Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Apa yang kau fikirkan


__ADS_3

POV Freya


Malam semakin larut dan ini pertama kalinya aku akan menginap dirumah Prasetyo. Dia adalah kekasihku tujuh tahun yang lalu. Namun kami berpisah begitu saja saat ponselku hilang dan aku tidak kembali. Dan saat aku kembali aku tidak menemukanya disana. Prasetyo sudah pindah ke Indonesia dan aku melihat berita dimajalah tentang pernikahanya.


Saat itulah hatiku hancur dan menyesali semuanya. Kenapa aku tidak kembali lebih cepat? Sehingga aku bisa menemui Prasetyo sebelum dia memutuskan untuk menikah dengan wanita lain. Bahkan aku dengar pernikahan itu berawal dari perjodohan. Yang membuat aku heran, bagaimana mungkin Prasetyo bisa langsung memutuskan untuk menikah dengannya?


Apakah ada unsur hutang Budi? Apakah Prasetyo sebenarnya tidak mencintai Bu Nadiya? Apakah Prasetyo menikah karena terpaksa dan sebenarnya masih mencintaiku? Buktinya saat dia hilang ingatan dan mengalami amnesia, kenapa hanya namaku yang dia ingat? Apakah dihatinya masih terpatri namaku dan ini merupakan kesempatan bagiku untuk masuk kembali kedalam kehidupanya?


Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana kami berpisah begitu lama dan sekarang bisa bertemu lagi. Haruskah aku membiarkan Prasetyo kehilangan ingatannya dan berharap tidak pernah pulih. Namun bagaimana jika suatu saat nanti ingatannya pulih, dan dia kembali kepada Nadiya?


Aku bingung sekali. Manakah yang harus aku pilih? Ini kesempatan atau apa? Sebentar lagi aku akan kembali ke klinik. Aku hanya punya waktu satu bulan untuk bersamanya disini. Dan dalam satu bulan itu aku bisa dekat dengannya dan menjadi kekasihnya. Meskipun bukan kekasih yang sesungguhnya namun, bagi Prasetyo aku adalah kekasih yang sebenarnya.


Bagi orang lain ini hanya sandiwara, tapi bagi Prasetyo ini adalah kenyataan. Kita adalah sepasang kekasih. Kau masih memiliki tempat dihatiku jika kau ingin kembali Pras.


"Tiba-tiba pintu kamar tamu dibuka oleh seseorang." Akupun menoleh dan kulihat Prasetyo berdiri disana. Aku kaget sekali melihatnya datang ke kamarku malam-malam begini. Ini Indonesia bukan diluar negeri yang hal semacam ini mungkin sudah biasa.


Disini budaya ketimuran dan sopan santun masih dijunjung tinggi. Jika terlihat oleh orang lain maka mereka akan salah paham.


"Kenapa kamu datang ke kamarku?" Aku bertanya dan menoleh ke kanan juga kekiri. Aku takut seseorang melihatnya masuk malam-malam begini.


"Emang kenapa? Hal seperti ini biasakan? Kita akan menikah, jadi wajar saja jika aku datang kekamarmu." Aku menutup pintu perlahan dan menyeretnya duduk.


"Kau tidak boleh masuk ke kamarku dilarut malam begini? Isshh anak ini benar-benar tidak tahu akibatnya jika terlihat oleh orang dalam rumah ini." Aku geram sekali dengan kelakuanya.


"Aku tidak bisa tidur. Aku akan tidur disini." Kata Prasetyo dan langsung merebahkan dirinya diatas ranjang.


"Bangunlah Pras!" Aku menariknya agar bangun dan keluar dari kamarku. "Kita tidak boleh tidur satu kamar. Kita belum menikah." Susah sekali menarik badanya yang kekar dan berat.


"Kita akan segera menikah." Kata Prasetyo dan aku lihat dia sudah tertidur dengan begitu cepat.


"Pras! Pras! Bangun! Jangan tidur disini! Kembali kekamarmu!" Tapi usahaku untuk membangunkanya tetap tidak berhasil. Dia benar-benar pulas tertidur. Atau tadi dia sudah tidur, dan bermimpi lalu berjalan sambil tidur kekamarmu? Entahlah! Bagaimana ini? Jika ada yang melihatnya maka pasti akan timbul masalah.


Aku membuka pintu kamarku dan kulihat tidak ada siapapun yang melihat Prasetyo masuk. Aku kemudian menutup pintu dan rebahan disamping Prasetyo.


Aku melihat langit-langit kamar dan tidak bisa memejamkan mataku. Saat ini suami orang lain sedang tidur dikamarku. Bagaimana mungkin aku bisa tidur dengan tenang. Aku menatap wajahnya yang tidak berubah, dan tetap tampan seperti tujuh tahun yang lalu. Tidak berubah sedikitpun. Dia masih tetap sama seperti yang dulu.

__ADS_1


Mungkin aku yang berubah sedikit hitam, karena aku tinggal di daerah pedalaman dan jarang melakukan perawatan wajah dan juga tubuhku. Apalagi pasien yang mengantri setiap hari membuatku lembur dan tidak sempat merawat tubuhku. Ini adalah cita-citaku dari dulu untuk menjadi dokter gigi dan membuka klinik didaerah tertinggal. Aku ingin menolong mereka yang kesulitan dan jauh dari perkotaan.


Aku tidak yakin Prasetyo bisa hidup sebagaimana aku inginkan. Dia terbiasa dengan segala kemudahan dan segalanya dia punya. Mana mungkin dia bisa hidup bersamaku didaerah pedalaman yang kadang kamu bahkan kesulitan untuk mendapatkan air bersih.


