
"Nadiya, biarkan Edsel dan Eiden sama mami dulu. Kamu makan dulu sana." Kata Ibu Monic.
"Tapi mi...." Kata Nadiya yang merasa canggung harus duduk bertiga dengan Prasetyo dan juga Freya.
"Sudah Nadiya, makan dulu aja. Nanti sakit lho kalau telat makan." Kata Ibu Monic.
"Saya akan memanggil Pak Arya dulu. Sepertinya Pak Arya juga belum makan siang." Kata Nadiya.
"Ya sudah sana. Edsel! Eiden! Ayo naik keatas sama Oma." Kata Oma diikuti oleh Edsel dan juga Eiden.
"Ayo Oma....!" Kata Edsel dan juga Eiden sambil berjalan didepan Omanya.
Nadiya berjalan kehalaman rumah dan dia lihat Pak Arya baru saja selesai menelpon seseorang.
"Pak Arya! Mari makan siang dulu." Ajak Nadiya.
"Baik Bu." Jawab Pak Arya.
Saat Nadiya masuk, dengan manjanya Prasetyo ingin agar Freya menyuapinya. Freya yang sadar akan posisinya melihat kearah Nadiya yang akan duduk dimeja makan. Nadiya kemudian mengangguk kepada Freya, tanda dia setuju jika Freya menyuapi Prasetyo.
Sedangkan Arya hanya menatap mereka bertiga dengan tersenyum tipis. Dalam hati Arya berharap ingatan Prasetyo tidak pernah kembali.
"Aku juga akan menyuapimu, Freya. Sudah lama kita tidak bertemu. Dan ini untuk awal pertemuan kita." Ungkap Prasetyo dan ingin menyuapi Freya.
"Aku tidak usah. Aku bisa makan sendiri." Kata Freya merasa canggung harus berpura-pura menjadi kekasih Prasetyo didepan istrinya.
Nadiya mengambil lauk dan di taruh diatas piring Arya. Karena letak lauk itu lebih dekat padanya.
"Terimakasih Bu..." Kata Arya yang sudah lama tidak makan hasil masakan Nadiya. Dan momen ini tidak pernah datang setelah sekian lama.
Arya pun menyantap makanan itu dengan lahapnya tanpa mempedulikan Prasetyo yang asyik suap-suapan dengan tamunya. Bagi Arya menyantap makanan hasil masakan Nadiya lebih penting saat ini.
"Pak Arya nambah ya?" Kata Nadiya saat melihat Arya terlihat sangat lahap.
"Boleh Bu...masakannya sangat lezat, pasti Bu Nadiya yang memasaknya." Puji Arya.
__ADS_1
"Benar. Saya yang memasak semua ini. Dalam mobilisasi terbatas seperti ini kadang harus antri jika ingin memesan makanan direstoran. Jadi kami lebih sering masak dirumah." Kata Nadiya.
"Benar Bu."
"Tapi bulan depan sepertinya sudah mulai ada kelonggaran, Hotelpun sudah boleh buka 50%. Anak-anak juga sudah mulai bersekolah lagi untuk belajar tatap muka meskipun masih 50%." Kata Nadiya.
"Syukurlah jika begitu."
"Ohh ya, pak Arya, apakah Pak Arya masih bisa memegang Akunting perusahaan, jika keadaan sudah kembali normal?" Tanya Nadiya.
"Bisa Bu." Jawab Arya yang saat ini sudah memikirkan hal yang lainya selain menjadi bos mafia. Karena diapun tidak pernah menyangka bisa duduk satu meja dalam atap rumah yang sama dengan Nadiya. Apalagi dia juga tidak pernah menyangka Prasetyo akan mengalami amnesia.
"Aku akan mengantarkammu kekamarmu." Kata Freya yang melihat Prasetyo bangun dari tempat duduknya.
"Baiklah. Tapi jangan aku sudah sehat. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit." Kata Prasetyo sambil tersenyum manis.
"Baiklah." Kata Freya yang berdiri. Nadiya memandang Prasetyo dengan sudut matanya. Sedangkan Arya memandang Nadiya dengan tatapan sedih.
Jika Prasetyo tidak pernah mengingatmu. Dan ingatannya tidak pernah kembali. Datanglah padaku Nadiya. Aku akan menerimamu, meskipun kau sudah mengecewakan aku, gumam Arya.
"Oh ya Nadiya, dimana kamarku? Aku mungkin lupa dimana kamarku." Kata Prasetyo menoleh kearah Nadiya yang tepat ada dibelakangnya dan sedang menatap mereka berdua.
