Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Berita heboh dan hangat


__ADS_3

Wajah Nadiya menjadi merah karena kesal dengan ibu tirinya yang membicarakan tentang perselingkuhan mantan suaminya di acara pesta lamarannya.


Terlebih beberapa tamu undangan berdiri didekatnya. Sehingga mereka mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh ibu tirinya.


Nadiya sekilas melihat mereka yang mulai berbisik-bisik dan bergosip membicarakanya.


Darah Nadiya mendidih dan hatinya menjadi membara karena dia tahu ibu tirinya selalu mencari kesempatan untuk menghinanya.


Itu sudah menjadi sifatnya dari dulu bahkan saat Nadiya masih sekolah dasar, hal yang sama sering terjadi padanya juga ibunya.


Mulutnya begitu manis namun dibalik semua itu terlontar kata-kata yang keji.


"Iya. Itu masa lalu Nadiya mami. Nadiya tidak ingin mengingatnya lagi, dan terimakasih mami sudah datang ke acara Nadiya." Nadiya berharap ibu tirinya segera menjauh darinya sebelum dia mengungkap banyak hal yang akan menjadi konsumsi publik.


"Mami tidak menyangka loh, kamu akan jatuh cinta pada....."Kata Ibu Sofia sambil melirik Prasetyo. Maksud Ibu Sofia adalah bodyguard yang levelnya jauh dari Ardy yang seorang CEO.


Prasetyo menggenggam erat jemari Nadiya dan memberi isyarat untuk menahan emosinya didepan ibu tirinya.


Akhirnya Nadiya menarik nafas panjang dan menjauh dari ibu tirinya.


"Maaf mami...Nadiya akan kebelakang dulu." Kata Nadiya sengaja menghindari ibu tirinya yang terus mengoceh seperti burung beo.


 ----------------


Keesokan harinya........


"Berita hangat! Berita hangat! CEO Nadiya pewaris PT Alexander akan menikah dengan CEO PT Asia. Dan CEO itu bahkan rela menjadi bodyguard demi pujaan hatinya.


Berita-hangat! Berita hangat!


Bisa dibayangkan kedua CEO itu bersatu, maka kekayaan keduanya akan meroket fantastis bak Sultan! Ayo dibeli koran! Koran!" Terdengar tukang koran berteriak-teriak dilampu merah. Dan dalam waktu sekejap koranya langsung habis terjual.


Berita tentang lamaran dan pernikahan Nadiya dalam waktu dekat, langsung menjadi perbincangan publik dan heboh.


Semua koran dan surat kabar laris terjual dalam jumlah yang fantastis dan pemecah rekor penjualan terbanyak sepanjang sejarah.


Semua harga saham naik. Dan nilai mata uang juga menguat. Tidak hanya itu, poster mereka ada dimana-mana seperti jamur disepanjang jalan. Bahkan pencarian di internet ramai dan viral dengan kata kunci CEO.


Berita hebohnya pernikahan mantan istrinya sampai juga ketelinga Ardy yang berada di Arab Saudi untuk urusan bisnis perhotelan.


Ardy sedang duduk sambil membaca sebuah surat kabar dalam bahasa Inggris.


Karena meskipun berada di Arab Saudi, Ardy tidak begitu paham bahasanya sedikitpun.


Sehingga dalam bahasa sehari-hari Ardy lebih sering menggunakan bahasa internasional.

__ADS_1


Terkadang Ardy juga menggunakan bahasa Indonesia saat bertemu dengan beberapa TKI yang sedang bekerja dan berbisnis disana.


Tentu saja karena merasa bahwa mereka adalah saudara dan berasal dari negara yang sama.


Meskipun tidak saling mengenal sebelumnya, tapi saat bertemu dengan orang asing yang berasal dari negara yang sama seperti ada ikatan dan persaudaraan yang kuat.


Sehingga setiap bertemu direstoran atau dihotel mereka berbincang dalam bahasa ibu.


Seperti asisten Ardy yang berasal dari negara yang sama membuat mereka lebih cepat akrab layaknya saudara.


Sayangnya asistennya sudah ada usia, sehingga bagaikan dengan ibunya sendiri saat Ardy berbicara atau berkeluh kesah.


Koran yang Ardy pegang terlepas lalu menimpa dan menumpahkan minuman yang ada diatas mejanya.


Ardy sangat terkejut saat melihat gambar Nadiya dan Prasetyo yang terpampang sangat jelas.


Dan ternyata benar kabar burung mengenai keduanya yang sampai ketelinganya bukan isapan jempol semata. Separuh jiwanya telah pergi kebagian bumi yang lain.


Kejadian itu membuat dadanya sesak dan badanya hampir ambruk, namun untung dengan cepat dia berpegangan pada kursi tempatnya berdiri karena saking kagetnya.


