Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
ARDY MASIH HIDUP


__ADS_3

Nadiya sedang memegang sebuah undangan ditanganya.


"Karina akan menikah." Kata Nadiya sambil membuka undangan itu.


"Acaranya besok malam."


Prasetyo kaget karena dia tidak tahu soal itu.


"Dia akan menikah dengan Danar?"


"Danar?" Ujar Prasetyo sedikit meninggikan suaranya. Alisnya berkernyit.


"Ya....aku juga kaget dan tidak menyangka. Setelah berpisah dari Joan dia akhirnya menjalin hubungan dengan Danar "


"Danar pria yang baik." puji Prasetyo.


"Kau benar. Dengan Joan, hubungan mereka seperti bukan pernikahan. Joan tidak mau punya anak dari Karina."


"Apakah kita akan menginap dirumah Papi? Bagaimana kalau kita menginap disana? Acaranya besok bukan?" Kata Prasetyo.


"Baiklah. Anak-anak pasti sangat menyukainya." Nadiya lalu pergi menemui Edsel dan juga Eiden.


Mereka sangat senang karena sudah lama tidak menemui kakeknya.


"Ayo kita pergi sekarang mami!"


Mereka lalu pergi kerumah keluarga Nadiya.


Sampai dirumah papinya, terlihat semua keluarga sedang berkumpul. Ada Karina dan juga Danar disana.


"Kemarilah, cucu-cucuku sekarang sudah besar ya? Ayo ikut kakek! Kakek punya hadiah untuk kalian." Mereka lalu kekamar kakek Alex dan memberikan sebuah mobil-mobilan dengan remote kontrol.


Sementara Nadiya berbicara pada Danar.


"Selamat ya, kami tidak menyangka ternyata kalian akan menikah."


"Iya, setelah Karina bercerai, kami sering pergi bersama-sama untuk urusan bisnis. Dan kami mulai akrab dan memutuskan untuk menikah."


Kata Danar tersipu.


Mereka berbincang-bincang santai sambil bersiap untuk pesta besok.

__ADS_1


***


Karina keluar dengan gaun yang sederhana, karena ini pernikahan kedua untuknya, sehingga dia tidak ingin terlalu mewah.


Pernikahan diadakan didalam restoran dengan konsep yang sederhana. Hanya dihadiri oleh kedua keluarga dan sahabat serta beberapa kerabat.


Tiba-tiba Nadiya terkejut saat matanya melihat pada dua tamu yang baru datang. Dia adalah sahabat lamanya, Dara....


Namun siapa lelaki yang disampingnya itu? Itu jelas bukan Joan dan bukan pria yang dia lihat waktu itu.


Ternyata Dara bersama Tuan Adam, dulu Ardy mantan suaminya bekerja pada perusahaanya. Nadiya memang tidak terlalu mengenalnya, namun beberapa kali mereka bertemu dalam urusan bisnis.


"Dara?"


"Nadiya! Kenalkan, ini suamiku Adam."


"Nadiya." Nadiya lalu menjabat tangan Tuan Adam dan tidak lama kemudian Prasetyo juga datang.


Mereka berbincang-bincang sampai acara dimulai.


"Dara, kau tidak mengundangku dihari pernikahanmu?"


"Benarkah?" kata Nadiya. " Aku tidak pernah menerima undanganya. Kapan kau mengundangku."


"Beberapa bulan yang lalu."


"Ohhh...ya. Maaf ya, aku tidak datang." Nadiya ingat jika beberapa bulan yang lalu dia tinggal bersama Bu Sandra.


"Semoga kalian bahagia." Kata Nadiya yang ikut senang karena sahabatnya akhirnya memutuskan untuk menikah lagi, setelah sebelumnya dia berpikir jika dia tidak akan menikah lagi untuk seumur hidupnya.


***


Setelah acara selesai Nadiya berbaring disamping suaminya.


"Banyak sekali yang aku lewatkan saat aku tidak disampingmu."


"Ya...aku juga berpikir begitu. Kehidupan terus berjalan dan mereka semua memutuskan apa yang terbaik untuk hidup mereka."


"Terlebih Danar, aku tak percaya dia bisa meyakinkan Karina untuk menikah denganya. Kau lihat kan? Dia begitu dingin dan sederhana? Dia hanya memikirkan pekerjaan saja dan selama dia bekerja denganku, dia tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun." Kata Nadiya.


"Ya, beberapa kali dia datang keperusahaanku dan dia terlihat sangat sederhana dan sedikit kuno dalam gaya pakaiannya. Namun, pasti Karina menikahinya tidak melihat dari penampilannya saja, sebagaimana dia pernah tertipu oleh Joan. Mungkin Danar adalah pria yang baik dan perhatian."

__ADS_1


Prasetyo lalu merengkuh Nadiya dalam pelukannya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, namun aku takut kau syok mendengarnya."


"Apa?" Tanya Nadiya menatap wajah Prasetyo dengan lembut.


"Anak buahku mengatakan hal yang tidak terduga."


"Apa itu?"


"Polisi mengatakan jika Ardy masih hidup."


"Ardy? Maksudmu Ardy?"


"Ya....Ardy masih hidup."


"Tapi bagaimana mungkin? Ini tidak masuk akal. Bukankah Ardy sudah meninggal dalam kebakaran waktu itu?"


"Ya, polisi menemukan sebuah sidik jari dan beberapa hal yang bisa dijadikan bukti jika Ardy, masih hidup."


"Dimana dia selama ini?" tanya Nadiya penasaran.


"Entahlah. Kita tunggu saja kabar selanjutnya. Jika dia masih hidup, artinya selama ini dia sembunyi di suatu tempat." Kata Prasetyo.


Nadiya menarik nafas panjang, dan memejamkan matanya.


"Aku harap, kabar ini tidak berpengaruh padamu." Kata Prasetyo.


"Tentu saja tidak. Apa maksudmu berpengaruh padaku?"


Prasetyo lalu menghela nafas panjang dan memeluk Nadiya.


Dia mulai membuka kancing baju Nadiya satu persatu dan membenamkan wajahnya disana.


Tek!


Tangannya mematikan lampu dan malam ini menjadi malam yang menggairahkan bagi mereka.


Tidak ada yang mengganggunya karena mereka menginap di hotel yang berbeda dengan keluarga.


Hanya ada mereka berdua, karena kedua anak kembarnya memilih untuk tinggal bersama kakeknya selama beberapa hari.

__ADS_1


__ADS_2