
Hari ini adalah hari pertama Nadia berangkat ke kantor setelah 1 bulan cuti untuk acara pernikahannya dan berbulan madu.
Pagi-pagi sekali Nadiya sudah bangun dan akan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Suaminya masih tertidur pulas setelah semalaman mereka begadang. Nadiya menatap suaminya kemudian tersenyum dan berjalan ke dapur. Nadia membuka kulkas dan melihat isi kulkas dan bahan makanan yang bisa dimasak.
Ternyata di dalam kulkas tidak ada isi apapun karena kemarin dia lupa untuk membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak esok paginya.
Akhirnya dia berjalan keluar dan mengambil handphonenya lalu memesan nasi uduk online. Makanan akan diantar kira-kira setengah jam setelah makanan itu dipesan.
Sambil menunggu makanan itu datang Nadiya kemudian masuk ke kamar mandi menggosok gigi dan membersihkan diri kemudian keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan baju kantor.
Prasetya membuka matanya dan melihat Nadiya sudah rapi.
"Kamu mau kemana?" tanya Prasetyo.
"Aku akan ke kantor hari ini karena sudah lama aku meninggalkan kantor itu pada Danar. Aku juga kangen dengan suasana kantor. Hari ini aku akan mulai bekerja, bagaimana denganmu?"
"Mungkin aku akan ke kantor besok pagi saja" Kata Prasetyo.
"Kemarilah Nadia" Kata Prasetyo.
Kemudian Nadiya berjalan mendekati Prasetyo yang masih tertidur di atas tempat tidurnya.
Setelah Nadia berdiri di dekatnya kemudian dengan cepat Prasetyo menarik tangan Nadiya dan merengkuh Nadiya ke dalam pelukannya.
"Haaaiii....! Kata Nadia dengan sangat terkejut. Belum sempat Nadia terbangun Prasetyo malah semakin erat memeluknya.
"Pras Apa yang kamu lakukan?" Kata Nadia sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan Prasetya.
"Sudah diamlah." Kata Prasetyo kemudian dia mencium Nadiya.
"Bajuku bisa kusut jika kamu tidak melepaskan pelukanmu ini."
"Diamlah aku masih kangen kita kan baru saja sampai tapi kamu malah sudah mau ke kantor." Kata Prasetyo sambil memegang kedua pipi Nadiya yang terbaring diatas tubuhnya.
"Aku hanya ke kantor setengah hari setelah itu aku akan pulang." Kata Nadiya kemudian Prasetyo melepaskan tangannya dari pelukannya.
"Sana mandi setelah itu kita akan sarapan." Seru Nadia yang melihat Prasetyo yang masih bermalas-malasan.
"Baiklah istriku tersayang." Kata Prasetyo sambil mengedipkan matanya.
Ting tong!
"Sepertinya itu makanannya sudah tiba." Kata Nadia sambil berjalan ke pintu.
Dan benar saja ternyata di depan pintu sudah berdiri ojek online yang mengantar makanan yang tadi di pesan Nadia yaitu nasi uduk.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak makan nasi uduk hemmmm baunya sangat harum." Gumam Nadiya.
"Siapa itu nad?" kata Prasetyo dari kamar mandi.
"Itu ya tadi aku memesan nasi uduk untuk kita sarapan." Kata Nadiya sambil menaruh nasi uduk di atas meja di dekat tempat tidur mereka.
"Apakah kamu tidak memasak?" Tanya Prasetyo dari dalam kamar mandi.
"Iya tadinya aku pikir aku akan memasak tapi ternyata aku lupa membeli bahan-bahan kemarin, aku lihat di kulkas tidak ada satupun bahan yang bisa aku pakai untuk memasak untuk membuat sarapan." Kata Nadia sambil membereskan selimut yang berantakan.
"Cepatlah Pras aku akan berangkat pagi, hari ini." Kata Nadiya yang sudah menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
"Ya tunggu sebentar aku sudah mau selesai." Kata Prasetyo dan sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk.
Kemudian Prasetyo berjalan mendekati Nadia bukannya mencari baju ganti. Nadiya yang melihat itu kemudian menegur Prasetyo bahwa baju gantinya ada disana bukan disini.
"Bajunya disana Pras sudah aku siapkan." Kata Nadiya sambil menyiapkan piring dan minuman untuk mereka sarapan.
"Iya aku tahu tapi aku mau ke sini dulu." kata Prasetyo sambil berjalan ke arah Nadiya dan Nadiya tahu jika suaminya itu memang suka iseng sehingga dia mundur 1 langkah saat Prasetyo berusaha untuk mendekatinya.
"Sudah Pras cepat pakai baju jangan bercanda terus ini sudah siang." Kata Nadiya sambil terus mundur namun Prasetyo terus berjalan mendekatinya.
Nadia sudah tidak bisa mundur lagi karena di belakangnya ada tembok. Prasetyo makin mendekat dan memepetnya sehingga dia tidak bisa bergerak kemana-mana.
