
Mereka terlihat sangat takut kepada Sasha seperti melihat hantu. Kemudian Sasha mencubit pipi mereka dan menatap mereka dengan tatapan isyarat.
Dan isyarat itu hanya diketahui oleh Edsel dan juga Eiden. Bagi yang melihat apa yang Sasha lakukan maka mereka berfikir jika Sasha sangat menyayangi dan peduli dengan Edsel dan juga Eiden dengan sikap gemasnya.
Namun sikap gemas yang ditunjukan Sasha kepada Edsel dan juga Eiden diterima oleh mereka sebagai isyarat untuk diam dan jangan mengatakan apapun.
Edsel dan Eiden pun mengangguk bersamaan. Kemudian Sasha berjalan melewati Prasetyo dan juga Nadiya sambil tersenyum manis.
"Sasha, kapan masuk kuliah?" Tanya Prasetyo.
"Minggu depan om."
"Kamu ngga tanya kabar Regan?" Tanya Prasetyo.
"Sudah Om. Kemarin malam. Regan senang kuliah disana."
"Kenapa kamu tidak mau kuliah bersama Regan di Harvard University? Kamu pandai dan juga biar kalian bisa saling menjaga." Kata Prasetyo sementara Nadiya menyiapkan makan untuk kedua anaknya.
"Tidak Om. Sasha mau kuliah disini saja. Pergi ke Amerika membuat Sasha teringat pada Mami dan masa kecil Sasha."
"Ohh ya sudah jika kamu tetap ingin kuliah disini."
"Sasha kekamar dulu ya Om." Kata Sasha sambil naik ke tangga.
Saat ini Prasetyo dan Nadiya sudah tidak tinggal di alamat yang lama. Mereka sudah membeli rumah yang baru dikawasan yang dekat dengan kantor Nadiya. Mengingat Nadiya harus mengurus kantor dan juga kedua anaknya yang masih kecil.
Rumah yang lama sudah dijual dan dibeli oleh orang lain.
Nadiya kemudian memanggil Edsel dan juga Eiden untuk makan. Mereka menatap maminya dengan ketakutan.
"Ayo sini makan!" Kata Nadiya yang sudah selesai menyiapkan dua piring nasi dengan lauk untuk mereka berdua. "Duduk disini."
"Mami masih marah ya?" Tanya Edsel. Sebenarnya Nadiya masih kesal dengan keduanya. Tapi saat melihat wajah polos mereka yang ketakutan saat menatapnya amarahnya langsung reda.
"Ngga, mami sudah ngga marah. Kalian makan dulu sini."
Edsel dan Eiden pun berjalan pelan dan duduk dimeja makan.
Mereka saling berpandangan dan kemudian kedua bocah itu tersenyum. Mereka memang sudah sangat lapar. Mereka menunggu dirumah dan tidak berani keluar kamar sampai orang tuanya kembali dari kepolisian. Sehingga waktu makan mereka terlambat dua jam.
Ada Sasha dirumah namu nampaknya dia tidak terlalu peduli pada sikembar. Ada juga pelayan yang bekerja namun diapun rupanya tidak berani mendekati sikembar akibat kenakalannya. Karena saat dekat dengan mereka, ada saja ulahnya yang membuat asisten rumah tangga menjadi kesal karena sering diusili oleh keduanya.
Nadiya duduk diseberang meja berhadapan dengan kedua anaknya. Entah kenapa dua tahun terakhir ini mereka menjadi sangat nakal. Mereka jauh berbeda dengan masa kecil Regan yang manis dan penurut. Apakah karena Oma dan Prasetyo yang menyayangi secara berlebihan atau karena sebab yang lainya.
__ADS_1
Nadiya terus memandangi keduanya yang makan dengan lahap. Dan dalam waktu sekejap makanan itu telah habis.
"Nambah lagi?" Tanya Nadiya.
"Tidak mami."
Kemudian keduanya akan bangun dan Nadiya mencegahnya.
"Duduk disini dulu. Kalian baru saja makan. Biarkan makananya turun dulu. Kalian mau lama sih?"
