
Malam hari Arya pulang dan langsung mencari Sasha.
Dia lalu mengetuk kamarnya. Sasha membukakan pintu dan tersenyum pada Arya.
"Apakah kopernya sudah sampai padamu?" tanya Arya.
"Sudah Om."
"Jika kau bosan dirumah, pergilah jalan-jalan!" kata Arya pada Sasha sambil melihat wajah putrinya yang sedikit lebih baik.
"Apakah kita perlu kedokter?" tanya Arya saat dia ingat apa yang sudah menimpa putrinya.
Namun untuk bertanya lebih detail, sepertinya tidak mungkin, karena sampai saat ini Sasha belum tahu jika Arya adalah ayahnya.
"Tidak usah om. Saya sudah merasa lebih baik." Kata Sasha kemudian.
"Ya sudah kalau begitu, om tinggal dulu ya."
Arya lalu keluar dari kamar Sasha.
***
Keesokan harinya, Sasha keluar karena bosan dirumah. Dia juga terus teringat pada kejadian memalukan itu jika terus sendirian.
Arya juga meminjamkan mobil kepada Sasha yang bisa dia pakai kapan saja. Kuncinya sudah ada di garasi mobil.
Akhirnya dia pergi jalan-jalan ke Mall disalah satu kota itu.
Dia sampai disebuah Mall yang ingin dia kunjungi.
Dia masuk kesebuah butik dan melihat baju-baju yang bagus dan indah.
Saat dia memegang baju, tiba-tiba sebuah tangan meraih pergelangan tangannya.
Sasha kaget dan menoleh.
"Regan!"
Sasha sangat terkejut bisa bertemu Regan didalam Mall ini.
Rupanya Regan juga sedang mencari sesuatu dan dari tadi belum menemukan barang yang dia cari.
Namun tiba-tiba saat menoleh ke kanan dan kekiri, dia melihat orang yang mirip dengan Sasha. Dia pikir itu adalah orang lain.
Namun saat dia semakin dekat, dia semakin yakin jika itu adalah Sasha.
Dengan cepat dia memegang pergelangan tangannya agar Sasha tidak bisa lari.
Karena jika melihat kehadiran Regan, Sasha pasti lari dan menghindar.
Jelas saja.
Buktinya dia pergi dan mengganti nomor ponselnya. Dia juga tidak pernah kembali. Berarti dia tidak ingin kembali atau bertemu mereka lagi.
"Sasha! Ayo ikut aku!"
"Tidak! Aku tidak ingin kerumahmu!" kata Sasha.
Lalu tanpa persetujuan Sasha, Regan menarik tangannya dan mengajaknya masuk kedalam mobil.
Sasha menolaknya, namun Regan tidak peduli.
__ADS_1
"Lepaskan! Aku tidak mau pulang!"
Regan diam saja dan langsung mengunci mobil dan melajukanya dengan kecepatan tinggi.
Regan langsung memarkir mobilnya dengan cepat dan membuka pintu untuk Sasha.
"Kenapa kau tidak mau mendengarkan aku? Aku tidak mau turun!" kata Sasha
Namun Regan tidak mengindahkannya dan menariknya keluar dari mobilnya.
Sasha mulai menangis.
Regan lalu membawa Sasha kekamar Omanya.
Disana Oma sudah menunggu kedatanganya.
Sementara Prasetyo dan Nadiya sedang berada dikamar.
Mereka tidak tahu jika Regan membawa Sasha.
Karena saat ini Regan dan Sasha berada dikamar Oma.
"Kau tidak peduli pada kami? Kau tidak menyayangi kami? Apakah kami bukan keluargamu? Sehingga kami tidak punya hak untuk mengkhawatirkanmu?"
Kata Omanya sambil menahan airmatanya.
Airmatanya jatuh membasahi pipinya yang sudah keriput.
"Kemarilah! Kau hanya akan berdiri disitu? Kau tidak ingin memelukku?" Tanya Omanya sambil mengusap airmatanya.
Sasha tidak kuasa lagi menahan tangisnya. Dia lalu menangis dan lari ke pelukan Omanya.
Dia menangis tersedu-sedu dan sesenggukan.
"Kemana saja kamu beberapa hari ini? Ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba pergi?"
"Tidak ada apa-apa." Kata Sasha sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan takut. Katakan ada apa? Kita bisa selesaikan bersama-sama." Kata Omanya.
Tiba-tiba Nadiya sudah ada dipintu kamar Omanya.
"Dia adalah....."
Sasha menggelengkan kepalanya dan berharap Nadiya tidak mengatakan apapun pada Omanya.
"Dia adalah anak dari hubungan gelap mantan suamiku. Dia adalah anak sahabatku yang telah menghianatiku. Dan karena dia sudah tahu semuanya. Akhirnya dia pergi. Kita tidak mungkin tinggal satu atap sebagai keluarga." Kata Nadiya sambil menahan derai airmatanya.
