
"Untuk apa kamu minta maaf? Setelah mempermalukan aku dan membuat gosip murahan disurat kabar, kamu pikir maafmu bisa memperbaiki semuanya?"Kata Nadiya geram.
"Maafkan aku Nadiya. Aku sungguh tulus minta maaf padamu. Aku janji hal seperti itu tidak akan terulang kembali." Kata Ardy mengiba.
"Apa yang sudah kamu katakan, tidak mungkin bisa kamu tarik kembali. Mereka mulai bergosip tentang diriku akibat perbuatanmu. Dan itu sangat memuakkan!"
"Aku tahu kamu sangat marah dan membenciku akibat perbuatanku. Tapi aku tidak sanggup melihat kebencian di matamu terhadap diriku. Aku akan menebus kesalahanku dan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf darimu."
"Sungguh kau akan melakukan apapun demi diriku?" Kata Nadiya sambil memikirkan sesuatu.
"Iya. Katakanlah."
"Jauhi diriku. Itu saja permintaanku. Maka aku akan memaafkanmu dan melupakan kesalahanmu. Kita bersama hanya karena Regan, tapi tidak ada hubungan apapun diantara kita."
"Sungguh kau ingin agar aku menjauhimu?"
"Iya. Kau selalu menciptakan masalah jika dekat denganku. Mulai sekarang menjauhlah dari kehidupanku. Bukankah seharusnya mulai sekarang kita tidak perlu mencampuri urusan privasi diantara kita. Kita sudah berpisah. Sudah selayaknya kita saling menghormati privasi masing-masing."
"Aku tidak bisa melakukanya. Mintalah apapun tapi tidak untuk menjauhimu. Untuk satu hal ini, maaf aku tak bisa melakukanya." Kata Ardy sambil menghempaskan nafas dengan berat.
"Kenapa kau tidak bisa melakukanya? Itu permintaan mudah bukan? Kita sudah resmi bercerai, kau harus ingat itu. Dan kita akan melakukan kerjasama yang baik demi Regan. Jadi sebaiknya jauhi diriku. Bukankah aku sudah membebaskanmu? Kau bebas melakukan apapun sesuka hatimu" Ungkap Nadiya kesal karena Ardy yang keras kepala.
"Hentikan Nadiya. Bagiku aku tidak peduli dengan selembar surat yang kau kirimkan kerumahku. Bagiku kau masih sama dan tidak ada yang berubah. Kau tetap Nadiya yang aku cintai selamanya. Tak ada yang akan merubahnya. Aku tidak peduli dengan secarik kertas itu."
"Ardy bersikaplah dewasa. Apakah kau akan melawan hukum?" Kata Nadiya semakin geram.
__ADS_1
"Apapun akan aku lakukan demi mendapatkanmu kembali. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik siapapun. Kau hanya akan menjadi miliku sekarang dan selamanya!" Ardy berbicara dengan penuh keyakinan dan penekanan pada setiap kata-katanya.
"Ardy! Hentikan omong kosongmu! Kamu benar-benar kelewatan! Kamu bukan Ardy yang aku kenal dulu. Hhhhh kamu sangat berubah...."
"Iya! Aku memang sudah berubah! Cintaku padamu yang membuat aku gila! Kamu yang sudah membuatku menjadi seperti ini!"
"Stop Ardy! Jangan berdalih! Cukup sudah sandiwaramu ini. Aku tidak mempercayaimu lagi. Kamu tidak akan mengerti apapun jika masih bersikap keras kepala seperti ini!"
Kata Nadiya sangat kesal. Minta maaf tapi ujung-ujungnya malah bikin tensinya naik. Aku bisa gila jika bertemu denganmu setiap hari.....gumam Nadiya.
Sementara dari jauh Regan lari kearah mami dan papinya. Wajahnya sumringah dan nampak aura kebahagiaan terlukis jelas di wajah polosnya. Senyumnya terukir indah tanpa dosa. Tanganya melambai kepada kedua orangtuanya. Sekilas hubungan mereka terlihat harmonis dan bahagia. Seperti satu kesatuan keluarga yang lengkap dan utuh.
Tidak ada yang membuat Regan bahagia selain melihat mami dan papinya berdiri di sana bersama seperti orang tua yang lainya. Mereka juga terlihat bahagia dimata Regan. Senyum maminya dari jauh adalah kekuatan dan sumber kebahagiaanya. Dan kehadiran papinya merupakan lambang keluarga yang utuh.
