karena harus naik taksi. Kemudian Nadiya langsung menuju kerumah Tuan Muda dan ingin segera memeluknya. Teringat terakhir kali saat dia berpamitan dengan wajah yang ditekuk dan terlihat sedih akibat kepergiannya. Nadiya berniat akan mengajaknya jalan-jalan dan menghabiskan waktu dengan menemaninya bermain seharian.


Ting tong......


Nadiya membunyikan bel namun tidak ada yang menyambutnya. Kemudian Nadiya masuk dengan menggunakan kunci cadangan dan melihat kalau mobil Wisnu juga tidak terparkir disana. Nadiya perlahan menyeret kopernya dan melihat halaman rumahnya yang tidak disapu dan penuh dengan daun kering.


Begitu masuk kedalam debu juga terasa di telapak kakinya seperti tidak disapu berhari-hari. Kondisi rumah yang begitu hening dan sepi seperti ditinggalkan penghuninya. Nadiya masuk kedapur dan dia masih menemukan beberapa makanan dimeja makan yang tidak dirapikan. Makanan itu masih sama seperti saat dia meninggalkan rumah itu. Nadiya jadi bingung dengan kondisi yang dilihatnya.


Piring kotor juga masih menumpuk dan tercium bau busuk akibat makanan yang basi. Nadiya kemudian menelpon Wisnu dan ingin menanyakan kemana dia membawa bibi dan putranya berlibur. Tapi yang mengangkat malah orang lain.


"Wisnu..kamu dan Regan ada dimana?"

__ADS_1


"Maaf ini dengan kantor polisi XXX" Nadia bingung dan mengecek nomor telepon yang dia hubungi dan matanya dengan jelas melihat jika yang dia telepon adalah Wisnu.


Bersambung.......


__ADS_2