Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Pelari cadangan


__ADS_3

Hari ini Vano akan berlari seperti halnya Sasha. Tidak ada Sasha dilapangan hijau tersebut untuk mendukungnya. Namun Vano yakin jika dia menang maka Sasha juga Pasti akan ikut bahagia.


Dan mereka berdua bisa mewakili universitas untuk meraih juara.


Ada Diana disana yang diam-diam mengagumi Vano dan berdiri diantara para pendukungnya.


Vano melirik kearah Diana sebentar sebelum akhirnya berlari setelah terdengar peluit dari pelatih.


Vano masih berlari diurutan paling depan dan teman-temannya jauh tertinggal dibelakang.


Hingga hampir dekat dengan garis Finish, teman-temannya tidak mampu melampauinya.


Begitu Vano sampai digaris finish, pelatih lalu memberinya air.


Semua pelari menjadi segar kembali setelah air disemprotkan dan baju merekapun basah. Pelatih dan teman-temannya mengucapkan selamat padanya karena dia berhasil meraih juaranya.


"Untuk pelari maraton putra, Vano akan mewakili universitas ini dan akan ikut ajang lari maraton antar universitas."Kata pelatih.


Lalu terdengar sebuah pertanyaan dari mahasiswa yang menjadi reporter.


"Lalu siapa dari grup putri yang akan mewakili universitas ini?" Tanyanya sambil mendekatkan handphonenya untuk merekam jawabannya.


Sejenak pelatih itu terdiam dan tidak bisa memberikan jawaban apapun.


Akhirnya setelah berfikir sejenak, pelati lalu menjawab pertanyaan dari salah satu mahasiswa tersebut.


"Kita tunggu hingga keadaan Sasha membaik dan boleh pulang oleh dokter. Seperti kalian tahu Sasha adalah pemenang dari kompetisi ini. Namun kompetisi yang sesungguhnya baru akan dimulai, dan dia kakinya cedera. Kita akan menunggu hingga satu Minggu kedepan." Kata pelatih itu lalu pergi dan dipinggir lapangan terlihat Menteri ada disana bersama rektor.


Mereka nampak sedang berbicara serius dan terlihat senyum mengembang dari sudut bibir Menteri.


Apa yang mereka bicarakan?


Sementara Diana berlari mendekati Vano dan mengucapkan selamat padanya.


"Dari awal aku sudah yakin, kau pasti menang! Selamat ya!" Seru Diana.


"Terimakasih."


Diana lalu duduk bersama Vano dipinggir lapangan.


***


Rossa sedang menangis dikamarnya mendengar pernyataan dari pelatih tadi yang mengatakan jika Sasha belum tentu bisa mengikuti kompetisi selanjutnya.


Dan harus menunggu kabar dari dokter tentang bagaimana kelanjutannya.


Tiba-tiba Catrine masuk dan duduk disamping Rossa.


"Gue sedih karena sahabat gue belum tentu bisa melanjutkan kompetisi ini."


Catrine diam saja.


"Kakinya terluka. Jadi dia tidak bisa berlari dengan maksimal." Kata Catrine.


"Hanya kau yang diuntungkan dari penderitaanya." Kata Rossa sambil menatap Catrine yang terlihat bahagia, tidak seperti kemarin.

__ADS_1


Hari ini wajahnya begitu ceria.


"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak pernah bermaksud menyakitinya. Aku hanya ingin dia mengalah dariku kali ini saja. Ini adalah impianku dari kecil. Dan aku harus mendapatkanya sekarang."


"Jika kau ingin menang, berlatihlah acara sportif. Jangan curang dan membuat hal memalukan seperti ini." Ucap Rossa.


"Aku takut dia mengalahkan aku. Aku melihat kemampuannya yang begitu besar. Aku tidak terima jika dia mengalahkan aku." Kata Katrine.


"Tapi buktinya kau kalah bukan?" Kata Rossa.


"Tidak. Kami seimbang, hanya saja aku tidak pernah menyangka jika dia akan melampaui ku di saat aku hampir mencapai garis finish."


"Kau sangat egois." Kata Rossa.


"Aku hanya berusaha untuk menang."


"Kemenangan apa yang kau maksud? Sasha yang akan mewakili universitas kita."


"Dia tidak akan ikut kompetisi selanjutnya. Rektor tidak akan mengambil resiko dengan kakinya yang terluka dan membuat kita kalah, kita tidak bisa berharap banyak dari dirinya. Aku akan menggantikan posisinya dan melanjutkan ke kompetisi selanjutnya."


"Kau benar-benar ambisius."


"Sudahlah! Kau tetap mendukungnya meskipun kau tahu dia tidak akan memaafkanmu, jika dia tahu apa yang sudah kau lakukan."


"Tutup mulutmu!" Kata Rossa.


Akhirnya Catrine pergi dari kamar Rossa.


Dari jauh dia melihat Regan sedang berlari dan mengajar pelatih yang akan masuk kekantor Rektor.


"Kompetisi itu sebentar lagi. Dan dia juga harus latihan sebelum bertanding. Bagaimana dia bisa latihan dalam kondisi masa pemulihan."


