Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Mencari penginapan


__ADS_3

Mereka kemudian memutar balik dan menjauh dari area yang akan dituju.


"Kita kemana sekarang?"


"Kita ke Jayapura saja!" Kata Freya.


"Apa!?" Tanya Prasetyo kaget. "Bukankah perjalanan ke Jayapura lama bahkan bisa dua atau tiga jam?"


"Mau bagaimana lagi. Polisi tadi bilang kondisi sedang tidak kondusif. Sebaiknya kita mencari hotel di kota. Disana akan lebih aman."


"Ahk! Kenapa harus seperti ini?" Keluh Prasetyo.


"Sudah kubilang, sebaiknya kau ngga usah ikut. Tapi kau terus memaksa. Mungkin jika kau tidak ikut maka jembatanya tidak akan roboh." Kata Freya yang tak kalah kesal.


"Apa hubungannya? Kau menyalahkan aku padahal jembatan itu roboh sebelum kita melewatinya." Kata Prasetyo tidak mau disalahkan.


"Sepuluh tahun aku disana belum pernah jembatan itu roboh. Dan baru sekarang jembatan itu roboh." Kata Freya kesal.


"Sudahlah! Jangan menyalahkan siapa-siapa. Bagus kita belum menyeberang kesana. Jika kita sudah menyeberang maka kita akan mengalami banyak kesulitan jika aksesnya terputus." Kata Nadiya.


"Semua ini memang sudah takdir." Kata Arya.


"Takdir? Apa maksudmu takdir?" Kata Prasetyo yang sedang kesal karena kelaparan.


"Yaaa...kita harus kembali dan tidak diijinkan masuk kesana. Mungkin kondisi disana berbahaya. Sehingga jika kita berhasil masuk, bisa saja terjadi apa-apa dengan kita. Itulah alasannya jembatanya roboh sebelum kita sampai." Kata Arya.


"Sok tahu kau." Kata Prasetyo. "Aku sangat lapar. Dimana ada orang yang menjual makanan?"


"Setelah kita sampai di Jayapura maka kita akan langsung makan." Kata Freya.


"Apakah tidak ada yang menjual makanan disepanjang jalan ini?" Tanya Prasetyo.


"Biasanya ada, hanya dari pagi sampai siang hari. Saat sore hari seperti ini mereka sudah kembali kerumahnya masing-masing." Kata Freya.


"Aku sangat lapar. Kepalaku jadi pusing karena kelaparan belum lagi panas sekali." Kata Prasetyo sambil menyeka keringat yang bercucuran meskipun didalam mobil.


"Pak Ac-nya apakah ngga bisa digedein lagi?" Tanya Prasetyo.


"Tidak bisa. Ac-nya sepertinya agak rusak." Kata sopir taksi.


"Panas sekali!" Kata Prasetyo dan membuka kemejanya.


"Apa yang kamu lakukan?" Kata Nadiya melihat Prasetyo membuka bajunya.


"Aku merasa sesak sekali. Apakah masih lama?" Tanya Prasetyo.


"Tidurlah. Nanti jika sudah sampai aku akan membangunkanmu." Kata Freya.


"Aku bahkan sesak untuk bernafas saja." Kata Prasetyo.

__ADS_1


"Sudahlah jangan banyak mengeluh!" Kata Nadiya. "Berdoa saja agar kita selamat sampai kehotel. Jangan sampai kita bertemu dengan perampok." Kata Nadiya.


"Kau kalau tidak berpikir tentang binatang buas ya perampok. Makanya kalau takut lain kali ngga usah ikut." Kata Prasetyo.


"Tapi memang benar pak. Jika hari mulai gelap maka banyak perampok dijalanan. Saya pernah membawa penumpang dan tiba-tiba sudah dihadang perampok saat melintasi hutan." Kata sopir itu.


"Benarkan ada perampok." Kata Nadiya kemudian tanpa sengaja memegang lengan Prasetyo. Saat ini Prasetyo duduk ditengah diantara Nadiya dan Freya. Sedangkan Arya duduk disamping sopir taksi.


Prasetyo menoleh kearah Nadiya. Dilihatnya wajah Nadiya benar-benar ketakutan. Keringat dingin mulai menetes dari punggung juga terlihat dikeningnya.


"Heehhh....Kau terlihat sangat ketakutan." Kata Prasetyo sambil melihat kearah Nadiya.


Nadiya tidak mempedulikan apa yang dipikirkan Prasetyo. Dia masih memegang erat lengan Prasetyo sambil melihat sepanjang jalan yang mereka lewati. Nampak banyak pohon dan rawa-rawa disepanjang jalan. Jarak antara satu desa kedesa lainya bisa berkilo-kilo meter. Satu desa hanya terdapat sepuluh dan paling banyak lima belas rumah. Itupun sudah nampak sepi, tidak ada yang berseliweran mondar-mandir.


