
Nadiya bersama Prasetyo keluar dari restoran dengan bergandengan tangan. Sementara Edsel dan juga Eiden bersama Sandra dan Oma.
"Kau tahu, aku selalu merindukan moment seperti ini." Kata Prasetyo sambil menggenggam erat tangan Nadiya.
"Aku juga, sejak mereka lahir, aku sangat sibuk mengurus mereka berdua, dan kita jarang berduaan seperti ini." Kata Nadiya.
"Aku ingin kita sering-sering menghabiskan waktu bersama seperti ini." Kata Prasetyo.
"Ayo kita lakukan! Kita akan membuat planing untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Kita tinggalkan kesibukan, dan kita akan sering bertamasya." Nadiya terlihat bersemangat.
Kejadian kemarin membuatnya sadar jika waktu begitu berharga. Jika dia terus menghabiskanya untuk karir dan kesibukan lainnya, maka dia akan kehilangan kebersamaan bersama keluarga.
"Kau sudah memberi tahu Regan?" Tanya Prasetyo pada Nadiya.
"Aku sudah menelponnya. Dan dia sangat bahagia."
Tiba-tiba butiran salju kecil-kecil turun dan membuat rambut mereka menjadi putih.
"Waaahhhh indahnya....!"
"Ini menakjubkan!"
Nadiya lalu memanggil Edsel dan juga Eiden. Belum sempat dia memanggilnya, Edsel dan juga Eiden sudah berlari kearahnya.
"Mami! Lihat! Salju mulai turun!" Kata mereka bersamaan.
"Ya..bermainlah! Mami dan papi akan tunggu disini!"
Salju semakin banyak. Dan beberapa daratan sudah berubah menjadi putih. Edsel dan juga Eiden terlihat sangat senang. Mereka sedang membuat orang-orangan salju.
"Mami! Lihat! Edsel bikin boneka salju!" Teriak Eiden yang juga membuat namun tidak bisa.
"Kau juga bisa membuatnya!" Kata Nadiya.
"Mami bikinin untuk Eiden yang lebih besar dari punya Edsel!"
"Ahk! Kamu curang! Masa minta mami bantuin!"
Akhirnya Prasetyo menjadi penengah.
"Mami akan bantuin Eiden dan papi akan bantu Edsel, jadi adil tidak udah bertengkar."
"Ayo kita mulai......" Kata Nadiya dan mulai mengambil salju dan membuat boneka salju yang besar.
"Kasih ini mami!" Kata Eiden dan menancapkan wortel untuk hidungnya.
"Aku duluan!" Kata Edsel yang sudah selesai lebih dulu.
Eiden tidak terima dan melemparkan salju ke kepala boneka salju milik Edsel yang sudah jadi.
Merekapun saling melempar salju dan terlihat sangat bahagia.
Oma duduk bersama Sandra dan melihat kebahagiaan keluarga yang beru saja dipertemukan setelah berbulan-bulan berpisah.
Oma berfikir, hampir saja dia membuat kesalahan dan berfikir jika Nadiya tidak akan kembali.
Andaikan saja Nadiya tidak segera kembali, maka dia pasti akan menyesal jika saja dia benar-benar berfikir untuk menjadikan Sandra bagian dari keluarganya.
"Hampir saja aku membuat kesalahan." Kata Oma lirih.
"Apa Oma?" Tanya Sandra yang mendengar Oma seperti sedang bergumam.
"Ohh, tidak, haha, Oma sangat bahagia melihat putraku begitu ceria dan bersemangat!"
__ADS_1
"Ibu Nadiya sudah kembali. Mereka terlihat bahagia." Kata Sandra dengan berusaha menyembunyikan rasa kecewanya
Bagaimanapun, dia tidak bisa terus berada disini. Nadiya sudah kembali, dan kehadirannya sudah tidak diperlukan lagi.
Masih beruntung, Nadiya tidak mengatakan apapun tentang Sandra yang sengaja menjauhkannya dari keluarganya.
Jika Nadiya mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya, maka mereka semua akan membencinya?
Hari semakin gelap, lalu mereka kembali kehotel.
Prasetyo dan Nadiya lalu masuk kekamarnya, sedangkan Edsel dan juga Eiden diurus oleh Sandra.
"Ayo kita mandi sama-sama!"
"Aku malu...badanku terlihat gemuk. Kita mandi sendiri-sendiri saja." Kata Nadiya yang merasa tidak percaya diri karena berat badannya bertambah 10 kg.
"Kenapa harus malu. Aku suka kau gemuk seperti ini." Kata Prasetyo.
"Tapi...."
Prasetyo lalu menarik Nadiya kekamar mandi. Merekapun mandi bersama dan Prasetyo sangat bahagia.
***
Malam ini Prasetyo mengadakan pesta dan meminta staff dihotel untuk menghias ruangan yang dia sewa.
Dia berniat memberikan kejutan untuk Nadiya.
