
Regan datang ketempat kejadian, lalu bersama beberapa polisi dan tim sar, mencari mobil yang jatuh ke jurang.
Beberapa orang turun kebawah dan yang lainya menyusuri rumput-rumput tinggi sebelum mencapai jurang.
Mobil itu ringsek dibawah dan tidak terbawa arus.
Mereka lalu berusaha mengangkat mobil itu dengan bantuan alat berat.
Sementara beberapa orang lainya bersama Regan menyusuri sepanjang aliran air yang deras karena Nadiya tidak ditemukan didalam mobil.
Artinya dia tidak memakai seatbelt saat kecelakaan itu terjadi, sehingga dia terpental keluar.
Karena jika dia menggunakan seatbelt maka saat ini dia pasti masih berada didalam mobil itu.
"Ibu Nadiya tidak memakai seatbeltnya, sehingga terpental keluar saat kejadian."
Regan menarik nafas panjang dan dadanya sangat sesak.
Airmatanya tertahan dikedua kelopak matanya. Penyesalannya tidak bisa dia maafkan jika sampai terjadi sesuatu pada ibunya.
Regan terus mencari tanpa lelah dan tanpa beristirahat.
***
Sementara Prasetyo mengantar maminya kerumah sakit. Dia sangat khawatir terjadi apa-apa dengan maminya karena punya riwayat sakit jantung.
"Dokter, tolong ibu saya."
"Baik. Silahkan anda tunggu diluar." Kata Dokter langgananya.
Prasetyo menunggu diluar ruangan. Pikiranya kacau balau. Dia menelpon Regan, dia sangat khawatir dengan Nadiya. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Omanya sendirian dirumah sakit.
Dia juga mengkhawatirkan putranya dirumah.
"Bi, anak-anak sedang apa?" tanya Prasetyo pada bibinya dirumah.
"Mereka sedang main Tuan."
"Ya sudah, bibi jaga mereka dulu, dan tidak usah mengerjakan pekerjaan yang lainya. Cukup temani dan memberi makan mereka. Kami sedang diluar mungkin hingga malam hari." Kata Prasetyo berpesan pada bibinya untuk tidak meninggalkan kedua buah hatinya karena saat ini tidak ada siapapun dirumah.
"Baik Tuan."
Prasetyo lalu terduduk dilantai dan memegang kepalanya yang berat.
Ada telepon masuk.
Dari Regan.
"Bagaimana? Apakah mami sudah ketemu?" tanya Prasetyo saat Regan menelpon.
"Belum. Mobilnya sudah ditemukan tapi mami kemungkinan terbawa arus sungai."
"Om akan kesana setelah Oma kalian siuman." Kata Prasetyo lalu menutup teleponnya.
Arus sungai saat itu memang sangat deras. Hujan dari tempat lain yang membuat arus sungai begitu deras.
__ADS_1
Apalagi kejadianya sudah hampir 24 jam, Nadiya pasti sudah terbawa jauh jika sampai saat ini pencarian masih dilakukan namun dia tidak kunjung ditemukan.
Tidak lama kemudian dokter keluar dan mengatakan jika Prasetyo boleh masuk.
"Terimakasih dokter. Bagaimana keadaan mami?"
"Ibu hanya shock saja. Saya sudah kasih obat penenang."
"Baiklah."
Prasetyo lalu masuk. Satu jam kemudian ibu Monic siuman dan menatap Prasetyo agak lama.
"Kenapa kau disini. Sana cari istrimu." Kata ibu Monic kepada putranya.
"Tapi mami tadi pingsan. Regan sudah ada disana."
"Pergilah. Cari istrimu. Mami tidak papa, disini banyak dokter dan suster yang akan menjaga mami."
Prasetyo lalu mengangguk dan keluar dari ruangan dimana ibu Monic dirawat.
Dengan cepat Prasetyo menuju ke lokasi kejadian.
Beberapa orang nampak masih mondar-mandir disekitar lokasi. Saat ini gerimis dan sebentar lagi hujan mulai turun.
"Regan!" Panggil Prasetyo.
"Om, mami belum ditemukan. Mami tidak memakai seatbeltnya. Sehingga terpental dan keluar dari mobil. Kami masih mencarinya."
