
Didalam taksi, hari masih terlalu pagi. Kabut bahkan masih menutupi sebagian jalanan yang dilewati Sasha.
Embun membasahi setiap daun yang menghijau. Matahari masih sembunyi diantara megahnya bangunan kota metropolitan.
"Kita kejalan Pantai indah kapuk pak." kata Sasha kepada sopir taksi itu.
"Baiklah neng." sopir taksi itu lalu berputar arah dan menuju jalan pantai indah kapuk.
Saat ini jalanan masih lengang karena masih pagi.
Sasha lalu berhenti disebuah warung nasi uduk yang ada didekat pasar sebelum masuk ke perumahan.
Sasha lalu melihat uang didompetnya yang pas-pasan.
Setelah membayar taksi, Sasha lalu menyimpan sisa kembalianya.
Dia lalu duduk dikursi yang disediakan oleh penjual nasi uduk.
"Tante tidak pernah melewati jalan ini. Sebaiknya aku sarapan dulu dan nanti jam 9 aku akan menelpon om Arya. Jika aku menelpon sekarang, mungkin om Arya belum bangun." kata Sasha lalu duduk dan memesan nasi uduk.
"Berapa bungkus neng?" tanya penjual itu.
"Satu porsi saja Mpok, saya makan disini." kata Sasha sambil menunggu waktu agak siangan.
"Tunggu ya neng," kata penjual itu karena dua baru saja buka.
"Pagi sekali, bawa koper mau kemana neng?" tanya Mpok itu sambil membuka daganganya.
"Saya mau keluar kota Mpok," jawab Sasha asal aja. Dia juga bingubg mau jawab apa. Haruskah dia jawab kalau dia pergi dari rumah alias kabur?
"Ohh...ini neng. Silahkan. Mau sama minuman ngga neng?" tanya Mpok itu ramah.
"Boleh, yeh manis hangat saja," kata Sasha.
Lalu Sasha menyingkirkan kopernya agak kepinggir dan dia mulai memakan sarapannya.
Setelah selesai makan Sasha melihat jam ditanganya dan ternyata masih jam 06.00 pagi.
"Saya boleh duduk disini dulu Mpok?"
"Boleh neng, silahkan," jawab penjual itu sangat ramah.
Sasha lalu tersenyum. Mpok ini sangat baik dan ramah, masakanya juga enak. Pantas saja begitu baru buka yang beli pada antri.
Mereka sepertinya sudah tahu jam dasar warung nasi uduk ini.
Tidak sampai satu jam daganganya sudah habis terjual.
__ADS_1
"Mpok mau tutup neng."
"Sekarang Mpok?" tanya Sasha.
"Iya Neng, kalau hari kerja dagangan Mpok cepat habis. Banyak yang beli karena mereka ngga sempat untuk sarapan. Tinggal ini pesanan untuk langganan. Biasanya diambil jam 09.00 pagi." Kata Mpok yang jualan sambil menunjukan sepuluh bungkus nasi uduk yang sudah rapi.
"Iya Mpok," kata Sasha lalu berdiri dan menyerahkan kursi yang tadi dia pakai untuk duduk kepada penjual itu.
"Duduk dulu aja neng. Mpok masih beres-beres, lagian masih nungguin pesanan yang belum diambil."
"Iya Mpok." Sasha lalu duduk kembali.
Jam 08.00 Sasha lalu menelpon Arya, namun berulang kali dia menelponya dan ternyata tidak diangkat.
Sasha jadi bingung, akhirnya Sasha lalu menulis pesan kepada Arya.
Pesannya sampai namun belum dibuka.
Sasha mulai panik.
Karena dia juga meninggalkan ATM pemberian Prasetyo dan Nadiya dikamarnya.
Uangnya tinggal untuk makan siang saja. Lalu dimana dia akan tidur?
Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang datang dengan pakaian keren dan mendekati Mpok yang jualan nasi uduk.
Sasha rupanya mendengarkan pembicaraan mereka. Diapun berniat untuk bekerja jika bisa diterima. Saat ini dia membutuhkan tempat untuk tidur dan juga uang untuk makan.
Sasha tanpa pikir panjang langsung berdiri dan mendekati ibu paruh baya tersebut.
"Bu, saya mau bekerja ditempat ibu." Kata Sasha sambil tersenyum manis.
Ibu paruh baya itu kaget dan menatap Sasha dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Rambutnya pirang kecoklatan, matanya lebar dan bulu mata lentik, kulitnya putih bersih, bajunya terlihat mahal, tapi dia ingin bekerja dirumahnya? Gumam ibu paruh baya tersebut.
Ibu paruh baya itu lalu mengangguk meskipun sebenarnya dia ragu karena penampilan Sasha yang seperti anak kuliahan.
"Baiklah. Apakah kau punya KTP? Bisa saya lihat KTPnya?" tanya ibu paruh baya yang ingin tahu identitas Sasha.
Karena dia juga tidak ingin sembarangan memasukkan orang kedalam rumah besarnya.
Sasha lalu memperlihatkan kartu identitasnya.
"Usiamu 20 tahun, status mahasiswi." Kata ibu paruh baya tersebut.
"Apakah kau masih kuliah?
__ADS_1
"Benar. Tapi saya mungkin akan minta cuti dan akan saya lanjutkan jika keadaan sudah lebih baik."
Ibu paruh baya itu mengangguk-angguk.
"Baiklah. Karena saya memang membutuhkan orang, kamu bisa bekerja dengan saya." Kata Ibu paruh baya tersebut.
"Terimakasih Bu." Kata Sasha lalu mengambil kopernya.
"Nih kamu bawa!" Titah majikan barunya.
Sasha agak kaget. Namun akhirnya dia membawa nasi uduk yang dipesan ibu tersebut.
"Mpok! Makasih Mpok...."
"Ya. sama-sama neng...."
"Itu mobil saya." Kata majikan barunya kepada Sasha.
"Makananya taruh dibelakang saja Koper kamu taruh di bagasi." Kata majikan barunya.
"Kita akan menaruh makanan ini dirumah, setelah itu kamu langsung ikut saya. Kamu sudah sarapan bukan?" Kata Majikan itu.
"Sudah Bu."
Mobil itu melaju masuk kedalam perumahan Mediterania.
Dan berhenti didepan rumah mewah yang besar berlantai 3.
Rumah itu bercat putih semua dengan taman didepanya yang sangat indah.
"Kamu turun lalu berikan makanan itu pada satpam didepan rumah." Titah majikanya itu.
"Baik bu." Kata Sasha tanpa banyak bertanya.
Tugasnya hanyalah menjalankan perintah dengan baik tanpa banyak bertanya.
Mungkin seperti itu lebih baik dan tidak merepotkan bos barunya karena harus terus menjelaskan banyak hal.
"Pak, ini nasi uduk dari ibu." Kata Sasha sambil menyerahkan kantong itu kepada satpam yang sedang duduk.
"Iya Neng. Neng pegawai baru ibu ya?"
"Betul pak."
"Semoga betah neng." Kata satpam itu dan membuat Sasha tertegun.
Maksud bapak itu apa ya? Semoga betah? Tapi kelihatannya majikanya ini adalah orang yang baik. Dan tidak cerewet.
__ADS_1