Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Melawan bayang-bayang masa lalu


__ADS_3

"Pras....." Kata Nadiya sambil melihat Prasetyo dengan pandangan yang menelisik seakan ingin menembus isi hatinya.


"Ya. Ada apa?" Jawab Prasetyo sambil mendayung perahunya.


"Apakah kau menyesal menikah denganku?" Tanya Nadiya ingin tahu pendapat Prasetyo setelah malam pertamanya yang berlalu begitu saja.


"Tidak sama sekali terlintas dipikiranku untuk menyesali pernikahan kita. Aku sangat menghormati ikatan ini. Aku juga sangat mencintaimu jadi mana mungkin aku menyesal. Tapi....aku tidak tahu dengan dirimu? Bagaimana jika aku juga bertanya hal yang sama padamu?" Tanya Ardy sambil menoleh kearah Nadiya dan menatapnya tajam.


Nadiya sangat gelagapan dan tidak menyangka jika dia harus menjawab pertanyaannya sendiri?


"Ehmmmm aku....."


Prasetyo masih menunggu Nadiya melanjutkan ucapannya dengan penuh harap.


"Akuuu juga menghormati ikatan ini. Aku berharap bisa menjadi istri yang baik untukmu." Kata Nadiya kemudian mengalihkan pandangannya.


Prasetyo tersenyum dan merapatkan perahunya pada sebuah bukit kecil ditengah pantai itu.


"Jadilah seperti dirimu apa adanya kini, tidak usah mencoba menjadi orang lain. Aku mencintaimu apadanya. Kita akan memulai semuanya dengan saling memahami dan menyayangi sebagai pondasi agar hubungan ini abadi. Bukankah kita ingin ikatan ini membuat kita menua bersama jadi tidak usah memaksakan untuk menjadi istri yang sempurna."


"Okay. Sekarang sudah sampai di bukit Fontana. Kita akan turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sampai diatas bukit itu. Kata orang diatas bukit banyak ditumbuhi beraneka bunga liar yang indah. Kamu pasti takjub melihat pemandangan itu. Ayo turunlah."


Prasetyo mengulurkan tanganya pada Nadiya. Nadiya memegang erat tangan Prasetyo dan melompat dari perahu itu.


"Aahggkk!!!" Kata Nadiya menjerit sambil menoleh kebelakang bajunya yang sobek karena ranting yang menempel dipinggir perahu.


Prasetyo dengan sigap menangkap Nadiya dan hampir terjatuh bersamaan. Namun akhirnya Prasetyo bisa menjaga keseimbangan dan tidak sampai jatuh kedalam air.


"Syukurlah kita tidak jatuh ke air. Atau kita akan naik keatas dengan baju yang basah."


"Tapi bajuku sobek." Kemudian Nadiya memeriksa bajunya yang sobek sangat tinggi hingga keatas paha.


"Tidak apa. Malah kamu terlihat sangat eksotis." Kata Prasetyo sehingga sebuah pukulan mendarat kebahunya.

__ADS_1


Prasetyo malah mendekap Nadiya sangat erat dan tidak melepaskanya meskipun dia meronta dengan kuat.


"Karena kamu memukulku sangat keras maka sebagai balasannya aku akan memelukmu." Kata Prasetyo yang langsung mendekap Nadiya dengan kedua tangannya yang sangat kuat.


Nadiya diam dan membiarkan Prasetyo memeluknya, dia juga sedang berusaha memberi ruang kepada hatinya agar lebih cepat menyadari realita bahwa dia sekarang bukan mantan Ardy, tetapi istri seseorang yang terikat dengan hak dan kewajiban yang harus ditunaikan.


Mereka berpelukan disamping perahu dengan menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya keindahan alam yang begitu menakjubkan dan mempesona. Sangat indah dengan langit cerah kebiruan dan dipadukan dengan warna air laut yang bening kebiruan.


visual Nadiya dan Prasetyo.



Dalam sekejap Prasetyo telah memindahkan kepalanya tepat didepan wajah Nadiya dan tanpa membuang kesempatan dia langsung mencium bibir mungilnya.


Mereka berpagut begitu lama dalam keheningan suasana Pantai. Hanya sesekali terdengar deburan ombak yang gericik memudarkan kesunyian.


Prasetyo sangat menikmati bibir Nadiya apalagi saat ini tidak ada penolakan dari Nadia seperti biasanya. Nadia sepertinya sedang berusaha keras melawan hatinya sendiri. Dia berusaha sekuatnya untuk mengusir bayang-bayang masa lalunya.


