Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Taktik Elis dan Pak Haris


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Elis sudah berangkat kekantor dan membawa beberapa berkas yang dia kerjakan dirumah.


Dia lihat mobil Joan sudah terparkir disana hingga membuatnya kagum karena dia sudah datang sepagi ini.


"Pak Joan?" Kata Elis sambil menatap tumpukan berkas dimeja Ardy yang sudah rapi dan sepertinya sudah selesai dikoreksi oleh Joan.


"Ya Bu?" Kata Joan sambil mendongak keatas dan melihat kalau atasanya sedang berdiri dipintu.


Kemudian Elis berjalan masuk dan dilihatnya Joan sedang bekerja.


Kemudian Elis tersenyum dan mengangguk-angguk tanda dia menyukai loyalitas Joan tanpa memperhitungkan waktu.


"Kenapa anda datang sepagi ini? Bukankan sekarang baru jam 6?" Tanya Elis.


"Iya Bu, karena pak Ardy sedang tidak ngantor pekerjaannya jadi menumpuk, jadi lebih baik saya berangkat pagi dan menyeselaikanya lebih cepat. Bukankah besok ada rapat?" Kata Joan sambil tersenyum pada Elis.


"Bagus. Saya suka dengan cara kerja kamu yang bertanggung jawab. Kamu bahkan membantu pekerjaan teman kamu yang sedang berhalangan." Kata Elis.


"Terimakasih Bu. Tadi malam saya juga lembur sampai jam 12. Dan semua berkas ini sudah saya teliti semuanya." Kata Joan mengharapkan pujian dari atasanya.


"Wow, terimakasih pak Joan. Bahkan anda sampai lembur dan pagi-pagi sekali sudah kekantor. Tetap jaga kesehatan, dan terimakasih, anda termasuk pegawai baru yang rajin dan piawai dalam bekerja." Kata Elis memuji Joan supaya dia lebih bersemangat lagi. Itulah salah satu yang dilakukan atasan terhadap pegawainya yang rajin, memuji dan memberinya semangat. Dan Elis baru saja melakukanya.


"Terimakasih Bu. Oya Bu kapan kira-kira pak Ardy bisa kekantor lagi?" Tanya Joan mulai berbasa-basi dan ingin tahu perkembangan kasusnya.


"Itulah yang sedang saya pikirkan. Saya sedang mencari solusi untuk membantunya keluar dari penjara. Dan saya sudah menggunakan pengacara terbaik dikota ini, dan semoga bisa meringankan hukumannya." Kata Elis yang setengah curhat sama Joan, karena dia tahu jika Joan adalah sahabat Ardy dan bisa dipercaya.


"Tapi setahu saya jika menyebabkan kecelakaan sampai menghilangkan nyawa hukumannya bisa diatas lima tahun." Kata Joan menakut-nakuti Elis.


"Benarkah?" Kata Elis yang sedikit banyak juga tahu jika tidak mungkin Ardy bebas tanpa menjalani hukuman. Paling pengacara yang handal hanya bisa meringankan dan mengurangi hukumannya saja tapi tidak mungkin bisa membebaskannya begitu saja dari hukumannya. Apalagi jika pihak korban terus menuntutnya dan tidak mau diajak damai. Maka hal itu akan semakin memberatkan hukuman Ardy.

__ADS_1


"Iya apalagi jika keluarga korban tidak mau berdamai dan menuntutnya." Kata Joan semakin membuat Elis berfikir jika Ardy sulit untuk diselamatkan.


"Iya saya juga berfikir semua ini hanya tergantung dari keluarga korban. Jika mereka mau berdamai dan tidak menuntut Ardy maka hukumannya akan lebih ringan." Kata Elis.


"Apakah ibu sudah berbicara dengan keluarga korban?" Tanya Joan.


"Belum. Rencananya hari ini saya dan pengacara Ardy akan menemui keluarga korban." Kata Elis


"Oh, gitu. Semoga bapak Ardy lekas keluar dan bisa bekerja lagi." Kata Joan berpura-pura memberikan simpatinya kepada Ardy.


"Ok, saya akan keruangan saya dulu. Selama saya tidak ada saya minta bantuan Anda untuk menghadle dan memimpin para pewagai. Dan beritahu saya jika ada apa-apa." Kata Elis.


"Baik Bu." Kata Joan mengangguk pelan dan penuh hormat.


Kemudian Elis pergi keruanganya dan membawa beberapa berkas dari tempat Ardy.


"Yes! tidak lama lagi aku akan menjadi CEO dan Ardy? Kau akan tidur diruangan yang dingin dan pengap!" Kata Joan tersenyum menyeringai. Diapun memutarkan kursinya dengan cepat dan memutarkan kepalanya sambil matanya melihat kelangit-langit ruangan itu.


Siang harinya Elis dan pengacaranya sudah sampai kerumah istri korban yang sedang hamil.


Mereka disambut baik oleh keluarga korban sebagaimana layaknya menerima tamu.


"Terimakasih karena bapak dan ibu berkenan hadir dirumah kami yang jelek ini." Kata salah seorang ibu yang sudah tua menyambut kedatangan mereka.


"Pertama-tama kami mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Bapak Norman. Dan yang kedua kedatangan kami untuk memberikan sedikit rejeki ini untuk keluarga yang ditinggalkan. Harap diterima. Kami memberikanya karena kami ikut prihatin dan kami sangat berharap ibu berkenan menerima bantuan kami." Kata Elis yang sudah melakukan diskusi sebelumnya dengan Pak Haris selaku pengacara Ardy.


