Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
NADIYA KEMBALI


__ADS_3

Arya ingin bertemu Nadiya dan membawa beberapa berkas kerja sama. Oma lalu menemuinya dan menceritakan apa yang terjadi pada Nadiya.


Arya lalu keluar dari rumah itu tanpa bertemu Prasetyo. Dia juga tidak melihat Regan disana.


Arya sangat menyesal karena terlalu sibuk dan tidak tahu jika Nadiya menghilang.


Dia sering menghabiskan waktu diluar kota karena bisnisnya ada dimana-mana.


Dengan langkah gontai dia meninggalkan rumah Nadiya. Walau bagaimanapun, dua juga merasa sedih atas apa yang menimpa Nadiya.


Apalagi jika sampai saat ini dia menghilang dan tidak ada kabarnya.


Ada rasa sedih yang bercampur dengan bahagia juga karena baru saja mendapat kabar dari Sasha jika dia akan melahirkan bulan depan.


Apapun yang terjadi antara Nadiya dan Sasha, ternyata semua itu justru mendekatkannya pada putrinya.


Bahkan saat ini Arya sedang mengurus berkas untuk memasukkan Sasha kedalam kartu keluarganya.


Meskipun sebagai anak angkat dan tidak membuka identitasnya. Namun semua itu tidak penting lagi.


Sandra berdiri didepan pintu gudang. Tangannya membawa dua buah layang-layang. Sandra memperhatikan dari kejauhan. Tiba-tiba Sandra memikirkan sesuatu karena sebentar lagi anak-anak akan liburan sekolah selama satu Minggu.


Anak-anak pasti sangat bosan dirumah. Selain itu, liburan bisa menjadi kesempatannya untuk mendekati Prasetyo.


Dengan senyum yang terhias di bibirnya, Sandra lalu mendekati Oma yang terlihat santai dihalaman rumah sambil menikmati secangkir teh hangat.


"Oma, siapa tadi?"


"Ohh, itu Pak Arya, mencari Nadiya."


Oma lalu tertunduk dengan sedih saat mengingat menantunya yang entah saat ini ada dimana.


Sandra lalu mengatakan niatnya untuk liburan selama anak-anak tidak sekolah.


"Iya. Itu ide yang bagus. Kasihan mereka terus menanyakan Nadiya. Sebaiknya mereka berlibur."


Sandra menjadi sangat senang karena Omanya setuju untuk membawa anak-anak liburan.


"Hore! Hore! Kita akan ke Jepang. Kita akan bermain salju disana. Papi ayo kita kesana!" Kata Edsel dan juga Eiden saat duduk disofa dengan papinya.


Rupanya Prasetyo juga berencana mengajak mereka liburan ke Jepang, karena dia ada pekerjaan disana.


"Pas sekali! Anak-anak libur dua Minggu." Kata Sandra yang baru saja masuk untuk memberikan layang-layangnya.


"Bapak sudah baikan?" Tanya Sandra saat dilihatnya Prasetyo duduk bersama Edsel dan juga Eiden.


"Sudah. Setelah minum obat demamnya sudah turun."


Sandra lalu duduk bersama mereka. Edsel dan Eiden sedang bermanja dipangkuan papinya.

__ADS_1


"Kalian mau main layang-layang? Ayo papi temani!"


Mereka lalu keluar kehalaman dan bermain layang-layang ditemani oleh Prasetyo.


***


Keesokan harinya mereka sudah berkemas untuk liburan ke Jepang. Semua ikut, kecuali dua asisten rumah tangga Nadiya.


Beberapa koper sudah ada diruang tamu. Oma dan Prasetyo juga sudah duduk disana.


Tinggal menunggu Edsel dan juga Eiden yang sedang mandi ditemani oleh Sandra.


"Aku mau pakai baju ini. Ini hadiah dari mami." Kata Edsel.


"Aku juga. Baju ini belum pernah dipakai." Kata Eiden.


"Ya sudah. Kalian boleh memakai baju yang mana aja yang kalian sukai." Kata Sandra sambil menaruh baju kotor kedalam keranjang.


"Ayo! Kita turun kalau kalian sudah siap?"


Mereka berdua langsung berlarian kebawah.


"Papi......kami sudah siap!"


"Baiklah. Jika semua sudah siap, ayo kita berangkat."


***


Sampai dirumah, ternyata Nadiya tidak ada disana. Diapun mencari kemana-mana namun tidak ada yang melihatnya.


"Pak, apakah bapak melihat Sekar?" Tanya Bu Sandra pada seorang tetangganya.


"Tidak. Dari tadi kami tidak melihatnya."


