
Hanya dokter yang masih suka datang mengunjungi Nadiya satu Minggu sekali, itupun atas perintah dari Sandra.
"Ini obatnya, dan harus diminum setiap hari." Kata Dokter saat datang mengantarkan obat untuk Nadiya.
"Terimakasih dokter." Nadiya lalu tersenyum dan menyimpan obat itu.
"Bu, saya permisi dulu." Kata dokter berpamitan pada ibunya Sandra.
Ibunya Sandra lalu mengantarkan dokter hingga kehalaman rumah.
Sampai di mobil, dokter itu lalu menelpon Sandra.
"Obatnya sudah aku berikan. Apakah kau sudah transfer uangnya?"
"Belum. Minggu depan aku akan mentransfernya." Kata Sandra sambil menutup teleponnya.
Sandra lalu menarik nafas panjang. Dan dari jauh Edsel dan juga Eiden berlari kearahnya.
Sandra lalu merentangkan kedua tangannya dan memeluk keduanya.
"Tanteee...."
"Kalian pulang cepat hari ini?" Kata Sandra sambil mengambil ransel mereka.
"Ayo kita langsung kemobil. Ada makanan untuk kalian."
Mereka lalu berjalan kemobil dan masuk kedalam.
"Bukalah kotak itu. Tante tadi ke supermarket dan beli ice cream untuk kalian."
"Terimakasih Tante....."
Mereka lalu membuka kotak dan mengambil ice cream satu-satu.
"Ini sangat enak Tante." Kata Eiden sambil menjilat ice creamnya.
"Makannya jangan berantakan ya," kata Sandra sambil melajukan mobilnya.
"Iya Tante."
"Kok Tante tahu sih, kalau kita suka ice cream ini?"
"Iya, Oma yang beritahu."
"Ohh, pantesan aja. Oma tahu segalanya. Tapi....."
"Kalau makan ice cream ini, Edsel jadi ingat mami. Mami kenapa sih ngga pulang-pulang? Memangnya mami pergi kemana?"
Tanya Edsel, sampai sekarang mereka tidak tahu jika maminya mengalami kecelakaan dan dinyatakan hilang.
Mereka tahunya maminya pergi keluar kota atau keluar negeri.
Sandra kaget, dan menarik nafas panjang.
Sandra pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan perhatian mereka.
__ADS_1
"Apakah kalian suka nonton bioskop? Ada film seru sore ini. Jika kalian mau, ayo kita nonton sama-sama!" Ajak Sandra sengaja mengalihkan perhatian mereka berdua.
Sandra ingin agar mereka nyaman dengannya dan melupakan Nadiya.
"Tapi...." Edsel masih terlihat berfikir.
"Aku mau Tante." Kata Eiden dengan ceria.
"Ya sudah, aku juga ikut."
"Tapi....kalian punya PR tidak?" Tanya Sandra mengingatkan keduanya.
"Punya."
"Ya sudah sampai rumah kita kerjain PRnya, setelah itu istirahat, baru kita pergi nonton."
"Asyiiik!" Mereka terlihat sangat senang dan langsung lupa pada ingatannya tentang ibunya.
Sore harinya, Prasetyo pulang lebih awal, karena untuk pertama kalinya dia merasakan penyesalan karena sudah egois.
Karena dukanya yang teramat dalam, dia mengabaikan kedua jagoan kembarnya.
Dia terus memikirkan Nadiya dan jarang menemui Edsel dan juga Eiden.
"Papi......"
Edsel dan juga Eiden lalu memeluk papinya karena sangat merindukannya.
Mereka lalu berpelukan dan saling tersenyum bahagia.
Oma dari kejauhan melihatnya dengan perasaan lega. Akhirnya bisa melihat Prasetyo tertawa, meskipun belum lepas seperti biasanya.
Prasetyo diam sesaat. Dan demi menyenangkan Edsel dan juga Eiden, dia akhirnya mengangguk.
"Horeeeee...."
"Oma juga ikut?" Tanya Eiden.
Oma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Yaaahhhh Omaa. Ayo ikut. Kasian Oma dirumah sendirian." Kata Edsel.
"Tidak. Oma tidak ikut. Oma akan menunggu kakak kalian pulang."
"Ya sudah. Kalau Oma ngga mau ikut."
"Papi....ayo kita pergi sekarang."
"Ya. Sebaiknya kalian nonton sekarang. Jadi bisa pulang lebih awal. Karena besok mereka harus sekolah." Kata Sandra sambil mengambil tasnya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang." Prasetyo lalu menggandeng mereka berdua.
"Duduklah disini." Kata Prasetyo membukakan pintu untuk Edsel dan juga Eiden.
"Kau duduklah didepan." Kata Prasetyo membukakan pintu untuk Sandra.
__ADS_1
Mereka lalu bersama-sama menuju sebuah mall dan bioskopnya ada dilantai lima.
Mereka saat ini ada didepan tiket. Sandra mengantri membeli tiket, sedangkan Prasetyo menunggu bersama anak-anak.
Setelah itu Sandra memberikan tiket kepada mereka.
"Filmnya akan segera dimulai. Kalian masuklah lebih dulu." Kata Sandra kepada mereka bertiga.
"Nanti aku menyusul.... Aku akan membeli popcorn dulu untuk mereka."
Prasetyo lalu mengangguk.
Sandra sangat senang mendapat kesempatan bersama Prasetyo dan juga kedua anaknya.
Namun dihati Prasetyo masih sangat jelas luka karena kehilangan Nadiya. Dia hanya tidak ingin menjadi egois dengan melupakan kedua buah hatinya.
Film sudah dimulai saat Sandra masuk kedalam. Dia lalu duduk disamping anak-anak. Agak jauh dari Prasetyo, tadinya Sandra mau duduk didekat Prasetyo.
Edsel dan juga Eiden nampak terhanyut saat melihat
Prasetyoe memejamkan matanya, lalu ditengah film diputar, dia keluar dari dalam bioskop.
"Papi tunggu diluar." Kata Prasetyo kepada kedua mereka berdua.
Edsel mengangguk tanpa menoleh.
Diluar Prasetyo duduk sambil memesan minuman. Dia mengambil handphonenya lalu menatap foto Nadiya begitu lama.
Aku sangat merindukanmu Nad, kamu dimana?
***
Hari ini Regan sudah sampai di kampusnya, di Amerika.
Dia berjalan melewati gerbang dan tersenyum pada beberapa temannya.
Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya saat dilihatnya dari kejauhan Sasha berjalan akan keluar gerbang.
Namun Regan tidak beraksi dan teringat pada ibunya yang belum ditemukan karena masalah masa lalu Sasha.
Reganpun berjalan tanpa menyapa Sasha, begitu juga Sasha.
Mereka seperti layaknya orang asing saja. Sasha tidak menyapanya karena dia tidak ingin ada hubungan apapun dengan keluarga yang sudah membesarkannya.
Hal itu karena sudah jelas jika Tantenya menolaknya. Sasha tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga Omanya.
Regan tidak menyapanya karena dia sangat terluka dan sangat menyesal telah membuat maminya kecewa.
Hingga maminya pergi dan tidak kembali sampai saat ini.
Regan tidak menoleh sama sekali hingga dia sampai didepan pintu kamarnya.
Regan lalu masuk kedalam kamarnya dan merebahkan dirinya.
Terbayang wajah maminya dan membuat butiran kristal mendesak keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Tapi dia juga tidak habis pikir, bagaimana Sasha bisa sampai kemari? Apakah omnya yang sudah membiayainya?
Apakah berarti mereka sudah bertemu?