
Polisipun menemukan beberapa sidik jari dikamar Shakira. Polisi lalu menemui kepala asrama untuk mengatakan bahwa ada empat orang yang akan dimintai keterangan dari sidik jari yang ditemukan.
Karena tidak ada bukti tentang siapakah kekasih Shakira, maka polisi membutuhkan beberapa keterangan dari teman-temanya yang pernah masuk kekamarnya.
Kepala penjaga lalu memanggil Sasha, Rossa, Jack, dan juga Vano.
Mereka harus kekantor polisi untuk diminta keterangannya. Dan mereka diharapkan bisa memberikan penjelasan yang nantinya bisa digunakan untuk mencari pelaku yang sebenarnya menyebabkan Shakira meninggal dunia.
Merekapun masuk kedalam kantor polisi satu persatu. Dan setiap orang ditanya selama satu jam. Setelah satu jam dimintai keterangan maka polisi mengijinkan mereka untuk pergi meninggalkan kantor polisi.
Empat jam sudah berlalu. Mereka berempat kembali ke asrama dan diperjalanan Jack semakin mencurigai Vano. Karena ada sidik jari Vano juga ditemukan dikamar Shakira.
Kalau mereka bertiga, jelas pergi untuk mencari alat bukti, tapi Vano tidak ikut bersama mereka. Untuk apa dia kekamar Shakira?
Didalam taksi.
"Sial! Ngapain gua ikut dipanggil kekantor polisi." Umpat Vano.
"Nah, itu yang mau gua tanyain. Kenapa Lo dipanggil kekantor polisi? Dan kenapa ada sidik jari Lo dikamar Shakira?" Tanya Vano.
"Iya Van! Gua ngga lihat Lo kesana. Ngapain Lo kekamar Shakira?" Tanya Rossa.
"Mungkin Shakira meminjam buku milik Vano. Jadi Vano mengambilnya disana." Jawab Sasha karena mereka seperti masih mencurigai Vano.
"Iya. Kalian terus saja memojokkan gua. Gua kesana seperti omongannya Sasha, gua kesana karena gua mau mengambil buku yang Shakira pinjam beberapa waktu lalu sebelum dia meninggal." Vano membuat alasan.
"Jadi Lo sempat dekat dengan Shakira?" Tanya Jack.
"Gua ngga dekat. Gua cuma kebetulan aja bertemu dia dikantin. Setelah itu dia mau pinjam buku, ya udah gua kasih. Eh! Tapi ngga dibalikin malah tahu-tahu dia sudah meninggal." Kata Vano agak gelagapan jawabnya. Dia tidak ingin Sasha menjadi seperti Jack yang mencurigainya.
"Ohh. Gua pikir lo....." Jack tidak meneruskan kalimatnya. Dia tidak ingin Vano tahu jika dia mencurigainya.
"Gua apa?" Kata Vano nantangin dan matanya melotot kesal.
"Sudah-sudah kalian jangan ribut aja. Lo juga jangan mojokin Vano kayak gitu Jack. Lo seperti menuduhnya kalau dia berbuat sama Shakira." Kata Sasha.
"Iya. Dia dari kemarin mojokin gua melulu. Sudah gua bilang kalau gua ngga dekat sama Shakira. Tapi Lo ngga percaya kan?"
"Tuh kan. Dengerin apa kata Vano. Dia mang ngga dekat sama Shakira, jadi stop! Jangan saling mencurigai diantara kita. Pelakunya pasti orang lain." Kata Sasha.
Taksi itupun sudah sampai gerbang asrama.
"Ayo kita turun! Kita sudah sampai!" Kata Rossa.
Sasha berjalan bersama Vano. Sementara Jack berjalan bersama Rossa.
"Sha! Malam ini lo ada acara ngga?" Tanya Vano.
"Ngga ada. Emang kenapa?" Tanya Sasha.
"Kita jalan yuk! Malam ini! Suntuk gua. Apalagi masalah Shakira yang membuat gua ikut jadi saksi." Kata Vano.
"Ehmm....gimana ya. Gua ngga tahu hari ini gua latihan ngga?" Sasha nampak menimbang dan matanya melihat keatas.
"Ayolah! Sekali ini bolos ngga papa kan?" Kata Vano.
__ADS_1
"Ya sudahlah. Tapi gua ngga mau ya pergi ke lorong bawah tanah lagi." Kata Sasha.
"Ngga! Ngapain kita kesana. Gua juga ngeri kalau kesana malam-malam setelah Shakira bunuh diri disana."
"Ya udah. Sampai ketemu nanti malam ya." Kata Sasha lalu berjalan kekamarnya.
Sore harinya
Vano sudah menunggu di gerbang asrama dengan mobilnya.
Dari jauh nampak Sasha sedang jalan mendekatinya dengan kaos putih, sweater abu dan celana jeans ketat. Dia juga memakai tas kecil yang dia cangklongkan dibahunya untuk menaruh handphone dan dompetnya.
Vano lalu memberikan senyuman termanis didunia dan mengagumi kecantikan Sasha.
"Masuklah!" Kata Vano sambil membukakan pintu depan untuk Sasha.
Sashapun masuk dan langsung memasang seatbelt nya.
"Kita akan kemana?" Tanya Sasha.