"Ya. Kami terima niat baik Bapak dan Ibu, semoga Tuhan membalas amal kebaikan bapak dan ibu. Kami sekeluarga mengucapkan banyak terimakasih karena bapak dan ibu Sudi hadir ke gubuk kami." Kata orang tua itu sambil meneteskan airmata.


Uang yang diberikan Elis lumayan banyak dan jika ibu Norman menolaknya maka akan menyinggung perasaan tamunya. Dan lagi memang Norman tidak meninggalkan uang sepeser pun untuk istri dan anak yang ada didalam kandunganya. Bahkan dia meninggalkan banyak hutang karena untuk kebutuhan hidup sehari-hari yang sulit dan pas-pasan. Apalagi kondisi saat ini yang mencari nafkah sedang sulit sehingga terpaksa ibunya menerima bantuan dari kedua tamunya tersebut.

__ADS_1


Istrinya sebentar lagi lahiran. Keluarga istrinya juga orang yang tidak mampu dan untuk makan saja mereka mengalami banyak kesulitan. Dan sekarang sang pencari nafkah sudah tiada, lalu bagaimana nasib istri dan anaknya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini, jika mereka tidak memegang uang sepeserpun.


Saudara juga banyak yang hadir dan ikut berbela sungkawa tapi mereka hanya memberi bantuan alakadarnya. Dan dalam satu bulan juga uang bantuan itu akan habis.


Norman adalah anak tunggal yang meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah renta, tanpa penghasilan, dan selama ini yang mencari nafkah hanya Norman seorang. Tadinya istrinya juga bekerja namun karena hamilnya tinggal menunggu hari maka dia sudah tidak bekerja lagi.


Hal itu dimanfaatkan Elis dan pak Haris untuk mengambil hati keluarga Norman dan suatu saat kesaksian mereka akan berguna dalam kasus Ardy.


Kemudian tanpa membicarakan tentang Ardy mereka pamit setelah memberikan bantuan uang yang lumayan banyak dan bisa untuk bertahan hidup satu tahun bagi keluarga yang ditinggalkan.


Kemudian Elis dan Pak Haris berbicara sambil berbisik-bisik. Kemudian mereka langsung masuk kedalam mobil dan mengangguk pada keluarga Norman.


Setelah kedua tamunya pergi ibu dan menantu itu berdebat karena menerima bantuan dari perusahaan dimana Ardy bekerja.


"Ibu...kenapa ibu menerima bantuan dari mereka?" Kata menantu perempuannya itu.


"Kita membutuhkan uang ini nak. Suamimu meningglkan banyak hutang. Bagaimana kita akan melunasinya. Uang ini lumayan banyak bisa kita gunakan untuk membayar hutang dan selebihnya kau simpanlah untuk biaya kelahiranmu nanti." Kata ibu Norman.


"Tidak ibu. Mereka pasti punya maksud tersembunyi dibalik pemberian uang itu." Kata menantunya.


"Tidak nak. Mereka tidak punya maksud apapun. Apapun maksud mereka kenyataanya kita memang tidak punya uang. Suamimu sudah meninggal dan anggaplah itu kecelakaan dan memang sudah menjadi takdirnya meninggal diusia muda. Kita harus ikhlas." Kata Ibu mertuanya.


"Tidak ibu. Jika laki-laki itu tidak mengejar taksinya, semua ini tidak akan terjadi." Kata menantunya sambil menangisi kepergian suaminya.


"Sudahlah nak. Jangan menangis lagi. Pikirkanlah tentang masa depan anakmu. Kasihan jika kau terus bersedih. Semua sudah ginaris. Sudah menjadi takdir suamimu untuk pergi dengan cara seperti itu." Kata ibu mertuanya.


"Simpanlah uang ini. Bukan untukmu. Tapi untuk anakmu. Pikirkanlah sekali lagi. Biarkanlah yang sudah terjadi. Tidak usah kamu sesali lagi. Dia sudah tenang disana. Mungkin ini memang sudah menjadi perjalananya yang terakhir. Sebagai manusia biasa kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita dan bagaimana akhir dari kehidupan kita. Kita hanya harus berserah dan berusaha ikhlas." Mendengar kata ibu mertuanya membuat kesedihannya sedikit berkurang.


Kemudian mereka berpelukan dan menangis bersamaan.

__ADS_1


"Sudah nak. Ibu juga sedih. Ibu juga merasa kehilangan. Tapi melihatmu bersedih dan tidak bisa iklas itu malah membuat hati ibu menjadi lebih sedih lagi daripada kehilangan anak ibu. Kamu adalah anakku dan yang ada dalam kandunganmu adalah cucuku. Maka yang terjadi jangan disesali dan yang sudah pergi tidak bisa kembali. Tapi kita harus tetap ikhlas dan tetap mendoakan agar suamimu tenang disana. Jika kau terus bersedih maka suamimu juga tidak tenang di pembaringanya. Sekarang tenanglah, dan makanlah sesuatu. Dari kemarin kamu tidak makan apapun. Demi ketenangan jiwa suamimu makanlah dan jagalah kesehatanmu juga bayimu." Kata ibu mertuanya sambil menyuapi menantunya makan sesuap demi sesuap.


"Terimakasih Bu. Berkat ibu saya menjadi kuat dan ikhlas."


__ADS_2