Krrosaaak buuukkkk!


"Ada apa Tuan? Apakah Tuan sakit?" Seorang asisten yang berada didekatnya langsung menoleh saat mendengar suara itu.


"Saya akan memanggil dokter. Wajah Tuan pucat sekali." Asisten rumah tangga yang membantu Ardy selama disana terlihat sangat khawatir melihat kondisi Tuannya.


"Tidak usah bi. Saya tidak papa. Tidak usah panggil dokter." Kata Ardy masih gemetar karena berita yang bagai anak panah langsung menghunus kejantungnya.


"Tapi saya khawatir Tuan dengan keadaan Tuan saat ini. Tidak biasanya Tuan seperti ini. Apa tidak sebaiknya saya panggil dokter Tuan? Ohh astaga! Minumannya tumpah! Biarkan saya bersihkan tumpahannya dan biar saya buatkan yang baru lagi." Kata asisten itu sambil mengambil sebuah koran yang basah dan akan dia buang ke tempat sampah.


"Apa ini?" Kata asisten itu saat melihat sebuah gambar besar seorang wanita yang cantik dan laki-laki yang tampan dengan gaun yang indah.


"Tapi wanita ini, fotonya sepertinya saya tidak asing. Tapi dimana saya melihatnya? Oh iya, dimeja kerja Tuan Ardy. Tapi kok sekarang ada dikoran? Apakah jangan-jangan foto ini yang membuat Tuan Ardy........"Asisten itu malah berdiri didekat tempat sampah sambil berbicara sendiri.


Tapi kemudian terdengar Tuan Ardy memanggilnya.


"Biii....!" Panggil Ardy.


"Iya Tuan.....!" Kemudian dengan cepat asisten itu berlari dan membuang koran itu. "Ada apa Tuan?"


"Saya akan segera pulang kenegara saya. Saya akan memesan tiket sekarang. Nanti ada yang akan kesini untuk menggantikan saya sementara....." Kata Ardy sambil berjalan kekamarnya.


"Baik Tuan."


 

__ADS_1


Ardy langsung menelpon seseorang setelah sampai dikamarnya.


" Selidiki kabar tentang Nadiya dan bodyguard itu. Apakah benar dia CEO PT Asia? Aku ingin kamu selidiki sekarang!" Kata Ardy kepada orang bayarannya untuk menyelidiki berita yang barusan dia lihat.


"Baik pak. Akan saya selidiki segera." Kata orang yang didalam telepon itu.


"Kasih kabar secepat mungkin!"


"Segera laksanakan pak." Telepon ditutup.


 


Ardy sampai di bandara dan baru saja akan memesan taksi, teleponya berdering.


Kemudian Ardy langsung mengangkatnya dan berjalan ketempat yang agak sepi.


"Ada apa? Apakah sudah ada kabar tentang bodyguard itu? Saya ada di bandara sekarang."


"Sudah pak. Yang bapak katakan benar bahwa bodyguard itu adalah CEO PT Asia. Dan dia berpura-pura menjadi bodyguard demi ibu Nadiya."


"Kurang ajar!" Kata Ardy dengan satu tanganya meninju pada tiang didekatnya sekeras-kerasnya hingga tanganya terluka dan berdarah.


Tapi Ardy tidak menghiraukanya. Tanganya berdarah tapi sakitnya tak terasa olehnya, karena saat ini yang terluka dan hancur adalah hatinya.


"Jadi selama ini dia hanya berpura-pura menjadi bodyguard hanya untuk merebut Nadiya dariku? Aku akan membuat perhitungan denganya." Kata Ardy masih dalam telepon yang tersambung.


"Terus ikuti dan pantau gerak-gerik mereka. Aku akan menunggu kabar selanjutnya darimu."


"Siappp pak! Laksanakan!" Ardi menutup teleponnya dan memegang kepalanya yang sebenarnya tidak berat.


*Mereka telah menipu dan menghianatiku selama ini.


Pantas saja dia begitu keren dan berbeda dari pengawal yang sebelumnya. Dan nyalinya begitu besar.


Tapi meskipun bersama mereka sebulan diParis, aku bahkan tidak menaruh curiga sedikitpun jika dia adalah CEO PT Asia.


Pantas saja Nadiya keras kepala ingin bercerai dariku.


Rupanya semua itu hanya demi harta, uang, kekayaan dan nama besar. Ternyata dia benar-benar telah buta oleh gemerlap dunia.


Pantas saja kau begitu ngotot ingin berpisah dariku. Ternyata selama ini aku telah tertipu oleh kepolosanmu."


Ardy bergumam sendirian*.


Sampai tiba-tiba taksi yang dia pesan datang dan kemudian Ardy naik dan melaju meninggalkan Bandara.

__ADS_1


__ADS_2