Kemudian Prasetyo menyentuh hidung Nadiya dengan ujung jarinya setelah itu membiarkannya pergi dan dia berjalan kesampingnya untuk memakai baju yang sudah disiapkan oleh Nadiya.
Prasetyo berjalan ke meja makan dan duduk berhadapan dengan Nadia. Nadia sudah menyiapkan piring yang sudah terisi nasi uduk lengkap dengan lauk pauknya.
"Sambelnya mau banyak atau sedikit?" Tanya Nadiya.
"Sedikit saja kau tahu kan aku tidak suka sambal." kata Prasetyo yang memang lidahnya tidak terbiasa dengan makan makanan yang terlalu pedas. Berbeda sekali dengan Nadiya yang doyan banget makan makanan pedas. Jika tidak ada sampel maka selera makan Nadiya akan berkurang. Maklum Nadiya dulu kan tumbuh dikampung hidup pas-pasan, jadi sering banget makan nasi hanya pakai sambal dan ikan asin.
"Aku akan ikut kamu ke kantor." Kata Prasetyo setelah dia selesai makan.
"Baiklah." Kata Nadiya sambil membereskan piring lalu menaruhnya di atas wastafel.
"ini sudah siang aku akan mencucinya nanti." kata Nadiya.
"Terserah kamu saja." kata Prasetyo.
"Kita berangkat sekarang?"
"Siap bos!" kata Prasetyo kemudian dia mengambil kunci mobil dan mereka meninggalkan apartemen untuk menuju ke kantor Nadiya.
Sampai di kantor semua pegawai Nadia sudah ada di sana dan mereka sangat terkejut melihat kedatangan bosnya yang tiba-tiba itu. Karena menurut mereka Nadiya akan datang sekitar 1 bulan lagi tapi ternyata hari ini dia sudah ada di kantor dan hal itu membuat mereka tidak leluasa karena jika ada Nadiya suasana kantor menjadi hening dan tidak boleh ada yang bersuara apalagi bergosip hal itu sangat tidak disukai oleh Nadiya. Nadiya kemudian berjalan bersama Prasetyo atau suaminya yang baru. Seorang security mengangguk hormat padanya dan menyapanya, Nadiya membalas sapaan security itu sambil tersenyum dan berjalan dengan tegak dan kepala diangkat seperti biasanya.
__ADS_1
Mereka melihat dandanan Nadiya yang masih saja glamour seperti sebelumnya. Mereka pikir setelah menjadi istri Prasetyo maka Nadiya akan mengubah penampilannya. Namun Mereka salah Nadiya tetaplah Nadiya dia tetap dengan tampilan glamornya dan sifat dinginnya.
Nadiya berjalan dan beberapa pegawai mengangguk ke arahnya dan mengucapkan selamat atas pernikahannya dan bulan madunya.
Nadiya mengucapkan terima kasih kemudian masuk ke dalam ruangannya.
"Danar nanti kamu ke ruangan saya." Kata Nadiya kepada Danar yang kantornya dekat dengan kantor Nadia.
"Baik bu." Kata Danar kemudian merapikan beberapa berkas yang baru saja dia buka.
Nadiya sudah masuk ke dalam ruangannya.
Beberapa pegawai yang tempat duduknya dekat mereka mulai berbisik-bisik.
"Eh kamu tahu nggak kalau mantan suaminya ibu Nadiya itu sekarang ada di dalam penjara."
"Iya aku juga tahu semua orang satu Negeri juga tahu dengan kabar itu."
"Menurut kamu ibu Nadiya tahu nggak ya?"
Temannya kemudian mengangkat kedua bahunya dan melirik ke pintu ruangannya dia takut kalau tiba-tiba dia keluar dan memergoki mereka yang sedang asyik berbisik-bisik.
"Lagian seandainya tahu kan mereka sudah bercerai."
"Iya juga sih." Kata temannya tadi.
"Suami ibu Nadiya top bgt ya?" Maksudnya adalah Prasetyo.
"Iya aku juga berpikir begitu."
"Ibu Nadiya sangat beruntung mendapatkan dia masih perjaka lagi."
"Iya dengar-dengar juga usianya lebih muda dari ibu Nadiya."
"Udah ganteng muda kaya raya dan dia adalah CEO perusahaan Asia yang terkenal itu."
"Iya menurut kamu kenapa ya dia suka sama ibu Nadiya, menurut gue Ibu Nadiya cantiknya standar dan lagi sudah janda dan sudah pernah menikah kenapa dia tidak mencari yang masih gadis saja kan banyak di luar sana tuh yang cantik-cantik."
"Sudah berhenti! Kalian ini kerjaannya bergosip saja." kata Danar yang lewat di depan meja kerja kedua temannya yang hobi bergosip.
"Kamu mau kemana Danar?" Tanya seorang dari mereka.
"Aku akan ke ruangan Ibu. Kalian semua jangan berisik nanti kita semua kena hukuman." Kata Danar mengingatkan teman-temannya.
"Mulai deh loh cari muka." Celetuk teman yang satunya lagi.
__ADS_1