
Mereka sudah sampai di Champ de Mars yang terletak di tepi sungai Seine, Paris. Regan turun dari mobil dan takjub melihat pemandangan yang indah terutama menara besi yang menjadi ikon global Perancis dan salah satu struktur terkenal di dunia, Menara Eiffel.
"Mami Regan mau keliling sama om Pras ya." Kata Regan sambil berlarian kesana kemari dan sesekali tangannya menggandeng lengan om Pras.
Ardy sudah turun dari mobil lebih dahulu sebelum mereka, tapi entah kemana dia menghilang begitu cepat. Nadiya juga tidak melihat kemana dia tiba-tiba lenyap dari pandangannya.
"Mami....lihat menara itu....ayo kita kesana!" Kata Regan setelah berlari dan kembali mendekati Nadiya yang sedang duduk diatas rumput bersama beberapa wisatawan lainya.
Kemudian Nadiya berdiri dan mengikuti kemana Regan mengajaknya.
"Ayo foto sini Regan....biar mami yang ambil gambar kalian berdua." Kata Nadiya yang sengaja mengambil background Menara Eiffel.
"Iya mami. Ayo om!" Regan memanggil Prasetyo dan mereka berpose dengan jenaka.
"Mami mana papi? Regan juga mau foto sama papi...."
"Mami tidak tahu kemana papi kamu pergi." Kata Nadiya.
"Regan tolong ambil gambar mami dan om ya?" Kata Prasetyo yang juga ingin mengabadikan momen bersama Nadiya.
"Iya Om. Ayo mami cepat kesana! Dekat sama om, biar Regan yang foto. Mami lebih dekat lagi. Buruan mami....." Kata Regan seperti fotografer saja tingkahnya.
Dari jauh Ardy melihat Prasetyo yang menaruh tanganya dibahu Nadiya dengan mesra membuat tanganya mengepal dan mukanya merah karena marah.
Kemudian dengan cepat Ardy berlari kecil dan mendorong Prasetyo agar menjauh dari Nadiya.
"Ngapain kamu dekat-dekat begitu? Tidak tahu malu!" Umpat Ardy. Prasetyo yang kesal dengan ulah Ardy yang mendorongnya dengan kasar ingin membalasnya, tapi kemudian amarahnya berhasil dia redam.
"Apaan sih mas. Datang-datang langsung main dorong orang sembarangan!" Gerutu Nadiya kesal.
"Heh kamu Nadiya! ngapain kamu mau dipegang-pegang sama pengawal kamu yang genit itu?" Ardy marah pada Nadiya karena tidak menolak saat Prasetyo merangkulnya.
__ADS_1
"Sudahlah mas itu bukan urusan kamu." Kata Nadiya sambil berlalu.
Namun Ardy mengejarnya sementara Prasetyo bermain bersama Regan dan membiarkan Nadiya menyelesaikan urusannya dengan Ardy. Karena surat cerai memang belum keluar sehingga Prasetyo tidak ingin memperkeruh suasana.
"Kamu marah saat aku melakukan satu kesalahan. Tapi lihat dirimu, kamu bahkan setiap hari bersama lelaki lain yang tidak jelas itu!" Ardy berkata dengan memojokkan Nadiya.
"Apa yang kamu dan aku lakukan itu berbeda dan tidak sama! Lagian sebentar lagi kita akan bercerai tapi kamu tidak bosan-bosannya terus mengungkit hal yang sama setiap kita bertemu." Kata Nadiya menjauh dari Regan putranya.
"Tentu saja sama. Aku melakukan satu kesalahan dan kamu melakukan lebih dari satu kesalahan. Pertama kamu menyimpan rahasia itu, kedua lari dari rumah, dan ketiga kamu bersama banyak pria setiap hari dan kamu masih merasa bahwa kamu tidak bersalah!?" Kata Ardy dengan nada tinggi.
"Hanya untuk ini kamu datang kesini mas? Kalau begitu pergilah. Aku mau liburan tidak mau berdebat denganmu. Aku juga tidak ingin menjelaskan apapun padamu. Kamu tidak akan pernah bisa mengerti. Jadi untuk apa aku menjelaskanya." Kata Nadiya membalikan badan dengan wajah merah karena mendengar kata-kata pedas dari Ardy. Sehingga mereka saat ini berdiri berhadapan. Tapi kemudian dengan cepat Nadiya membalikan badannya lagi dan berjalan menjauhi Ardy.