Disana sudah ada beberapa teman-teman Prasetyo yang kebetulan juga mengajak istri-istrinya berlibur sambil bekerja.
Nadiya masuk kedalam ruangan itu dan dan semua keluarganya sudah berkumpul dan berdiri didalamnya.
Prasetyo menutup mata Nadiya hingga mereka sampai disebuah Kue tart yang sangat indah.
Riuh tepuk tangan dari tamu yang diundang menambah semarak suasana.
Nadiya lalu memotong kuenya dan memberikan potongan pertama untuk Prasetyo.
"Terimakasih..." Kata Nadiya.
"Hanya itu saja?"
Nadiya lalu mencium bibir Prasetyo didepan para tamu undangan.
Merekapun bertepuk tangan, sementara Oma menutup mata Edsel dan juga Eiden.
"Ayo kita dansa!" Kata Prasetyo lalu mengajak Nadiya berdansa bersama para tamu undangan lainnya.
Sementara Edsel dan juga Eiden berlari dan bermain bersama anak-anak lain yang baru mereka kenal.
"Kau sangat cantik!" Kata Prasetyo.
"Terimakasih...."
"Apakah kau yang menyiapkan semua ini?"
"Iya. Aku sengaja ingin memberi kejutan padamu. Dan untuk merayakan kebersamaan kita." Kata Prasetyo.
Prasetyo lalu berdansa hingga tengah malam. Begitu juga para tamu, mereka terlihat menikmati pesta.
"Bu Nadiya, anda sangat beruntung mempunyai suami seperti pak Prasetyo." Kata salah seorang tamu yang kebetulan berdiri disampingnya.
Nadiya tersenyum dan melihat wajah Prasetyo dari kejauhan karena sedang berkumpul bersama teman-temannya.
__ADS_1
Nadiya juga sadar jika Prasetyo sangat mencintainya. Dia bisa merasakan setiap perhatiannya.
***
Arya saat ini sedang terbang ke Amerika, karena sebentar lagi Sasha akan melahirkan. Dia sudah membawa semua berkas yang dibutuhkan.
Setelah sampai disana, Arya lalu keapartemenya.
Sasha sudah menyiapkan makanan untuk menyambut omnya yang sebentar lagi akan menjadi ayahnya.
Sasha juga merasa ada ikatan batin antara dirinya dan juga om Arya, apalagi melihat ketulusan om Arya selama ini.
Dia sudah menganggapnya seperti ayahnya sendiri.
Bel berbunyi.
Sasha lalu membukakan pintu dan ternyata benar dugaannya, Arya sudah berdiri disana dengan membawa satu kantong baju bayi.
"Terimakasih Om." Kata Sasha sambil menerima kantong yang diberikan Arya.
Arya menyempatkan diri untuk membeli beberapa baju bayi. Dia sengaja membelinya karena tadi saat akan keapartemenya, dia melewati butik yang menjual perlengkapan bayi.
"Waaauuu...siapa yang menyiapkan semua ini?" Tanya Arya saat dia melihat meja makan penuh dengan makanan yang baru saja dimasak.
Sasha lalu tersenyum. Karena dia merasa bosan, akhirnya dia memasak sendiri untuk menghabiskan waktu, sambil menunggu hari kelahiran bayinya.
"Om jadi lapar!" Kata Arya.
"Mari Om, kita makan, mumpung masih hangat." Kata Sasha saat dia melihat Arya sudah tidak sabar untuk mencoba masakannya.
Arya lalu memakan sedikit dan dia lalu menambah lagi lebih banyak.
"Ini sangat enak. Kau belajar masak dari mana?"
"Saya hanya melihat dari resep dibuku. Lalu saya mencobanya."
"Ini sangat lezat. Ayo, kau juga harus makan. Kau makan untuk berdua, jadi porsinya harus banyak."
Sasha lalu makan dan Arya menghabiskan semua hidangan yang disiapkan Sasha atau putrinya.
"Kamu duduk saja." Kata Arya saat Sasha akan membereskan semua piring dan mencucinya.
"Biar Om yang mencuci piringnya."
"Tapi om....."
"Sudah, tidak papa....kamu istirahat saja."
Arya lalu mencuci piringnya dengan sangat cepat dan mengelap lantai yang basah. Dia tidak ingin putrinya terpeleset dan membahayakan keselamatannya.
Apalagi saat ini dia sedang hamil tua.
Saat menunduk kelantai sambil mengelap lantai yang basah dia tiba-tiba teringat pada dosanya pada Nadiya.
Apakah ini salah satu hukuman Tuhan untuknya?
Putrinya hamil tanpa seorang suami?
Apakah ini akibat dari dosanya dan Sarah dimasa lalu, hingga putrinya harus mengalami hal seperti ini?
"Om!" Sasha memanggilnya karena ada Vano dan teman-temannya yang datang mengunjunginya.
Arya lalu tersentak dari lamunannya dan menyambut teman-teman Sasha yang berkunjung keapartemenya.
__ADS_1