
Malam begitu hangat bagi sepasang pengantin baru. Namun begitu sepi bagi jiwa yang rapuh. Apalagi jiwa yang sedang penasaran. Dan membuat dunia terasa sangat sempit dan menghimpitnya. Bintang yang berkerlipan seperti sedang mentertawakanya. Dan memanggil roh dalam tubuh untuk bersandar pada cahaya bulan yang hangat.
Ardy melihat jauh kedalam kamar, di rumah diseberang sana. Yang terlihat hanya pantulan pohon yang tertiup angin sepoi-sepoi dan sedang menari dijendela. Alunan suara jangkrik dan binatang pemilik malam terasa merdu bagi sepasang hati yang sedang memadu cinta, namun tidak bagi hati yang sedang patah. Suara gesekan daun yang tertiup angin seperti menyayat hati dan menambah malam terasa sangat panjang.
Nadiya sebenarnya belum tidur, dia hanya pura-pura tidur. Entah sudah berapa hari Nadiya membiarkan suaminya kedinginan tidur tanpa kehangatan yang dia berikan. Berulang kali Nadiya mencoba mengenyahkan satu malam yang dihabiskan suaminya dengan sahabatnya, namun sulit sekali. Sehingga hal itu mempengaruhi hati Nadiya untuk melayani suaminya. Nadiya tahu jika itu dosa. Tapi apalah dayanya, sulit sekali melawan gejolak hati yang terbakar api amarah.
Nadiya sampai tertidur karena lelah memikirkan apa yang telah terjadi padanya. Bagaimana dia berdamai dengan hati dan jiwanya. Rasa kesepianpun juga dirasakanya. Malam yang dingin tetaplah dingin, Dan hanya selimut yang saat ini mampu menghangatkanya.
Suaminya memandang Nadiya dengan penuh kasih sayang. Tapi tak pernah tahu apa yang tersimpan dan dirahasiakannya. Mungkin karena sudah menjadi sifat bawaan, jika laki-laki tak akan peka seperti perempuan. Dan hanya akan memahami suatu hal jika itu ditunjukan atau diperlihatkan secara langsung. Sudah jadi kodrat jika wanita pandai menyimpan perasaanya. Bahkan saat hatinya hancur remuk pun masih bisa membuat senyum termanis di dunia.
Ardy menyelimuti Nadiya dan tidur disampingnya. Tak ada amarah karena memang Ardy memaklumi apa yang terjadi pada Nadiya adalah bawaan bayi. Meskipun Ardy sangat ingin berhubungan, namun demi kesehatan anak dan ibunya, dia akhirnya menahanya.
------------
Dalam redupnya cahaya bulan yang masuk dari jendela, seakan memberi restu bagi yang sedang bercinta. Leo melihat pantulan wajah Sarah dari kaca dimeja riasnya. Sangat cantik dan mempesona, masih dengan riasan yang belum dibersihkan. Tidak heran jika Leo sulit menggantikan Sarah dengan wanita lainya. Meskipun sudah berpisah Leo masih sangat mencintai wanita yang saat ini dinikahinya kembali.
Jauh dilubuk hatinya sikap posesif itu ada, tidak lain karena pesona kecantikan Sarah yang mudah membuat laki-laki manapun terpikat padanya. Wangi dan harum tubuh Sarah masih sangat melekat didalam sanubarinya. Dan saat ini wangi dan harumnya kembali membuat darahnya bergejolak. Leo tak sabar lagi menahanya lebih lama. Kemudian seperti tupai melompat cepat sekali tiba-tiba memeluk dan membuat Sarah kesulitan bernafas.
"Tunggu mas. Aku mau merapikan rambutku dulu."
"Tidak usah. Aku suka kamu seperti ini?"
"Tapi aku berkeringat mas."
"Tidak papa. Aku suka wangi tubuhmu, walaupun berkeringat."
"Tapi aku mau kekamar mandi."
__ADS_1
"Tidak usah. Nanti saja. Aku sangat merindukanmu."
"Aku tak tahan lagi mas."
"Aku juga. Terlebih aku. Sudah dari tadi jantungku berdebar dan aku menahanya. Rasa ini sangat mendesaku."
Kata Leo masih erat mendekap Sarah. Dan pantulan diri mereka terlihat dikaca. Sarah didepan dan Leo dibelakang.
"Aku sudah mau keluar mas. Dari tadi aku menahanya."
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?"
"Bilang apa mas?"
"Kalau kami sudah tidak tahan. Kita bisa langsung melakukanya. Sekarang saja yuk!"