"Mami.....papi......"Teriak Regan setelah berada didekat mereka."Regan mendapat juara mami! Tapi...Regan hanya juara 3...Padahal Regan berusaha agar dapat juara satu..." Kata Regan dengan wajah sedikit kecewa.
******
Diluar Prasetyo sedang duduk sambil minum kopi di food court yang ada disamping sekolah. Pikiranya melayang dan tidak yakin bahwa dia sudah melakukan tindakan sejauh ini demi Nadiya. Banyak gadis lain diluar sana, tapi entah kenapa hanya Nadiya yang singgah dihatinya.
Tak pernah dia pikirkan sebelumnya jika dia benar-benar bahagia bila dekat dengan Nadiya. Dia adalah wanita yang sempurna dimatanya. Akhirnya Prasetyo senyum-senyum sendiri mengingat hal-hal menyenangkan yang sudah dia lewati bersama Nadiya.
"Mbak tolong kesini. Saya pesan satu minuman lagi." Kata Prasetyo karena minuman yang dia pesan sudah habis. Dan dia pikir masih akan menunggu lama. Tapi baru saja dia pesan minuman, dari jauh dia lihat Nadiya datang bersama Regan. Matanya mencari sosok trouble maker alias Ardy, dan dia tidak melihatnya bersama Nadiya.
"Oommm!" Panggil Regan dari kejauhan dan berlari kearah Prasetyo. "Om juga ada disini ya? Om tadi lihat acara Regan tidak? Regan dapat juara tiga om!"
__ADS_1
"Wah kamu memang anak hebat!" Puji Prasetyo sambil menggendongnya. "Duduklah disini tuan muda. Mau pesan minuman apa? Kalian pasti belum minum bukan?" Tanya Ardy.
"Iya Om. Regan haus... Regan mau milkshake saja." Kata Regan dan duduk disamping maminya.
"Ya sudah om pesan dulu ya." Kata Prasetyo sambil memesan satu gelas milkshake.
"Kamu mau apa Nadiya?"
"Aku jus sirsak saja."
"Baiklah aku pesankan dulu. Mbaaakk...pesan milkshake satu dan jus sirsak satu."
"Baiklah."
Kemudian dari balik pintu food court terlihat Ardy sedang mengawasi Nadiya dan Prasetyo. Ardy sangat geram karena Nadiya berbicara manis padanya. Sedangkan jika dengan Ardy bicaranya tidak ada manis-manisnya. Ardy terus mengawasi Prasetyo yang tertawa bersama Regan putranya.
Tadi Ardy berpamitan pada Nadiya akan langsung kekantor tapi ternyata dia mengurungkan niatnya saat dilihatnya Prasetyo bersama mereka dan mereka seperti satu keluarga saja. Hati Ardi makin panas saja melihat kemesraan mereka. Terutama dia sangat kesal pada bodyguard yang sengaja mendekati Nadiya dan membuat hubungan mereka kandas.
"Jika tidak ada bodyguard itu, maka Nadiya pasti tidak akan menjauhinya. Pasti si biang kerok itu sudah mencuci otak Nadiya. Aku harus menjauhkan mereka dengan segala cara. Takkan kubiarkan mereka bersama dan terutama merebut Nadiya juga putraku dari diriku. Aku harus mulai menyusun rencana untuk membuat mereka berpisah." Kata Ardy bergumam pelan.
******
Karina sedang menyiapkan makanan dan buah juga cemilan lainya untuk dia bawa ke tempat Joan.
"Ngapain kamu repot-repot bawa makanan segala! Mami heran sama kamu!" Hardik ibu Sofia dengan keras hingga mengagetkan Karina yang sedang memasukan barang-barang kedalam kardus.
__ADS_1
"Apaan sih mami, Karina kan mau kasih semua ini buat Joan, dia itukan suami Karina. Jadi wajar kan kalau Karina kesana nengokin Joan. Mami bikin Karina kaget saja. Hampir saja jantung Karina mau copot!" Ujar Karina sambil tersungut.
"Terserah kamu. Tapi mami benar-benar ngga habis pikir sama kamu. Sampai segitunya sama si bodoh itu." Kata Ibu Sofia sambil melangkah keluar dari ruangan itu.