
Saat ini Tuan Hans Ayahnya Prasetyo sedang berkunjung ke rumah putranya dan hanya menginap semalam saja karena besok ada rapat penting, dia sangat sibuk mengurus perusahaan yang begitu besar sehingga sedikit sekali waktu yang diberikan untuk keluarganya.
Setelah acara syukuran selesai dan sikembar sudah diberi nama, maka Tuan Hans besoknya berpamitan untuk ke Amerika.
Setelah mengucapkan perpisahan kepada kedua cucunya Edsel dan Eiden, pada putranya juga Prasetyo dan juga istrinya, maka kemudian Tuan Hans pun pergi ke Amerika untuk pertemuan penting dengan beberapa negara yang bergabung dengan perusahaannya.
Sementara Ibu Monic, Regan juga Sasha hanya menginap selama dua Minggu di Negara S.
"Sasha ayo berkemas, kita akan pulang ketanah air esok hari. Regan juga." Kata Ibu Monic.
"Regan sudah dong Oma. Cepat dan tidak ribet. Emang dia, segala barang dibawa bikin ribet aja?" Kata Regan sambil melirik pada Sasha.
"Apaan sih. Semua barang ini penting untuk Sasha. Jadi pastilah aku bawa."
"Iya bikin ribet aja. Dasar cewek. Segala boneka juga dibawa, koper besar isinya barang yang tidak berguna." Kata Regan.
"Apaan sih, dasar cerewet!" Gerutu Sasha kesal sambil mencari beberapa barang yang akan dimasukan kedalam koper.
"Lihat saja tuh Oma, bawa sandal aja sampai segitu banyaknya. Satu juga sudah cukup."
"Biarin, suka-suka Sasha lah. Kan biar matching kalau pakai baju sandalnya juga senada dengan bajunya." Timpal Sasha sambil memasukan beberapa sandal berwarna-warni.
"Sudah kaya model aja. Emang kamu mau jadi model ya?"
"Ngga! Mau jadi dokter! Dan orang pertama yang aku periksa adalah kamu!"
"Huh Dokter, mana ada yang ribet soal penampilan!" Kata Regan sambil menjaga Eiden yang sedang tertidur.
"Adalah, dokter zaman sekarang kan cantik-cantik."
"Pokoknya kalau kamu jadi dokter, aku malas kerumah sakit, dimana ada kamu disana. Yang ada kamu malah salah mendiaknosa." Kata Regan meledek.
"Dokter apaan dulu? Aku mau jadi dokter spesialis kandungan. Emang kamu mau periksa? Weeeekkk!?"
"Huh....lagunya aja kaya gitu kok mau jadi dokter. Paling....jadi model. Baru cocok! Jadi dokter itu harus rajin belajar. Bukan malah sibuk sama gaya dan penampilan."
"Ahk sudahlah! Pokoknya aku akan jadi dokter dan aku tidak mau dengerin kata-kata kamu." Kata Sasha sambil menutup kopernya.
"Aduh! Kok berat sekali ya....Regan...tolong dong bawain kepintu..." Kata Sasha pelan sambil melirik kearah Regan.
"Makanya dengerin kalau dibilangin! Berat kan...!"
"Tolong dong Regan....!"
"Ngga! Bawa sendiri! Jadi dokter itu harus kuat dan tahan banting."
"Regaannn please..." Pinta Sasha.
__ADS_1
"Regan! Ayo bawain kopernya Sasha...." Titah Omanya pada Regan.
"Iya Oma...." Regan kemudian bangun sambil melirik pada Sasha.
"Huh dasar!" Gerutu Regan saat melewati Sasha. "Minggir...."
"Hihihi....." Sasha kemudian tertawa sambil memberikan kopernya.
Oek...oek...oek...
Tiba-tiba saja Eiden terbangun dan menangis dengan kencang.
"Oma....Eiden nangis...." Kata Sasha yang menggantikan Regan menjaga Eiden.
"Ya tunggu sebentar...." Teriak Omanya dari dapur.
"Ooohhhh sayang....cup cup cup! Haus ya....Eiden...tunggu ya Oma biar bikin susu dulu..." Kemudian Ibu Monic mengambil botol susu dan membuat susu untuk Eiden. Sementara Edsel bersama Nadiya.
"Edsel mau sekalian dibikinin susu ngga Nadiya?"
"Boleh deh Oma....." Kata Nadiya.
"Besok kalau kita pulang apakah kamu tidak kerepotan Nadiya?" Tanya Ibu Monic sambil memberikan botol yang sudah berisi susu untuk Edsel.