Tidak ada lampu penerangan disepanjang jalan. Tidak juga terdengar suara adzan. Dan sekarang sudah menunjukan jam 6 malam. Matahari sudah benar-benar tenggelam oleh timbulnya dedaunan. Cahaya bulanpun masih belum berhasil menembus awan yang menutupinya.


Benar-benar sangat gelap. Hanya terdengar suara jangkrik dan juga burung malam. Untunglah lampu depan mobil terang sehingga bisa terlihat jalanan yang akan dilewati. Benar-benar sangat sunyi. Bahkan dikampung Nadiya yang dulu dia tempati tidak pernah sesunyi ini.


Ini pertama kalinya Nadiya merasa sangat ketakutan. Badannya terus menempel pada bahu Prasetyo.


Nadiya juga menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.


"Apa yang kau lakukan?" Kata Prasetyo kepada Nadiya. Sementara Freya sudah tertidur pulas karena kelelahan.


"Aku takut melihat keluar jendela."


"Jika kau takut ya jangan lihat. Lihat mukaku saja."


"Aku hanya bercanda. Kau serius amat?" Kata Prasetyo.


"Lihat disana banyak lampu penerangan. Mungkin sebentar lagi kita sampai di kota." Kata Prasetyo kepada Nadiya.


"Benarkah?" Tanya Nadiya.


"Lihatlah disebelah sana. Nampak lebih terang. Sepertinya kita sudah dekat dengan kota Jayapura." Kata Prasetyo.


"Benarkah?" Nadiya langsung membuka matanya dan menatap jauh kedepan.


"Lihatlah disana." Kata Prasetyo menunjuk kedepan. "Freya! Bangun! Kita sudah hampir sampai."


Prasetyo membangunkan Freya. Arya yang ketiduran juga terbangun saat terdengar suara berisik.


"Kita sudah sampai?" Tanya Arya.


"Belum. Hampir sampai. Itu disana ada hotel. Kita bisa menginap disana." Kata Prasetyo.


"Pak bisa dipercepat jalannya. Saya sudah sangat lapar." Kata Prasetyo.


"Baiklah pak."

__ADS_1


"Pak jangan ngebut-ngebut. Ini sangat berbahaya. Pelan-pelan saja...." Kata Nadiya.


"Ini sudah dekat Nadiya." Kata Prasetyo.


"Justru karena sudah dekat kita sebaiknya pelan saja. Jangan ngebut. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?"


"Tidak akan terjadi apa-apa. Sudah pak. Ngebut saja. Saya sudah lapar sekali." Kata Prasetyo kepada sopirnya.


"Pelan-pelan saja pak. Kita sudah hampir sampai." Kata Nadiya.


Shiiitttttt!


Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak.


"Pak! Kok berhenti? Kita kan belum sampai?" Tanya Prasetyo.


"Kepala saya pusing. Kalian mau cepat. Yang satu mau lambat. Sekarang kalian putuskan mau cepat atau lambat?"


"Cepat! Lambat!" Merekapun bersamaan menjawab. Prasetyo mau cepat dan Nadiya mau lambat.


"Gimana? Kalau ngga kita ngga akan sampai-sampai. Kalian terus saja bertengkar didalam mobil. Kepala saya pusing mendengarnya. Belum pernah saya mendapat penumpang seperti kalian." Kata Sopir itu marah-marah.


"Ya, maaf pak. Kami tidak akan membuat keributan lagi. Ya sudah jalanya jangan terlalu pelan dan jangan terlalu cepat." Akhirnya Prasetyo malu sendiri dan mengalah pada Nadiya.


"Ya sudah. Kita jalan sekarang." Kata sopir taksi itu.


Tidak lama kemudian mereka sampai didepan sebuah hotel.


Mereka berempatpun langsung turun dan menenteng koper masing-masing. Setelah membayar argo mereka masuk kedalam restoran. Rupanya disamping hotel ada restoran 24 jam.


"Ayo kita makan dulu. Nanti baru masuk hotel." Kata Prasetyo.


"Baiklah. Ayo kita masuk."


"Pak kami pesan makanan yang paling enak." Kata Prasetyo sambil duduk ditempat yang masih kosong.


"Baiklah, silahkan tunggu sebentar." Kata pegawai restoran tersebut.


"Silahkan dipilih. Ini menu makanan kami." Kata pelayan tersebut.


"Sepertinya semua makanan ini terasa lezat." Kata Prasetyo. "Cepatlah kalian pesan. Aku sudah sangat lapar."


"Kau seperti tidak makan berhari-hari saja." Kata Nadiya.


"Apakah kau tidak lapar?" Tanya Prasetyo.


"Semua orang tentu saja lapar." Kata Nadiya sambil memesan makanan.


"Apakah ini semua makanan asli daerah sini?" Tanya Prasetyo.

__ADS_1


"Benar pak." Kata seorang pelayan.


__ADS_2