Ardy tersungut dan mengepalkan tanganya karena kehadiran bodyguard yang satu ini menambah keruh suasana. Dan semakin membuat Nadiya jauh dari dirinya. Bahkan Nadiya lebih keras kepala dari sebelumnya.
Pasti bodyguard mesum itu sudah meracuni pikiranya. Dan aku tahu apa tujuanya mendapatkan Nadiya. Pasti demi harta dan kekuasaan, apalagi jika bukan karena itu. Jika Nadiya bukan pewaris dari Tuan Alex aku tidak yakin bodyguard itu mengejarnya hingga keParis.
Dia muda dan keren, dia bisa mencari dan mengencani hadis lajang yang lebih cantik daripada Nadiya. Bahkan dia bisa mendapatkan yang perawan bukan ibu satu anak. Tapi aku heran kenapa dia tidak menikah diusianya yang sudah setua ini!? Dan malah terus mendekati Nadiya yang masih istrinya? Apalagi jika tidak untuk mengincar kekayaan Nadiya? Dan kamu Nadiya, aku heran kamu terus membiarkanya dekat-dekat denganmu. Gumam Ardy kesal karena Nadiya tidak menyadari kelicikan bodyguard mesum itu.
"Kita perlu bicara!" Kata Ardy dengan kesal.
"Baiklah. Singkirkan tanganmu dari lenganku!" Kata Prasetyo kepada Ardy yang mencengkeram lenganya.
"Menjauhlah dari Nadiya. Dia masih istriku. Gara-gara kamu dia menjadi keras kepala!"
"Itu tidak akan terjadi. Aku adalah bodyguardnya jadi sudah sepantasnya aku menjalankan tugas dan kewajibanku dengan baik. Terutama dari pria seperti anda." Kata Prasetyo dengan nada tenang tanpa terpancing emosi Ardy.
"Kamu rupanya menantangku!?"
"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai pengawal Nadiya. Terserah bagaimana menurut anda."
"Kamu rupanya pengawal tidak tahu diri!" Tangan Ardy melayang kepelipis Prasetyo, tapi dengan cepat Prasetyo menangkisnya.
__ADS_1
"Jagalah sikap anda dinegeri orang!" Kata Prasetyo kemudian meninggalkan Ardy dan berlari kecil kearah Nadiya.
Nadiya yang melihat dari jauh pembicaraan Ardy dan Prasetyo bertanya dan penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada. Kami hanya ngobrol biasa." Kata Prasetyo menutupi apa yang baru saja terjadi.
"Ohh...syukurlah kalau begitu. Regan mau ice cream, bisakah kamu tolong belikan untuk kami?"
"Iya om Regan mau makan ice cream."
"Baiklah. Om akan kesana untuk membeli ice cream." Kata Prasetyo.
"Regan ikut ya om. Regan mau pilih sendiri ice creamnya."
"Oke. Ayuk sini jalan sama om!" Kata Prasetyo dan berjalan menjauhi Nadiya.
Setelah mereka pergi Nadiya menatap Menara Eiffel yang menjulang tinggi dengan megahnya. Hal itu mengingatkanya pada percakapannya dengan Ardy beberapa tahun silam, saat dia masih menjadi istrinya dan hubungan mereka begitu harmonis.
Flashback*
"Nanti kita akan kesana saat papa libur kerja." Kata Ardy pada istrinya saat Nadiya membuka surat kabar dan terpampang gambar Menara Eiffel.
"Iya, Nadiya belum pernah kesana. Pasti menyenangkan bisa liburan kesana ya pa?" Kata Nadiya sambil jarinya meraba gambar sebuah Menara yang cantik.
"Tentu saja ma. Itu adalah Menara ikon global. Disana pemandanganya sangat menakjubkan."
"Semoga nanti kita bisa kesana ya pa? Apalagi kita bisa berlibur dengan anak-anak, Melihat mereka tertawa dan bahagia pasti sangat mengesankan." Ujar Nadiya yang saat itu belum dikaruniai seorang anak.
Namun tiba-tiba Nadiya divonis menderita kanker kandungan dan setelah sembuh Nadiya langsung hamil. Sehingga keinginannya tersebut belum terealisasi. Malah tidak lama setelah kelahiran putranya badai menghancurkan bahtera rumah tangga mereka. Hingga bahtera itu hanyut dan terbawa arus nyaris tidak bisa diselamatkan lagi. Kandas didasar lautan kekecewaan yang paling dalam.
__ADS_1