"Nanti Prasetyo akan membantu Nadiya dan cuti sementara dari kantornya Oma...."
"Tidak usah Oma. Nadiya sama Prasetyo bisa kok Oma."
"Ya sudah kalau begitu."
Esok harinya Ibu Monic, Regan dan juga Sasha pulang kembali ketanah air karena waktu liburan sudah habis.
"Maaf ya Oma...Nadiya tidak bisa mengantar Oma sampai ke Bandara." Kata Nadiya yang sibuk dengan kedua bayi kembarnya. Dan karena usia mereka yang masih kecil, Nadiya tidak ingin membawa mereka ke tempat umum. Hal itu demi kesehatan kedua buah hatinya yang masih rentan terhadap kuman penyakit yang terbawa oleh debu diluaran.
"Iya....kamu jaga kesehatan dan juga kedua cucuku ya...Mami pamit dulu." Kata Ibu Monic sambil mencium kening Nadiya dan juga pipi kedua cucunya yang makin montok dan berisi."
"Iya mami... hati-hati ya mi..."
Setelah mereka semua berpamitan kemudian tinggal Nadiya dan sikembar diapartemen itu. Sedangkan Prasetyo ikut mengantarkan Maminya hingga ke Bandara.
Ruangan terasa begitu sepi setelah mereka semua kembali ketanah air. Apalagi Edsel juga Eiden saat ini sedang tertidur, terasa banget sunyinya. Tidak ada keributan Sasha juga Regan yang membuat suasana menjadi rame. Juga tidak ada ibu Monic yang sibuk mondar-mandir mengurus mereka.
Tidak lama kemudian pintu dibuka dan Prasetyo masuk kedalam.
"Loh Pras! Kok sudah balik. Cepat sekali...." Kata Nadiya bingung karena baru sepuluh menit pergi tapi Prasetyo sudah kembali.
"Iya...ngga jadi mengantar mami hingga ke Bandara."
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Nadiya kebingungan.
"Mami tidak tega ninggalin kamu dan sikembar sendirian. Jadi Mami pergi sendiri dan aku disuruh balik nemenin kamu." Kata Prasetyo lalu mencuci kedua tangannya sebelum ditegur oleh Nadiya.
"Ohh begitu....ya sudah kalau ada kamu disini, mumpung mereka tidur aku mau mandi dulu."
"Ya sudah sana mandi." Kata Prasetyo sambil mendekati dan memandang Edsel juga Eiden.
"Nad kapan kamu selesai nifasnya?" Tanya Prasetyo.
"Ya kurang lebih dua bulan." Kata Nadiya sambil mengambil handuk.
"Lama amat."
"Yaaa emang begitu aturannya. Emang kenapa?"
"Yaaaa aku....kangen..."
"Halah kamu yang dipikirin itu melulu." Kata Nadiya sambil mengambil pembalut dari lemarinya.
"Kok lama ya Nad?"
"Ya iyalah. Semua wanita kalau melahirkan ya seperti itu."
"Kan kamu ngga lahiran Nad....yang lahirin kan Sandra...."
"Ohhh iya ya? Aku lupa....hehe..."
"Tapi untuk apa pembalut itu?" Tanya Prasetyo kebingungan.
"Lagi datang bulan."
"Yaaaelah...Baru mau ditengokin malah lampu merah..."Kata Prasetyo.
"Ya sabar dong Pras! Satu Minggu juga selesai...ngga nyampe dua bulan."
"Kalau dua bulan mah, keburu jamuran." Kata Prasetyo sambil berjalan kearah Nadiya.
"Aku kangen banget Nad. Kemarin ada kedua bocil itu aku jadi ngga bisa deketin kamu. Belum juga Oma yang tidur sama kamu.... Eh giliran mereka pulang kamunya yang lampu merah! Nasib...nasib..."
"Ngga usah lebay deh."
"Itu lihat Edsel bangun....!" Kata Nadiya, kemudian saat Prasetyo menoleh, Nadiya sudah menghilang dan sudah ada dikamar mandi.
"Nadiya.....awas ya..." Kata Prasetyo kesal karena telah dikerjain oleh Nadiya.
Akhirnya Prasetyo balik lagi dan tiduran disamping Edsel juga Eiden. Tangannya menyentuh pipi dan mulut mereka yang mungil. Edsel dan Eiden begitu putih, dan rambut mereka agak kecoklatan mirip Nadiya.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba Prasetyo teringat pada Sandra. Dan lupa menanyakan pada Nadiya mengenai kabar Sandra.