Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Saran dokter


__ADS_3

Keesokan harinya seorang perawat membawa sarapan untuk Vano.


"Dimana dokter itu?" tanya Vano kepada perawat karena sejak pagi dokter belum memeriksa keadaanya.


"Dokter datang terlambat hari ini." kata perawat sambil membetulkan letak selang infus. Dia juga mengelap badan Vano dan mengganti bajunya.


"Aku bisa melakukanya sendiri." kata Vano malu-malu.


"Kau tidak bisa melakukanya." Kata Perawat itu kepada Vano.


Sudah menjadi pekerjaan perawat untuk merawat pasiennya. Dari mengganti baju, membersihkan badannya, menyediakan makanan dan segala kebutuhan lainya.


Namun Vano termasuk salah satu pasien yang bawel dan pemalu.


Bahkan dia merasa sungkan saat perawat itu membuka kancing bajunya.


"Bisakah kau pejamkan matamu." kata Vano pada perawatnya.


"Tidak. Sudah tugas kami untuk membantu pasien. Kau seperti tidak pernah dekat dengan wanita saja." gerutu perawat itu.


"Tapi biasanya aku yang membuka baju mereka, bukan mereka yang membuka bajuku." kata Vano dan membiarkan perawat itu membuka kancing bajunya satu persatu.


"Kau pasti suka memperdaya mereka dengan wajahmu yang tampan itu." ups, suster jadi tertawa geli karena keceplosan.


Sementara Vano langsung mengambil sprei yang belum terpasang untuk menutupi dadanya yang telanjang.


"Kenapa kau tertawa? Kau mentertawakan apa? Aku sering ngegim, badanku juga lumayang berotot." kata Vano sambil menunduk dan melihat otot perutnya.


Perawat itu semakin tertawa geli melihat kelakuan Vano.


"Aku bisa memakainya sendiri." kata Vano sambil meraih baju ditangan perawat itu.


"Baiklah. Silahkan coba." Dan ternyata benar apa yang dikatakan perawat itu. Dia kesulitan memakai baju sendirian.


Akhirnya perawat membantunya.


"Jika semua pasien bisa melakukan semuanya sendiri dan tidak membutuhkan kami, maka akan banyak perawat yang menganggur. Kau mau seperti itu?" kata Perawat itu dengan menatap Bank dengan tajam.


Vano diam saja dan tidak berekspresi.


"Sekarang buka celanamu!" kata Perawat itu sambil melihat kecelana Vano.


"Apakah ini juga harus dibuka?"

__ADS_1


"Apakah kau tidak akan mengganti celanamu selama seminggu?"


"Aku tidak bisa melepasnya." kata Vano.


"Jika dia tidak mau melepaskannya, biarkan aku yang melepaskannya." kata dokter yang berdiri dipintu.


Vano dan perawat sontak langsung menoleh kearahnya.


"Dokter!" sapa perawat itu.


Sementara Vano diam saja.


"Ya sudah, lepaskan saja suster." kata Vano akhirnya menyerah dan membiarkan suster itu melepaskan celananya.


Vano lalu mengambil sprei untuk menutupi badannya dari penglihatan dokter yang baru saja datang.


"Kau sudah menyita waktuku hingga satu jam." kata perawat itu.


Vano diam saja.


Lalu perawat itu pergi setelah mengganti baju, celana dan sprei dikamar Vano.


Perawat itu lalu keluar dari kamar Vano untuk mengurusi pasien yang lainnya.


Sementara dokter masuk dan memeriksa Vano.


"Perawat tadi kesal, kau pasti menyulitkan pekerjaannya." kata dokter kepada Vano.


"Dia akan mengganti bajuku. Aku sangat malu." kata Vano.


"Orang lain justru senang, karena dilayani oleh suster yang cantik dan muda sepertinya." kata dokter itu.


"Dia genit." kata Vano.


"Kau banyak alasan!" kata dokter lalu akan meninggalkan ruangan Vano.


"Dokter, bisakah kau pergi setelah aku sarapan?" pinta Vano kepada dokter yang sudah selesai memeriksanya.


"Apa?" dokter itu sudah berjalan sampai dipintu. Lalu dia menoleh dan tersenyum pada Vano.


"Aku ingin kau duduk disini selagi aku makan." kata Vano yang merasa tidak nyaman makan sendirian.


Dokter itu lalu berbalik dan mendekatinya.

__ADS_1


"Apakah kau ingin agar aku juga menyuapimu?" canda dokter tersebut.


"Makanlah, aku akan duduk sebentar disini." kata dokter sambil menatap Vano makan dan menyuap nasinya perlahan.


"Sudah kubilang, bawalah salah seorang temanmu kemari." kata dokter memberikan saran kepada Vano.


"Kau kesepian bukan?"


"Kau selalu ingin berbicara kepadaku. Karena tidak ada teman yang kau ajak bicara."


"Jika kau tidak bisa memintanya, biarkan aku membantumu menelponnya." kata dokter itu selagi Vano makan, hingga makanannya habis.


Vano diam saja dan hanya mendengarkan apa yang dikatakan dokter tanpa membantah dan tanpa meresponnya.


"Kau punya nomor teleponnya?" tanya dokter kepada Vano yang sudah selesai makan dan mengelap tangannya dengan tisu.


"Akan aku pikirkan." kata Vano lalu rebahan diranjangnya.


Dokter itu kemudian memanggil perawat untuk membereskan bekas makanan Vano. Setelah itu dokter kemudian pergi dan melakukan tugasnya untuk merawat pasien yang lainnya.


Siapa yang bisa aku panggil kemari?


Sasha?


Elena?


Rossa?


Ohh tidak! Mereka membuat aku ada dibawah standar lelaki jantan.


Mereka akan menatapku dengan tatapan menyedihkan!


Vano? Anak seorang gubernur terkenal! Menderita kanker payudara? Lihatlah wajahnya yang tampan tapi dia cacat? Dia menderita cancer? Umurnya tidak lama lagi! Dia tidak sempurna! Kasihan sekali nasibnya? Wajahnya yang tampan seperti hilang dan tenggelam oleh penyakit cancer! Bisikan dari sanubarinya sendiri justru semakin membuatnya down.


Kasihan!


kasihan!


kasihan!


Aku benci kata kasihan dari orang lain!


Sekarang aku putuskan untuk memberitahu seseorang!

__ADS_1


Aku butuh beberapa sarannya!


Otakku mulai tidak waras, jika terus seperti ini!


__ADS_2