"Tapi pak,"


"Maafkan saya. Kita tidak punya pilihan lain. Sepertinya kita akan membuatnya menjadi pelari cadangan saja."


"Ini tidak adil. Dia bahkan berjuang hingga kakinya sampai terluka agar bisa ikut kompetisi selanjutnya dan berusaha untuk menang."


"Tapi pihak universitas juga tidak mau mengambil resiko." Kata Pelatih.


"Tapi Sasha masih punya kesempatan kan, jika dia bisa membuktikan kemampuannya."


Pelatih nampak berfikir sejenak. Lalu mengangguk.


"Ya. Dia harus membuktikan jika dia mampu. Sementara itu terpaksa orang lain akan kami ajukan namanya."


"Tunggulah hingga Minggu depan." Kata Regan.


"Nama itu harus didaftarkan besok. Jadi aku akan mendaftarkan nama orang lain sebagai penggantinya."


Pelatih itu masuk kedalam kantor dan Regan memegangi kepalanya.


"Aasssh sial! "


"Pelatih itu pasti sudah terpengaruh oleh tipu daya mereka yang punya kekuasaan untuk membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin."

__ADS_1


"Ini benar-benar gila!"


"Aku yakin ada yang mengatur semua ini. Sasha tertabrak bukanlah suatu kebetulan. Ada yang sengaja mencederainya. Dan siapa lagi yang bisa melakukan hal serendah itu?"


Regan kemudian melihat jam ditanganya. Dan dia lalu berlari keluar karena teringat sudah berjanji untuk menemui Sasha hari ini.


Regan mengambil motornya dan langsung melaju dengan kencang kerumah sakit dimana Sasha masih dirawat.


"Aku pikir kau tidak akan datang." Kata Sasha saat dilihatnya Regan masuk.


"Ada urusan sebentar, tadi. Jadi aku terlambat kesini."


"Besok adalah pendaftaran nama yang akan ikut kompetisi. Apakah namaku akan ada disana?" Tanya Sasha.


"Fokuslah pada kesehatanmu dulu. Jika kakimu sembuh kau bisa berlari. Namun jika kakimu sakit, bagaiamana kau akan lari, meskipun namamu ada disana, kau tetap tidak bisa ikut jika kakimu masih sakit."


"Apakah itu artinya ada orang lain yang menggantikan aku? Apakah bukan namaku yang terdaftar disana?" Tanya Sasha dengan wajah cemas.


"Kita lihat saja besok. Aku belum sempat bertemu dengan pelatihmu." Kata Regan berbohong.


"Jika kau bertemu dengannya, tanyakan bisakah aku ikut dalam kompetisi berlanjutnya? Regan, setelah keluar dari sini aku akan latihan dan aku pasti bisa berlari lebih cepat. Aku janji, aku akan membuat kalian bangga."


Regan sangat sedih melihat keadaan Sasha. Namun apa yang harus dia lakukan?


Tadi pagi bahkan sudah jelas jika nama orang lain yang akan didaftarkan dan bukan nama Sasha. Namun jika dia katakan yang sejujurnya maka Sasha pasti akan sangat sedih sekali.


Dan ini bisa berakibat buruk bagi psikisnya. Dia akan kehilangan sangat untuk sembuh.


Tiba-tiba dokter yang akan memeriksa Sasha masuk dan memberikan kertas laporan perkembangan Sasha kepada Regan.


"Apakah kakinya bisa pulih satu Minggu ini Dokter?"


Dokter kemudian menatap Regan lalu menatap Sasha.


Dokter menggelengkan kepalanya.


"Artinya saya tidak bisa berlari lagi?" Tanya Sasha yang melihat reaksi dari dokter.


"Bisa, tapi tidak dalam waktu dekat. Kau masih dalam masa pemulihan, dan jika digerakkan terlalu sering maka justru tidak akan pulih lebih cepat." Kata dokter.


"Tapi saya harus ikut kompetisi selanjutnya dokter."


Dokter menggelengkan kepalanya.


"Lebih baik jangan dulu. Cederamu bisa lebih parah jika kau berlari dalam waktu dekat. Otot-otot akan bekerja lebih keras dan mereka masih belum siap. Kau nanti malah bisa menderita lebih parah lagi." Kata Dokter menasehati.


"Yang dikatakan dokter benar Sasha. Lebih baik kau tidak ikut turnamen selanjutnya. Kau bisa ikut turnamen tahun depan untuk kelas nasional." Kata Regan memberikan semangat pada Sasha.


***


Sasha mendapat pesan dari salah seorang temannya.


Ada screenshot di pesan wa nya. Perlahan Sasha melihat layar dan dia mencari sebuah nama yang mungkin terdaftar disana.


Tidak ada namanya, yang ada justru nama Catrine disana yang terdaftar untuk mengikuti kompetisi selanjutnya.

__ADS_1


Perlahan airmatanya berjatuhan dan membasahi layar dihandphone nya. Tiba-tiba pintu dibuka dan disana ada Diana dan juga Vano. Sasha mencari sahabatnya Rossa, namun sahabatnya tidak nampak disana.


__ADS_2