
Keesokan harinya Jeslin sedang sarapan bersama suaminya, dia berfikir untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh Andro.
Namun lagi-lagi dia mengurungkan niatnya karena suaminya terlihat sedang sangat bahagia.
Setidaknya dia akan menunggu saat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Sementara Vano saat ini tinggal diapartemen dengan Sasha dan anaknya. Apartemen itu lumayan besar sehingga bisa untuk membawa asisten rumah tangganya juga.
"Aku sudah lama memimpikan kebersamaan seperti ini."
"Tapi aku masih was-was, bagaiamana kalau suatu hari nanti papamu tahu, pasti dia akan sangat marah." Kata Sasha.
"Sudahlah, jangan merusak hari bahagia kita. Itu tidak akan terjadi." Kata Vano lalu dia memeluk Sasha dan mencium keningnya.
***
Nadiya dan anggota keluarganya sedang sarapan bersama.
"Aku tidak menyangka jika Sasha akan menjadi menantu Jeslin. Bagaimana itu bisa terjadi?"
Semua nampak saling berpandangan.
"Sudahlah Nadiya, sebaiknya kita tidak membahas hal itu. Mari kita sarapan."
Semua lalu sarapan tanpa berbicara apapun.
***
Saat ini Papanya Vano sampai dikantor dan semua pegawai melihatnya dengan berbisik-bisik.
Papanya Vano tersenyum sampai seorang ajudanya memberikan sebuah surat kabar padanya.
Berita tentang pernikahan putranya memang menjadi berita utama. Namun yang tak kalah bikin heboh adalah berita tentang foto Sasha dan bayinya.
Terlihat muka papanya Vano menjadi merah padam.
"Cari Vano dan bawa dia dihadapan ku!" Kata Papanya pada ajudannya.
__ADS_1
Sebelum para wartawan membuat keributan dikantornya, Papanya lalu pulang kerumah dan mengatakan apa yang terjadi pada Jeslin.
"Dia sudah menipuku! Dia mempermalukan keluarga kita! Anak kurang ajar! Bagaimana dia bisa menipu kita?"
Papanya lalu mondar-mandir sambil menunggu kedatangan Vano.
***
Vano tidak tahu jika ada berita mengenai Sasha yang menggendong bayinya. Berita itu sudah tersebar dan ternyata ada orang yang sengaja ingin membuat hidup mereka tidak tenang.
"Jangan khawatir, aku akan segera kembali." Kata Vano pada Sasha saat baru saja mereka berbulan madu.
"Bagaimana jika kau tidak kembali seperti dulu?" Kata Sasha yang melihat Vano dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Aku akan segera kembali, percayalah!" Vano lalu keluar dari apartemennya bersama anak buah papinya.
Didalam mobil, Vano melihat koran yang dibeli oleh sopir pribadi papanya.
"Tuan sangat murka saat tadi pulang dari kantor. Berita ini sudah heboh dan semua pegawai melihatnya dengan tatapan aneh. Bahkan mulai banyak wartawan duduk didepan kantor tuan." Kata sopirnya.
"Sial! Siapa yang sudah melakukan ini?"
"Menurutmu, apa yang akan papi lakukan padaku?"
"Entahlah. Karena papa anda sangat tegas jika menyangkut nama baik keluarga."
"Sudah sampai Tuan,"
Vano lalu turun dan papanya sudah menunggunya diruang tamu.
"Duduk! Dan jelaskan ini!?" Kata Papanya lalu meletakkan koran dengan kasar didepannya.
"Apalah ini benar? Kau sudah menipu kami semua!?"
Vano diam saja.
"Aku yakin kau sudah merencanakan semua ini atas bujukan wanita itu! Kau nekat ingin menentang papamu demi wanita itu? Hah!"
__ADS_1
Vano diam saja.
Sementara Jeslin hanya menatap Vano tanpa berbicara apapun. Dia diam saja, karena dia tidak ingin hubunganya dengan putra sambungnya bertambah buruk jika dia memihak suaminya didepannya.
"Mulai besok, kau tidak akan mendapatkan uang sepeserpun dari perusahaan. Sampai kau menceraikannya dan menjelaskan semuanya pada publik!"
Vano sudah tahu, papanya pasti akan mengancamnya seperti itu.
"Sudah? Jika sudah, saya akan keluar sekarang juga dari rumah ini?" Vano bangun dan papanya mengangguk-angguk.
"Sekarang kau berani melawanku demi perempuan itu!? Plaaakkkkk!"
Sebuah tamparan mendarat dipipinya.
"Tampar lagi! Ayo tampar lagi! Hanya itu yang bisa kau lakukan kan?! Aku membencimu!"
"Anak tidak tahu diri!" Hampir saja dia menamparnya lagi namun dengan cepat Jeslin menahanya.
"Sudah, sudahlah! Kita bisa membahasnya nanti lagi. Kau sedang marah saat ini. Vano, masuklah kekamarmu." Kata Jeslin sambil duduk disamping suaminya yang tengah terbakar amarah.
Vano lalu keluar dari rumah itu dan kembali keapartemenya.
Sasha sangat kaget melihat apa yang terjadi dengan Vano.
"Papamu menamparmu? Aku akan mengobatinya."
"Sudah biarkan saja. Ini memang sudah sering terjadi. Dia hanya bisa menampar, dan itu sudah dia lakukan dari dulu. Dia gila kehormatan dan kekuasaan. Dan tidak peduli pada kebahagian dan apa yang diinginkan orang lain."
"Walau bagaimanapun wajar saja jika papamu marah. Dia pasti shock dengan berita yang heboh. Entah siapa yang melakukan semua ini."
"Aku tidak ingin membicarakanya."
Sasha lalu mengambil kotak obat dan mulai mengoleskan krim padanya.
"Istirahatlah, apakah ada orang yang melihatmu kesini? Jika wartawan tahu kau ada disini maka...."
"Biarkan saja! Aku sudah tidak peduli lagi! Aku mau istirahat, bisa kau tinggalkan aku sebentar?" Kata Vano lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Sasha lalu pergi keluar kamar dan meninggalkanya sendirian.