
Pagi-pagi sekali Nadiya sudah tidak ada dikamarnya. Prasetyo mencarinya kemana-mana tapi tidak ada.
"Oma, Nadiya pergi kemana sepagi ini?"
"Ohh, dia sedang olahraga. Tuh lihat diluar!" Kata Oma menunjuk kearah halaman.
"Pasti karena gurauanya tadi malam. Dia jadi rajin berolahraga." Gimana Prasetyo.
"Kau bilang apa Pras?" Tanya Oma saat dia dengar putranya bergumam dan senyum-senyum sendiri.
"Baguslah kalau dia berolahraga. Itukan bagus untuk kesehatan. Daripada dia diet terus tapi malas berolahraga."
"Jika kau bilang seperti itu didepannya. Maka dia akan marah." Kata Oma sambil meminum susunya.
"Ya sudah! Aku akan menemaninya berolahraga." Prasetyo lalu keluar dan menemani Nadiya berolahraga.
"Kenapa kau kesini? Kau tidak kekantor?" Tanya Nadiya.
"Tidak! Aku akan ke kantor siang hari. Apakah kau mau ikut?" Tanya Prasetyo.
"Tidak. Aku mau ketempat Jeslin. Aku perlu melakukan pengukuran ulang untuk desain bajuku."
"Ya sudahlah, kalau kau tidak mau. Ayo kita lari kesana. Lari bagus untuk membakar lemak dibadan."
"Sepertinya aku harus diet lagi."
"Jangan!" Kata Prasetyo.
"Kenapa? Bukankah diet bagus untuk kesehatan."
"Percuma jika kau tidak berolahraga. Makanlah yang banyak, seperti biasanya, dan olahragalah setiap hari. Hasilnya akan lebih bagus."
Nadiya lalu tersenyum.
***
Prasetyo akan berangkat kekantor, tiba-tiba dia teringat jika tadi malam dia melihat Sasha didaerah sini.
Prasetyo lalu membelokan mobilnya kearah yang berlawanan dari jurusan kekantor ya.
Dan ternyata disana ada sebuah rumah sakit. Rumah sakit untuk ibu dan anak.
"Apakah Sasha semalam datang kesini?"
__ADS_1
Gumam Prasetyo lalu menghentikan mobilnya tidak jauh dari rumah sakit.
Ternyata dari jauh dia lihat Sasha sedang mencari taksi sambil menggendong bayinya.
Prasetyo dengan cepat memutar balikkan mobilnya dan berhenti tepat didepan Sasha.
"Masuklah! Ada yang perlu kita bicarakan!" Kata Prasetyo.
Sasha kaget karena ternyata yang didalam mobil itu Prasetyo.
"Masuklah!"
Sasha lalu masuk kedalam mobilnya.
"Anak siapa itu?" Kata Prasetyo pura-pura tidak tahu.
Sasha lalu menangis sesenggukan.
"Anak Sasha om."
"Berapa usianya?"
"Enam bulan om!"
Sasha diam saja.
"Om akan mengantarmu kerumahmu. Kau tinggal dimana?"
"Dijalan mawar om."
"Oke, om akan mengantarmu."
"Kenapa kau kerumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Aaron, dia sesak nafas, jadi Sasha membawanya kerumah sakit." Kata Sasha.
"Kenapa tidak dirawat saja?"
"Tidak om, dirawat dirumah saja. Sasha tadi sudah membeli obat untuk rawat jalan."
Prasetyo iba melihat keadaan Sasha. Mungkin dia tidak punya uang untuk merawat bayinya.
Prasetyo lalu menatap Sasha dan bayinya.
__ADS_1
"Sudah sampai." Prasetyo lalu turun dan membukakan pintu untuk Sasha.
"Ini rumahmu?" Tanya Prasetyo
"Iya om." Rumah tipe 36 saat ini menjadi tempat tinggal Sasha.
Saat tinggal dirumah Prasetyo bahkan kamar Sasha berukuran 36 meter.
Dan sekarang dia harus tinggal dirumah yang kecil bersama bayinya. Namun untunglah, keadaan diperumahan ini nampak asri dan bersih, meskipun rumahnya kecil-kecil.
Prasetyo lalu masuk dan melihat-lihat isi didalam rumah sederhana itu. Sasha hanya mampu membeli rumah ini dari sisa uang yang diberikan papanya Vano.
Sementara Om Arya sejak tidak ada kabar berita, tidak pernah mengirimkan uang padanya, apalagi sekarang setelah ditangkap polisi, beberapa asetnya disita karena melanggar aturan hukum.
Terpaksa Sasha harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan hidup dan membeli susu anaknya.
"Apakah ini warung milikmu?"
"Iya om, Sasha berjualan untuk kebutuhan sehari-hari."
Prasetyo mengangguk-angguk dan miris melihat keadaan Sasha yang sudah dia besarkan dari kecil hingga dewasa.
"Kau pasti mengalami masa-masa yang berat." Kata Prasetyo.
Sasha diam saja dan menidurkan bayinya ke ranjangnya.
"Kau tinggal dengan siapa disini?"
Sasha nampak diam saja. Namun karena bingung harus menjawab apa, dia akhirnya menceritakan bagaimana awal mula dia pergi dari rumah dan tinggal dipuncak. Lalu dia hamil dan dia tidak menikah.
Prasetyo berkaca-kaca mendengar ceritanya, dia lalu memeluk Sasha dan meminta maaf padanya.
"Maafkan kami, karena kami tidak bisa menjagamu dengan baik. Harusnya kau tidak mengalami ini jika saja...."
"Tidak papa om, semua mungkin memang sudah takdir. Cepat atau lambat Tante Nadiya juga pasti akan tahu asal usul Sasha. Mungkin ini sudah kehendak Tuhan. Dan sekarang Sasha juga belajar hidup mandiri dan belajar dari kesalahan dimasa lalu."
"Baiklah, besok om, akan kesini lagi. Jaga dirimu baik-baik. Gunakan ini jika kau membutuhkan sesuatu." Prasetyo lalu memberikan kartu yang dulu pernah ditinggalkan oleh Sasha saat dia pergi.
"Tidak usah om."
"Jangan menolaknya! Bukankah dulu kartu ini juga om berikan untukmu. Tapi kau meninggalkanya dikamarmu."
Akhirnya Sasha menerima kartu itu kembali. Dia memang sedang membutuhkan uang saat ini. Uang modal yang harusnya dia gunakan untuk belanja di pasar, dia pakai untuk membeli obat dirumah sakit.
__ADS_1