"Aku belakangan saja. Nanti kalau kamu sudah buang air kecil, baru gantian aku."
"Apa!? Pipis? Buang air kecil?" Mata leo terbelalak dan melepaskan pelukannya.
"Iya mas. Aku tak tahan mau kencing. Tapi kamu terus saja memelukku dan......aku tak tahan lagi." Sarah berlari kekamar kecil dan dengan cepat kembali lagi.
...Pipis? Aku pikir kamu mau melakukanya. Ternyata kamu tak tahan ingin pipis? hanya itu saja?...
"Sudah?" Tanya Leo melihat Sarah keluar dari kamar mandi. Sarah mengangguk.
"Kamu katanya sudah tidak tahan mas? Sana kalau mau kencing?"
__ADS_1
"Ngga! Ngga jadi!" Kata Leo merajuk manja.
Sarah kemudian merangkul Leo dan mengajaknya rebahan di ranjang. Sarah tahu jika Leo sedang kesal karena tak mengerti maksud perkataannya. Sarah sudah mengganti bajunya dengan baju tidur warna merah muda. Tipis dan transparan. Kemudian menutupinya dengan selimut biar hangat. Tapi tiba-tiba bukan selimut yang menutupi tubuhnya, melainkan badan Leo yang dengan cepat menindihnya, hingga membuat Sarah kesulitan bernafas.
Sarah baru akan bersuara tapi bibir Leo sudah menguncinya. Nafasnya terasa hangat pada kulit wajahnya. Sarah benar-benar tak berkutik karena kaki Leo juga mengunci kakinya. Tanganya berjalan kesana kemari diatas badanya. Mencari dan memegang yang ingin dia pegang. Terkadang lembut dan terkadang terasa begitu kencang. Sarah membiarkannya karena mereka sudah sah menjadi suami istri.
Seluruh tubuh Sarah bahkan berhak untuk dinikmati oleh suaminya sendiri. Leo tanpa basa-basi memuaskan dahaganya. Seperti singa yang sudah mendapatkan mangsanya. Mencengkeram dan membuat Sarah tidak berkutik sama sekali. Akhirnya Sarah lemas tak berdaya. Leo begitu kuat dan menghabiskan seluruh energinya untuk menikmati malam yang panjang itu.
Sarah bahkan sampai sempoyongan saat berdiri karena kehabisan energi demi melayani hasrat suaminya. Apalagi saat ini dia tengah hamil muda. Leo adalah pria muda yang hasratnya begitu kuat dan dahsyat. Sehingga berulang kali membuat Sarah terkulai dengan nafas yang menderu.
-------------
Pagi yang indah. Mentari telah bersinar menerobos lebatnya dedaunan dan masuk kedalam kamar saat tirai jendelanya terbuka. Nadiya masih tertidur. Suaminya sudah bangun lebih dulu dan berjalan kejendela kamarnya. Ardy menyibakkan gorden jendela dan menatap kamar Sarah yang masih gelap. Tirainya juga belum dibuka. Menunjukkan bahwa penghuni kamar itu masih terlelap tidur.
Ardy memandanginya begitu lama. Sekilas terlintas dalam ingatannya bagaimana hangatnya tubuh Sarah. Dan hasratnya malam itu yang luar biasa. Ardy masih bisa merasakan nikmatnya karena saat hal itu terjadi dia dalam kondisi yang tidak mabuk berat. Sehingga dengan sisa kesadaran dia masih bisa mengingat setiap sudut dan lekuk bahkan ukuran dadanya masih jelas dalam ingatannya. Sarah yang meminta kehangatan itu darinya dalam kondisi mabuk. Hingga akhirnya Ardy nekat melakukan hubungan terlarang itu bersamanya.
"Pa....." Nadiya merasakan suaminya tidak ada disamping dirinya. Tempat suaminya tidur kosong. Dan dengan mata yang masih samar-samar Nadiya mencarinya. Ardy sedang berdiri dijendela dan memandang kamar Sarah.
Pemandangan itu sangat menyakiti hati Nadiya.
"Pa......" Nadiya memanggilnya. Ardy menoleh dan mendekatinya.
"Ma sudah bangun ?" Kata Ardy.
"Iya pa." Jawab Nadiya sambil membereskan selimut dan bantal. Ardy duduk dipinggir tempat tidur sambil memeluk tubuh Nadiya.
"Papa tadi bangun awal. Kemudian papa menghirup udara segar dari jendela."
__ADS_1
"Iya pa. Ya udah papa mandi dulu aja. Mama biar siapin sarapan untuk papa."