Mereka melihat keatas dan diatas sudah berdiri Sasha yang menunggu mereka dan memberi isyarat agar mereka cepat naik kelantai atas.
"Kami...kami mau kekamar mami..."
"Duduk disini sebentar saja. Sudah lama sekali mami tidak melihat kalian duduk dengan manis seperti ini."
Edsel dan Eiden kemudian berpandangan dan mereka sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang kalian lakukan saat Mami, Papi, dan Oma pergi kekantor polisi?" Tanya Nadiya.
"Kantor Polisi?" Mereka bertanya serempak dan terlihat sangat ketakutan mendengar tentang nama polisi.
"Kami dikamar seharian."
"Kami tidak senang mami. Kami takut..." Kata Edsel.
"Kalian bahkan kelaparan saat kami tidak ada dirumah, benarkan?"
Mereka berdua mengangguk.
"Jangan menelpon polisi lagi ya? Mereka sedang bekerja dan kalian tidak boleh mengganggunya dengan bermain-main dan membuat seperti adegan film antara polisi dan penjahat. Kalian mengerti?"
"Iya mami. Sekarang kalian periksa tas sekolah kalian. Apakah kalian sudah mengerjakan PR?"
"Belum Mami."
"Bawa kesini. Mami akan mengajari kalian."
"Iya mami."
Edsel dan Eiden kemudian naik keatas dan akan mengambil PRnya. Mereka terburu-buru sekali dan saat akan keluar dengan tas sekolahnya tiba-tiba kaki seseorang direntangkan dipintu sehingga merekapun jatuh bersamaan.
Mereka kemudian salin berpandangan dan menatap keatas.
__ADS_1
"Kenapa kau membuat kami jatuh?"
"Itu karena kalian tidak menurut kepadaku." Kata Sasha sambil menarik kakinya saat melihat kedua bocah itu jatuh.
"Mami berbicara kepada kami. Bagaimana kami akan pergi?"
"Cari alasan! Gunakan otak kalian! Bukankah kalian harus menjauhi mami kalian? Kalian ingat pesanku? Kalian tidak ingin kehilangan mami kalian bukan?" Kata Sasha dengan nada mengancam.
Terlihat kedua bocah itupun menggelengkan kepalanya.
"Bagus! Turuti apa kata-kata ku jika kalian tetap ingin bersama mami kalian."
"Iya mbak."
"Sekarang katakan kalau kalian akan mengerjakan PR dikamar." Kata Sasha kepada kedua bocah itu yang baru akan bangun dari lantai.
"Tapi kata mami kami harus mengerjakan PR dibawah. Mami akan mengajari kami."
"Kalian berani melawanku!?" Kata Sasha sambil melotot dan mengangkat tangannya untuk memukul keduanya.
"Ti-tidak."
"Baiklah. Sekarang katakan kalian akan mengerjakan PR dikamar. Cepat!"
Kemudian mereka berjalan dekat pembatas lantai tiga. Dan terlihat maminya sedang duduk menunggu keduanya untuk turun dan mengerjakan PR dilantai dua.
"Mami...kami akan mengerjakan PR dikamar saja."
"Ayo turunlah kalian. Mami akan mengajari kalian." Kata Nadiya sambil melihat kedua anaknya yang berdiri dilantai tiga.
"Kami bisa mami. PRnya mudah." Kata mereka kemudian menghilang sebelum Nadiya sempat berbicara.
"Sudahlah Nadiya. Biarkan mereka mandiri." Kata Omanya kemudian duduk disamping Nadiya.
"Tapi Nadiya masih tidak yakin jika Nadiya bisa mempercayai apa yang mereka lakukan Mami."
"Berikan mereka kepercayaan Nadiya. Jangan terlalu berlebihan mengatur keduanya. mereka bisa stress dan semakin nakal."
"Tapi mami...."
"Benar yang dikatakan mami Nadiya. Berikan mereka ruang dan jangan terlalu memaksakan kehendakmu kepada mereka." Kata Prasetyo menimpali.
"Sekarang kita makan saja. Biarkan mereka dikamarnya dengan tenang." Kata Ibu Monic.
__ADS_1
Sampai tiba-tiba terdengar jeritan dari lantai tiga.