"Dari tangga lurus belok kanan." Kata Nadiya yang memang sudah mempersiapkan kamar untuk Prasetyo melalui anak buahnya. Dan sudah menurunkan semua foto tentang kebahagiaan mereka berdua dimasa sebelumnya.
"Terimakasih..." Kata Prasetyo lalu berjalan diikuti Freya disampingnya dan berjalan sesuai arah yang ditunjukan oleh Nadiya.
"Apakah ini kamarku?" Tanya Prasetyo kepada Freya.
"Benar. Ini adalah kamarmu. Dan semua dekorasi ini adalah warna favoritmu. Warna yang lembut dan tidak mencolok." Kata Freya.
"Apakah kau yang membuat dekorasi kamar ini?" Tanya Prasetyo.
"Bukan." Kata Freya.
"Lalu siapa?" Tanya Prasetyo heran.
__ADS_1
"Nadiya." Kata Freya.
"Nadiya? Aku pikir kaulah yang menghias semua dekorasi ini. Tapi...oh ya, aku ingat....Nadiya sudah lama tinggal dirumahku. Dia bilang tujuh tahun, jadi mungkin dia sudah mengenalku sangat dekat dan mungkin dialah yang selama ini mengurus keluargaku. Aku tidak bisa mengingat apapun." Kata Prasetyo sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Sudah Pras. Jangan terlalu memaksa mengingat apapun. Atau kepalamu akan sakit." Kata Freya sambil memapah Prasetyo duduk disamping ranjangnya.
"Menyebalkan sekali saat kita tidak mengingat apapun. Aku bahkan lupa dimana aku meletakkan semua pekerjaan kantorku." Kata Prasetyo.
"Tenanglah. Aku akan membantumu." Kata Freya sambil melihat sekeliling. Dan sekilas dilihatnya Nadiya berada didepan pintu kamarnya dan sedang melihat apa yang terjadi pada Prasetyo.
Nadiya lalu tersenyum pada Freya agar Freya merasa nyaman. Nadiya kemudian mengangguk dan pergi meninggalkan mereka berdua didalam kamar.
Prasetyo menganggapku sebagai kekasihnya, dan aku sangat canggung melakukan beberapa hal layaknya sepasang kekasih didepan istrinya. Jika bukan karena sebuah rasa yang kusimpan didalam hati maka, aku tidak akan sanggup melakukan semua ini, gumam Freya.
Aku pikir kita akan dipertemukan kembali sebagai jodoh yang tertunda, namun aku harus berpura-pura menjadi kekasihmu didepan istrimu. Dan itupun hanya karena kau saat ini hilang ingatan. Dan jika ingatanmu kembali maka, kau akan kembali kepada istrimu dan melupakan aku lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Dimana kau sama sekali tidak menghubungiku dan aku masih menunggumu.
"Freya....bisa kau ambilkan laptop ku." Kata Prasetyo membuyarkan lamunan Freya.
"Ya. Aku akan mencarinya." Kata Freya kemudian berjalan disekeliling kamar Prasetyo yang luas dan mencari laptop Prasetyo.
"Ini...." Kata Freya sambil menyerahkan laptopnya saat dia berhasil menemukanya.
Sementara Nadiya turun kebawah dan menemui Ibu Monic.
"Mami....apakah mami mau istirahat? Mari Nadiya antar jika mami ingin istirahat." Kata Nadiya dengan wajah yang sedih dan semua itu terlihat jelas oleh ibu Monic.
"Aku tahu kau sangat sedih Nadiya. Akupun sama. Aku sangat sedih dan tidak pernah menyangka Prasetyo akan kehilangan sebagian ingatannya." Kata Ibu Monic.
"Nadiya hanya berfikir, bagaimana jika ingatannya tidak pernah kembali mi. Dan kami tidak bisa hidup bersama lagi seperti dulu." Kata Nadiya dengan terisak yang sudah dari tadi dia tahan.
"Jangan berkata seperti itu Nadiya. Ingatan Prasetyo pasti kembali. Kita hanya harus bersabar, percayalah cintanya padamu begitu besar. Dan dia pasti akan kembali padamu. Kamu harus yakin. Jangan putus asa." Kata Ibu Monic.
Sementara dari balik dinding yang memisahkan ruang tamu dan dapur Arya mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Aku berharap ingatannya tidak pernah kembali." Bisik Arya sambil terus menatap Nadiya.
__ADS_1