Aku akan membantunya hingga akhir bulan ini. Setelah itu aku harus kembali ke klinik. Terserah dia jika dia memilih untuk disini atau ikut denganku. Namun aku tidak bisa bersamanya disini selamanya.


Besok aku akan menemui Nadiya dan mengatakan jika aku akan kembali ke klinik akhir bulan ini.


Aku tidak ingat kapan aku tertidur. Namun saat aku membuka mata Prasetyo sudah tidak berada dikamarku. Entah jam berapa dia keluar dari kamarku? Aku bahkan tidak mengetahuinya.


Perlahan-lahan aku membuka jendela dan kulihat Prasetyo sudah ada ditaman dengan Nadiya.


Rupanya Prasetyo sedang mendorong kursi roda sambil menikmati udara hangat di pagi hari.


POV Author.


"Aku akan membantumu." Kata Prasetyo saat saat dilihatnya Nadiya berusaha menjalankan kursi rodanya.


"Terimakasih." Kata Nadiya dan menatap keatas. Dia pikir itu Arya namun ternyata yang saat ini di belakangnya adalah Prasetyo.


"Bagaimana tidurmu semalam?" Tanya Prasetyo.


"Kau benar. Aku juga merasakan hal yang sama." Kata Prasetyo. "Sebenarnya aku punya rencana untuk pergi bersama Freya."


"Pergi kemana?" Tanya Nadiya kaget dengan rencana Prasetyo.


"Kami ingin menghabiskan waktu bersama-sama. Aku lupa bagaimana kehidupanku tujuh tahun yang lalu. Dan aku ingin membayar tujuh tahun yang aku lewati tanpa bersama dirinya."


"Kau akan keluar negeri? Tapi saat ini masih tidak diperbolehkan melakukan perjalanan keluar negeri. Meskipun keadaan mulai normal kembali." Kata Nadiya.


"Aku akan menemaninya di kliniknya." Kata Prasetyo sambil terus mendorong kursi roda berkeliling taman yang sangat luas.


"Tapi Freya membuka Klinik dipedesaan dan jauh dari perkotaan. Tentu disana akan sangat jauh berbeda dengan disini. Bagaimana mungkin kau akan bisa tinggal disana?"


"Aku yakin aku pasti bisa Nadiya. Sepertinya aku juga bosan tinggal dikota. Sesekali aku ingin menghabiskan waktu di desa." Kata Prasetyo.

__ADS_1


"Tapi Pras...disana banyak binatang buas."


"Hahahaha kau ini lucu sekali. Aku akan membawa senapan. Jika ada yang berani mendekatiku maka aku akan langsung menembaknya."


"Kita sudah seperti keluarga selama tujuh tahun terakhir ini. Aku pasti merasa sangat sepi dan kehilangan...." Kata Nadiya mengalir begitu saja keluar dari mulutnya.


"Ahk aku benar. Kau seperti kekasih rahasia saja. Saat suamimu pergi kau tidak merasa kehilangan dan saat aku akan pergi dengan kekasihku, kau sepertinya tidak rela. Apakah ada yang kau rahasiakan dariku?"


"Apa maksudmu rahasia? Aku bukan kekasih gelapmu. Tapi...kasihan Mami, jika kau pergi meninggalkanya."


"Apakah kau sedang membuat alasan?" Kata Prasetyo menggoda Nadiya yang dia anggap seperti saudara iparnya.


"Terserah, jika kau akan pergi. Aku tetap.....(tidak rela). Kata Nadiya berbisik lirih.


"Nadiya, apakah selama tujuh tahun belakangan ini aku pernah dekat dengan seseorang?"


"Emang kenapa?"


"Aku sering melihat bayangan seorang gadis namun rambutnya pendek sebahu. Yaa...sepertimu. Sedangkan Freya tidak pernah memotong rambutnya sependek itu. Siapakah dia?"


"Tidak ada. Kau tidak dekat dengan siapapun." Jawab Nadiya.


"Ooohhh aku tahu....siapa yang sering terlihat bersamaku.... hahahaha bagaimana mungkin bisa seperti itu." Kata Prasetyo.


"Siapa? Dan kenapa kau tertawa?"


"Itu pasti kamu? Bukankah rambutmu pendek? Dan kau sudah tinggal bersamaku selama tujuh tahun. Ya, tidak salah lagi. Itu pasti kamu...."


"Apakah kau sudah mengingat semuanya?" Tanya Nadiya sangat bahagia.


"Aku hanya berfikir siapa yang sering berada di sekitarku selain kamu? Bukankah kita tinggal satu rumah?" Kata Prasetyo sambil mengangguk-angguk.


"Ohhh!" Ucap Nadiya kecewa. "Aku pikir kau sudah ingat dan pulih seperti sediakala."


"Ayo masuk! Udara semakin panas." Ajak Prasetyo yang mulai merasakan panas karena sinar matahari terasa semakin menyengat.

__ADS_1


"Aku masih mau disini. Kau masuklah lebih dulu. Aku juga tidak bisa melakukan apapun didalam. Aku bahkan belum bisa berjalan. Aku akan disini saja." Kata Nadiya sambil tersenyum pada Prasetyo.


"Ya sudah kalau begitu. Aku akan memanggil Pak Arya untuk menemanimu disini." Kata Prasetyo sambil berjalan menjauh.


__ADS_2