"Ya sudah. Pulanglah, biar Om yang membantu mereka mencari mami. Kamu istirahat dulu. Jika kamu sakit, om akan merasa sangat bersalah."
"Pulanglah Regan, kedua adikmu juga membutuhkanmu. Mereka pasti kesepian dirumah."
"Baiklah om." Kata Regan saat dia teringat pada kedua adik kembarnya. Mereka pasti kesepian tanpa siapapun disana.
Regan lalu menuju mobilnya dan pulang kerumah.
"Tuan muda, mereka tidak mau makan. Mereka terus menanyakan maminya."
"Baiklah Bi, biarkan saya yang menjaganya." Kata Regan lalu mengajak mereka kekamarnya.
"Kalau begitu bibi mau mandi dulu ya Tuan." Kata bibinya yang tidak berani meninggalkan kedua anak majikanya itu.
"Ya bi."
"Kalian! Ayo ikut kakak!" Merekapun langsung mengikuti kakaknya dibelakangnya.
Mereka masuk kekamar Regan. Regan tahu bagaimana membuat mereka tenang.
"Kalian suka ini?" kata Regan sambil menunjukkan komputer dan beberapa permainan. Ada game juga disana.
"Aku mau main." Kata Edsel.
"Aku juga." Kata Eiden yang duduk disamping Edsel.
"Baiklah, kalian main dulu, Kaka mau mandi." Kata Regan lalu masuk kekamar mandi.
__ADS_1
Saat dia keluar, kedua adiknya masih sibuk dengan permainannya.
"Kakak, ambil makan dulu. Nanti kakak akan suapi kalian bergantian."
Mereka mengangguk tanpa menoleh. Mereka sedang bermain permainan yang seru, sehingga lupa jika maminya tidak ada dirumah.
Anak-anak begitu polos, tidak seperti orang dewasa, yang jika sedih, akan terbawa sepanjang waktu dan terus memikirkannya.
Anak-anak berbeda, mereka cepat sedih, namun mereka juga cepat gembira. Semua itu karena akalnya yang belum bisa berfikir layaknya orang dewasa.
Regan turun kebawah dan mengambil dua piring nasi dan lauk untuk mereka berdua.
"Tinggalkan itu. Makanlah. Kakak ada hal penting, makanlah sendiri." Kata Regan lalu menyodorkan piring kepada mereka berdua.
Regan tahu jika diajak turun kebawah belum tentu mereka mau makan.
Jika dibawa keatas dan sambil menghiburnya, maka mereka lebih mudah untuk menghabiskanya.
"Tapi.....ini lagi seru."
"Ayolah, atau kalian tidak akan kakak kasih main lagi." Ancam Regan dengan sedikit gertakan.
Dia akan menelpon Prasetyo, sehingga dia tidak bisa menyuapi mereka makan.
"Katanya tadi mau disuapin."
"Kau mau jadi bayi? Hah?"
"Tidaaakk."
Kata mereka kompak sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, makanlah!"
Merekapun langsung makan dan dengan cepat menghabiskanya, karena mereka ingin segera main game lagi.
Sementara mereka makan, Regan mengambil handphone nya dan menelpon Omnya.
"Gimana om? Apakah mami sudah ditemukan?"
"Belum. Kami masih berusaha mencarinya. Sekarang disini hujan deras. Pencarian sementara dihentikan. Nanti jika hujan sudah reda akan diteruskan lagi. Arus sungai itu sangat deras." Kata Prasetyo.
"Iya om." Kata Regan lalu menutup handphonenya.
***
Nadiya diselamatkan oleh seorang pria yang kebetulan sedang memancing ikan disana.
Pria itu lalu membawa Nadiya masuk kedalam rumahnya yang tidak jauh dari aliran sungai itu.
"Sandra, bantu bapak menggendongnya. Sepertinya dia hanyut."
Sandra lalu membantu bapaknya.
Dan betapa kagetnya dia saat dia melihat wajah wanita yang ditolong oleh bapaknya.
__ADS_1
Ternyata dia adalah Bu Nadiya. Orang yang pernah menitipkan kedua bayi kembarnya di rahimnya.