Sasha hanya tertunduk dengan airmata yang tidak kuasa dia tahan lagi.
Airmatanya berjatuhan dilantai.
Oma bahkan sampai ternganga mendengar pernyataan Nadiya.
"Mami!" Regan marah kepada Maminya.
"Kenapa mami berkata seperti itu? Itu sudah berlalu. Apa salah Sasha? Kenapa kesalahan ibunya harus dia yang menanggungnya?"
"Regan! Kau tidak tahu apa yang mami alami saat itu!"
"Regan tahu dan Regan paham, apa yang mami alami. Tapi itu sudah berlalu lebih dari dua puluh tahun. Kenapa mami harus menyalahkan Sasha."
__ADS_1
"Mami tidak menyalahkanya! Mami hanya tidak bisa satu atap denganya! Kau tahu setiap melihatnya mami selalu teringat pada perbuatan ibunya!"
Sementara Oma hanya menatap ibu dan anak yang bertengkar dan airmatanya mengalir tanpa bisa berbuat apapun.
"Mami egois! Kita sudah seperti keluarga. Sasha tinggal bersama kita lebih dari sepuluh tahun. Dan mami juga menyanyanginya."
"Iya, itu dulu, sebelum mami tahu segalanya. Setelah mami tahu....mami tidak bisa menerimanya!" Kata Nadiya sambil menatap penuh amarah kepada Sasha.
Karena dia Regan berani melawannya. Tentu saja dia sangat marah.
Sasha lalu berlari keluar dari kamar itu. Tanpa mengatakan apapun.
Prasetyo yang baru saja selesai mandi dan mendengar ribut-ribut bertabrakan dengan Sasha. Namun Sasha dengan cepat berlari dan tidak mempedulikan teriakan Prasetyo.
Regan mengejarnya namun Sasha adalah atlet lari, sehingga Regan tidak bisa mengejarnya.
Sasha langsung berlari keluar halaman dan keluar gerbang. Disana dia langsung naik ojek yang kebetulan lewat.
Regan kehilangan jejaknya. Namun dengan cepat dia mengambil mobilnya dan langsung mengejarnya.
Satpam yang menjaga rumah hanya bisa bengong melihat apa yang terjadi.
Sementara Prasetyo langsung menemui Nadiya di kamar Omanya.
"Itu tadi Sasha bukan? Kenapa dia lari? Ada apa?"
"Tanyakan pada istrimu!" Kata Oma dengan marah.
"Ada apa Nadiya? Apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa!" Jawab Nadiya dan berdiri seperti patung sambil bersandar pada pintu.
"Lihatlah aku? Aku adalah suamimu? Tapi kau tidak mau terbuka kepadaku?" Kata Prasetyo dengan sangat kecewa.
"Apa yang harus aku katakan? Apa!? Dia adalah anak dari hubungan gelap mantan suamiku dan sahabatku? Puas!?" Kata Nadiya dengan penuh amarah dan luka.
Prasetyo menarik nafas dan memejamkan matanya.
Dia berusaha untuk tidak terpengaruh keadaan dan bisa berfikir dengan kepala dingin.
"Dia tidak ada hubunganya dengan dosa ayah dan ibunya. Dia bahkan tidak tahu semuanya. Tapi kenapa kau langsung menghakiminya, seakan dia adalah penyebab semuanya."
"Kau juga membelanya? Sudah kukatakan, tidak semudah itu melupakan penghianatan ibunya. Kau tidak mengalami apa yang aku alami. Bagaimana kau bisa tahu?"
"Tapi Nadiya, kenapa kamu langsung menghakiminya padahal dia baru saja pulang. Kasian kan dia harus pergi lagi. Dan dia tidak punya keluarga. Kau lupa? Dia tidak punya keluarga?"
"Kita adalah keluarganya...." Kata Prasetyo sambil mendekati Nadiya.
"Iya, Nadiya. Kasihan Sasha. Dia pasti sedih mendengar apa yang kau katakan tentang ibunya."
Nadiya melihat dan mendengar jika semua orang tidak bisa memahaminya.
Bahkan mereka tidak sependapat dengannya.
Tanpa banyak bicara lagi, Nadiya lalu pergi dan turun kebawah. Dia langsung mengambil kontak, dan mengemudikan mobilnya keluar dari rumah itu.
"Mami....!" Teriak Edsel dan juga Eiden tidak dihiraukannya.
"Mami.... Hiks! Hiks!" Edsel dan Eiden melihat dan mendengar ada keributan. Maminya berteriak dan menangis lalu pergi.
Dan itu membuat mereka menangis dan takut.
__ADS_1
Prasetyo yang tadinya mau mengejar Nadiya akhirnya mengurungkan niatnya saat melihat kedua buah hatinya menangis.
Prasetyo lalu memeluk keduanya.