Ibu Sandra lalu berjalan ke sekeliling rumah sekali lagi. Namun tetap tidak menemukannya.


"Saya lihat tadi Sekar naik motor bersama tukang ojek pangkalan." Kata seorang yang kebetulan lewat dan melihat Sekar naik motor.


"Kenapa bu?" Tanya tetangganya itu.


"Iya. Soalnya Sekar perginya tidak pamitan sama saya." Kata ibunya Sandra.


"Ohh begitu, ditunggu aja Bu. Mungkin perginya cuma sebentar."


"Ya Bu, makasih." Ibu Sandra lalu masuk kerumah dan duduk sepanjang hari dituang tamu dengan perasaan gelisah.


Hingga sore hari ternyata Sekar tidak juga kembali.


Akhirnya ibunya Sandra mencoba menelpon putrinya dan ingin memberitahu jika Sekar tidak ada dirumah.

__ADS_1


Namun Sandra sedang berada didalam pesawat, sehingga tidak mengetahui jika ada panggilan masuk. Handphone nya dimatikan.


Ibunya Sandra bolak-balik dan bahkan sampai lupa untuk mengupas bawang dan mengirisnya, karena terus memikirkan tentang Sekar yang pergi entah kemana.


Hingga sore hari dia tidak kembali.


"Sudahlah Bu, dia kan sudah dewasa, dia pasti tahu arah jalannya. Dia tidak akan tersesat."


"Tapi masalahnya bukan hanya karena Sekar pergi, Sandra sudah berpesan pada ibu untuk melarangnya pergi kemanapun." Kata Ibunya Sandra dengan wajah cemas.


"ya sudah. Sekar kan pergi atas kemauan sendiri. Dan perginya juga pas ibu pergi kepasar. Ya jelas ibu tidak bersalah dalam masalah ini."


"Sandra akan menyalahkan ibu pak."


"Nanti biar bapak omeli, kalau sampai menyalahkan ibu. Ini jelas bukan kesalahan ibu. Dia pergi juga tanpa pamit. Jadi kita tidak tahu dia pergi kemana?"


"Apa kita cari saja ya pak? Mungkin Sekar belum jauh." Kata Ibu Sandra.


"Ini sudah mau malam, mau dicari kemana? Sebentar lagi gelap. Disini jalanan juga belum ada lampu. Nanti malah ketemu orang jahat." Kata suaminya menasehati."


"Tapi ibu sangat cemas pak. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Sekar. Lalu polisi datang kemari dan mencari kita?"


"Ibu jangan berpikir yang tidak-tidak. Yang penting kita doakan saja semoga Sekar baik-baik saja," kata suaminya.


"Aduuuhhh, kenapa ibu sampai lupa mengupas bawang pak? Padahal besok ada pesanan banyak. Mana Sekar tidak ada dirumah. Biasanya kan Sekar yang bantuin ibu."


"Ya sudah, sini, biar bapak bantuin. Ibu sih, mikirin Sekar terus, jadi lupa sama kerjaan sendiri."


"Buruan pak. Kita lembur ya pak? Kalau ngga selesai, bisa dimarahin sama pelanggan aku."


"Ya sudah, ngga usah ngomongin Sekar lagi. Semoga dia baik-baik saja, dimanapun dia berada."


"Walah-walah, pesanan banyak malah belum satu toplespun jadi. Gimana ini?"


"Sudah Bu, Jangan ngomong terus. Buruan mana bawangnya? Katanya suruh ngurus bawang malah cuma ada pisaunya aja. Bawangnya mana?"


Ibu Sandra pun menjadi kewalahan karena Sekar atau Nadiya tidak ada dirumahnya untuk membantu pekerjaannya.


***


"Berhenti sini pak!" Kata Nadiya, lalu masuk ke gerbang dan meminta uang kepada Satpam untuk membayar ongkos ojek.


"Bu Nadiya?"


"Pak bisa pinjam uang 100 ribu? Untuk bayar ongkos ojek?" Kata Nadiya.


Sementara Satpam itu bengong melihat Nadiya menggunakan baju orang dikampung yang sangat sederhana. Padahal Bibi dirumahnya memakai baju yang lebih baik dari pada yang dia pakai saat ini.


Nadiya tersenyum memahami Satpam yang heran melihat dirinya.

__ADS_1


Tukang ojek pun heran dengan penampilan Nadiya yang katanya pemilik rumah mewah sebesar ini.


"Kok bajunya kayak gitu? Tapi tadi katanya pemilik rumah ini? Ahk, pasti dia sedang syuting sinetron kali....Dan sedang pura-pura jadi orang miskin."


__ADS_2