"Kepantai yuk! Didekat sini ada pantai yang sangat cantik. Kau pasti menyukainya." Kata Vano
"Ya sudah. Tapi bukankah pemerintah masih menutup beberapa tempat wisata?" Tanya Sasha.
"Ngga. Sekarang sudah banyak yang dibuka. Kasusnya positif semakin berkurang. Dan banyak tempat wisata yang sudah dibuka. Yang penting lo bawa masker kan?" Tanya Vano.
"Iya. Gua bawa masker. Lo bawa ngga?" Tanya balik Sasha.
"Gua juga bawa." Kata Vano sambil mengeluarkan masker dari sakunya.
"Pake aja maskernya. Daripada kena razia." Kata Sasha yang juga memakai maskernya.
"Jalan sekarang yuk!" Ajak Sasha.
Merekapun berbicara sepanjang perjalanan dan Sasha merasa senang bisa ngobrol lama dengan Vano.
Entah kenapa dia jatuh cinta sama Vano padahal sahabatnya Jack juga tidak kalah gagah dan tampan dari Vano.
Namun dari pertama kali Jack mengenalkannya pada Vano Sasha langsung jatuh hati. Meskipun kalanya melarang dan banyak berita buruk tentang Vano, sepertinya semua itu tidak berpengaruh pada perasaan Sasha terhadap Vano.
Memang kata orang ada benarnya juga. Cinta itu tidak terlihat dan hanya bisa dirasakan. Dan jatuhnya kadang pada hati yang tidak terduga sebelumnya. Jatuhnya tidak bisa diprediksi kepada siapa hati itu akan terpaut.
Jika hati yang sudah berbicara maka akal sehat pun seperti melemah. Dan hanya kata hati yang diturutkanya.
"Kita sudah sampai." Kata Vano lalu turun dan membukakan pintu untuk Sasha.
"Kau benar. Pemandanganya sangat indah. Aku sangat menyukainya." Kata Sasha.
Mereka lalu berjalan dan menyusuri pinggir pantai sambil bercanda dan tertawa.
Vanopun membuat tanda cintanya dari mengumpulkan kerang disepanjang pinggir pantai. Dan dari kerang-kerang yang sudah ditinggalkan pemiliknya, diapun membuat garis berbentuk hati.
Kemudian dia menunjukan ya kepada Sasha.
"Sasha! Kemarilah!" Teriak Vano dari kejauhan.
__ADS_1
Sashapun berlari mendekatinya.
"Woowww...bagus sekali. Ini sangat indah." Kata Sasha.
"Ini untukmu." Kata Vano.
"Ini ada maknanya loh!" Kata Vano kemudian.
"Apa maknanya?" Tanya Sasha penasaran.
"Maknanya adalah....hatiku telah kuberikan pada seseorang. Dan pemilik hatiku saat ini adalah..." Vano menatap Sasha yang jongkok didepanya.
"Kamu..." Kata Vano sambil megang bahu Sasha dan membantunya berdiri.
Sasha lalu tersenyum dan merebahkan kepalanya pada bahu Vano.
"Aku serius ingin agar kita membuat hubungan yang kuat." Kata Vano.
"Tapi...."
"Kali ini jangan ada tapi. Aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu." Kata Vano.
"Tapi..." Sasha masih ragu dengan kesungguhan Vano.
"Jangan ada tapi. Kau cukup mengangguk dan itu sudah cukup."
"Tapi...."
Vano lalu menutup bibir Sasha dengan salah satu telunjuknya.
"Aku tahu jika saudaramu Regan tidak menyukaiku. Tapi aku sungguh mencintaimu." Kata Vano.
"Akan aku pikirkan. Dan nanti aku akan memberikan jawabannya." Kata Sasha.
"Baiklah. Aku akan menunggu jawabannya hingga besok malam." Kata Vano.
"Kita pulang sekarang yuk!" Ajak Sasha. "Hari semakin malam. Nanti pintu asrama keburu dikunci sama Mr. Jordan." Kata Sasha.
"Baiklah. Ayo....." Kata Vano sambil menggandeng Sasha berjalan kemobilnya.
Sementara Jack yang seharian tidak melihat Sasha, pergi kekamarnya dan bertanya kepada Madina.
"Dimana Sasha? Aku tidak melihatnya seharian?" Tanya Jack.
"Pergi sama Vano." Jawab Madina tanpa menoleh. Madina sedang sibuk dengan laptopnya. Dan sepertinya dia sedang mengerjakan tugas penting dari dosennya.
"Oke deh. Gua cabut. Gua pikir ada Sasha." Kata Jack sambil keluar dari kamar Sasha.
Tidak berapa lama merekapun sampai diasrama.
Setelah memarkir mobilnya Vanopun kemudian berjalan disamping Sasha dan akan mengantarkanya hingga kekamarnya.
Saat ini mereka melewati lorong yang gelap. Dan merekapun melihat seseorang berjalan kekamar Shakira.
Orang itu badanya besar dan tegap.
__ADS_1
Vanopun langsung menarik Sasha dan bersembunyi saat orang itu tiba-tiba menoleh kebelakang.
Orang itu sangat mencurigakan. Kenapa malam-malam harus pergi kekamar yang bekas dipakai Shakira? Pikir Vano.