Prasetyo meraih ponselnya dari saku celananya. Dan ternyata itu dari maminya. Memang siapa lagi yang akan menelponya sesering itu selain maminya.


"Akhg mami....mengganggu saja." Gumam Prasetyo.


"Hallo sayang, bagaimana keadaanmu apakah kalian sedang bersenang-senang?" Tanya maminya.


"Iya, mami. Kami sedang ada diatas perahu. Nanti Pras telepon lagi ya?"


"Ok. Selamat bersenang-senang."


"Ya, mami." Prasetyo menutup telepon dan menghampiri Nadiya yang sedang duduk.


"Yuk, kita keatas." Kata Prasetyo sambil menarik tangan Nadiya dan membantunya berdiri.


Mereka kemudian berjalan beriringan melewati jalan setapak yang dimana kanan dan kirinya berdiri pohon Cemara dan Pinus. Beberapa buah Pinus berjatuhan dan berserakan diantara dedaunan yang sudah menguning. Tempat ini sangat sepi hanya terlihat beberapa orang yang berjalan bersama mereka. Kebanyakan mereka bermain dikaki bukit sambil berenang dipinggir pantai.

__ADS_1



Nadia sesekali menggandeng dan berpegangan pada lengan Prasetyo saat terdengar suara binatang dari atas pohon. Kadang Nadiya juga tidak melepaskan pegangannya sama sekali saat jalanan yang mereka lalui begitu seram.


"Apakah kamu takut?"


Nadiya mengangguk dan berhenti sejenak.


"Apakah tidak sebaiknya kita kembali saja?" Tanya Nadiya.


"Sayang sekali kalau kita kembali. Kita hampir sampai. berpeganganlah yang erat jika kau takut." Kata Prasetyo kemudian mencari jalan yang lebih terang dan tidak terlalu dipenuhi pohon yang besar agar Nadiya tidak ketakutan.


Akhirnya setelah satu setengah jam perjalanan mereka sampai pada sebuah tempat yang sangat indah. Disana ada dua airterjun kecil yang dibawahnya terdapat banyak bebatuan berwarna putih keabu-abuan. Percikan air terjun itu memantul kebeberapa bunga yang tumbuh liar diantara bebatuan.


Nadiya kemudian duduk diatas bebatuan bersama Prasetyo menikmati percikan air terjun yang membasahi sebagian bajunya.


"Ayo kesinilah, nanti bajumu basah." Kata Prasetyo sambil sedikit menjauh dari airterjun itu.



"Baiklah. Bantu aku melompat." Kata Nadiya.


"Ulurkan tanganya." Kata Prasetyo.


Kemudian Nadiya mengulurkan tanganya dan Prasetyo menariknya hingga tubuhnya jatuh ke pelukan Prasetyo. Prasetyo memang pandai mencari kesempatan dalam setiap situasi. Sehingga dalam beberapa momen dia akan menggunakannya untuk bersentuhan fisik dengan Nadiya.


Meskipun mereka sudah resmi sebagai suami istri, namun banyak sekali kecanggungan sehingga Prasetyo harus lebih intens mendekatinya. Maklum mereka menikah tanpa melewati frase pacaran sehingga membutuhkan waktu lebih banyak untuk saling merasa nyaman.


Prasetyo adalah pria mapan yang ganteng dan sudah berpengalaman. Sehingga dia mudah untuk membuat Nadiya jatuh hati padanya. Caranya memperlakukan Nadiya tentu membuat semua wanita merasa iri jika melihatnya. Kemahirannya itu benar-benar dirasakan oleh Nadiya bahwa dia memang bukan lelaki lugu. Dia tahu kapan dan dimana dan harus melakukan apa untuk membuat hubungan mereka semakin dekat.


Prasetyo menggendong Nadiya dan membaringkanya diatas bebatuan yang sangat lebar. Batu itu begitu lebar seperti ukuran tempat tidur. Sehingga para pengunjung bisa melepas lelah dengan tiduran diatasnya dan merasakan kehangatan matahari yang langsung menyentuh kulit.


Nadiya berbaring dan menyandarkan kepalanya pada paha Prasetyo. Kemudian ujung jari Prasetyo membelai lembut dahi dan rambut Nadiya.

__ADS_1


__ADS_2